Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Balas Budi


__ADS_3

Di negara yang berbeda, seorang pria yang sudah berumur setengah abad menyunggingkan senyum ketika melihat sang putra bertindak tegas. Dengan penuh kharisma dan wibawa putra pertamanya bertindak tegas demi memperjuangkan sebuah kebenaran untuk menggapai cinta sejatinya. Meskipun, nanti namanya akan tercoreng, dia tidak memperdulikannya. Tindakan sekecil apapun yang dilakukan pasti memiliki konsekuensi yang harus dihadapi.


Sudut bibirnya terangkat, matanya terlihat nanar. Melihat Aksara seperti melihat dirinya di waktu muda. Semuanya perlu pertimbangan matang, tidak asal-asalan. Namun, segelintir kesedihan menyelimuti hatinya sekarang.


"Maafkan Daddy. Daddy tidak bisa membantu kamu," lirihnya.


Gio memanglah bukan Genta yang selalu ada di saat putranya dirundung masalah. Terlalu banyak masalah yang harus dia hadapi. Ada kesedihan yang belum terobati. Kondisi Genta yang sebenarnya masih ditutupi. Membuat Gio semakin merasa sendiri.


Bukan karena Gio lemah, orang kepercayaan Gio tidak bisa apa-apa. Bukan. Gio sudah mengerahkan semua anak buah terbaiknya untuk mencari tahu perihal surat wasiat yang belum menemukan titik terang. Sebenarnya, ini adalah rencana yang dibuat oleh Genta. Anak buah Gio masih bekerja di bawah perintah Genta. Jadi, perintah Bos besar akan mereka utamakan. Ditambah Genta tahu, putranya harus berjuang mengembalikkan lebih dari sepuluh perusahaan besar yang diambang kehancuran di tengah sakit yang Gio derita. Belum lagi anak-anak perusahaan yang banyak dilanda permasalahan penggelapan dana.


Kelainan pada jantung, itulah penyakit yang diderita Gio. Penyakit yang masih bisa disembuhkan. Di saat dia harus beristirahat, dia harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan perusahaan yang sudah dibangun oleh ayahnya dari nol. Pikirannya terkuras, tenaganya habis dan kesehatannya semakin memburuk. Itu semua tidak Gio hiraukan. Dia percaya dengan anak buahnya, mereka pasti bisa menemukan kebenaran tentang surat wasiat itu. Dia tahu akan batas kemampuannya. Dia bukanlah robot yang mampu meng-handle semuanya.


Tepukan hangat di pundaknya membuat Gio menghela napas kasar. "Anak yang hebat lahir dari keluarga yang hebat." Itulah yang Remon katakan.


"Besok pagi, kita kembali ke Jakarta. Aku rindu anak-anak dan istriku, serta cucuku."

__ADS_1


****


Rekaman yang dokter Arif tunjukkan kepada media membuat Mahendra sudah tidak bisa berkutik lagi. Menyangkal pun dia sudah tidak bisa.


Orang yang mengubungi Aksa semalam adalah dokter Arif. Dia menjelaskan semuanya kepada Aksa tanpa terkecuali. Aksa hanya menyikapinya dengan santai.


"Semuanya kembali lagi kepada dokter. Tawarannya pun tidak main-main 'kan." Itulah yang Aksa ucapkan.


"Uang bisa saya cari. Balas budi tidak bisa dinanti-nanti," balas dokter Arif.


"Saya menjadi dokter seperti sekarang ini karena bantuan dari ayah Anda, Pak Giondra. Beliau lah yang membiayai kuliah kedokteran saya hingga selesai. Saya hanya anak jalanan penjaja tisu yang tidak sengaja membantu Pak Giondra membenarkan mobilnya yang tengah mogok. Sebagai ucapan terima kasih dari Pak Giondra, beliau malah mendaftarkan saya untuk kuliah kedokteran sesuai cita-cita saya. Awalnya saya menolak, tetapi Pak Giondra terus memaksa. Karir yang saya peroleh sekarang ini karena Pak Giondra. Jika, saya tidak bertemu dengan Pak Giondra mungkin saya hanya menjadi buruh kasar."


Aksa sangat merasa bersyukur banyak orang yang akan membantunya mengungkap sebuah kebenaran. Meskipun, orang yang tidak terlalu dia kenal.


Kembali ke konferensi balasan yang Mahendra lakukan. Semua wartawan semakin ingin tahu tentang permasalahan pelik yang ada.

__ADS_1


"Apa anak yang ada di dalam kandungan Ziva bukan anak Pak Aksara?" Pertanyaan yang sangat menanti jawaban.


"Dari percakapan itu kalian bisa menyimpulkan sendiri. Ini rekaman bukan rekaman palsu. Saya dokter, saya sudah disumpah dan memiliki etika kedokteran. Saya ingin mengungkap kebenaran karena banyak orang yang melakukan cara licik untuk mendapatkan segalanya," pungkas dokter Arif.


"Lepaskan saya! Lepaskan!"


Kegaduhan dari arah belakang membuat pandangan semua orang beralih. Mata Mahendra memicing sempurna ketika melihat Brandon sudah diringkus oleh pihak kepolisian seperti buronan.


"Apa salah saya?" teriaknya lagi.


Tiba-tiba layar putih di belakang yang terbentang lebar memunculkan seseorang yang tidak siapapun duga. Wajah khas dengan senyum seringai mematikan memenuhi layar.


Genta Wiguna.


...****************...

__ADS_1


Jeng ... jeng ... jeng ...


Up lagi gak nih?


__ADS_2