
Aska masih bergelut dengan pikirannya sendiri, hingga dia memutuskan untuk menoleh ke arah belakang. Seorang wanita berambut sebahu dengan dress sopan berwarna cokelat muda, tengah berdiri membelakanginya juga. Aska memberanikan diri untuk mendekat.
Suaranya memang mirip Jingga, tetapi tubuhnya hampir sama seperti Melati, berisi. Dia semakin mendekati wanita itu dan dua langkah lagi tiba di dekat wanita itu ponselnya berdering. Aska segera meraih benda pipih yang ada disakunya dan terlihat nama yang terpampang di sana.
Emaknya si Abang calling ....
Ada-ada saja kelakuan pria dewasa ini menamai ibu kandungnya di dalam kontaknya. Ibunya Aksa obunya di juga. Aska segera membalikkan tubuhnya dan segera menjawab panggilan dari sang kanjeng mommy dan mulai menjauh.
"Iya, Mom."
Wanita berambut sebahu itu pun terdiam ketika mendengar suara yang dia kenali. Aroma parfum yang menyeruak pun tak asing di hidungnya. Dia segera menoleh ke arah belakang. Seorang pria berambut rapi dengan kemeja berwarna putih yang sangat pas di tubuhnya tengah menjawab telepon.
"Apa mungkin itu Bang As?"
Namun, pria itu semakin menjauh seperti orang tergesa. Wanita itu hanya dapat memperhatikan pria yang semakin menjauh darinya dengan tatapan penuh kerinduan. Hembusan napas kasar pun keluar dari mulutnya dan dia menggelengkan kepala untuk tidak terlalu berharap.
"Dia tidak pantas untukku yang sudah rusak ini," lirihnya.
.
"Kejadiannya sangat cepat, Mom. Kata Abang hanya kontraksi palsu, sekarang malah udah masuk ruang persalinan."
"Kenapa kamu gak langsung hubungi, Mommy? Ini bukan hal speele, Askara!" Terdengar sang mommy sangat murka kepada Aska. Beginilah derita anak kembar, ketika kembarannya yang salah dia pun ikut disalahkan. Lebih parahnya semua unek-unek sang ibu dilimpahkan kepadanya.
"Kebiasaan nih, Abang yang salah malah Adek yang Mommy omelin."
"Ya udah, Mommy minta maaf," sesal sang ibu. "Temani Abang terus di sana. Jangan tinggalkan dia. Tiga puluh menit lagi Mommy dan Daddy akan terbang ke sana." Suara Ayanda terdengar sangat panik dan khawatir.
"Iya, Mom. Ini Adek lagi ngurus adminitrasi Riana."
"Dek, kalau ada paket baju-baju bayi langsung terima, ya. Daddy sudah memesan baju bayi untuk cucu Daddy." Kini Gio yang mengambil alih ponsel sang istri.
"Emangnya Daddy tahu jenis kelamin anaknya Abang? Selama di USG juga tuh anak gak mau nunjukin jenis kelaminnya," balas Aska.
"Dasar jomblo abadi!" Aska tersentak mendengar cibiran dari sang ayah. "Daddy belinya yang unisex, jadi bisa dipakai cewek atau cowok. Paham?"
Aska menganggukkan kepalanya, padahal sang ayah tidak akan dapat melihat jawaban darinya jika melakukan hal seperti itu.
"Benar kata Kakek, harusnya kamu dijodohin. Biar gak polos-polos amat."
__ADS_1
Decakan kesal pun keluar dari anak bungsu Giondra yang tengah diocehi oleh sang ayah. Dia mengakhiri sambungan telepon dan bersungut-sungut ria. "Dia kira gua bakso polos kali," sungutnya. "Gua juga tahu gimana tutorial bikin anak. Ya kali selama dua puluh lima tahun gua hidup, kagak pernah nonton video begituan. Perjaka gua juga udah hilang karena tangan gua yang nakal."
Tanpa Aska sadari ocehannya membuat orang yang ada dekatnya mengulum senyum karena rata-rata orang Indonesia.
Setelah selesai mengurus administrasi yang ternyata amazing sekali harganya. Aska segera ke ruang persalinan. Menemani abangnya di sana. Dia berjalan dengan sangat santai, melihat ke arah kiri dan kanan. Tiba sudah dia depan ruang persalinan. Dia menunggu di depan ruangan tersebut dan berharap keponakannya lahir dengan selamat.
Dia fokus pada benda pipih di tangannya. Helaan napas berat keluar dari mulutnya ketika melihat wallpaper ponselnya yang belum berubah. Fotonya yang tengah mencium Jingga di ujung senja.
"Apa kudu gua tunjukin ke bokap gua kalau gua itu gak polos?" gumamnya. "Buktinya gua bisa nyium nih cewek." Senyum tipis pun terukir di wajahnya. Membalut sedih dengan canda yang dia punya.
"Apa gua harus menggantinya?" Aska menyandarkan punggungnya. Matanya sedikit terpejam karena masih menyimpan kesedihan sampai sekarang.
Terbesit tanya dalam kepalanya. Dia pun segera membuka aplikasi pesan. Dia mengirimkan pesan kepada sahabat lambe curahnya, Ken.
"Lu tahu Jingga di mana?"
Pesan yang baru saja masuk ke ponsel Ken membuat yang empunya ponsel mengerutkan dahi. "Tumben banget, kesambet setan apaan?" gumam Ken.
Jarinya pun dengan lincah menari-nari di atas keyboard. "Gak, kalau si bang sat gua tahu." Itulah yang Ken kirimkan kepada Aska.
Ken sudah meyakini bahwa sang sahabat tidak akan membalasnya lagi jika sudah menyangkut sahabat bang sat mereka. Namun, keyakinan Ken itu salah.
"Di mana?" Mata Ken melebar ketika membaca pesan balasan dari Aska.
Jarinya pun menari-nari kembali di atas layar keyboard. "Negeri Singa sama istrinya."
Pesan dari Ken kali ini tidak dibalas oleh Aska. Dia malah memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Jangan sampai gua ketemu dia."
Tenggorokan Aska tiba-tiba terasa kering. Dia beranjak dari duduknya dan pergi ke kantin untuk sekedar membeli minum juga makanan ringan untuk jaga-jaga jika persalinan sang kakak ipar berjalan lama. Itu bisa membuat perutnya berdisko ria.
Langkahnya terhenti ketika dia melihat seorang pria yang sangat dia kenali berada di rumah sakit ini.
"Apa dia bersama Jingga di sini?" gumamnya. "Tapi, sedang apa?"
.
Aksa terus menggenggam tangan Riana dengan sangat erat. Peluh sudah membasahi wajah istrinya, Aksa terus mengusap peluh itu dan mencium kening sang istri dengan sangat dalam.
__ADS_1
"Abang akan selalu di samping kamu." Riana tersenyum disela rasa sakit yang tengah dia rasakan.
Dokter mengatakan bahwa pembukaan belum sempurna, masih pembukaan sembilan.
"Sabar ya, Sayang. Kamu pasti bisa." Hanya anggukan kecil yang menjadi jawaban. Aksa tak ingin jauh dari istrinya barang sedetikpun. Dia ingin menemani Riana hingga buah hati mereka lahir ke dunia.
Rasa sakit itu semakin menjadi. Riana semakin mengerang kesakitan dan di sanalah Aksa ingin menangis keras. Dia mendekap tubuh Riana dan membiarkan Riana mencengkeram atau menggigit tubuhnya. Jika, itu bisa mengurangi kesakitan yang tengah dia rasakan. Apapun pasti akan dia lakukan.
"Sa-kit!"
"Sempurna, dok."
Pihak medis pun sudah bersiap karena kepala sang bayi sudah terlihat.
"A-bang ...."
"Iya, Sayang." Aksa mengecup kening Riana, hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Kita mulai sekarang, Nyonya."
Perkataan dokter membuat Aksa takut bukan kepalang. Dia terus memperhatikan istrinya yang tengah mengatur napas. Ketika dokter memerintahkan untuk mengejan, Riana melakukannya membuat Aksa tak tega. Apalagi wajah istrinya sudah sangat pucat dengan keringat yang membanjiri wajahnya.
"Bagus, Nyonya. Sekali lagi!"
Aksa semakin menggenggam erat tangan sang istri. Ketika Riana mengejan untuk kedua kalinya tangisan si jabang bayi terdengar. Kedua insan manusia ini hanya saling pandang dengan mata yang nanar.
"Sa-yang ...." Seulas senyum Riana berikan sebelum dia merasakan sakit kembali karena harus mengeluarkan teman si jabang bayi.
Setelah semuanya selesai, Aksa masih menatap tak percaya kepada sang istri tercinta. Matanya sudah berkaca-kaca memandangi wajah istrinya yang sudah lemah.
Seorang perawat menghampiri Aksa juga Riana dan memberikan seorang bayi yang sangat lucu masih berwarna merah.
"Ini anak Tuan dan Nyonya."
Air mata Riana menetes melihat bayi lucu yang ada di depan matanya. Kini, bayi itu diletakkan di samping Riana dan juga Aksa.
"Makasih, Sayang." Suara Aksa bergetar, sama halnya dengan Riana yang sudah menyunggingkan senyum, tetapi air mata membasahi wajahnya.
"Apa jenis kelamin anak kami, Sus?"
__ADS_1
...****************...
Komen atuh ....