
Di kamar yang luas, seorang pria terlihat sangat lelah. Riana memberikan segelas air putih kepada sang suami yang baru saja pulang dari kantor.
"Makasih, Sayang." Aksa menghabiskan air putih yang Riana berikan, dan mengembalikkan gelasnya kembali kepada sang istri.
"Sepertinya lelah sekali?" tebak Riana, setelah meletakkan gelas kosong di atas nakas. Dia sudah duduk di samping sang suami dan mengambil dasi yang masih tersampir di leher Aksa.
Aksa tidak menjawab, dia malah memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat dari arah belakang. Meletakkan dagunya di bahu Riana. Memejamkan matanya sejenak untuk melupakan kejadian yang menyulut emosi. Lengkungan senyum terukir di wajah Riana. Tangannya sudah mengusap lembut pipi sang suami.
"Peluklah Ri sesuka hati Abang. Jika, itu mampu menghilangkan segala lelah yang tengah bersarang di tubuh dan pikiran Abang."
Aksa membuka matanya kembali dan tersenyum mendengar ucapan Riana. Sungguh wanita yang sangat pengertian sekali.
Setengah jam berselang, perlahan Aksa mengurai pelukannya. Dia membalikkan tubuh istrinya dan mengecup hangat kening Riana. Penuh cinta dan sangat dalam.
"Makasih sudah mengerti Abang," ucapnya.
"Bukankah menikah itu untuk saling melengkapi? Bukan untuk menuntut kesempurnaan," balasnya.
Hati Aksa benar-benar bahagia karena pilihannya tidak salah. Wanita yang dia perjuangkan mati-matian memang wanita terbaik untuknya.
Aksa membungkukkan tubuhnya. Dia mengecup hangat perut sang istri. "Maafkan Daddy ya, Nak. Sudah memeluk tubuh Mommy dalam keadaan tubuh kotor."
Jika, ibunya tahu Aksa akan diceramahi tiga hari tiga malam oelh Ayanda. Sebelum membersihkan tubuh, Aksa mencium lembut bibir sang istri terlebih dahulu. "Nanti boleh minta jatah?" Riana hanya terkekeh dan menggelengkan kepala. "Kalau Ri nolak juga, Abang akan tetap maksa 'kan?" Kini, Aksa tertawa mendengar ucapan sang istri. Dia mencubit gemas pipi Rian yang terlihat lebih berisi.
"Kamu ganti baju, ya. Kamu 'kan habis aku peluk, sedangkan aku belum membersihkan tubuh," tutur Aksa.
"Iya," jawab singkat Riana.
"Langsung pakai baju dinas ya, Sayang," goda Aksa.
Riana menatap tajam ke arah sang suami mesoemnya, membuat Aksa tergelak dan menjauhi Riana yang sebentar lagi akan berubah menjadi singa betina. Riana hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang suami. Aksa sangat kejam kepada orang luar, tetapi dia adalah pria penyayang kepada keluarganya.
Aksa keluar dengan rambut yang basah dan harum. Riana senang membantu sang suami untuk mengeringkan rambutnya.
"Kapan kita ke dokter kandungan lagi?" tanya Aksa yang menikmati pijatan sang istri di kepalanya.
"Setelah acara empat bulanan," jawab Riana.
Aksa menarik tangan Riana dan mendudukkan tubuh sang istri di pangkuannya. Dia menatap sang istri dengan penuh cinta. Kemudian, mengecup bibir Riana dengan sangat hangat dan lembut. Mereka pun terbuai dan hampir melakukan kegiatan yang sama-sama memuaskan. Namun, gedoran pintu dari sang keponakan membuag Aksa mengerang kesal. Berbeda dengan Riana yang sudah terkekeh dibuatnya.
"Bang, itu udah tegang," tunjuk Riana ke arah sosis besar sang suami.
"Udah on fire ini, Yang."
Lagi-lagi Riana tergelak dan mencium lembut pipi sang suami. "Nanti ya, masih sore," ucapnya sambil bangkit dari pangkuan sang suami. Aksa pun mendesah kesal.
Pintu kamar Riana buka, ternyata hanya ada Aleesa dan juga Aleena di sana. "Ada apa?" tanya Riana.
"Aunty dan Uncle disuruh makan malam di rumah Engkong," ucap Aleena.
"Kata Engkong, sekarang ke sananya. Sama Mimo dan Pipo juga," tambah Aleesa.
"Aunty bersiap dulu, ya. Nanti kita pergi ke rumah Engkong." Kedua kurcaci itupun mengangguk dan meninggalkan sang Tante.
"Ada apa, Yang?" tanya Aksa.
__ADS_1
"Kita diusuruh makan malam di rumah Ayah," jawab Riana.
Dahi Aksa mengkerut mendengar ucapan sang istri. "Kamu gak melupakan ulang tahun Ayah atau Iyan 'kan?" Riana pun menggeleng. Pasalnya ulang tahun Rion dan juga Iyan masih lama.
"Ada apa, ya?" tanya Aksa.
"Mungkin Ayah hanya ingin kita berkumpul," sahut Riana yang sudah akan berganti pakaian.
Padahal pakaian yang Riana gunakan bagus dan mahal, tetap saja itu hanya daster rumahan. Aksa akan melarang Riana keluar rumah menggunakan daster. Meskipun harganya selangit, tetap saja di mata Aksa itu tetaplah daster.
Aksa dan Riana berangkat ke rumah Rion paling akhir. Mereka berdua terus bergandengan tangan. Walaupun jarak rumah Rion dengan rumah orang tua Aksa beberapa meter saja. Tibanya di sana, Aksa dan Riana disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga. Iyan sudah memeluk tubuh sang kakak.
"Calon ponakan Iyan gak apa-apa, 'kan?" Riana mengangguk.
Dia sangat tahu apa yang dimaksud oleh Iyan. Adiknyalah yang sangat khawatir jika dirinya pergi ke pusara sang bunda. Bukan tanpa alasan, Iyan hanya takut jika calon keponakannya diganggu oleh makhluk tak kasat mata. Banyak yang mengincar janin di dalam perut Riana. Hanya saja, Iyan meminta bantuan kepada para sahabatnya yang tak terlihat untuk menjaga kandungan sang kakak.
"Ini ada apa ya?" tanya Riana kepada Iyan. Adiknya hanya mengangkat bahu.
Riana mencium tangan sangat ayah juga memeluknya. "Miss you," kata Rion.
Riana hanya tertawa, jujur dia memang jarang keluar meskipun sekadar ke rumah orang tuanya. Padahal hanya beberapa meter dari rumah mertuanya.
"Miss you too," balasnya. "Maafkan Ri, Ayah. Ri, malas keluar rumah," terangnya.
"Kamu gak salah, Ayah juga sedang sibuk banget. Setiap hari selalu pulang malam." Selalu merasakan kehangatan dan kenyamanan ketika Riana memeluk tubuh ayahnya.
"Cucu Engkong sehat-sehat 'kan?" Tangan Rion sudah mengusap lembut perut Riana.
"Ada makanan kesukaan kamu tuh, Ri. Mbak Ina sengaja buatkan bakso untuk kamu," imbuh Echa.
"Makan nasi dulu, ya." Sebuah peringatan yang keluar dari mulut Aksara.
Riana sudah mengeluarkan jurus puppy eyes-nya. Namun, tidak mempan. Aksa tetap mengambilkan nasi di piring sang istri.
"Sedikit aja, yang penting ada nasi masuk ke dalam perut."
Semua orang tersenyum melihat Aksa yang benar-benar memperhatikan sang istri. Rion benar-benar bahagia karena telah melepas sang putri tercinta pada orang yang tepat.
Mereka semua menikmati makan malam. Keseruan pun terjadi ketika si triplets rebutan bakso.
"Dedek mau tujuh, baksonya."
"Kakak Sa mau delapan."
"Kakak Na, sepuluh."
Para orang tua hanya menggelengkan kepala tak percaya, sedangkan si ibu hamil sudah merebahkan kepalanya di pundak sang suami karena kekenyangan. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Keluarga Rion dan juga Gio tengah berkumpul bersama.
"Ada apa ya, Yah?" tanya Aksa ketika semua orang terlihat berwajah serius. "Apa ada hal penting?" tanyanya lagi.
"Ayah mau membahas persalinan Riana," ucap Rion.
Riana dan Aksa saling tatap mendengar ucapan sang ayah. Mereka berdua saja belum kepikiran akan persalinan. Empat bulanan saja belum dilaksanakan.
"Emangnya kenapa, Yah? Masih lama," balas Riana yang sudah menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Walaupun masih lama, tapi harus dipikirkan dari sekarang," timpal Giondra.
Aksa dan Riana hanya terdiam. Dia ingin mendengarkan apa yang direncanakan oleh para orang tua mereka.
"Rencananya kamu ingin lahiran secara apa?" tanya sang ibu mertua kepada Riana.
"Setiap wanita pasti menginginkan lahiran normal 'kan, Mom. Ingin merasakan bagaimana sakitnya melahirkan yang katanya seperti tujuh tulang rusuk dipatahkan," tutur Riana.
"Ayah tidak ingin kamu merasakan sakit seperti itu," tukas Rion.
Sejenak Riana dan Aksa membisu mendengar ucapan sang ayah. Mereka melihat sorot mata yang penuh ketulusan ketika mengatakan hal tersebut.
"Ayah tidak ingin melihat anak Ayah kesakitan. Ayah tidak mau," terangnya.
Hati Riana terenyuh mendengar ucapan sang ayah. Sorot mata ayahnya terlihat sendu.
"Kakakmu melahirkan secara Caesar karena mengandung anak kembar. Itu membuat Ayah lega karena kakakmu tidak mengalami kontraksi yang pastinya akan membuat kakakmu kesakitan," lirihnya.
Echa segera menghampiri sang ayah dan memeluk tubuhnya. Inilah bentuk kasih sayang yang Rion berikan kepada anak-anaknya.
"Walaupun setelah operasi kakakmu terlihat kesakitan, itu hanya sebentar."
Aksa mengusap lembut punggung tangan sang istri, dan menggenggam tangan Riana. Sebenarnya, Aksa sudah menyetujui keinginan Riana untuk melahirkan secara normal. Namun, ayahnya menginginkan hal yang berbeda. Pasti akan membawa dilema terhadap Riana.
"Sekarang sudah zaman canggih, kita pilih persalinan Caesar dengan metode ERACS," ujar Giondra.
"ERACS?" ulang Riana.
"Istilah ERACS berasal dari istilah Enhanced Recovery After surgery (ERAS) sebagai pendekatan yang bertujuan untuk meminimalkan respons fisiologis selama operasi. Metode ERACS adalah langkah-langkah yang disusun untuk mencapai pemulihan lebih cepat pada pasien yang menjalani tindakan pembedahan secara mayor atau besar," terang Giondra.
"Pendekatan ERACS memungkinkan pasien untuk melakukan pergerakan tubuh lebih cepat. Yakni, sekitar dua jam pascaoperasi caesar dengan nyeri yang minimal," papar Giondra.
"Daddy, Mommy serta Ayah kamu sangat setuju jika kamu melahirkan dengan metode seperti ini," lanjut Giondra.
"Kami tidak ingin melihat kamu kesakitan terlalu lama. Pasalnya, operasi Caesar biasa membutuhkan pemulihan dalam waktu enam jam. Itu terlalu lama bagi kami, Nak. Tolong pertimbangkan keinginan kami ini," ujar Ayanda.
"Bukankah biaya operasi dengan metode seperti itu lebih mahal?" tanya Aksa kepada Radit selaku mantan dokter. Dia tidak mempermasalahkan perihal harga, dia hanya ingin tahu saja. karena masih sedikit orang yang melakukan metode persalinan seperti ini.
"Semahal apapun bakalan Ayah bayarin. Benar 'kan, Yah?" goda Radit.
"Siapa bilang? Mertua Riana lebih kaya dari Ayah. Dialah yang bayarin," tolak Rion.
"Eh, besan gak modal. Kenapa setiap yang mahal-mahal selalu lu limpahkan ke gua? Empat bulanan dari gua, lu kapan ngeluarin duitnya?" sungut Giondra.
"Entar kalau cucu gua udah lahir gua yang nanggung semua perlengkapan bayinya. Udah gua booking satu toko perlengkapan bayi di tanah abang," ucap Rion menyombongkan diri.
Radit tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sang ayah mertua. "Radit kira udah ngebooking satu toko perlengkapan bayi bermerk internasional. Lah ini mah merk pinggir jalan," cibir sang menantu.
Rion pun berdecak kesal. "Kita tuh harus hemat," ucap Rion.
"Hemat dan pelit beda tipis, Engkong," timpal Aleena.
...****************...
Komen dong ....
__ADS_1