
"Abang akan mengantar kamu." Senyum yang merekah ditunjukkan oleh seseorang berjaket hitam dan juga bertopi.
Seketika Riana terdiam. Memandang ke arah Aksa tak percaya.
"A-abang," panggilnya pelan.
"Iya, ini Abang."
"Bukannya Abang ...."
Aksa segera memeluk tubuh Riana. Mengecup ujung rambutnya dengan penuh cinta.
"Abang tahu, kamu menginginkan momen-momen romantis sebelum keberangkatan kamu 'kan." Riana mendongak ke arah Aksa. Dia sedikit heran, kenapa Aksa seperti cenayang sekarang.
"Sekarang Abang datang. Kita menikmati perjalanan menuju Jogja hanya berdua," ujarnya.
"Berdua?" ulang Riana.
Riana melihat ke arah kiri-kanan. Depan-belakang dan ternyata kursi pesawat itu kosong. Hanya ada mereka berdua di sana. Riana menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Aksa.
"Abang seriusan?"
"Abang tidak pernah main-main dengan ucapan Abang, Sayang. Abang hanya tidak ingin ada orang mengganggu kita," ungkapnya.
Riana tidak bisa berkata. Benar yang diucapkan oleh Aleesa dan dua keponakannya yang lain. Jika, uang Aksa sangatlah banyak. Hingga dia mampu membooking tiket pesawat kelas bisnis.
Sebelum kepulangan Echa ke rumah, Aksa sudah merencanakan sesuatu. Dia tidak akan ikut mengantar sang kakak. Bukan karena tidak ingin bertemu dengan Riana. Akan tetapi, dia tidak ingin memperkeruh keadaan. Kehadirannya pasti akan mengubah kehangatan yang ada. Apalagi, ayah dari Riana masih nampak kecewa terhadapnya.
"Abang takut?" tanya Echa.
Demgan tegas Aksa pun menggeleng, dia menyerahkan sebuah tiket ke arah sang kakak. "Abang akan menghabiskan waktu di udara bersama Riana."
Semua orang tercengang mendengar ucapan dari Aksa. Pria datar dan tenang, ternyata memiliki sisi romantis yang tidak terduga.
"Itu lebih baik, dari pada Abang harus melihat ketidak sukaan Ayah kepada Abang. Untuk saat ini, Abang belum bisa membuktikan apa-apa. Setelah akta cerai di tangan dan status duda sudah tersemat. Baru lah Abang akan meyakinkan Ayah. Mengejar restunya," terangnya.
"Kalau Riana diambil Arka?" Pancing Radit.
"Akan Abang ambil lagi. Abang yakin, cinta Riana hanya untuk Abang. Akan Abang perjuangkan hingga titik darah penghabisan," tegasnya.
Gio dan Genta tersenyum bangga kepada Aksa. Hanya sorot keseriusan yang Aksa tunjukkan. Serta keyakinan dengan ucapan yang tak bisa terbantahkan.
"Kamu yakin akan ditugaskan di sana?" Genta sudah menatap Aksa dengan serius.
__ADS_1
"Ya, Abang yakin."
"Bagus." Genta menepuk pundak sang cucu. "Kakek akan menyiapkan ...."
"Tidak usah, Abang sudah memilih tempat tinggal sendiri." Genta pun tersenyum seraya mengangguk.
Kembali ke kursi pesawat yang sedang mereka duduki. Sepasang manusia masih saling memandang satu sama lain dengan sorot mata penuh cinta.
Cup.
Bibir Aksa mendarat di kening Riana sehingga memutusakan mata mereka. "Ijinkan Abang menemani waktu berdua bersama kamu selama berada di udara."
Meleleh lagi hati Riana. Sungguh dia tidak berdaya dengan kejutan-kejutan manis yang tidak pernah Riana sangka. Tangan Riana Aksa genggam. Kemudian dia cium punggung tangan itu dengan penuy cinta. Ingin rasanya perjalanan ini tidak cepat berakhir. Andai Jakarta-Jogja memakan waktu dua puluh empat jam. Seharian ini Riana tidak akan melepaskan tangannya di pinggang pria yang amat dia cintai.
Pesawat pun take off, tangan Aksa merengkuh pinggang Riana. Sedangkan kepala Riana dia letakkan di pundak Aksa. Seakan pundak itu mampu memikul beban sayang dan cinta yang Riana miliki.
Aksa memasangkan headset di telinga Riana sebelah kanan dan dia memasang headset di telinganya sebelah kiri.
🎶
Hal hebat kurasakan
Kini, dicintai seseorang
Itu sempurna
Tak kan ku siakan dia
Belum tentu ada yang seperti dia
Satu dunia tahu aku bahagia
Banyak pasang mata saksinya
Mereka pun saling memandang dengan senyum yang merekah satu sama lain. Lagu yang menggambarkan perasaan mereka berdua.
🎶
Tak kan ku duakan dia
Belum tentu esok kan masih ada
Kesempatan tak datang kedua kalinya
__ADS_1
Hargai dan jaga hatinya
Wajah mereka pun semakin dekat dan dekat. Tangan Aksa menyentuh pipi mulus Riana. Penyatuan sesuatu yang manis pun terjadi. Meresapi setiap sapuan lembut. Membalas kehangatan yang diberikan, menandakan cinta mereka sangatlah dalam. Apalagi sekarang mereka berada di udara, menambah sensasi dan keromantisan yang berbeda.
Terbuai akan cinta tanpa melupakan batasan. Setelah semuanya dirasa cukup, wajah mereka saling menjauh. Tangan Aksa masih mengusap lembut pipi Riana dan turun mengusap bibir mungil Riana yang basah karena ulahnya.
"Love you, so much."
Manik mata mereka pun saling menatap kembali dengan senyum yang terus merekah di bibir mereka masing-masing. Suara pilot sedikit mengganggu ketika mengatakan bahwa mereka sudah berada di ketinggian tiga ribu kaki.
Di saat itulah, Aksa mengeluarkan sesuatu di saku jaket yang dia gunakan. Kotak segiempat berwarna merah. Tangannya membuka kotak tersebut dan terlihatlah kalung cantik tanpa liontin.
"Kalung ini polos, sama seperti diri kamu wanita yang belum dimiliki oleh siapapun," terang Aksa.
Kemudian, dia meraih sesuatu lagi di saku jaket sebelahnya. Kotak berwarna navy dia keluarkan. Lalu, dia buka dan ada cincin polos juga di sana.
Tangan kiri Aksa memegang kotak berwarna merah dan tangan kanannya memegang kotak berwarna navy.
"Ambil cincinnya," titah Aksa.
Riana mengambil cincin itu dengan sedikit keraguan.
"Coba lihat bagian dalamnya."
Mata Riana membola ketika melihat ada ukiran nama di balik cincin tersebut. AKSA itulah namanya.
"Abang ingin, kalung yang polos ini diisi oleh cincin ini." Aksa mengeluarkan kalung putih dari kotak dan memasukkan cincin yang sedang dipegang Riana ke dalam kalung tersebut. Kini, cincin itu menjadi liontin dari kalung polos tersebut.
Aksa memakaikan kalung itu kepada Riana tanpa permisi. Setelah selesai disematkan, senyum indah melengkung di wajah Aksa. Tangan dan pandangannya tertuju pada cincin yang sudah menjadi liontin.
"Kalung ini ibarat kamu, sedangkan cincin ini ibarat Abang. Kekosongan diri kamu akan diisi oleh Abang. Begitu juga dengan Abang." Aksa mengeluarkan sesuatu dari balik kerah jaketnya. Sebuah kalung yang sama hanya berbeda ukuran lebih panjang dengan berliontin cincin juga. Aksa membalikkan cincin itu.
"Terukir nama kamu di sini." Riana benar-benar speechless dengan apa yang dilakukan oleh Aksa.
Tidak pernah terbayang olehnya akan mendapat perlakuan manis seperti ini. Melebihi manisnya kisah drama Korea yang sering Riana tonton.
"Jangan pernah lepas kalung itu. Itu pun berlaku pada Abang. Kalung ini sebagai penguat cinta serta kesetiaan kita. Ketika, kamu bersama pria lain. Ingatlah, ada Abang yang selalu ada di detak jantung kamu. Begitu juga dengan Abang. Nama kamu selalu menempel di hati Abang."
Hati Riana sudah ditumbuhi ribuan bahkan ratusan ribu bunga yang sedang mekar indah. Dirinya seakan dibawa terbang melayang oleh pangeran impian. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bagaimana hati Riana sekarang.
"I love you 3000."
...****************...
__ADS_1
Yang gak suka part ini, skip aja.😁