Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Meeting Dadakan


__ADS_3

"Abang!"


Riana mematung di tempatnya. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria yang sedari tadi berdiri di depan mobil tersenyum hangat sambil membuka kaca matanya.


"Gak mungkin," gumam Riana.


Melihat tidak ada pergerakan dari Riana, pria itu sedikit mendengus kesal. Dia berjalan menghampiri Riana. Angin malam meniupkan aroma parfum yang menempel pada kemeja yang pria itu gunakan.


"Wangi ini ...."


Riana terdiam lagi, dia sedang menatap ke arah pria yang beberapa meter lagi akan berada di hadapannya.


"Gak mau peluk?"


Suara yang sangat merdu yang Riana rindukan selama beberapa bulan ini. Suara yang menjadi alunan melodi sangat indah dan menenangkan ketika Riana dilanda kepenatan.


"Katanya rindu?" ucapnya lagi.


Riana belum tersadar akan lamunannya. Antara percaya atau tidak sang kekasih sudah ada di hadapan matanya. Apa ini hanya sebuah fatamorgana di tanah yang tandus akan kerinduan yang mendalam.


Tangan Riana mulai menyentuh pipi Aksa. Tangan Aksa pun ikut diletakkan di atas punggung Riana.


"Ini gak mimpi, Sayang."


Mata Riana terus memandang wajah sang pujaan hati. Tenggelam dalam rindu yang menggebu, hingga suara klakson motor ojek online mengacaukan semuanya.


"Dengan Mbak Riana 'kan?" Riana mengangguk, tetapi Aksa segera menghadang Riana.


"Mas, pacar saya gak jadi naik ojeknya, ya." Aksa mengeluarkan dompet dan mengambil satu lembar uang kertas berwarna merah.


"Ini untuk Mas-nya."


Abang ojek online pun terperangah mendapat uang yang sangat besar. Padahal ongkosnya hanya dua puluh dua ribu.


"Terima, Mas." Aksa menyodorkan uangnya ke tangan si tukang ojek online.


"Makasih banyak ya, Mas." Aksa menyunggingkan senyum penuh ketulusan membuat Riana semakin terpesona akan diri Aksa.


"Jangan bengong, nanti kesambet loh," canda Aksa karena sedari tadi Riana menatapnya dengan sangat intens.


"Ini beneran gak mau peluk?" tanya Aksa sekali lagi.


"Abang balik lagi deh ke Melbourne," ucapnya dengan wajah yang dibuat sedramatis mungkin.


Aksa membalikan tubuhnya dan melangkah menjauhi Riana. Namun, Riana berlari dan memeluknya dari belakang. Senyum penuh kemenangan pun terukir di wajah tampan Aksa.


"Abang jahat!"

__ADS_1


Suara Riana terdengar sangat lirih dan bergetar, tetapi tangan Riana melingkar di pinggang Aksa sangat erat. Punggung Aksa terasa basah membuat Aksa membalikkan tubuhnya secara perlahan tanpa mengurai pelukan.


"Jangan nangis, Sayang. Abang sudah di sini." Aksa mengusap air mata Rian yang sudah berjatuhan.


"Abang bilang ... gak bisa datang Minggu depan. Kenapa sekarang ...."


"Iya Abang memang bilang begitu, tetapi kamu gak tahu 'kan kelanjutan ucapan Abang seperti apa?" potong Aksa.


Riana masih menatap manik mata Aksa begitu juga dengan Aksa.


"Abang bisa datangnya malam ini dan untuk satu Minggu ke depan. Kamunya langsung matiin telepon aja dan merajuk." Aksa menjawil hidung Riana dengan gemas.


Aksa memeluk tubuh Riana lagi dengan sangat erat. Menumpahkan rasa rindu yang sudah menggunung. Riana juga tak kalah erat membalas pelukan Aksa.


"Udah makan belum?" Aksa mengurai pelukannya dan membenarkan anak rambut di wajah Riana. Hanya gelengan yang menjadi jawaban dari Riana.


Aksa membawa Riana pergi dengan tangan Riana yang selalu Aksa genggam.


"Abang, nanti nabrak loh kalau jalanin mobil dengan satu tangan." Aksa tersenyum dan membawa punggung tangan Riana ke bibirnya.


"Gak akan, Sayang. Abang akan jagain kamu dan tidak akan buat kamu celaka." Riana pun tersenyum mendengar ucapan Aksa.


Mobil Aksa berhenti di sebuah apartment mewah membuat jantung Riana berdegup sangat cepat.


"A-abang ... mau apa ke sini?" Raut ketakutan nampak jelas di wajah Riana, Aksa terkekeh melihat wajah kekasihnya ini


Aksa membawa Riana ke lantai dua puluh lima, di mana unit apartment milikinya berada. Ketika Aksa membuka pintu Riana terperangah melihat desain apartemen yang sangat indah dan menyejukkan. Bernuansa baby blue, warna kesukaan Riana.


"Bang."


Aksa menoleh ke arah Riana dan kemudian mengecup keningnya.


"Ini adalah salah satu mas kawin yang akan Abang berikan ke kamu."


Mata Riana membola mendengar ucapan Aksa. Satu unit apartment yang akan menjadi mas kawin, Riana tidak bisa mencerna ucapan Aksa. Saking gemasnya karena sedari tadi kebanyakan bengong, Aksa menarik tangan Riana menuju balkon. Sudah tersedia meja makan di sana dengan hanya ada dua kursi. Lilin indah di meja sudah diletakkan dan juga makanan yang enak dan mahal sudah ada di atas meja. Ditambah langit yang sangat indah di mana penghuninya hadir dengan posisi lengkap.


"Special dinner," kata Aksa.


Aksa menarik kursi untuk Riana duduki dan dia duduk di hadapan Riana. Tangannya meraih tangan Riana yang ada di atas meja.


"Love you so much." Aksa mencium punggung tangan Riana dengan sangat lembut, hingga ukiran senyum pun melengkung di wajah Riana.


"Love you too."


Mereka menikmati makan malam dengan senyum yang terus mengembang di bibir mereka masing-masing. Aksa selalu bisa membuat Riana berbunga-bunga dan juga bahagia.


Setelah selesai makan, Aksa dan Riana duduk di sofa dalam apartment. Di luar udara sangat dingin, Aksa tidak ingin Riana sakit nantinya.

__ADS_1


"Gimana rasanya kerja?" tanya Aksa, tangannya sudah mengusap lembut rambut Riana.


"Capek, tapi bahagia ketika akhir bulan." Aksa pun terkekeh dan mengecup ujung kepala sang kekasih.


"Sambutan para karyawan di sana gimana? Baik semua 'kan?"


Helaan napas kasar keluar dari mulut Riana. Dia menegakkan kepala yang awalnya bersandar di bahu Aksa.


"Hidup di negara +62 gak mungkin sepi nyinyiran 'kan. Apalagi Ri 'kan masuk dengan sangat mudah dan langsung ditempatkan menjadi sekretaris direktur utama. Kalau gak kuat-kuat mah udah resign Ri juga. Berhubung Ri butuh uang buat mengganti biaya kuliah yang Kak Echa keluarkan. Jadi, berusaha kuat dulu deh," terangnya.


Inilah yang Aksa suka dari Riana. Dia tidak pantang menyerah sebelum cita-citanya terwujud.


"Pasti banyak karyawan laki-laki yang deketin kamu, ya." Wajah Aksa sudah berubah.


Riana memandang wajah sang kekasih kemudian menangkup wajah Aksa dan senyum manis pun dia berikan.


"Meskipun banyak, tetapi hati Ri hanya untuk Abang seorang," jawabnya.


"Pasti lebih tampan 'kan dari Abang?" sergah Aksa.


"Buat apa tampan doang, tapi gak berduit. Hidup itu harus realistis lah, Bang. Sudah dapat berlian kenapa harus mencari batu kerikil." Aksa pun tertawa mendengar ucapan Riana. Dia menarik tangan Riana ke dalam pelukannya.


Waktu sudah tengah malam, Riana enggan untuk menginap di apartment milik Aksa. Terpaksa, Aksa mengantarkan kekasihnya ini ke kosan.


Rana sedikit takut ketika hendak turun, Aksa menatapnya bingung.


"Kenapa?" tanya Aksa ketika mobilnya sudah berada di depan kosan yang Riana tempati, tetapi Riana masih terdiam.


"Abang sudah ijin kepada pemilik kosan sama wanita yang tinggal bersama kamu." Ucapan Aksa membawa kelegaan di hati Riana.


"Makasih ya, Bang." Aksa tersenyum dan kemudian mengecup kening Riana sebelum dia turun dari mobil.


"Good night, Sayang. Sampai ketemu besok."


Benar saja, Riana tidak ditegur oleh Rani maupun Ari. Dia bisa masuk begitu saja. Riana melihat jam di atas dinding, sudah jam setengah satu malam.


"Semoga besok gak kesiangan," ujar Riana.


Keesokan paginya, ternyata Riana bangun jam tujuh kurang lima belas. Riana sibuk sendiri dan mengumpat kesal kepada dirinya sendiri.


"Kenapa bisa kesiangan begini coba?"


Riana mandi ala bebek dan Make Up pun hanya memoleskan sedikit bedak saja dan juga lipstik. Sialnya, ojek online yang Riana pesan lama sampainya. Ketika jam tujuh lewat sepuluh baru tiba di kosan.


Sedangkan di kantor, Jingga sudah sibuk membersihkan ruang direktur utama karena dia mendapat kabar bahwa direktur utama yang telah lama tak menampakkan diri akan datang pagi ini. Akan mengadakan meeting dadakan bersama para karyawannya.


...****************...

__ADS_1


Komennya dong biar aku up lagi ...


__ADS_2