Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kesederhanaan.


__ADS_3

Deg.


Jingga terdiam mendengar ucapan Aska. Wajahnya memucat dan membuat Aska tertawa. Aska mencubit gemas pipinya.


"Aku bercanda," ucapnya.


Jingga kini mendongakkan kepala menatap Aska. Senyum bahagia terukir di wajah pria tersebut.


"Aku bukan pria pemaksa. Aku sudah janji akan itu 'kan," tuturnya.


Ada kelegaan di hati Jingga. Dia belum mau bertemu dengan keluarga Aska. Cara bicara anggota keluarga besar Aska memang santai, tetapi dirinya masih enggan. Dia takut itu hanya kamuflase saja.


Di rumah besar milik Giondra, mereka tengah asyik berbincang santai. Itu hanya akal-akalan Gio dan Echa saja membohongi Aska. Padahal Ayanda tengah sibuk dengan ketiga cucunya.


"Besok malam ada teman Daddy yang akan datang berkunjung," imbuh Gio.


Aksa, Radit, Echa serta Riana mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh ayah mereka.


"Dia juga akan membawa putri mereka," lanjut Gio.


"Mau menjodohkan Aska?" tebak Radit.


Gio tertawa mendengar tebakan Radit. Dia menyesap kopi yang sudah tersedia. "Apa dijodohkan itu menyenangkan?" tanya balik Gio.


"Selagi si Adek masih bisa cari perempuan sendiri, kenapa harus dilakukan hal seperti itu?" jawab Aksa. "Perjodohan itu tak seindah dan semudah kisah di novel romansa," tambahnya lagi.


"Ciye, yang korban perjodohan," ejek Riana kepada Aksa. Kedua kakaknya serta Gio pun terkekeh mendengar ledekan Riana.


Aksa mendelik kesal ke arah istrinya membuat Riana segera merangkul manja lengan sang suami. Meletakkan kepalanya di bahu Aksa.


"Jangan marah."


Aksa mengecup ujung kepala sang istri. Dia juga mengusap lembut perut Riana.


"Manja banget sih," ejek Radit.


"Biarin!" Riana menjawab dengan sedikit menjulurkan lidahnya ke arah Radit.


Rumah Gio sangat terasa hangat ketika anak-anak serta menantu-menantunya datang. Meramaikan rumahnya yang terasa sunyi jika tak ada mereka.


"Daddy harap besok kalian kumpul juga," pintanya. Mereka hanya mengangguk.


Mereka tidak menanyakan perihal sahabat sang ayah. Sudah pasti itu adalah orang penting. Begitulah pikir mereka.


"Dad, mungkin setelah Riana lahiran Abang akan pindah ke rumah yang telah Abang beli. Mulai Minggu depan rumah itu akan direnovasi," jelasnya.


"Loh kenapa pindah? Apa di sini Mommy mengganggu kalian?" Kini, Ayanda yang membalas ucapan Aksa. Dia sudah berada tak jauh dari ruang keluarga.


"Tidak, Mom. Kami hanya ingin hidup mandiri," terang Aksa.


Ayanda berjalan mendekat ke arah Aksa. Dia duduk di samping sang suami.


"Rumah ini sangat besar, Bang. Kamu mau punya anak lebih dari sepuluh pun rumah ini masih sanggup menampung kalian di sini," ujar Ayanda.


Sorot matanya terlihat penuh kesedihan dan ketidak relaan. Ayanda tidak ingin jauh dari anak-anak dan menantunya. Rumah yang Aksa miliki cukup jauh dari rumahnya. Berbeda dengan rumah Echa dan juga Radit.

__ADS_1


"Iya, Bang. Lebih baik kamu renovasi rumah Riana yang beda lima rumah dari rumah Papah. Dari pada harus pindah ke sana, jauh," timpal Echa.


Ketika Rion sudaj menikah dengan Amanda dan memiliki Riana. Rion membeli rumah didekat rumah Gio dan Ayanda. Sebenarnya rumah itu Rion beli untuk Echa sebagai pengganti rumah yang dia tempati bersama keluarga barunya. Namun, karena ibu dari Riana iri. Akhirnya, Echa membalik namakan rumah itu menjadi milik Riana.


"Abang ingin mandiri, Kak, Mom," terang Aksa.


Gio menghela napas kasar. Dia mengusap lembut pundak sang istri. Mencoba menenangkannya.


"Daddy sangat bahagia mendengar kamu ingin hidup mandiri. Daddy juga sangat mendukung," sahut Gio.


Namun, istrinya sudah menatap Gio dengan tatapan pilu. Gio tersenyum ke arah Ayanda dengan sorot mata tak terbaca.


"Alangkah baiknya kamu tinggal di sini saja terlebih dahulu sebelum adikmu menikah. Daddy membuat rumah yang besar karena Daddy ingin berkumpul terus sama kalian serta cucu-cucu Daddy," terangnya.


Echa dan Aksa terdiam mendengarnya. Mereka menatap sedih ke wajah sang ayah yang sudah tidak muda lagi.


"Daddy dan Mommy hanya ingin menghabiskan waktu tua kami bersama anak-anak, menantu-menantu serta cucu-cucu Daddy. Hanya itu," pungkasnya.


Hati Riana terenyuh mendengarnya. Keinginan ayah mertuanya sama dengan keinginan sang ayah.


"Ri, kamu gak kasihan sama Ayah?" Kini sang kakak beribicara kepada Riana.


"Kalau kamu tinggal masih di daerah sini, setidaknya kita sering bertemu dan berkumpul bersama," imbuh Echa. "Ayah sudah tidak muda lagi, Ri."


Hati Riana mencelos mendengarnya. Dia terdiam, dia jadi teringat akan ayahnya. Rion sudah mulai sering sakit akhir-akhir ini. Kini, Riana menatap ke arah sang suami dengan tatapan sendu dan penuh permohonan.


"Besok kita akan tetap ke rumah milik Abang."


Aksa adalah pria yang berpendirian teguh. Tak tergoyahkan walaupun keluarganya sudah membujuknya. Riana hanya bisa mengikutinya saja, bukankah seorang istri harus patuh kepada suami? Namun, dia juga tidak akan diam saja. Pelan-pelan dia akan membujuk suaminya.


"Mana pesanan Kakak Na?"


"Pesanan Kakak Sa juga."


"Punya Dedek juga."


Semua orang pun tergelak melihat ketiga anak itu berebutan makanan. Sungguh sangat menggemaskan.


"Mimo, tolong ambilkan nasi. Dedek gak mau makan di piring," tukasnya.


Mata Ayanda melebar mendengarnya, sama dengan kedua orang tua tiga bocah kembar tersebut.


"Kalian mau makan pakai apa kalau gak pakai piring?" tanya Echa.


"Di kertas nasi," jawab mereka bertiga.


Semua orang pun tertawa mendengarnya. Mereka mencubit gemas pipi ketiga anak Radit dan Echa.


"Tahu makan seperti itu dari mana?" tanya sang kakek.


"Tadi siang ... Opa ajak kami ke sebuah proyek pembangunan. Kami memang tidak boleh keluar mobil, tapi kami bisa melihat para pekerja di sana yang tengah makan siang," terang Aleena.


"Tangan kotor mereka menyentuh nasi yang baru saja mereka beli. Mereka hanya makan di bungkus nasi yang diletakkan di atas tanah. Mereka makan dengan sangat lahap dan makanan terlihat sangat enak. Padahal isi makanan itu hanya ada tempe goreng dan telur," tambah Aleesa.


"Malah Dedek lihat ada pekerja di sana yang tidak makan nasi. Hanya makan mie instan yang tak dimasak. Hanya diberi air panas lalu ditutup dengan karet. Kata Opa itu sangat tidak sehat," tutur Aleeya.

__ADS_1


Ketiga anak Radit dan Echa memang selalu diajak ke lapangan langsung oleh Addhitama supaya mereka memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Berbeda dengan Rio, cucu pertama Addhitama. Dia akan Addhitama bawa ke perusahaan, mengenalkan pelan-pelan perusahaan yang nantinya akan dia kelola setelah dia beranjak dewasa.


Itu semua tak sia-sia karena si triplets sekarang lebih peka pada orang di sekitaran mereka. Ketika Addhitama ajak mereka makan di restoran mahal dengan menu yang sama dengan penjual pinggir jalan, maka mereka akan protes.


"Opa, lebih enak yang di tempat biasa Kakak Na beli."


"Ini mahal Opa."


Begitulah yang mereka katakan. Mereka juga serkaeang sudah jarang meminta barang mahal kepada Addhitama atupun kepada keluarga mereka yang lainnya. Itu terjadi ketika mereka dibawa ke sebuah panti asuhan di mana anak-anak yang ada di sana seusia mereka. Mereka terlihat bahagia ketika diberi baju bekas yang masih layak pakai, membuat si triplets tercengang. Sedikit-sedikit Addhitama juga mengajarkan artinya bersyukur. Dia ingin kelak cucu-cucunya menjadi orang pandai bersyukur dan selalu merasa cukup.akan rezeki yang sudah Tuhan berikan. Tidak menjadi serakah walaupun nantinya mereka akan hidup bergelimang harta.


Mereka mengajak orang-oranv yang ada di sana untuk makan bersama. Untung saja para asisten rumah tangga di rumah Ayanda menyimpan kertas nasi. Jadi, mereka bisa memintanya. Semuanya sudah si triplets atur.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh."


Aleena menghitung jumlah orang yang berada di sana. Kemudian, dia melihat jumlah ayam dan lele yang omnya beli.


"Cuma enam," kata Aleena.


"Ya udah, Om beli lagi." Aska yang hendak pergi pun dicekal oleh Aleesa.


"Makan seadanya aja, Om," tutur Aleesa.


Semua orang dewasa tercengang mendengar ucapan anak-anak Echa ini. Mereka pun mengikuti arahan ketiga kurcaci tersebut untuk duduk di lantai tanpa alas.


Sepuluh orang makan bersama dengan hanya ada enam lauk di sana. Namun, ide si triplets sangat brilian. Mereka memotek lele dan juga ayam.


"Jadi banyak 'kan," imbuh Aleeya dengan senyum yang merekah.


Aleena mengatur semuanya, di mana semuanya adil mendapatkan lele atau ayam yang sudah anak-anak itu potong. Lalapannya pun mereka bagi-bagi. Begitu juga dengan sambal juga sate telur puyuh yang sudah mereka lepas dari tusukan.


"Ayo kita makan," ajak Aleena dengan sangat bahagia.


Pada orang dewasa menatap ke arah lantai di mana nasi dan lauk sudah tertata rapi. Senyuman mereka merekah.


"Sebelum makan kita berdoa dulu." Kini Aleeya yang berbicara.


"Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma barik Lana, fiima Rojak tanah, waqina 'adzaa bannar. Amin."


Mereka semua menikmati makan malam ala kadarnya. Padahal di meja makan sudah tersedia masakan yang sangat lezat.


"Enak gak Uncle?" tanya Aleena kepada Aksa. Sang paman pun mengangguk.


"Tidak selamanya makanan yang enak itu membuat kita bahagia. Padahal, makam seperti ini saja jika bersama keluarga besar akan terasa sangat nikmat," imbuh Gio.


Semua orang mengangguk setuju. Pada hakikatnya kebahagiaan itu bukan dari barang ataupun makanan mahal dan mewah. Kebahagiaan terletak pada bagaimana kita mensyukuri setiap rejeki yang Tuhan berikan kepada kita.


"Benar, Pah. Makan hanya dengan kecap juga kerupuk akan terasa nikmat jika bersama orang yang kita sayang," timpal Echa.


Hening.


Semua orang kini menatap ke arah Echa yang tengah menatap ke arah sang ibu dengan senyum yang mengembang.


"Terima kasih, Mah. Dari kesusahan yang kita hadapi, kini kita bisa merasakan kebahagiaan yang bukan hanya sekadar mimpi."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2