
"Benarkah?"
Suara seseorang yang baru saja datang terdengar. Mereka semua menoleh ke arah di mana datangnya suara. Mata Melati seketika melebar melihat siapa yang ada di sana.
"Kak," larang Ayanda. Dia takut sang putri akan membahas perihal siang tadi.
Echa berjalan ke arah semua orang di ruang makan. Dia mencium tangan kedua orang tuanya. Begitu juga dengan suaminya.
"Papih kamu gak apa-apa, Dit?" tanya Gio ke arah sang menantu pertama.
"Papih hanya drop saja, Pah."
Bukan hanya Melati yang melebarkan mata tak percaya, dokter Eki pun sama seperti Melati.
"Dokter Radit," sapa Eki. Radit tersenyum dan menjabat tangan dokter Eki.
"Sayang, kenalkan ini teman Papih. Namanya dokter Eki," terang Radit kepada Echa.
"Dia juga sahabat Papah, Sayang," tambah Giondra.
Echa hanya tersenyum dan menjabat tangan Eki dengan sopan, tapi tidak kepada anaknya. Echa adalah manusia pendendam apalagi jika itu menyangkut ibunya.
"Dunia ini ternyata sempit sekali, ya." Kalimat yang terlontar dari mulut Radit sama dengan ucapan Aska.
"Hanya berputar pada orang-orang ini saja," lanjut Echa.
"Makan dulu, Kak," ajak Ayanda.
Radit sudah menarik kursi untuk istri tercinta. Dia duduk di samping ketiga anaknya yang masih menyantap makanan.
"Oh ... ini anak tiri lu, Ndra? Raditya ini menantu tiri lu juga." Ucapan Eki seperti memancing emosi singa yang tengah tertidur.
Brak!
Tangan Aksa sudah menggebrak meja makan. Makanan yang berada di atasnya bergetar dan juga bergeser dari tempat semula.
"Jaga tutur kata Anda atau silakan pergi dari rumah ini!" usir Aksa berapi-api.
Bukan hanya Aksa yang murka, Aska pun menatap tidak suka ke arah Eki.
"Anda ke sini mau makan malam atau nyinyir keluarga saya?" tekan Aska.
"Udahlah, biarin aja. Suka-suka dia aja mau berbicara apa," ucap Echa. Dia mencoba untuk santai, padahal hatinya sudang sangat kesal.
"Tuh 'kan, kakak kalian aja menerima ucapan saya," balas Eki.
__ADS_1
"Memang benar ya pepatah mengatakan, bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
Jleb.
Melati semakin terdiam. Dia tidak berani menegakkan kepalanya.
"Pah, tadi Echa ketemu sama seorang perempuan yang sangat amat sombong. Mungkin dia kaya beneran atau hanya pura-pura kaya, Echa tidak tahu. Ada satu kalimat yang membuat Echa menggelengkan kepala. Dia bilang bahwa dia mampu membeli diri Echa dengan uangnya," adu Echa kepada Gio.
"Perempuan itu mau berbicara perihal angka? Coba tunjukkan berapa digit angka yang dia punya. Jika hanya tiga atau empat saja, itu hanya seujung kuku kekayaan kamu," sahut Gio.
"Nyari perkara tuh perempuan," dengkus Aska.
"Sederhana belum tentu kekurangan uang," tambah Aksa.
"Seperti apa sih perempuannya? Biar aku beliin kaca besar buat dia ngaca. Gak tahu aja sudah berhadapan dengan siapa dia." Radit berbicara dengan nada yang sedikit meninggi.
Tangah Melati sudah dingin semua. Dia benar-benar takut dengan keluarga ini.
"Perempuan itu ada di sini." Ingin sekali Echa berbicara seperti itu. Namun, dia tidak tega. Dia hanya bisa menatap sang ibu yang sudah menggelengkan kepalanya pelan.
"Bubu, Kakak Sa sudah kenyang. Kakak Sa mau ke kamar."
Aleesa sudah jengah mendengar ucapan dari Eki. Perginya Aleesa diikuti oleh Aleena dan juga Aleeya.
"Ganti baju dulu ya, sebelum tidur." Mereka pun mengangguk patuh.
"Kenapa kalian seperti orang musuhan? Lebih dekat kenapa? 'Kan lagi pendekatan," tutur Eki.
"Maaf ya, Om. Tolong jaga bicara Om," tukas Aska.
"Kenapa lu yang ngebet sama anak gua? Lu menyukai anak gua atau mencintai harta gua?" Pertanyaan menjebak.
"Anak gua 'kan suka sama anak lu. Jadi, boleh dong gua dukung anak gua," balas Eki tak mau kalah.
"Kalau saya-nya gak suka gimana? Masih mau maksa?" hardik Aska.
"Kolot banget sih. Zaman modern masih aja jodoh-jodohan," cibir Echa.
Ucapan Echa itu lebih mematikan daripada ucapan Aksa. Ucapannya mampu membuat Eki dan Melati terdiam.
"Dokter ke sini untuk sialturahmi 'kan. Bukan untuk acara perjodohan," sergah Ayanda.
"Jadi, saya harap stop membicarakan perihal anak dokter ataupun putra saya. Saya bukan orang tua yang kolot yang akan menjodohkan anak saya dengan si A atau si B, tapi saya membebaskan putra saya untuk mencari wanita pilihannya sendiri," terang Ayanda
"Jika, memang nanti putra saya berjodoh dengan putri Anda. Berarti mereka memang berjodoh. Bukan karena dijodohkan," tegas Ayanda.
__ADS_1
"Udah, Yah," lerai Melati.
Dua pelayan membawa nampan berisi minuman juga camilan. Mereka meletakan di depan orang yang berada di sana.
"Mbak, tolong buatkan Echa kopi pahit."
Semua keluarga Echa tercengang dengan apa yang diucapkan oleh Echa.
"Sayang, kenapa kopi pahit?" tanya Radit.
"Kepala aku pusing, mungkin dengan minum kopi pahit pusingnya hilang."
Bukan pusing biasa yang Echa rasakan, tetapi pusing karena adanya Melati di rumah ini.
"Baik, Non," sahut pelayan.
"Askara, boleh Om nanya sesuatu?" Aska hanya mengangguk.
"Tipe wanita kamu seperti apa?" tanya Eki.
"Seperti Mommy juga Kakak."
Eki pun terdiam, dia kini menatap ke arah Melati yang sama sekali tak mengeluarkan suaranya.
"Dua wanita itu adalah wanita yang terbaik yang ada di hidup saya. Tidak perlu cantik, berkarir, jika sikapnya sama seperti Kakak dan Mommy pasti akan saya cintai sepenuh hati," terangnya.
"Kaya pasti dong," tebak Eki.
"Sampah di jalanan pun, jika memang memiliki sifat seperti Mommy juga Kakak pasti akan saya ambil. Malah akan saya jadikan ratu di dalam rumah tangga saya," tegasnya.
Kini, Eki menatap ke arah Giondra yang terlihat santai. "Gak mungkin dong lu nyari menantu tanpa ada bibit bebet bobotnya," ujar Eki.
"Raditya adalah anak dokter Addhitama yang kekayaannya luar biasa. Istrinya Aksara adalah anak dari mantan istri lu yang juga pengusaha. Jodoh Askara ... tidak mungkin dari kalangan biasa 'kan," cecar Eki.
Gio pun tertawa dan menatap ke arah Eki dengan sorot mata tak bisa terbaca.
"Apa sih untungnya membedakan derajat manusia? Gua itu hanya ingin anak-anak gua bahagia. Harta mah bisa dicari asal muasal rajin dan juga kerja keras," terang Giondra.
Eki pun terdiam, tak lama pelayan datang dan membawa secangkir kopi panas untuk Echa
"Ini, Non."
"Makasih, Mbak."
Kopi itu tidak Echa minum ataupun sentuh. Setengah jam berselang, Eki dan Melati pamit pulang. Mereka berjabat tangan. Ketika Melati menjabat tangan Echa, secangkir kopi Echa siramkan ke wajah Melati.
__ADS_1
"Ucapanmu sangat pahit seperti kopi ini."