Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Don't Give UP On Me


__ADS_3

Di dalam ruang perawatan Jingga, hanya suasana hening dan mencekam yang terasa. Aska sudah berada di samping ranjang pesakitan Jingga. Namun, Jingga seperti patung bernapas. Tak sedikit pun suara yang dia keluarkan.


"Abang minta maaf. Dokter Melati yang ...."


"Kenapa Abang harus meminta maaf?" potong Jingga tanpa menoleh ke arah Aska sama sekali. "Memangnya aku siapanya Abang?" Aska pun terdiam, tetapi kalimat yang Jingga ucapkan seperti sentilan keras untuknya.


Aska tidak berkata apapun ketika Jingga berbicara seperti itu. Mereka kembali terdiam bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


Jingga menggeser tubuhnya dengan ringisan kecil. Aska nampak panik dan ingin membantu Jingga.


"Aku hanya ingin ke kamar mandi."


Kalimat yang diucapkan Jingga menghentikan langkah Aska. Dia sangat tahu bagaimana Jingga. Namun, Aska melanjutkan langkahnya lagi untuk membantu Jingga yang terlihat kesakitan. Ketika tangan Aska hendak menyentuh Jingga, dia pun menepisnya. "Aku bisa sendiri." Kalimat yang terdengar sangat ketus di telinga Aska.


Dia hanya bisa menatap punggung Jingga yang selangkah demi selangkah mulai menjauh darinya. Perlahan pintu kamar mandi pun tertutup. Helaan napas kasar keluarga dari mulut Aska. Dia duduk di tepian ranjang pesakitan dengan menatap nanar ke arah pintu kamar mandi.


"Lu emang cowok bodoh, Aska! Bodoh!" umpatnya pada diri sendiri.


DI dalam kamar mandi, Jingga duduk di atas kloset dengan tangan yang menyentuh dadanya. Mendadak dadanya terasa sakit dan sesak. Senyuman terukir di bibirnya, juga air mata yang pelan-pelan terjatuh membasahi wajahnya.


"Kamu harus tahu diri, Jingga!" ucapnya dalam hati. "Kamu bukan Riana! Dia pantas mendapatkan pak direktur utama," lanjutnya dengan nada yang sangat lirih.


Jingga terus terisak dengan sangat pelan supaya suaranya tidak terdengar hingga keluar. Dia akui, berpisah dengan Fajar tidak membuatnya sakit seperti ini. Lain halnya jika mendengar Aska dekat atau berbincang dengan wanita lain. Ulu hatinya seperti terkena pukulan benda tumpul tiba-tiba.


"Nak, ketika kamu dewasa dan mulai mengenal cinta. Jangan mencintai laki-laki yang memiliki kasta tinggi. Carilah pria yang sama dengan kamu karena sesungguhnya kekayaan tidak menjamin kebahagiaan."


Perkataan yang menjadi nasihat terakhir sang ibu ketika mereka berdua berada di atas motor sebelum kecelakaan naas itu terjadi.


"Bunda hanya ingin putri Bunda bahagia, tidak disakiti oleh pria manapun. Cukup Bunda yang dulu disakiti dan terpaksa membesarkan kamu tanpa kasih sayang seorang ayah."


Kalimat lanjutan yang sang ibu katakan. Jingga semakin menunduk dalam. Kesedihannya semakin tak terbendung jika sudah mengingat ibunya. Aska bukanlah pria yang diinginkan oleh sang bunda. Jelas-jelas Aska adalah adik dari seorang Aksara. Jadi, dia bukanlah orang biasa dan bukan dari kalangan sembarangan.


"Aku harus mengikuti nasihat Bunda," lirihnya.


Cukup lama Jingga berada di kamar mandi. Akhirnya, dia mencoba bangkit dari kloset dan dia segera mencuci wajahnya agar Aska tak melihat bekas tangisan yang membuat matanya sembab dan hidungnya memerah.

__ADS_1


"Kamu bisa Jingga! Pasti bisa!" ucap Jingga seraya menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Bibirnya terangkat, tetapi hatinya tersayat.


Jingga melangkah dengan sangat hati-hati karena rasa sakitnya masih terasa. Ketika dia membuka pintu kamar mandi, dia tidak melihat siapapun di kamar perawatannya. Pria yang sudah lebih dari dua puluh empat jam menjaganya pun tidak ada. Senyum penuh kepedihan terukir di wajah cantiknya.


"Miris sekali," ucapnya.


Sudah satu jam, Jingga berada seorang diri di kamar perawatan tersebut. Tidak ada tanda-tanda orang yang akan masuk ke kamarnya. Hanya sebuah lagu yang menemaninya. Lagu penyemangat untuk terus menjalani hidup.


🎶


Cause I’m not givin’ up


(Karena aku tidak menyerah)


I’m not givin’ up, givin’ up, no, not yet


(Aku tidak menyerah, masih belum saatnya)


Even when I’m down on my last breath


(Bahkan sampai ke nafas terakhirku)


(Bahkan saat mereka mengatakan tidak ada yang tersisa)


So don’t give up on


(Jadi janganlah menyerah)


🎶


I’m not givin’ up


(Aku tidak menyerah)


I’m not givin’ up, givin’ up, no, not me

__ADS_1


(Aku tidak menyerah, bukan diriku)


Even when nobody else believes


(Bahkan saat tidak seorang pun percaya)


I’m not goin’ down that easily


(Aku takkan hancur dengan begitu mudahnya)


So don’t give up on me


(Jadi janganlah menyerah diriku)


Tidak ada yang Jingga miliki sekarang ini. Hanya dirinya tempatnya untuk pulang. Hanya dirinya pula tempatnya bersandar dan hanya dirinya yang mampu membuatnya kuat sampai saat ini. Tidak ada yang dapat menolongnya, kecuali dirinya sendiri. Tidak ada yang dapat membahagiakannya, kecuali dirinya sendiri juga.


Jingga memejamkan mata dengan tetesan bulir bening di ujung matanya. Munafik, jika dia tidak merasa sedih dan terpuruk. Bohong besar jika dia tidak merasa kesepian. Jingga hanya manusia biasa. Dia juga pernah berada di titik terlemahnya. Titik di mana dia ingin menyerah, tetapi Tuhan menginginkannya untuk terus berjuang menaklukkan dunia.


Mata Jingga memang terpejam, tetapi hatinya tengah berkelana ke sana ke mari. Pada saat ini, hatinya tengah bertanya ke mana pria yang dia sukai pergi. Kenapa dia tidak memberi kabar? Dari sinilah Jingga semakin yakin bahwa Aska yang dulu dia kenal sudah berubah.


"Jangan pernah berharap apapun lagi, Jingga. Apa yang Bunda katakan memang benar. Mencintai pria yang berkasta itu hanya membuat hati terluka."


"Aku akan berusaha melupakanmu. Mengubur semua rasa yang aku miliki karena sesungguhnya aku tidak ingin tersakiti."


Jingga Andira anak yang dilahirkan ketika senja datang. Anak yang diharuskan tumbuh dengan satu tumpuan, yaitu sang ibu. Namun, kini Jingga bagai Hatchi si lebah madu, yang hidup sebatang kara tanpa sanak saudara. Dia diharuskan kuat sebelum waktunya. Dia diharuskan tersenyum ketika sakit, sedih dan kecewa datang. Setelah kepergian ibunya ke surga, dia tidak tahu rasanya bahagia yang sesungguhnya. Dia sudah lupa bagaimana caranya tertawa lepas. Semuanya karena sebuah kepura-puraan.


Setelah air mata itu menetes, Jingga pun terlelap karena kelelahan bersedih. Jam sebelas dua puluh perlahan matanya terbuka karena rasa sakit di belakang pinggangnya kembali hadir. Ketika matanya terbuka, dia melihat seorang pria tampan sudah tersenyum manis ke arahnya. Dia juga membantu Jingga untuk menaikkan bagian kepala hingga setengah tubuh ranjang pesakitan yang Jingga tempati. Pria itu kemudian duduk di bibir ranjang pesakitan di bagian kaki Jingga. Hanya tatapan datar yang Jingga berikan.


Tangannya sudah merogoh ke dalam saku celana yang dia gunakan. Sebuah kotak kecil beludru berwarna merah hati.


"Will you marry me?"


Sebuah cincin indah yang dia tunjukkan kepada Jingga.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


Maaf ya, kalau up-nya agak ngaret. Sibuk di dunia nyata.


__ADS_2