Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kakak Beradik


__ADS_3

Pertanyaan Jingga membungkam mulut Riana. Dia sudah berjanji kepada suaminya tidak akan memberitahukan di mana keberadaan Aska kepada siapapun karena suaminya hanya memberitahukan nama rumah sakit tanpa memberitahukan siapa yang menjadi dalang di balik bonyoknya Asmara yang tak lain adalah adik iparnya tersebut.


Riana tersenyum dan menggenggam tangan Jingga dengan sangat erat. Dia juga menatap Jingga dengan sangat lekat.


"Kak Aska baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir," ucap Riana.


Perkataan Riana membuat mata Jingga berkaca-kaca. Riana terkejut dan sangat merasa bersalah.


"Jingga ...."


"Aku sangat merasa bersalah kepadanya, Mbak," terang Jingga yang sudah menunduk dalam.


Riana tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Jingga. Namun, dia segera mengusap lembut pundak Jingga dan Riana memeluk tubuh Jingga yang bergetar untuk sekedar memberikan ketenangan.


"Jangan menangis di sini. Lebih baik kita cari tempat yang lebih nyaman, ya." Riana berucap sangat dewasa. Dia seperti pelindung untuk Jingga.


Riana mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi suaminya yang sudah pasti masih berada di jalan arah rumah sakit.


"Ada apa, Sayang?"


"Bang, Ri boleh ke mall duluan?" tanya Riana tanpa ragu.


"Loh? Kenapa?"


"Ri, ingin melepas rindu dengan Jingga di tempat yang tidak banyak orang menguping," ujar Riana. Dia melihat bahwa para karyawan di tempat itu tengah memperhatikannya dan juga Jingga.


"Di mall yang biasa kita datangi, ya. Di restoran tempat kita makan. Abang reservasi tempatnya dulu. Biar kamu dan Jingga lebih nyaman. Pesan makanan yang sehat. Jangan keluar restoran sebelum Abang datang."


Ucapan panjang lebar yang Aska berikan. Semakin ke sini Aksa memang memberikan ruang kepada Riana. Namun, keprotektifannya pun semakin bertambah luar biasa.


"Iya, Abang Sayang. Makasih, Daddy." Riana berucap dengan senyum yang terus terukir di wajahnya. Dia pun tak mau untuk mengatakan kata I love you kepada suaminya di depan Jingga.


Sedari tadi Jingga yang terus menatap ke arah Riana merasa sangat iri karena Riana mendapatkan pendamping yang sangat luar biasa baiknya. Dia pun ingin mendapatkan pria seperti itu. Setidaknya ada hal romantis yang dia dapat. Bukan malah hal sadis yang dia terima hampir setiap hari.


"Nanti Abang kabarin, ya."


Sambungan telepon pun berakhir. Riana menyunggingkan senyum yang sangat lebar.


"Kita nanti ke restoran saja. Kamu bisa cerita semuanya kepada aku," tutur Riana.


Jingga merasa sangat terharu mendengar ucapan Riana. Riana benar-benar sangat baik. Dia juga seperti diperlakukan layaknya saudara oleh Riana. Hal yang tidak pernah Jingga rasakan semenjak dia berpisah dengan keluarga Satria. m


"Apa saya tidak merepotkan?" tanya Jingga lagi.


"Kenapa kamu sungkan lagi? Anggap aja aku ini adalah kakak kamu," tutur Riana.


Ya Tuhan, sungguh baik sekali Riana ini. Semoga ada malaikat yang lewat dan tak sengaja mencatat apa yang diucapkan oleh Riana. Jingga pun merasa terenyuh mendengar penuturan Riana. Keluarganya saja menganggapnya orang asing, sedangkan Riana malah menganggapnya keluarga. Sungguh berbanding terbalik.


Di parkiran rumah sakit, kedua pria tampan sudah turun dari mobil dan segera menuju ke ruang perawatan di mana Aska dirawat. Wajah mereka nampak sekali tidak bersahabat. Ucapan Aska mampu membuat mereka berdua terkejut.


Pintu ruangan Aska pun terbuka, Ken dan Juno menggelengkan kepala mereka ketika melihat Aska tengah berdua dengan dokter yang sangat cantik jelita. Bukan berdua, tetapi menindih dokter cantik dengan mata yang saling menatap.


"Ck, ck, ck. Kelakuan lu, ya," sergah Ken.


"Gua bilangin ke Baginda raja lu!" ancam Juno.

__ADS_1


"Apaan? Gua gak ngapa-ngapain, tadi gua kesandung dan nubruk tubuh dokter Melati sampai tubuhnya jatuh ke ranjang," terang Aska. Kini, posisi mereka berdua sudah sedia kala. Aska yang duduk di tepian ranjang pesakitan dan dokter Melati yang berada di samping ranjang pesakitan Aska. Dokter Melati sedari tadi menundukkan kepalanya karena malu. Apalagi, tak sengaja bibir Aska menyentuh bibirnya. Hal pertama yang dokter Melati rasakan.


"Banyak alasan!" tukas Ken.


Deheman seseorang membuat semua orang menoleh. Begitu juga dengan dokter Melati yang sesaat terpana akan ketampanan pria yang baru saja datang. Wajahnya sama seperti pasien yang ada di kamar ini. Namun, auranya jauh berbeda.


"Bukannya tadi Sultan ni masih ada di kafe?" bisik Juno. Ken menjawab dengan sebuah anggukan.


Tatapan tajam Aksa berikan kepada Aska. Apalagi, jarak di antara Aska dan juga dokter tersebut sangatlah dekat.


"Anda sudah selesai memeriksanya?" tanya Aksa dengan nada yang sangat menakutkan.


Dokter Melati pun mengangguk, tetapi dia tidak berani menatap kearah Aksa. Tampan, tetapi perkataannya mampu menampar keras dirinya.


"Kenapa Anda masih di situ? Apa Anda kurang kerjaan?" Ken dan Juno saja yang mendengar ucapan Aksa bergidik ngeri. Apalagi bagi dokter Melati yang ditegur Aksa secara terang-terangan dengan cara yang sangat menakutkan.


"Ka-kalau begitu ... saya permisi," ucap dokter Melati dan berlalu begitu saja.


Aska berdecak kesal melihat sikap abangnya itu. "Bisa gak sih lembut sedikit sama cewek?" tanyanya dengan sedikit emosi. Ken dan Juno hanya akan menjadi penonton di antara adik kakak ini jika terjadi perkelahian.


"Gua udah punya istri. Tidak ada alasan untuk gua lembut sama cewek lain selain istri gua," tukas Aksa. Ken dan Juno tercengang mendengar ucapan Aksa. Ingin rasanya mereka bertepuk tangan karena mereka menyukai ucapan Aksa barusan.


"Gua bukan orang yang terlalu banyak basa-basi terlalu lama karena itu akan menceburkan diri gua sendiri dalam kubangan kebasian," sindirnya.


Sindiran Aksa langsung menusuk ulu hati adiknya. Dia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh abangnya kepadanya.


"Denger tuh! Lebih baik menegaskan diri sendiri, daripada menya-menye ke cewek berujung ceweknya baper," ujar Ken seraya menyindir Aska.


Aksa sudah duduk di sofa, Ken dan Juno mengalah. Mereka hanya berdiri karena sangat menghormati sang Baginda. Aura didekat Aksa sangatlah mencekam.


"Lu mau bicara apa?" tanya Aksa kepada Aska.


"Apa kita keluar aja, biar kalian berdua berbicara?" Juno sudah membuka suaranya.


"Kalian di sini aja, gua mau ngomongin perihal kafe." Ken dan Juno sudah bisa menebak perihal apa yang ingin Aska katakan, sedangkan Aksa masih menatap adiknya tanpa ekspresi.


"Gua mau ngambil orang untuk pembukuan," ucap Aska.


Tidak ada jawaban dari mereka bertiga. Mereka masih mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aska.


"Sekaligus, gua ingin mengambil salah satu karyawan untuk menjadi asisten pribadi gua," jelasnya. Tatapannya menuju ke arah Aksa.


Aksa tersenyum tipis mendengarnya. Berbeda dengan kedua sahabat Aska yang nampak tidak setuju.


"Ngapain lu bilang ke gua? Gua gak ada wewenang apapun," ujar Aksa.


"Tau lu! Kita berdua nih yang harusnya lu tanyain," omel Ken.


Aska sudah melebarkan matanya agar Ken tidak melanjutkan ucapannya itu. Apalagi sudut bibir Aksa sudah terangkat sedikit mendengar ocehan Ken.


"Orang yang akan gua mintain pendapat untuk pertama kali adalah Abang gua," balas Aska kepada Ken.


Dahi Ken mengkerut dan mulutnya sudah akan membuka suara.


"Abang gua pemilik Jomblo's kafe cabang Jakarta."

__ADS_1


Mata Ken dan Juno melebar mendengar ucapan Aska. Apalagi Ken yang sudah menutup mulutnya tak percaya.


"Modal lima ratus juta itu milik Abang gua," papar Aska. Kini, mata Ken dan Juno melebar. Mereka berdua merasa tidak enak kepada Aksa.


"Udahlah! Uang segitu doang ini," balas Aksa.


"What? Uang segitu doang?"


Ken dan Juno benar-benar tidak habis dengan ucapan Abang dari Askara ini. Uang setengah milyar dianggap biasa. Sungguh kekayaannya melebih Raffi Ahmad.


"Gini ya, gua jelasin ke kalian semua. Gua itu butuh orang untuk mengecek laporan keuangan," papar Aska. "Sekalian gua juga butuh asisten untuk bantu-bantu gua," lanjutnya lagi.


"Dulu, lu bilang gak butuh," sahut Juno.


"Itu dulu, sekarang beda," balas Aska tak mau kalah.


Aksa hanya menggelengkan kepalanya. Watak Aska sama persis dengan wataknya. Sangat keras kepala.


Jika, sudah begini Upin Ipin versi Indonesia tidak akan bisa menolak. Semua kewenangan hanya ada pada diri Aska.


"Kita ikut ajalah," ucap mereka penuh frustasi. Aska pun tersenyum penuh kemenangan.


Lima belas menit mereka berbincang perihal Jomblo's kafe, Kini Aska mengusir lembut kedua sahabatnya. Dia ingin berbicara empat mata dengan Aksa.


"Bisa kalian keluar sebentar?" pinta Aska. Untungnya Ken dan Juno paham.


Mereka berdua langsung keluar kamar. Sekarang hanya tinggal Aska dan juga Aksa. Dahi Aksa mengkerut. Dia menatap bingung ke arah Adiknya.


"Jingga," ucap Aska.


Aksa masih bergeming dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aska selanjutnya.


"Siapa dia?" tanya Aska lagi.


Aksa tertawa dan beranjak dari duduknya. Dia menggelengkan kepala sambil menghampiri Aska.


"Sudah waktunya lu berjuang sendiri," pungkas Aksa.


Aska sejenak terdiam medengar ucapan dari Aksa. Dia menatap wajah abangnya dengan lekat.


"Lu udah salah start, tapi masih bisa gua bantu. Sekarang, lu minta bantuan gua lagi buat nyelidikin siapa Jingga? Gua gak akan mau. Sudah waktunya lu turun gunung," papar Aksa.


"Bang, kali ini ... aja." Aksa tetap menggeleng.


"Sudah cukup bantuan gua sampai di sini," tegasnya. Aska pun menghembuskan napas kecewa.


"Ingat! Kalau hati lu udah terkunci sama Satu orang. Jangan pernah kasih harapan kepada orang lain. Itu sama saja lu gak serius sama perasaan ku sendiri." Aksa menepuk pundak Aska, kemudian berlalu meninggalkan adiknya yang tengah terdiam.


Langkah kaki Aksa sudah ada di depan pintu dan tangannya sudah berada di atas gagang pintu.


"Bang," panggil Aska. Langkah Aksa pun terhenti. Dia menoleh ke arah Aska.


"Makasih, udah jaga Jingga. Selamatman Jingga," ucapnya dengan tulus.


Aksara hanya tersenyum, dia menghampiri adiknya kembali. "Kalau lu sayang sama dia, lindungi dia

__ADS_1


dengan sepenuh hati lu. Berikan kebahagiaan untuknya. Jangan lu bilang cinta, tapi hanya di mulut saja. Tidak ada perbuatan apalagi tindakan yang membuktikan semuanya," jelas Aksa.


...****************...


__ADS_2