
Ucapan Aska masih terngiang-ngiang di kepala Jingga. Dia berjalan dengan pikiran yang berkecamuk. Ke Bandung jaya berdua dengan Aska. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya. Dia ingin menolak, dia ingin menjauhi Aska. Namun. semesta seakan tengah berjuang mendekatkan mereka kembali.
Perut Jingga berbunyi ketika melewati warung pecel lele yang ada di pinggiran jalan. Jingga memang selalu berjalan kaki berangkat juga pulang kerja. Dia masuk ke dalam warung pecel lele tersebut. Ada seorang wanita yang sangat cantik di sana, tengah sibuk dengan ponsel di telinga. Terlihat wanita itu bukanlah orang biasa. Dari segi penampilan pun terlihat dia adalah sosialita di Kota ini.
"Pesan apa, Neng?" tanya penjaga kedai pecel lele ke arah Jingga.
Wanita yang baru saja menyudahi percakapannya pun menoleh ke arah Jingga, sama halnya dengan Jingga yang sedang menatap ke arah wanita tersebut. Tak JIngga sangka, wanita itu tersenyum hangat. Ramah dan menenangkan, senyum yang tersungging di wajah cantiknya.
"Neng," panggil penjaga kedai pecel lele.
Jingga pun tersadar dan meminta maaf karena sudah membuat menunggu Mas-nya. "Lele goreng sama nasi ya, Mas."
Pesanan wanita itupun sudah selesai. Sungguh banyak, batin Jingga.
"Dua ratus delapan puluh dua ribu." Bukan wanita itu yang terkejut, tetapi Jinggalah yang melebarkan mata. Sungguh banyak sekali tagihannya.
Wanita itu mengambil dompet yang ada di dalam tas miliknya. Terlihat dahinya mengkerut ketika di dalam dompetnya hanya ada uang cash sebesar dua ratus ribu rupiah.
"Ya Allah, kenapa aku bisa lupa tidak mengambil uang dulu tadi," gumam wanita itu.
Gumamannya dapat didengar oleh Jingga. Wanita itu menyerahkan uang lembaran berwarna merah kepada pelayan."Ini kurang, Bu," ucap pelayan kedai.
"Iya maaf ya, Mas. Saya lupa ambil uang cash. Pegang uang itu dulu. Saya ke minimarket sebentar untuk ambil uang," tutur wanita tersebut.
Tidak tega melihat wanita itu, Jingga pun mendekat. "Maaf, kurangnya pesanan ibu ini berapa, ya," tanya Jingga.
"Delapan puluh dua ribu," jawab si pelayan tersebut.
"Pesanan saya tadi berapa?" tanya Jingga.
"Lima belas ribu."
Jingga mengeluarkan uang yang dia miliki satu lembar satu lembarnya.
"Ini Mas, sekalian bayar kekurangan ibu ini."
"Jangan, Nak," tolak wanita itu dengan raut yang sangat terkejut.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Minimarket di sini cukup jauh," balas Jingga dengan raut penuh ketulusan.
Pelayan kedai itupun menerima uang dari Jingga dan memberikan kembalian tiga ribu rupiah.
"Makasih, Nak." Jingga hanya tersenyum seraya menganggukkan kepala.
Jingga dan wanita itu pun keluar dari kedai tersebut dengan bungkusan yang mereka bawa masing-masing.
__ADS_1
"Rumah kamu di mana, Nak?" tanya wanita tersebut.
"Tidak jauh dari sini, Bu." Wanita itu pun tersenyum dan menarik tangan Jingga untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Tidak perlu," tolak Jingga. "Sudah dekat kok," lanjut Jingga lagi.
Namun, wanita itu tidak menggubris ucapan dari Jingga. Dia tetap menyuruh Jingga masuk ke dalam mobilnya. Takjub, begitulah yang Jingga rasakan ketika masuk ke dalam mobil sultan.
"Mewah sekali, seperti mobil Ibu Bos Sultan Andara."
Mobil mewah yang berkisar di atas satu milyar yang menjadi kendaraan wanita cantik ini.
"Pak, ke minimarket dulu, ya," ucap wanita itu kepada sang sopir.
"Mobilnya sangat nyaman sekali. Ada jalan berlubang pun tak terasa."
Mobil itupun berhenti di sebuah minimarket. Wanita itu tersenyum ke arah Jingga dan mengajaknya untuk turun.
"Temani saya ke dalam," pintanya.
Jingga tersentak, ingin rasanya dia menolak. Namun, dia tak kuasa bertindak karena wanita itu sudah menariknya keluar dari mobil. Jingga hanya membuntuti wanita tersebut. Setelah selesai menarik uang, wanita itu malah menawarkan Jingga untuk berbelanja.
"Tidak perlu, Bu." Jingga benar-benar menolak. Dia bukanlah orang yang suka memanfaatkan keadaan.
Jingga hanya mengambil apa yang dibutuhkannya saja. Wanita itu mengerutkan dahinya ketika hanya beberapa barang saja yang Jingga ambil. Kemudian, dia mengambil apa saja yang menurutnya diperlukan oleh Jingga hingga membuat Jingga terbelalak.
"Lima ratus enam puluh tujuh ribu dua ratus empat puluh rupiah."
Wanita itupun membayarnya dan menyuruh Jingga untuk membawa belanjaan yang sangat banyak tersebut dan mengantarnya ke kosan.
"Bu, ini terlalu berlebihan," ujar Jingga ketika mobil sudah membelah jalanan.
Wanita itu hanya tersenyum. Tangannya membelai lembut rambut Jingga. Ada kehangatan yang Jingga rasakan. Ada kerinduan yang sedikit terobati.
"Itu sebagai ucapan terimakasih saya. Kamu sudah dengan tulus membantu saya," balasnya.
"Harusnya Ibu tidak perlu repot-repot begini. Saya ikhlas kok," terang Jingga. Raut wajahnya terlihat tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Nak. Terima saja," imbuh wanita tersebut. "Anggap saja itu rezeki dari Tuhan melalui tangan saya."
Mobil itu sudah berhenti di sebuah kosan kecil. "Makasih banyak, Bu," ucap Jingga sebelum turun dari mobil.
"Sama-sama, Nak." Wanita itupun mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan diberikan kepada Jingga.
"Bu, ti--"
__ADS_1
"Terimalah, Nak. Kamu anak baik," ucapnya dengan memberikan paksa uang tersebut ke tangan Jingga. Belaian lembut wanita itu berikan lagi kepada Jingga.
"Tabung sebagian untuk jaga-jaga."
Jingga teringat akan perkataan seorang wanita. Sama persis nasihatnya. Wanita yang tak lain adalah istri dari keponakan majikannya, Satria.
"Makasih banyak, Bu." Jingga pun mencium tangan wanita itu dengan penuh kesopanan.
Sebelum Jingga turun dari mobil, wanita baik itu menyerahkan sebuah kartu nama.
"Jika, kamu perlu bantuan. Hubungi saya, insha Allah saya siap membantu kamu."
Terenyuh sekali hati Jingga mendengarnya. Ternyata masih ada orang baik di dunia ini. Dia pun hanya mengangguk dengan senyum yang merekah. Lambaian tangan menjadi perpisahannya dengan wanita kaya baik hati terebut.
"Ayanda Rashani." Nama dari kartu nama tersebut.
****
Kedatangan sang Mimo membuat ketiga cucunya berlari menyambutnya. Bukannya memeluk tubuh sang nenek, mereka malah meraih plastik yang dibawa oleh Ayanda. Pecel lele dan pecel ayam kesukaan si triplets.
"Lama banget, Mom." Aska menghampiri ibunya yang baru saja terduduk di sofa.
"Mommy lupa ambil uang tadi. Jadi, Bayar pecel lelenya kurang," terang Ayanda.
"Kebiasaan." Kini Echalah yang menimpali ucapan sang ibu.
Decakan kesal keluar dari mulut Ayanda dan Aska hanya tertawa.
"Pecel lele pinggiran jalan gak pakai kartu debit, Mom," ejek Aska.
Ayanda menatap kesal ke arah putra bungsunya tersebut. Dia adalah manusia spesial mengejek.
"Untungnya aja ada perempuan baik yang bantu Mommy," jelas Ayanda.
"Bantu bayarin?" tebak Echa.
"Iya. Perempuan itu cantik dan terlihat sangat tulus. Mommy menyukainya," terang Ayanda.
"Lalu?" tanya Aska.
"Mau Mommy jodohkan sama kamu."
...****************...
Makin hari komennya makin sepi 🤧
__ADS_1