Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Sandiwara


__ADS_3

Kabar duka memang sedang menyelimuti keluarga Genta. Genta baru saja kehilangan adik satu-satunya, Winarya. Ayah dari Azkano dan juga Beby.


Winarya meninggal karena penyakit yang sudah lama dia derita. Winarya mengidap kanker pankreas. Sudah cukup lama kanker itu menggerogoti tubuhnya. Pengobatan ke sana ke mari sudah Winarya lakukan.


Setahun yang lalu, Winarya berada di titik terlelahnya. Dia sudah tidak ingin melanjutkan pengobatan lagi. Dia sudah memasrahkan hidup dan matinya kepada Tuhan.


Hari ini, Tuhan telah menyembuhkan semua sakitnya dengan memanggilnya. Meninggalkan dua anak dan tiga orang cucu yang sangat dia sayangi. Sebelum meninggal, Winarya sempat menjenguk Genta di rumah sakit.


Sebenarnya, ketika Gio dihubungi pihak dokter yang menangani sang ayah, Genta sudah sadar. Kondisinya sudah semakin stabil. Namun, Genta melarang semua dokter untuk mengatakan perihal itu kepada Gio dan menantunya, serta cucu-cucunya.


Ada rencana yang sedang dia buat. Apalagi jika bukan membongkar kebusukan salah seorang pengawalnya. Bak duri dalam daging.


"Kak, apa anakmu sudah tahu tentang kondisimu saat ini?" Dengan cepat Genta menggeleng.


"Kenapa?".


"Kamu pasti sudah mendengar tentang surat wasiat." Winarya pun mengangguk. Tanpa harus Genta katakan, Winarya sudah sangat mengerti apa rencana sang kakak.


"Kak, apa aku boleh membantumu?" Genta mengerutkan dahinya.


"Jika, aku mati. Kakak boleh memakai jasadku untuk mengecoh pengawal berotak udang itu," ujar Winarya.


"Kenapa kamu pesimis?"


"Aku bukan pesimis. Aku sudah merasakan bahwa ajalku sudah semakin mendekat."


Tiga hari setelah pertemuan itu, Winarya dinyatakan meninggal oleh semua dokter. Tidak ada yang tidak kaget dengan berita ini. Hanya saja, Genta melarang media untuk meliput semuanya. Bisa- bisa rencananya gagal.


Firasat Winarya benar adanya. Setelah menjenguk Genta kondisinya semakin drop. Semua dokter sudah dikerahkan. Namun, takdir berkata lain. Tidak ada yang tidak menangis. Semua merasa sangat kehilangan. Apalagi Kano dan Beby.


Rencana yang dibuat oleh Genta berhasil. Bukan hanya para pengawalnya yang tertipu, cucunya pun tertipu. Setelah Genta menjelaskan semuanya kepada Aska atas rencananya. Barulah Aska mengerti. Aska diturunkan di jalanan yang sepi dan berganti dengan mobil ambulance yang membawa jasad yang sesungguhnya. Agar semua pengawal Genta tidak curiga. Sedangkan ambulance yang membawa Genta menuju sebuah perkampungan kecil di mana sudah Christo di sana. Ketika pulang dari pemakaman, pihak rumah sakit akan mengumumkan kematian Christo.


Meskipun sudah renta, otak Genta masih saja cerdik dan licik. Itu semua menurun kepada Aska.


"Bagaimana dengan Aksa?" Sebuah pertanyaan yang menyiratkan kekhawatiran.


"Kakek pasti sudah tahu apa yang sudah terjadi dengan Abang. Miris, ketika dua anak manusia yang saling mencintai harus dipisahkan karena sebuah pernikahan dadakan," lirih Aska.


"Abang mulai depresi kembali." Helaan napas terdengar setelah Aska mengucapkan hal itu.


Genta tersenyum melihat Aska yang memiliki rasa simpati yang tinggi terhadap kembarannya. Bangga, sudah pasti tentunya.


"Kakek yakin, Abangmu akan membongkar semuanya. Sudah ada Fahri dan Fahrani di sana. Aksa akan bertindak cepat," terang Genta.


"Bagaimana dengan Daddy?" Aska tidak mau berlama-lama berbohong kepada sang ayah.


"Daddy mu sedang banyak pikiran. Biarkan dia fokus pada perusahaan. Ketika perusahaan sudah stabil Kakek akan berikan hadiah kesembuhan Kakek untuk Daddy kamu."


Jakarta.

__ADS_1


Setelah sarapan di apartement si kembar. Aksa melajukan mobilnya menuju rumahnya. Semalaman dia tidak bisa menutup mata karena sebuah ingatan yang tak kunjung hilang. Apalagi jika bukan Riana.


"Aku janji, semuanya beres aku akan menemui kamu di sana, Riana. Tunggu aku, Sayang."


Rasa itu masih ada dan tidak pernah hilang. Hanya tenggelam lalu timbul lagi. Tidak Aksa pedulikan ucapan Riana yang sudah memiliki calon suami. Sebelum buku nikah di tangan, masih ada kesempatan untuk mendapatkan Riana.


Sebelum Aksa keluar dari mobil, dia menarik napas panjang terlebih dahulu. Mencoba melakukan semuanya dengan senatural mungkin.


Dia membuka pintu rumah dengan sangat hati-hati. Lega yang dia rasakan karena tidak ada Ziva di ruang keluarga atau pun di dapur. Langkah kakinya menuju ke kamar yang ditempati Ziva. Tangannya baru saja memegang gagang pintu. Namun, Aksa semakin mempertajam pendengarannya.


"Serius Mih?"


"Iya, Mih. Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk membalas jasa Brandon."


"Ya, seharian penuh aku akan menjadi milik Brandon. Memuaskan dahaga nafsunya karena sudah terlalu lama menunggu balasan cinta dari aku, Mih. Yang terpenting saksi kunci ya sudah bisa dihempaskan semuanya."


Rahang Aksa mengeras mendengar percakapan Ziva melalui sambungan telepon bersama Mamihnya.


"Dasar jalank!!" geramnya di dalam hati.


Ingin rasanya Aksa membuka pintu itu dan mencekik leher Ziva saat ini juga. Jujur, dia sudah sangat emosi. Namun, dia teringat akan ucapan Fahri.


Bersandiwaralah itu cara satu-satunya untuk menjebak Ziva.


Setelah sudah tidak ada suara percakapan di dalam kamar Ziva. Aksa membuka pintu kamar Ziva.


"Kamu lagi apa?" Ziva tersentak dengan suara Aksa. Dilihatnya Aksa sudah tersenyum manis ke arah Ziva dengan menunjukkan dua tentengan di tangannya.


"Kita sarapan bareng, ya."


"Kok tumben?" Refleks Ziva menjawab.


"Emang gak boleh sarapan bareng istri sendiri. Aku tahu kamu pasti kesepian sendirian di sini." Perkataan yang penuh kelembutan dan membuat Ziva melayang. Bahagia tiada terkira.


Sedangkan dalam hati Aksa sedang mengumpat kesal ke arah Ziva yang sudah menggandeng tangannya.


Ya Tuhan, ingin rasanya aku menendang orang di sampingku ini ke dalam neraka jahanam.


Mereka berdua menikmati sarapan dengan Ziva yang terus mengoceh panjang lebar. Aksa hanya tersenyum sebagai tanggapannya. Aslinya Aksa sudah muak menjalani sandiwara ini. Padahal belum setengah jam dia melakukan perannya.


"Andai yang menjadi istriku itu kamu, Riana. Di tempat sekecil apapun kita tinggal. Aku akan sangat bahagia karena bisa terus bersama kamu. Membangun rumah tangga yang bahagia," batin Aksa.


"Sayang, kok kamu bengong. Habiskan dong makanannya," ujar Ziva.


Aksa mendengus kesal karena Ziva berhasil membuyarkan lamunan indahnya.


"Oh iya, setelah sarapan kamu siap-siap, ya." Ziva mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Aku akan mengajak kamu ke suatu tempat."

__ADS_1


"Shoping kah?" tebak Ziva antusias. Hanya seulas senyum yang Aksa berikan.


Tanpa membereskan piring bekas makan, Ziva sudah berlari menuju kamarnya untuk bersiap. Aksa hanya menggelengkan kepala.


Dia teringat ketika bermalam di kost-an Riana. Semuanya Riana siapkan layaknya istri sungguhan. Cangkir bekas teh hangat dan piring bekas sarapan selalu langsung di bersihkan. Berbeda dengan jalangkung wanita ini.


Setelah Ziva sudah cantik dan rapi dengan pakaian yang dia kenakan. Aksa melajukan mobilnya ke sebuah tempat.


"Kok ke rumah sakit?" Mobil Aksa masuk ke area rumah sakit.


"Aku ingin mengecek kesehatan spermaa ku," dustanya.


"Kamu gak sabar ingin punya anak?" Mata Ziva terlihat berbinar. Hanya sebuah senyuman yang menjadi jawaban dari Aksa.


Ziva adalah spesies wanita yang masuk ke dalam golongan orang licik, tapi bodoh. Mereka berjalan beriringan hingga mereka disambut oleh perawat yang sedang berdiri di depan pintu ruangan dokter kandungan. Tidak ada rasa curiga di hati Ziva.


Dokter Arif menyapa hangat Aksa. Disambut senyuman hangat olehnya.


"Semalam saya sudah menjelaskan semuanya. Dan silahkan dokter periksa," ujar Aksa.


"Ayo, Bu. Silahkan berbaring di ranjang ini." Mata Ziva membelalak dengan sempurna. Sedangkan Aksa menatapnya dengan tatapan datar.


"Sayang katanya ...."


"Ikuti saja apa perintah dokter."


Dokter Arif melakukan USG untuk meyakinkan dugaannya. Sudut bibirnya terangkat dengan sempurna ketika layar monitor menunjukkan titik kecil. Dokter Arif menatap ke arah Aksa dan mengangguk pelan.


"Bagaimana dok? Rahim saya sehat 'kan." Pertanyaan bodoh yang Ziva berikan.


"Sangat sehat."


"Berapa usia kandungannya?" Mata Ziva membola mendengar pertanyaan dari Aksa.


"Delapan Minggu."


Jantung Ziva sudah berdegup sangat kencang. Ada rasa takut yang menjalar di hatinya. Otaknya sudah tidak mampu berpikir. Sudah pasti Aksa akan marah padanya.


"Kamu kenapa gak bilang kalo hamil?" Ketakutan Ziva pun sirna. Apalagi Aksa sudah menyentuh tangan Ziva dengan sangat lembut.


"A-aku takut. Takut kamu tidak mau mengakuinya," jawab Ziva.


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Maaf, jika sikapku sudah membuat kamu takut." Ziva pun tersenyum ke arah Aksa. Hatinya benar-benar lega sekarang ini. Aksa sudah berubah dan sudah tidak ada yang harus dia khawatirkan sekarang.


"Dok, di usia kandungan berapa bulan bisa melakukan tes DNA?"


Sebuah kejutan lagi yang Ziva terima.


...****************...

__ADS_1


Mana komennya?


__ADS_2