
Jangan lupa Komen ya, di setiap bab-nya biar aku senang crazy up-nya. Insha Allah akan crazy up lagi.
...****************...
Cinta yang tak terbalaskan memanglah menyakitkan. Itulah yang dirasakan oleh Arka. Dia memilih memendam rasa sendirian sambil menunggu kematian.
Dokter sudah memvonis hidupnya. Melakukan kemoterapi hanya untuk menambah masa aktif hidupnya. Bukan untuk memulihkannya.
Wanita yang masih sangat dia cintai kini bahagia dengan pria yang memang juga mencintainya. Dia bahagia sekaligus terluka. Namun, tak apa. Dari pada nantinya Riana harus terluka karena kepergiannya untuk selama-lamanya.
"Mah, ketika aku pergi. Aku ingin Riana melihat jasadku untuk terakhir kalinya," pinta Arka.
Chintya yang selalu setia mendampingi Arka dalam melakukan pengobatan di tengah hukuman yang diterima Arkana bersimpuh di hadapan Arka yang memang tengah menggunakan kursi roda.
"Kamu akan tetap hidup, Nak," ucapnya dengan mata yang nanar.
Hati Chintya sangat rapuh jika mendengar permintaan terakhir dari Arkana. Hatinya sangat hancur.
"Tidak ada yang abadi di dunia ini, Mah. Ada kelahiran pasti ada juga kematian. Jalan aku menuju kematian ini sudah sangat dekat," sahutnya dengan senyum yang melengkung indah. Arka seperti sudah siap untuk pergi menghadap sang pencipta.
Sedari tadi Aksa menyadari bahwa ada yang tengah menatapnya serta istrinya. Dia juga tahu siapa orangnya. Dia hanya tidak ingin istrinya semakin merasa bersalah.
Aksa membawa Riana pergi dari rumah sakit itu. Dalam hatinya, dia bersumpah akan membuat Ziva gila. Tangan Aksa terus mengusap lembut rambut Riana.
"Sakit?" Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Riana.
Mata Riana memicing ketika melihat mobil yang dibawa sopir dari ayah mertuanya berhenti di salon ternama. Dia menatap bingung ke arah Aksa.
"Bersihkan rambut kamu, Sayang. Abang tidak mau virus-virus di tangan perempuan itu menempel di rambut indah kamu." Seketika Riana tergelak. Dia mencubit gemas pipi sang suami.
"Abang terlalu berlebihan," ucapnya.
Aksa memerintah pekerja salon di sana untuk membersihkan rambut Riana sebersih-bersihnya. Riana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami. Aksa dengan setia menunggu Riana di sana. Tangannya terus menggenggam tangan sang istri dan sesekali mengecup punggung tangannya.
"Kapan Abang berangkat?" tanya Riana.
"Sekitar jam tujuhan," jawabnya.
Aksa mengusap lembut wajah Riana yang sudah terlihat sendu.
"Hanya sepuluh hari, Sayang."
Setelah rambut Riana selesai dibersihkan, mereka segera pulang ke rumah Echa. Kedatangan mereka berdua disambut hangat oleh ayah serta tiga keponakan mereka. Begitu juga dengan Iyan.
"Emangnya istri Abang ini gak pernah ke sini?" tanya Aksa yang sudah duduk di samping sang istri tercinta.
"Enggak," jawab Rion kesal.
"Walaupun enggak ke sini, Ayah dan Iyan yang datang ke rumah Mommy," balas Riana seraya memeluk tubuh ayahnya.
Aksa hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Manjanya Riana hanya kepadanya dan juga ayahnya.
"Kamu jadi malam ini berangkat?" Echa sudah meletakkan brownies cokelat kesukaan si triplets di atas meja.
"Jadi. Besok siang ada pertemuan penting. Makanya, jalan malam," terang Aksa.
"LDR-an lagi nih," ejek Radit yang sudah membawa cangkir kopi.
__ADS_1
"Berisik Bang!" Kini Riana yang membentak sang Abang ipar.
Radit malah tertawa dan meninggalakan ruangan tersebut. Dia lebih memilih menikmati kopi di halaman samping. Melihat Riana yang tengah bermanjaan dengan sang ayah. Aksa bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke tempat Radit.
Kakak iparnya menoleh ke arah samping. Adiknya sudah ada di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya Radit.
"Wanita liar itu malah nampar gua dan Jambak Riana," jawabnya.
"Lu ngelayat ke sana?" tanya Radit.
Aksa mengangguk dan menghembuskan napas kasar.
"Gua juga melihat Arka ada di sana," lanjutnya lagi.
Radit menatap Aksa. Dia melihat raut gelisah di wajah adik iparnya itu.
"Cinta Riana sama lu sangat kuat. Gak mungkin dia tergoda sama pria itu," tutur Radit.
"Gua lebih khawatir keselamatan Riana, Bang," keluhnya.
"Selama lu pergi bukannya tuh penjaga banyak banget di belakang Riana?" Aksa mengangguk.
"Lalu, apa yang lu takutin lagi?" tanyanya kembali.
"Wanita liar itu," jawab Radit.
Kakak iparnya malah tertawa terbahak-bahak. Dia sudah mendapat laporan dari orang suruhannya perihal Ziva. Radit meraih ponselnya dan menunjukkan video Ziva kepada Aksa.
"Sebentar lagi juga gila," balas Radit.
"Lu tenang aja, si Aska lebih cerdik dalam masalah beginian. Riana gua jamin aman." Aksa mengangguk mengerti.
"Bang," panggil sang istri.
Aksa dan Radit menoleh ke arah Riana. Dia malah duduk di pangkuan sang suami.
"Kenapa?" tanya Aksa sambil memeluk pinggang istrinya.
Riana tidak menjawab, dia malah membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Radit kini berdecak sangat kesal.
"Adik ipar laknat kalian!" umpatnya kesal, dan meninggalkan tempat itu.
Aksa dan Riana malah tertawa terbahak-bahak melihat kakak iparnya. Mereka tengah membalas Radit yang terkadang sengaja bermesraan di depan mereka .
"Mau apa?" Aksa sudah membelai lembut rambut sang istri.
"Mau rujak," jawabnya.
Dahi Aksa mengkerut mendengar ucapan sang istri. "Kamu ngidam?" tanya Aksa.
"Apa orang yang ingin makan rujak identik dengan ngidam?" tanya balik Riana.
"Kamu belum makan nasi, Sayang. Makan dulu, ya. Baru kita nyari rujak."
Setelah selesai makan siang, bukan hanya Riana dan Aksa yang mencari rujak. Ketiga keponakannya pun ikut di mobil Aksa. Riana dan Aksa terus tertawa ketika mendengar celotehan mereka.
__ADS_1
Mobil mereka berhenti di pinggiran jalan. Di sana ada tukang rujak potong dan buah potong. Si triplets lah yang terlihat bahagia.
"Udah ah, Uncle. Panas," keluh Aleeya.
Dia sudah membawa semangka, pepaya, nanas dan juga melon ke dalam mobil. Dia membiarkan omnya yang membayar.
"Udah yuk, Yang. Panas," ajak Aksa.
Mereka membawa apa yang mereka beli ke rumah. Echa sangat antusias dengan rujak buah potong yang Riana bawa. Aksa sudah tiduran di paha sang istri. Dia terus menciumi perut Riana dengan lembut.
"Abang mau?" Aksa menggeleng.
Aksa tidak suka makanan yang asam dan juga pedas. Dia malah melingkarkan tangannya di perut Riana dengan wajah yang terbenam di perut rata sang istri. Terdengar dengkuran halus dan ternyata Aksa terlelap di pangkuan istrinya.
"Jangan banyak-banyak makan pedas Ri, apalagi itu mangganya masam banget. Mag kamu nanti kumat lagi loh," ujar Echa.
"Enak Kak. Segar," katanya.
Echa malah menggelengkan kepalanya ketika Riana yang terlihat sangat menikmati mangga yang sangat masam itu dengan bumbu rujak yang pedas.
Satu kotak sudah habis, Riana sudah mau membuka kotak yang lainnya lagi.
"Ri, jangan banyak-banyak," larang sang ayah.
Riana tak menggubris ucapan ayah dan juga kakaknya. Dia tetap membuka kotak selanjutnya. Riana hanya memakan buah mangga masamnya saja dengan pepaya uang masih setengah matang.
Tibalah di mana Aksa akan berangkat menuju landasan. Sebelumnya, Aksa melakukan permainan perpisahan dan meninggalakan mawar merah yang sangat hitam di sumber asi milik istrinya. Agar ketika dia kembali mawar merah itu masih ada.
"Jangan pergi tanpa Aska atau Kak Echa." Riana mengangguk.
Tangannya melingkar erat di pinggang sang suami. Dia masih mengenakan lingerie karena belum sempat berganti pakaian.
"Cepat pulang," ucapnya.
"Belum juga berangkat, udah disuruh cepat pulang," balas Aksa serta terkekeh.
Riana mulai berjinjit dan dia mencium lembut bibir sang suami tercinta. Aksa tak akan pernah menyia-nyiakan ini karena jarang sekali Riana seberingas ini.
"Sayang, tumben sih kamu aktif," tanya Aksa seraya mengusap bibir Riana. Wajah Riana sudah memerah menahan malu. Aksa malah tertawa dibuatnya.
"Kita puasa dulu ya, untuk sepuluh hari ke depan. Nanti, kita buka puasa bersama dan kita main sampai pagi," ucapnya.
Riana sudah berganti pakaian dengan piyama. Tangannya melingkar di lengan Aksa. Semua orang sudah menunggu mereka untuk makan malam.
"Ri, Mommy masakin menu kesukaan kamu," ujar Ayanda.
Melihat menu yang ada di atas meja membuatnya tidak berselera. Dia malah meletakkan kepalanya di bahu sang suami.
"Makan, Sayang." Aksa menyuapi Riana, tetapi dia menggeleng.
"Loh kenapa?" tanya Ayanda.
"Ri, ingin yang asam-asam, Mom."
Mata Ayanda dan Gio saling pandang.
"Jangan dianggap hamil, Mom. Kalau udah waktunya datang bulan, pasti begini," terang Riana.
__ADS_1
...****************...
Komen dong ah ....