Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kejutan Lagi


__ADS_3

Bian sudah rapih dengan pakaiannya. Dia segera menuju perusahaan WN di mana ini akan menjadi awal yang baik untuk karir rumah makannya. Dia juga bisa mengembangkan sayap dengan melakukan panjat sosial menggunakan nama perusahaan WN. Perusahaan yang memang belum lama berdiri, tetapi sudah membuat para karyawan yang bekerja di sana hidup tercukupi.


"Taken kontrak," gumamnya seraya tersenyum kecil. Hatinya benar-benar bahagia.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Matanya melebar ketika membaca isi pesan yang ada.


"Dua belas juta?"


Tagihan dari pihak rumah sakit agar Bian segera mengurus biaya pengobatan Jingga. Bian terheran-heran karena dia sama sekali tidak memberikan nomor ponselnya kepada pihak rumah sakit, tetapi pihak.m rumah sakit malah menghubunginya dan memintanya untuk membayar tagihan yang tidak sedikit itu.


"Masa iya belum dibayar sama Aska?" gumamnya. "Kalau benar, gimana cara bayarnya?" lanjutnya lagi.


Bian yang hendak masuk ke dalam perusahaan WN pun menghentikan langkahnya sejenak. Dia membuka m-banking miliknyq dan tertera saldo hanya empat juga dua ratus enam puluh dua ribu rupiah. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.


"Kenapa si Aska gak menyelesaikan administrasinya dulu sih? Nyusahin aja!" Kalimat yang tak tahu diri yang keluar dari mulut Abian Putra.


Dari dalam mobil terlihat seorang pria sudah tersenyum penuh kemenangan. Mobil baru saja berhenti di parkiran khusus tidak empat. "Target mulai kebingungan," gumamnya.


Orang yang berada di jok belakang mobil pun tersenyum tipis. "Jangan pernah buat kegaduhan ketika gua lagi anteng," balas Gio. "Kemurkaan gua adalah kehancuran buat dia."


Remon mengangguk mengerti. Dari dulu Gio adalah orang yang tidak pernah menyerang jika tidak ada yang memulai. Kali ini memang bukan menyerangnya, tetapi menyerang putra bungsunya. Bukan perihal cinta, tapi perihal wajah Aska yang penuh luka. Putra yang dia jaga dan tidak prnah dia perlakukan kasar sedikitpun malah dikasari oleh orang lain. Bukankah itu akan membuat Gio sebagai orang tua akan murka?


"Kita turun sekarang atau menunggu dia masuk terlebih dahulu?" tanya Remon.


"Biar dia masuk." Remon mengangguk mengerti.


Ponsel Gio berdering, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


Tagihannya sudah saya kirimkan kepada Abian Putra.


Bibir Gio pun tersenyum penuh kemenangan membaca pesan tersebut.


Uang yang sudah dibayar oleh Tuan Ghassan Aksara Wiguna sudah saya kirim ke nomor rekening beliau.


Remon segera membukakan pintu mobil untuk sang bos ketika Bian sudah tidak ada di depan perusahaan. Dia berjalan di samping Gio. Semua karyawan yang bertemu dengan Gio menundukkan kepala mereka dengan sopan sebagai rasa hormat mereka kepada orang yang memiliki perusahaan ini. Ada juga rasa bangga dari mereka karena bisa melihat secara langsung wajah seorang pengusaha bernama Giondra Aresta Wiguna yang tetap berkharisma di usia yang tak lagi muda.


Di ruang rapat Bian sudah berbincang dengan sang manajer. Senyum penuh kebahagiaan terlihat jelas di wajah Bian.

__ADS_1


"Kita nunggu siapa lagi, Pak?" tanya Bian.


"Owner perusahaan WN ingin bertemu langsung dengan Bapak karena beliau sangat menyukai masakan dari restoran Bapak."


Melambung ke langit ketujuh sekarang ini. Bian sangat yakin taken kontrak ini akan memiliki nilai uang yang cukup besar. Dia pun dengan sabar menunggu owner perusahaan WN. Ketika sang manajer berdiri, Bian ikut berdiri dan membenarkan bajunya. Seketika matanya melebar ketika melihat siapa yang datang.


"Selamat pagi, Pak Giondra," sapa sang manager.


"Pagi."


Dada Bian sudah berdegup sangat kencang ketika mata elang milik Gio menatapnya.


"Pak, ini pemilik rumah makan yang makanannya disukai putra Bapak."


Deg.


Jantung Bian terasa berhenti berdetak mendengar penuturan dari manager itu.


"Kamu boleh keluar," titahnya pada manager perusahaan WN. "Saya ingin berbicara lebih privasi dengan SAHABAT DARI PUTRA SAYA."


Kalimat terakhir itu penuh dengan penekanan membuat nyali Bian seketika menciut. Bukan hanya Gio yang menatapnya dengan tajam, asisten dari Gio seakan sudah menguliti Bian hidup-hidup.


"Pernah menipu uang Pak Ghassan Aksara Wiguna senilah satu setengah Milyar," papar Remon. Dia pun tersenyum ke arah Bian yang sudah pucat pasi.


"Bukan hanya Pak Aksara, adik dari Pak Aksara pun dia manfaatkan dengan sangat baik. Saking baiknya ... dia malah menikung orang yang dicintai oleh Pak Askara dengan meniduri perempuan yang tengah Pak Askara perjuangkan."


"Wow! Sangat tidak tahu diri sekali Anda!" cibir Remon dengan tatapan sinisnya.


Bian tidak bisa berkutik sedangkan Gio belum berbicara satu patah kata pun. Suasana mendadak hening ketika Remon menghentikan ucapannya.


"Sebenarnya saya tidak ingin ikut campur." Gio berkata dengan sangat pelan. Punggungnya pun masih bersandar di kursi kebesaran.


"Tapi ...."


Bian memejamkan matanya sejenak mendengar kata tapi yang terjeda. Perasaannya sungguh sudah tidak enak.


"Kamu sudah melukai putra saya!" bentak Gio dengan wajah yang sudah murka. Urat-urat kemarahan hadir di wajahnya. Tangannya pun sudah menggebrak meja hingga Bian terkejut bukan main.


Beberapa lembar foto Gio lemparkan ke atas meja. Wajah tertunduk Bian pun kini mulai menegak. Matanya melebar ketika melihat lembaran foto yang ada di atas meja.

__ADS_1


"I-ibu," gumamnya.


Sang ibu telah dikelilingi orang berbadan tegap. Wajah ibunya pun sangat ketakutan.


"Jangan sakiti ibu saya," pinta Bian dengan sangat lirih.


"Enteng sekali mulut kamu bicara!" sentak Gio. "Kamu saja dengan entengnya memukuli wajah putra saya," lanjutnya lagi dengan penuh penekanan.


"Itu ibu saya. Wanita yang sangat saya sayangi," ujarnya.


"Aska juga putra saya. Putra kebanggaan saya!" tegasnya.


Lagi-lagi mulut Bian terbungkam. Dia tidak bisa menimpali ucapan dari Giondra. Dia sudah kalah telak saat ini.


Remon menyerahkan satu buah map berisi surat kontrak. Gio membuka mapnya. Bukannya membubuhi tanda tangan, dia malah merobek kertas tersebut.


"TIDAK ADA KERJA SAMA!"


Bian berjalan gontai menuju pintu luar. Tubuhnya seakan tidak menapak pada lantai. Gio bukanlah tandingannya.


Ting!


"Bi, rumah kita disita oleh Bank. Katanya sudah lebih dari enam bulan cicilannya belum dibayar."


Sangat sial sekali Bian hari ini. Tagihan rumah sakit, kontrak yang dibatalkan juga rumah yang disita oleh Bank. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Bian. Rumah yang dia tinggali adalah rumah pemberian dari Aska juga ayahnya. Jika, bank menariknya itu tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, inilah yang harus Bian terima karena sebuah tindakan bodoh tanpa dia perhitungkan dan bertindak sangat gegabah.


"Apa yang harus aku lakukan?" erangnya kesal ketika sudah di samping motornya.


Baru saja Bian hendak memakai helm, dering teleponnya terdengar. Dahinya mengkerut melihat nama sang pemanggil.


"Aku hamil!"


Duar!


Kejutan lagi dan lagi.


...****************...


Siapa yang hamil?

__ADS_1


Komen makanya ...


__ADS_2