
Tidak diduga malam ini Aksa berada di hadapan Riana dengan sorot mata penuh rindu. Riana pun membeku dengan tatapan kerinduan yang sorot matanya katakan.
Alunan melodi terus berputar, tetapi Riana masih belum sepenuhnya sadar. Tatapannya hanya terpaku pada seseorang, Ghassan Aksara Wiguna.
Seperti menonton drama Korea itulah yang dirasakan pengunjung. Mereka mulai bernyanyi mengiringi dua insan manusia yang masih saling tatap. Lagu yang memang banyak orang tahu. Ditambah alunan melodi yang indah yang membuat mereka semua bernyanyi tanpa disuruh.
🎶
Sayang kau di mana
Aku ingin bersama
Aku butuh semua
Untuk tepiskan rindu
Perlahan langkah kaki Aksa mendekat dan terus mendekat. Riana menatapnya dengan ekspresi tidak terbaca.
🎶
Mungkinkah kau di sana
Merasa yang sama
Seperti dinginku
Di malam ini
Aksa berhambur memeluk tubuh Riana membuat semua orang bertepuk tangan.
"Aku ada di sini sekarang. Aku sangat merindukanmu." Mendengar kalimat yang dikatakan oleh Aksa air mata Riana terjatuh begitu saja. Tangannya pun membalas pelukan Aksa. Semua pengunjung berdiri dan mengabadikan momen mengharukan yang baru saja mereka lihat.
Aksa mengurai pelukannya, menatap manik mata Riana yang sudah berair. Pipi yang sudah basah karena luncuran air mata.
"I love you so much. You're only one in my life."
(Aku sangat menyayangi kamu. Kamu adalah satu-satunya dalam hidupku.)
Hati Riana sangat lemah jika sudah mendengar Aksa berbicara. Cintanya terlalu besar serta luka yang dia terima pun tak kalah sakit. Namun, rasa sakit itu hilang ketika seseorang yang dia sayang hadir dengan membawa sejuta penyesalan.
Tangan Aksa menghapus jejak air mata di wajah Riana dengan sangat lembut. Riana hanya terdiam. Menatap wajah Aksa dari dekat adalah satu dari ribuan doa yang selalu Riana panjatkan di setiap hari.
Aku rindu kamu. Aku juga masih sayang kamu.
Kalimat lirih yang Riana katakan dalam hatinya. Dia masih sadar akan status Aksa yang masih menjadi suami orang. Riana tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga Aksara.
"Aku tunggu kamu di sana," bisik Aksa sambil menunjuk ke arah meja dekat jendela. Tempat favorit Riana jika tengah berkunjung ke kafe ini.
Senyum Aksa terus mengembang menyaksikan performa Riana di atas mini panggung. Wanita sederhana, tetapi mampu membuat Aksa jatuh cinta. Setelah selesai, Riana ragu untuk menghampiri Aksa. Logikanya masih berjalan. Namun, hatinya tidak beriringan. Hanya sebuah kerinduan yang hatinya katakan.
Aksa tersenyum ketika Riana melangkahkan kaki menuju mejanya. Aksa berdiri menyambut Riana dengan senyum ketulusan dan penuh cinta. Dia menggeser kursi untuk Riana duduki.
__ADS_1
"Makasih."
Aksa terus menatap wajah Riana yang bersemburat merah. Seperti sedang memuaskan rindu karena sudah sekian lama tidak bertemu.
"Udah malam, Ri harus pulang." Ucapan Riana menyadarkan Aksa dari kekagumannya pada sosok yang baru saja berucap.
Dengan cepat Aksa menarik tangan Riana yang sudah bangkit hingga dia terduduk di pangkuan Aksa.
"Abang antar kamu pulang."
Hembusan napas Aksa meremang di wajah Riana. Tatapan teduh Aksa membuat hati Riana menghangat. Tanpa Riana sadari, kepalanya mengangguk pelan. Menimbulkan senyuman manis dari pria yang tengah memandangnya penuh cinta.
Setelah membayar semua pesanannya, Aksa menggenggam tangan Riana dengan sangat erat menuju mobil.
"Abang ada tugas di sini. Harus mengecek anak perusahaan." Padahal Riana tidak bertanya, tetapi Aksa menjelaskan secara gamblang.
"Kita ditakdirkan berjodoh. Buktinya, tanpa Abang duga Abang bisa bertemu kamu di kafe tadi," lanjutnya lagi.
Mendengar ucapan Aksa, Riana menatap Aksa dengan dahi mengkerut. Begitu pun Aksa dengan senyum maut.
"I will always love you. Forever."
(Aku akan selalu mencintai kamu. Selamanya)
Mata Riana melebar ketika keningnya terasa hangat oleh sentuhan bibir Aksa. Jantung Riana berdegup sangat cepat. Sedangkan Aksa tidak bisa menahan rasa yang sebenarnya. Rasa yang ingin dia kubur dalam-dalam. Namun, tidak bisa dia lakukan. Tidak Aksa hiraukan ada sopir di balik kursi kemudi. Jika, ada kabar tentangnya esok hari dan menyeret nama Riana. Sudah pasti akan Aksa kejar sampai ke lubang semut.
Aksa menarik Riana ke dalam dekapannya. Terus mencium ujung kepala Riana. Riana ingin menolak, tetapi hatinya ingin merasakan bagaimana perlakuan manis dari orang yang sangat dia cintai. Dia abaikan sebutan pelakor, orang ketiga, selingkuhan. Persetan dengan itu semua.
Maafkan Ri, Tuhan. Ri, ingin bahagia untuk malam ini saja. Bersama orang yang sangat Ri cintai. Ri, juga berhak bahagia 'kan.
Andai, Ri bisa menggapai Abang. Memiliki Abang sepenuhnya. Mungkin, tidak akan ada air mata yang menetes setiap malam. Tidak ada kesedihan yang terus menyelimuti hati. Tidak ada kepedihan setiap kali mengingat nama Abang. Ri, hanya bisa berandai-andai. Tanpa bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Tangan Riana mulai melingkar di pinggang Aksa. Sudut bibir Aksa pun terangkat dengan sempurna. Terlebih Riana sudah menelusupkan wajahnya di dada bidang Aksa. Menambah gelora cinta di hati Aksara.
Tunggu aku, Sayang. Tinggal satu langkah lagi.
Batin Aksa berkata dengan penuh semangat dan kepercayaan diri yang tinggi. Tak hentinya Aksa mengecup ujung kepala Riana. Seolah memiliki aroma yang yang membuatnya kecanduan. Perjalanan dari kafe ke kost-an Riana cukup jauh, dua puluh lima menit.
Terlalu nyaman itulah yang Riana rasakan. Dia terlelap dalam dekapan hangat Aksa. Tangan Aksa semakin erat mendekapnya. Tidak akan membiarkan Riana terlepas sedikit pun.
Senyum Aksa memudar ketika dering ponselnya berbunyi. Cukup sulit Aksa meraih ponsel di saku celana. Apalagi dia tidak ingin mengganggu Riana yang tengah terlelap dalam damainya.
Dahinya mengkerut ketika nama Aska yang muncul di layar ponsel.
"Hm."
"Lagi di mana?"
"Di jalan baru pulang." Aksa berbicara sangat pelan supaya tidak membangunkan Riana.
"Abang bisa ke Hotel X?"
__ADS_1
"Itu hotel yang Abang tempati. Kenapa?"
"Tolong ke kamar 204. Temui teman Adek di sana. Teman Adek mau ngasih hadiah, tapi dia gak bisa terbang ke Jakarta. Tolong ya, Bang. Minta card lock cadangan ke pihak hotel. Bilang aja Adek yang nyuruh. Pihak hotelnya kenal kok sama Adek."
"Hm."
"Ok. Makasih, Bang. Have Fun."
Setelah sambungan telepon terputus Aksa hanya menghela napas kasar.
"Ke hotel Pak." Sopir hanya mengangguk patuh. Meskipun dia harus memutar arah.
Aksa terus menatap Riana yang tengah terlelap. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik pujaan hatinya.
Tibanya di depan hotel. Aksa membangunkan Riana dengan pelan. Dia tidak akan membiarkan Rian tidur di dalam mobil. Mata Riana mulai mengerjap. Dia menatap ke arah Aksa dengan mata yang memicing.
"Maaf, aku gak tega bangunin kamu. Aku lebih gak tega lagi ninggalin kamu tidur di dalam mobil," terang Aksa sambil menyelipkan rambut di sela telinga Riana.
Riana menatap ke luar mobil. Matanya membola. "Ho ...."
"Gak usah berburuk sangka dulu. Abang ke sini disuruh Adek. Ada temannya yang menginap di hotel ini. Katanya mau memberi hadiah untuknya. Menitipkan pada Abang." Riana menatap Aksa dengan sorot mata yang tidak percaya.
"Kalo Abang mau macam-macam. Abang tidak akan membangunkan kamu 'kan." Penjelasan Aksa ada benarnya juga. Untuk apa Aksa membangunkannya. Bukannya lebih mudah untuknya berbuat hal tidak-tidak ketika Riana tertidur.
"Kita turun, ya." Aksa menggenggam tangan Riana dengan begitu eratnya.
Pihak hotel menyambut Aksa dan segera memberikan card lock cadangan pada Aksa.
"Kami sudah diperintahkan oleh Pak Aska." Aksa mengangguk cepat.
Mereka berjalan menuju kamar yang dimaksud. Riana menghentikan langkah Aksa. "Apa sopan seperti ini?"
"Kita hanya mengambil hadiah. Itu saja," jawab Aksa.
Aksa memasukkan card lock pada kotak sensor. Setelah lampu hijau menyala suara aneh terdengar. Aksa segera masuk ke dalam kamar dengan tangan yang terus menggenggam tangan Riana.
Mata Aksa dan Riana melebar ketika melihat peragaan dog style di tempat tidur dengan suara lenguhan kenikmatan. Aksa segera menggeser tubuhnya menghalangi pandangan Riana dengan punggungnya. Tangan Riana dia lingkarkan ke perutnya.
Wajah Aksa sudah merah padam. Urat-urat di wajahnya terlihat sangat jelas.
"Dasar jalanngg!" pekik Aksa.
Kefokusan dua insan yang tengah mengarungi kenikmatan harus terhenti. Mata keduanya melebar melihat sudah ada seseorang yang melihat tindakan mereka.
Aksa segera membalikkan tubuhnya. Dengan terus membenamkan wajah Riana di dada bidangnya.
"Maaf, telah membuat mata suci kamu ternoda," sesal Aksa.
Aksa membawa Riana pergi dari tempat penuh dosa itu dengan terus merengkuh pinggang Riana.
"Jangan lihat ke belakang."
__ADS_1
...****************...
Tembus 70 komen insha Allah up lagi.