Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Melamar


__ADS_3

Hari ini komen tembus 100, besok up dua bab.


...----------------...


Suara yang membuat telinga merinding terdengar dari dalam kamar 204. Semuanya rela Ziva berikan karena dia merasa sudah di atas angin. Aksa tidak akan membongkar kejadian semalam. Tidak mudah juga Aksa terlepas dari jeratannya.


"Sudah tidak ada lagi penghalang," bisik Brandon.


"Gio sudah lemah sekarang. Perusahaannya diambang kehancuran." Brandon tertawa dengan puasnya.


Tidak masalah bagi Ziva jika Aksa jatuh miskin. Dia masih memiliki orang tua yang kaya raya. Cukup untuk membiayainya serta Aksa.


"Kamu yakin dia akan terus terikat denganku?" Brandon mengangguk dengan tangan yang tak henti menggerayangi tubuh Ziva.


"Seribu persen."


"Bagaimana dengan wanita itu?" Brandon hanya tersenyum tipis.


"Lihat saja nanti. Pasti kamu akan puas melihat hasil kerjaku. Sekarang layani dahaga nafsuku." Ziva mengangguk pelan dan melanjutkan yang telah terhenti sejenak.


****


Pulang sekarang atau Riana diembat orang.


Sebuah pesan yang membuat kedua alis Aksa menukim tajam. Dia segera menghubungi adiknya. Namun, tidak ada jawaban. Menghubungi Riana pun sama.


"Ada apa sebenarnya?" gumam Aksa bingung sekaligus takut.


"Kenapa, Bang?" Sedari tadi Gio memperhatikan perubahan yang ada pada diri Aksa setelah ponselnya berdering.


Aksa tidak berbicara, dia menunjukkan pesan yang dikirim oleh Aska kepadanya. Hanya seulas senyum yang Gio tunjukkan.


"Kejarlah Bang. Pulang segera. Jangan sampai kamu menyesal."


Aksa terharu mendengar ucapan sang daddy. Dia berhambur memeluk tubuh Gio.


"Makasih selalu support Abang." Suara yang penuh keharuan.


"Laki-laki itu harus berjuang. Jangan berpangku tangan. Sebelum buku nikah di tangan. Kamu masih bisa pepet terus sampe tikungan." Aksa pun tertawa mendengar nasihat yang diberikan oleh Gio.


Ketika Aksa pergi, Gio hanya tersenyum tipis melihat putranya yang satu ini.


"Duplikat Daddy."


Selama perjalanan menuju Jakarta, hati Aksa tidak tenang. Pesan yang Aska kirimkan membuat dia menerka-nerka.


Apa pria itu?


Di rumah sakit, kedatangan Arka bersama keluarga membuat mata Riana melebar. Begitu juga Arka.

__ADS_1


"Bukannya kamu ke luar Kota?" cecar Riana.


"Kamu juga bukannya di Jogja?" balas Arka.


Chintya dan Fikri hanya tertawa. Namun, berbeda dengan Rion yang menunjukkan wajah datar.


"Oh, ini anak pertama lu," imbuh Fikri berjalan ke arah Echa.


Rion mengangguk dan Echa mencium tangan Fikri dengan sangat sopan. Begitu juga dengan Radit. Sedangkan Arka dan Riana malah saling diam. Riana merasa tidak nyaman jika harus berhadapan dengan kedua orang tua Arka.


"Tumben diam." Arka mencoba membuat percakapan.


"Gak mau ngenalin aku ke Kakak sama adik kamu," selorohnya.


Riana menarik napas panjang sebelum bangkit dan mengajak Arka ke arah Echa yang masih berada di ranjang kesakitan.


"Kak, ini teman Ri," ujarnya.


Echa pun tersenyum ke arah Arka, dengan sopannya Arka mencium tangan Echa. Lalu, mencium tangan Radit.


"Itu adikku, Iyan namanya." Riana menunjuk ke arah Iyan yang tengah bermain game.


"Salim dulu, Iyan," titah Echa.


Dengan wajah malas, Iyan bangkit dari duduknya dan menghampiri Arka. Lalu, Iyan mencium tangan Arka. Namun, wajahnya berubah murung. Arka tersenyum ke arah Iyan, sedangkan Iyan menatap pilu ke arah Arka.


Semoga saja salah.


"Ini untuk putrimu, Riana." Rion mengerutkan dahinya. "Untukp apa?" lanjutnya lagi. Rion mantap Fikri curiga.


Bagitu juga dengan Riana menatap tajam ke arah Arka. Hanya seulas senyum yang Arka berikan.


"Kamu tenang saja." Arka mengusap lembut rambut Riana dengan senyum yang tidak pernah pudar di wajahnya.


"Waktu sudah terlalu malam juga, jadi gua mau ke intinya aja," terang Fikri setelah melihat angka pada jam tangannya.


Sudah pukul sembilan malam saat ini. Satu jam setengah mereka habiskan untuk berbincang santai. berbeda dengan Arka dan Riana yang banyak terdiam.


"Tujuan gua berserta istri dan putra gua datang ke sini ... ingin melamar Riana untuk menjadi pendamping hidup anak gua, Arkana."


Mata semua orang melebar mendengarnya. Mereka sungguh tidak percaya dan tidak menduga sebelumnya. Terkejut sudah pasti.


"Aku tidak ingin pacaran dulu, Om. Aku ingin segera menikah. Pacaran setelah menikah itu jauh lebih baik," jelas Arka dengan ketegasannya.


Riana sudah tidak bisa berpikir. Arka benar-benar nekat melakukan ini semua. Padahal, Riana sudah terang-terangan menolaknya dengan alasan yang sangat jelas.


"Apa tidak terlalu cepat?" Pertanyaan Rion membuat Riana tersentak.


"Maksud Ayah apa?" Riana berucap dengan mata yang nanar. Ucapan ayahnya menandakan sebuah restu.

__ADS_1


"Niatan baik Arka harus kita terima dengan baik juga dong," jawab Rion.


"Tapi, Ayah ...."


"Riana sudah menolak aku, Om. Makanya, aku minta Mamah dan Papah melamar Riana untuk aku. Sebagai bukti keseriusan aku."


Riana menatap Arka dengan tatapan datar yang menunjukkan kesedihan yang mendalam.


Aku tidak mencintaimu, Arka.


Ingin sekali Riana mengucapkan kalimat itu. Namun, dia bukanlah wanita jahat yang tidak memiliki hati.


"Aku janji, aku akan membahagiakan Riana semampu aku," terang Arka lagi.


Oh Tuhan ... kenapa ini terjadi padaku?


Riana tertunduk dalam. Dia tidak mampu mendengar apa yang dibicarakan oleh ayahnya serta orang tua Fikri. Dia memberanikan menatap ke arah sang Kakak. Echa hanya mengangguk menandakan semuanya akan baik-baik saja.


"Ay, bawa aku duduk di samping Ayah." Radit memapah Echa untuk berjalan menuju sofa di mana Rion duduki.


"Ada apa, Dek?" Echa tidak menjawab. Dia menatap keluarga Arka dengan tatapan tegas.


"Sebagai seorang kakak dari Riana, saya berterima kasih sekali kepada kamu, Arka. Terima kasih telah menyayangi Riana. Terima kasih telah menjaga Riana dengan baik selama di Jogja. Saya juga menghargai niatan baik kalian. Namun, saya juga tidak ingin memaksa adik saya untuk segera menerima lamaran ini. Apalagi, adik saya masih kuliah."


"Aku akan menunggunya, Kak," sahut Arka.


"Tolong, jangan potong ucapan saya dulu," tegas Echa.


Sekarang, Echa menjelma menjadi wanita tegas layaknya ibu yang tengah melindungi anaknya.


"Masa depan adik saya masih sangatlah panjang. Jika, dia sudah menikah pasti masa depannya akan stuck di sana. Apalagi jika sudah memiliki anak. Sudah pasti dia lebih memilih berdiam diri di rumah. Menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya."


"Aku tidak akan melarangnya bekerja, Kak." Echa menatap tajam kearah Arka. Sedangkan Fikri sudah menyenggol lengan Arka agar diam.


"Kamu mungkin saja tidak akan melarang. Namun, istrimu akan berpikir berulang kali untuk melanjutkan mimpinya. Kewajiban seorang istri adalah berbakti kepada suami."


"Jadi, biarkan Riana menuntaskan study-nya. Meraih mimpi yang selama ini dia cita-citakan. Sebelum, dia memutuskan untuk ke jenjang pernikahan," tukas Echa.


Semua orang terdiam mendengarkan penjelasan dari Echa. Begitu pun dengan Rion. Rion sudah memprediksi putri sulungnya tidak akan semudah itu menerima lamaran Arka. Echa memberikan perlindungan kepada Riana. Dia tidak ingin adiknya tidak bahagia menjalani pernikahan.


"Apa kamu menolak lamaran Om?" tanya Fikri.


"Jawaban tolak atau terima ada pada Riana. Namun, jawaban itu tidak akan Riana berikan sekarang. Kecuali, putra Om mau menunggu Riana sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan," jawab Echa.


"Bagaimana, Ka? Apa kamu mau menunggu?" tanya Chintya.


"Aku siap menunggu Riana, Mah. Sampai dia mau menerima lamaran aku. Aku yakin, Riana akan menjadi istri yang baik." Jawaban yang sangat yakin dari Arka.


"Abang juga siap menunggu Riana, Kak." Suara yang sangat lantang terdengar.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2