
"Abang gak apa-apa 'kan?"
Pertanyaan yang membuat Aska mengerutkan dahinya tak mengerti. Lengan Jingga yang melingkar di pinggang Aska semakin erat membuat hati Aska berbunga seketika. Senyum pun terukir di wajah Aska. Tangannya pun mulai membalas pelukan Jingga. Momen yang sangat langka.
Deheman seseorang membuat Jingga maupun Aska melepaskan pelukan mereka.
"Masih waktunya kerja, belum boleh mesra-mesraan," sungut Ken.
Aska berdecak kesal, tetapi Ken seakan tidak peduli. Dia malah mengambil makanan yang Aska belikan untuk Jingga.
"Itu buat Jingga!" seru Aska.
"Tinggal pesan lagi, apa susahnya?" balas Ken.
Aska mendengkus kesal, umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya. Usapan lembut dari tangan Jingga membuat Aska menoleh. "Gak boleh ngomong kasar," ucap Jingga.
Ken mulai menatap ke arah Aska. Dia ingin tahu apakah Aska akan berubah menjadi anak kucing. Tanpa Ken sangka, Aska menuruti perintah Jingga. Sahabat Aska itu hanya dapat menggelengkan kepala.
"Tuh anak benar-benar serius sama si Jingga," batin Ken.
__ADS_1
Aska sudah berterus terang kepada Ken dan Juno perihal Jingga. sontak kedua sahabatnya terkejut.
"Dia wanita biasa," ujar Juno, ketika Aska mengatakan yang sesungguhnya.
"Beda jauhlah sama cewek-cewek yang nembak lu," tambah Ken.
Mereka sama sekali tak percaya. Mereka kira tipe wanita yang Aska sukai seperti istri dari Abangnya. Atau juga seperti kakak perempuan Aska. Ternyata di luar ekspektasi.
"Cinta emang buta," gumam Ken sambil menikmati makanan Jingga.
"Makan di luar aja, ya." Ucapan Aska terdengar sangat lembut di telinga. Jingga pun mengangguk.
Mereka berdua pergi meninggalkan Ken yang masih menatap tak percaya ke arah sahabatnya tersebut.
Aska merasa bingung dengan sikap Jingga hari ini. Tidak biasanya perempuan yang ada di sampingnya dengan mudahnya diajak makan, seolah dia tidak memperdulikan pandangan para karyawan yang tengah menatapnya tajam karena kedekatan mereka berdua.
Tidak ada pembicaraan apapun dari mereka berdua selama di perjalanan, hingga mobil Aska berhenti di sebuah restoran cepat saji kesukaan Jingga. Mata perempuan itu melebar, dan dia menatap ke arah Aska.
"Aku masih ingat," ucap Aska seraya tersenyum. Hati Jingga sangat terenyuh mendengar ucapan dari Aska. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, tetapi Aska masih mengingat hal sekecil ini.
__ADS_1
Aska turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Jingga. Seulas senyum penuh kebahagiaan yang Jingga berikan.
"Inikah rasanya diperlakukan seperti seorang ratu?" batin Jingga.
Aska menarik tangan Jingga dan cukup membuat Jingga terkejut. "Apa yang kamu lamunkan?"
Aska bagai cenayang yang bisa membaca isi hatinya, dengan cepat Jingga menggeleng. Aska pun terkekeh dan mengusap lembut ujung kepala Jingga. Perlakuan Aska membuat Jingga sangat nyaman. Apalagi, sorot mata Aska yang memancarkan ketulusan.
"Kamu duduk di situ, aku pesan dulu." Perlakuan manis yang membuat hati Jingga meringis bahagia.
"Ya Tuhan, apa ini mimpi?"
Jingga masih menatap punggung Aska yang semakin menjauh. Bibir Jingga melengkung dengan sempurna melihat betapa kekarnya tubuh pria yang masih belum hilang dari hatinya. Meskipun, dia harus menjadi anak pembangkang tidak menuruti nasihat mendiang ibunya.
"Bun, bolehkah aku mencintai dia? Pria yang kastanya berbeda dengan kita?"
Pandangan Jingga harus beralih ketika ponselnya berdenting, sedangkan Aska masih berdiri di depan kasir. Sebuah tepukan di pundak membuat Aska menoleh. Seorang pria yang masih tampan di usia senjanya.
"Daddy."
__ADS_1
...****************...
Komennya mana ....?