
Di rumah sakit, Aska masih memikirkan ucapan abanganya. Apa yang dikatakan abangnya memang benar. Dia sudah salah start, sekarang Jingga sudah ada di hadapannya.
"Pilihannya sekarang hanya dua. Lu mempertahankannya atau membiarkannya pergi agar bisa melupakan rasa sakit hatinya yang sangat dalam. Dia anak yang tidak pernah tahu apa itu bahagia. Sudah saatnya lu bahagiakan dia."
Sebuah pilihan yang abangnya berikan. Di akhir kalimatnya adalah sebuah perintah yang harus dia laksanakan.
Ting!
Sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel Aska. Jingga tengah memeluk Riana sangat erat dengan berurai air mata.
"Bahagiakan dia atau suruh dia pergi jauh dari hidup lu, biar dia tidak tersakiti lagi."
Pesan yang dikirim oleh Aksa. Dia mendapat kiriman dari salah satu pengawal yang mengikuti Riana. Sedari tadi Jingga tidak melepaskan pelukannya kepada Riana.
"Nanti aku coba bicara sama suamiku, ya." Riana mencoba untuk menenangkan Jingga. Kini, Jingga mengurai pelukannya dan menatap ke arah Riana.
"Mbak, bisa tidak video call saja? Aku hanya ingin melihat dia. Itu saja," pinta Jingga.
Riana merasa sangat kasihan kepada Jingga. Banyak hal yang dia lalui seorang diri. Apalagi, Jingga bercerita kepada Riana tentang hidupnya hingga Riana menitikan air mata. Riana jauh lebih beruntung dibandingkan Jingga.
"Akan aku coba, ya."
Riana berharap nomor Aska bisa dihubungi. Semenjak kejadian babak belur itu, nomornya untuk keluarga seakan sulit untuk dihubungi. Riana mencari kontak Aska. Dia menekan gambar handycam untuk melakukan sambungan video.
Memanggil ....
Itu menandakan bahwa panggilan video itu tidak tersambung dengan Aska. Jingga sudah menatap layar ponsel Riana dengan seksama. Berharap kata memanggil yang ada di layar ponsel berubah menjadi berdering. Namun, itu tidak terjadi. Riana menggelengkan kepalanya.
"Sebentar ya, aku coba hubungi suamiku dulu," ujarnya.
"Ada apa?"
"Bang, nomor Kak Aska ...."
"Nomornya masih tetap sama. Mungkin dia sengaja menonaktifkan ponselnya untuk masa pemulihannya."
Kalimat itu penuh dengan penekanan membuat nyali Riana menciut seketika. Tidak biasanya suaminya seperti ini. Riana menggeleng pelan ke arah Jingga. Jingga hanya tersenyum kecut.
Jika, menyangkut rahasia si kembar pasti akan sulit untuk dibongkar. Mereka saling melindungi satu sama lain.
Riana menyuruh Jingga untuk menyantap makanan yang ada di depannya. Padahal, Jingga tidak lapar. Dia hanya merindukan Aska. Namun, demi untuk menghargai Riana dia memakannya. Setengah jam berselang, pria tampan berkemeja cokelat susu sudah masuk ke dalam restoran. Kecupan hangat di puncak kepala Riana membuat Riana tersentak. Begitu juga dengan Jingga.
Tuhan, tolong kirimkan pria yang seperti Pak direktur utama itu. Aku ingin merasakan kasih sayang yang tulus, Tuhan.
Di Jomblo's kafe, tengah ada keributan kembali. Kini, dua ibu-ibu merangsek ingin naik ke ruangan atas. Padahal, di ruangan itu tidak ada siapa-siapa. Dua pemilik kafe ini dari dua jam yang lalu keluar.
"Jangan sembunyikan Jingga!" bentak ibu-ibu yang terlihat sangat datang dengan rambut yang dicat marun.
__ADS_1
"Saya tahu dia selingkuh dengan pemilik kafe ini," timpal ibu berbadan tambun.
"Jingganya sedang keluar, Bu. Tidak ada Jingga di sini," jelas Wati.
"Saya tidak percaya!" Berkali-kali dua ibu itu berteriak dan membentak para pekerja di sana.
Koki yang tidak ikut mencegah dua ibu-ibu tersebut segera menghubungi kedua bosnya.
"Keributan lagi, Pak. Lagi-lagi Jingga."
Ken membaca pesan yang dikirimkan pekerjanya. Dia hanya menghela napas kasar.
"Ke kafe sekarang. Ada emak-emak ngamuk katanya," ujar Ken.
Juno menuruti ucapan Ken. Semenjak kedatangan Jingga kafenya banyak didatangi manusia-manusia yang tidak jelas. Mereka berdua tidak menghubungi Aska terlebih dahulu. Tibanya di sana, kafe ditutup sementara karena Aska pernah mengatakan, "ketika ada sedikit saja hal yang terjadi di kafe ini, tutup sementara. Jangan sampai kafe ini ber-image jelek."
"Ada apa ini?" tanya Ken dan juga Juno.
"Mereka memaksa untuk bertemu dengan Jingga, Pak. Jingga 'kan lagi keluar sama istri Sultan," terang Wati.
"Sebenarnya ibu-ibu ini ada perlu apa?" tanya Juno baik-baik.
"Saya akan membawa Jingga ke penjara karena Jingga telah menjebak putra saya, Fajar," sungut ibu yang berbadan tanggung.
Ken dan Juno saling tatap. Pada akhirnya dia menghubungi Jingga. Di restoran, Jingga yang hendak pergi mendudukkan kembali tubuhnya. Dahinya mengkerut ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Pak Ken," gumamnya. Riana dan Aksa mampu mendengar gumaman Jingga.
"Ibu-ibu?"
Aksa segera mengecek ponselnya. Ternyata ada yang tidak beres di kafe.
"Baik, saya akan ke sana, Pak."
Sambungan telepon pun berakhir. Jingga segera memasukkan ponselnya.
"Mbak Riana, Pak direktur, saya permisi. Makasih atas makan siangnya." Jingga berucap dengan sangat sopan. Dia juga menundukkan kepalanya pelan sebagai ucapan terima kasihnya.
Riana menatap heran ke arah Jingga yang terlihat buru-buru. "Bang, ada apa, ya?" tanya Riana. Aksa sedang sibuk dengan ponsel di tangannya dan menjawab, "bukan urusan kita, Sayang."
Riana menatap kesal ke arah suaminya dan merampas ponsel yang tengah Aksa genggam. Helaan napas kasar keluar dari mulut Aksa. Tangannya mulai membelai lembut rambut sang istri.
"Ri, gak suka kalau Abang bersikap ketus kepada Jingga. Dia sahabat Ri, sama seperti Keysha," imbuh Riana dengan wajah yang ditekuk.
"Bisa gak sih Abang tuh bersikap manis kepada Jingga?" lanjut Riana lagi.
"Enggak! Abang bersikap manis hanya kepada kamu," ucap Aska sambil mengusap perut istrinya.
__ADS_1
Riana yang ingin marah pun tidak jadi. Dia malah memeluk erat suaminya. Aroma tubuh suaminya seperti obat penenang untuknya.
"Jangan marah-marah, Sayang. Gak baik untuk anak kita," ujar Aksa. Riana mengangguk mengerti.
Aksa sangat bahagia karena istrinya benar-benar ingin selalu menempel dengannya. Tidak dia pedulikan tempat umum ataupun bukan. Riana yang sekarang terlihat sangat agresif. Hanya saja, mereka berdua belum bisa mengekspresikan keagresifan mereka masing-masing karena masih diharuskan puasa hingga Minggu ke sepuluh.
Di sepanjang perjalanan, Jingga terus merapalkan doa. Dua ibu-ibu sudah pasti bu'denya juga ibu dari Fajar. Baru saja dia terbebas dari PHK kini sudah harus masuk ke neraka.
Tibanya di kafe, Juno sudah melipat kedua tangannya di depan dada. Dia menatap nyalang ke arah Jingga.
"Selalu saja membuat masalah. Sebenarnya, siapa sih kamu ?" bentak Juno. Jingga hanya menunduk dalam, dia sama sekali tidak menegakkan kepalanya hanya sekedar untuk menatap Juno.
Juno menarik paksa Jingga dan membawanya ke hadapan dua ibu yang sedari tadi membuat kepalanya pusing. Melihat Jingga sudah ada di hadapannya, wanita yang berambut marun segera menjambak rambut Jingga dengan sekuat tenaga.
"Anak gak tahu diuntung!" Jingga tidak berkutik, dia hanya pasrah, sedangkan para karyawan lain menatapnya iba.
Plak!
Bukan hanya jambakan yang Jingga terima, tamparan pun membuat tubuh Jingga terhuyung belakang. Semua orang terkejut dengan sikap ibu berambut maroon itu.
"Ibu, stop!" lerai Ken.
"Jangan ikut campur!" sentaknya.
Kini ibu yang berwajah tambun mendekat ke arah Jingga. Dia menatap penuh dendam ke arah Jingga. Satu gelas air putih hangat disiramkan ke wajah Jingga. Untung saja hanya hangat kuku. Semua orang menatap Jingga penuh iba.
"Tukang selingkuh! Cewek murahan!" seru ibu berbadan tambun.
Kini, Jingga sudah mulai berani menatap ke arah dua ibu-ibu di depannya. Tidak ada air mata ataupun kesedihan. Hanya tatapan kosong yang Jingga berikan. Ken yang sudah mencegah tangan Jingga pun dihempaskan.
"Bu'de ... apa salah aku? Selama ini aku sudah banyak mengalah. Rumah yang Bunda berikan kepadaku pun sudah aku serahkan kepada Bu'de. Mau Bu'de apa lagi? Apa Bu'de menginginkan aku mati?" Ken dan Juno terkejut dengan apa yang diajarkan Jingga. Ucapan yang terdengar sangat frustasi.
Sekarang, Jingga menatap ke arah ibu dari Fajar. Dia pum mendekat.
"Tante ... aku tidak selingkuh. Anak Tantelah yang selingkuh. Anak Tantelah yang mengkhianati aku. Anak Tante juga sudah menyiksa batin aku selama ini. Sudah merusak tulang-tulangku karena kekerasan yang dia lakukan." Ibu dari Fajar sangat murka hingga mendorong Jingga sekuat tangan sampai membentur ujung meja dan membuat Jingga mengerang kesakitan.
"Bohong!" pekik ibu berbadan tambun itu.
"Anakku adalah anak yang baik. Buktinya, dia telah menyelamatkan kamu dan mau menjadikan kau pacarnya meskipun kamu sudah menjadi wanita kotor!" Kalimat yang sangat sarkas yang keluar dari mulut ibunda dari Fajar.
Ya Tuhan ... aku tidak seperti itu.
Jingga menunduk dalam mendengar makian tersebut. Apalagi, dia melihat jika semua karyawan juga dua bosnya menatapnya penuh tanda tanya.
"Jaga bicara Anda!"
Suara seseorang yang baru saja datang menggema di dalam kafe. Wajahnya sudah nampak murka sekali.
__ADS_1
...****************...
Lima sampai enam bab lagi mau gak?