Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Pesan Terakhir


__ADS_3

**Boleh minta tolong gak? Yuk baca karyaku YANG TERLUKA kisah kakaknya Riana, yaitu Echa dan juga Radit. Di sana pula ada cerita Iyan adiknya Riana yang anak indigo. Ada juga si triplets yang menggemaskan. Dan ada sepenggal kisah Rindra-Nesah dan juga jodoh Rifal-Keysha.


Bantu aku baca ya, dan jangan berhenti di tengah jalan. Biar aku bisa mendapatkan pendapatan minimum bulan depan. Syukur-syukur level naik bulan depan. Tapi, bacanya jangan berhenti di tengah jalan ya. Biar aku masih stay di sini. Makasih sebelumnya** ...


...****************...


Lima menit.


Sepuluh menit.


Lima belas menit.


Ketukan pintu semakin keras terdengar. Tubuh Riana cukup bergetar karena rasa takut yang menjalar.


"Sayang, Ari dan Christina udah ada di depan. Kamu lihat dari jendela dulu, jika mereka sudah di depan kamu bisa bukakan pintu. Jangan takut, banyak orang yang menjaga kamu."


Riana melangkahkan kakinya menuju pintu, dia melihat dari celah jendela. Riana pun bisa bernapas lega karena Ari dan Christina sudah ada di depan pintu bersama Chintya dan juga dua orang polisi.


"Bang, Ri buka pintunya, ya."


Riana sama sekali tidak mematikan ponselnya, dia ingin Aksa mendengar semuanya. Lelah, jika harus salah paham terus menerus.


"Riana." Chintya hendak memeluk tubuh Riana, tetapi dihadang oleh Christina.


"Jangan sentuh dia! Ini perintah!"


Riana cukup terkejut dengan cara bicara Christina. Wanita cantik, tetapi memiliki ketegasan yang luar biasa. Sama seperti Rani.


"Tadi 'kan kita sudah sepakat, Bu pengacara," ujar salah seorang polisi yang mendampingi Chintya.


"Di dalam kesepakatan kita, tidak terucap bahwa kalian boleh menyentuh klien saya."


Ari tersenyum tipis, jika bekerja sama dengan Christina pekerjaannya sedikit ringan. Selain sebagai pengacara, Christina bisa berguna sebagai bodyguard.


"Riana, ikut kami sekarang," titah Ari.


"Ke mana, Mas?"


"Ikut aja, gak usah banyak protes."


Ponsel Ari tiba-tiba berdering, mata Ari melebar ketika melihat siapa yang memanggilnya. Tiba-tiba Ari menjauhkan ponselnya dari telinga seperti ada yang tengah memarahinya dengan sangat kejam. Mata Ari melihat ke arah tangan Riana. Dia pun menghembuskan napas kasar.


"Pantas saja," batinnya.


Riana pergi bersama Ari dan juga Christina. Membiarkan Chintya dan juga dua orang polisi berada di depan mereka.


"Mas, Mbak, kita mau ke mana?"


Lagi-lagi Riana menanyakan tujuan mereka. Jujur saja, dia masih takut meskipun berada dengan Ari dan juga Christina. Lama tidak ada jawaban, Riana mengarahkan ponselnya ke telinga.


"Bang, memangnya Ri mau dibawa ke mana?"


"Nanti juga kamu akan tahu, dan Jagan pernah mematikan panggilan ini."


Dongkol yang Riana rasakan, bertanya kepada kekasihnya pun sama saja. Seperti ada yang sedang dirahasiakan oleh mereka semua.


Mata Riana memicing ketika mobil masuk ke dalam area rumah sakit. Di depannya pun mobil yang ditumpangi Chintya sudah berhenti.


"Temani Riana, saya parkiran mobil dulu." Anggukan yang menjadi jawaban dari Christina.


"Silahkan turun."


Christina membukakan pintu mobil belakang. Riana seperti orang linglung. Ada apa sebenarnya. Pertanyaan itulah yang sedang memutari otaknya.


Langkah kaki Riana mengikuti langkah Chintya dan juga dua orang polisi. Ketika mereka tiba di lantai tiga. Ada salah satu kamar perawatan yang dijaga ketat oleh para polisi.


Chintya berhenti sejak di depan pintu perawatan sebelum membuka pintu. Kemudian, dia menengok ke arah Riana dengan tatapan sendu. Ketika Chintya membuka pintu, para polisi mempersilahkan Riana dan Christina masuk.


Langkah Riana terhenti ketika melihat seseorang yang terbaring lemah di atas ranjang pesakitan.


"Kemarilah, Ri!"

__ADS_1


Suara Chintya terdengar sangat berat. Christina menganggukkan kepalanya ke arah Riana, agar Riana melanjutkan langkahnya. Tibanya di depan ranjang pesakitan, tubuh Riana mamatung ketika melihat Arka terbaring lemah dengan selang infus yang menancap di tangannya. Wajahnya sangat pucat pasi.


"Arka menderita kanker otak stadium empat. Tante juga baru tahu hari ini. Ternyata, Arka menutupi penyakitnya dari semua orang."


Tidak ada sanggahan dari Riana, mulutnya terkunci dan matanya masih memandang Arka dengan sorot yang tidak terbaca.


Chintya sudah menangis. Meskipun Arka bukan anak kandungnya, tetapi dia sangat menyayanginya karena dari bayi dia yang merawat Arka.


"Hati Tante hancur, Riana."


Isak tangis pun mulai terdengar, tangan Chintya mengusap kening Arka dengan penuh cinta.


"Bangun, Ka. Bukankah kemarin kamu meminta kepada Mamah untuk bertemu dengan Riana? Riana sudah ada di sini, Nak."


Riana masih terbungkam, dia masih menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan matanya.


"Kemarin, ketika Tante menjenguk Arka. Dia bilang kepada Tante, kalau dia ingin bertemu dengan kamu. Dia ingin memberikan sesuatu untuk kamu katanya," terang Chintya.


Apa sekarang Riana harus percaya? Sedangkan beberapa hari yang lalu, Chintya berakting di depannya serta ayahnya dan juga Arya. Pura-pura pingsan, ketika Ari hendak menyiramnya dengan air bekas pel-an Chintya pun terbangun.


"Kali ini Tante gak bohong, Riana. Arka memang benar-benar sakit," ucapnya.


Sedari tadi, Riana memang melihat tubuh lemah tak berdaya Arka itu benar adanya. Wajahnya terlihat lebih tirus dari sebelumnya.


"Coba pegang tangan Arka, Riana. Untuk kali ini saja."


Christina dan Ari melebarkan mata mereka ketika mendengar permintaan Chintya. Mereka berdua saling tatap, mereka tahu Riana hatinya mudah luluh. Apalagi dengan bujuk rayu seperti ini.


Riana mendekat ke arah Chintya membuat Christina kelabakan dan mulai menghadangnya.


"Ijinkan aku," kata Riana kepada Chintya.


"Mampoes!" batin Christina dan Ari.


"Sini, Ri."


Chintya meraih tangan Riana agar bertaut dengan Arka. Ketika tangan itu semakin mendekat, Riana melepaskan tangan itu dengan cepat.


Ucapan tiba-tiba Riana membuat Chintya melebarkan mata.


"Ri, harus menjaga sikap Ri. Meskipun, dia berada jauh di sana. Akan tetapi, Ri harus berpegang teguh pada komitmen kita berdua. Dia memang tidak melihat, tetapi dia bisa saja merasakannya."


Mulut Chintya terbungkam mendengar ucapan dari Riana. Anak yang dulu penurut kini sebaliknya. Selalu ada saja jawaban yang terlontar dari bibirnya.


"Bukannya Ri tidak memiliki hati, Ri hanya sedang menjaga hati. Jadi, tolong mengerti."


Bukan hanya Ari dan Christina yang merasa lega. Aksa mendengar ucapan Riana dari sambungan telepon pun tersenyum sumringah.


"Ri, kalian ini berteman. Tidak ada salahnya kamu mensupport teman kamu yang sedang tak berdaya ini," ujar Chintya.


"Jangan pernah memaksa, Nyonya!"


Ari sudah mulai geram ketika Chintya mulai memaksa. Tatapannya nyalang, apalagi dia tahu Aksa masih berada di balik sambungan telepon itu.


"Saya tidak memaksa, saya hanya ingin Riana balas budi kepada Arka. Ketika kamu terpuruk, siapa yang selalu support kamu? Siapa yang selalu ada untuk nemenin kamu? Apa kamu sudah lupa, Riana?"


Urat-urat kemarahan muncul di wajah Chintya. Begitu juga dengan Riana yang sudah menatap ke arah Chintya dengan tatapan tidak biasa.


"Ri, tidak pernah memintanya, Tante. Arka lah yang bersikukuh untuk menemani Ri. Ri, sudah terbiasa hidup sendiri jadi tidak ada masalah untuk Ri. Harusnya Tante dan Om tidak ikut campur terlalu dalam pada pertemanan kami. Jadinya seperti ini, kami saling menjauh karena rasa yang Arka miliki terus kalian paksa. Padahal, Arka adalah orang yang legowo," balas Riana.


"Seharusnya Ri tidak ke sini. Kasihan Arka, jika harus mendengar adu mulut tidak berguna ini. Ri, permisi, Tante."


Riana balik kanan dan menjauhi Chintya dan juga Arka. Bukannya dia tega dan tidak iba. Akan tetapi, dia sudah lelah jika harus terus dipaksa. Raganya bersama Arka, tetapi hatinya pada Aksa. Apa itu adil?


Baru beberapa langkah menjauh, panggilan pelan tertangkap oleh telinga Riana.


"Ri-a-na."


Tubuh Riana berbalik dan terlihat Arka sedang tersenyum ke arahnya. Kerasnya hati Riana kalah dengan wajah pucat Arka. Dia kembali menghampiri Arka. Disambut senyum penuh luka oleh Arka.


"Makasih udah datang."

__ADS_1


Riana membisu, dia hanya berdiri di samping ranjang pesakitan Arka. Menatap sendu temannya yang satu ini.


"Ini."


Arka menyerahkan sebuah flashdisk ke arah Riana.


"Ambillah! Di dalam flashdisk itu, hanya ada dua video. Silahkan kamu tonton. Itu sebagai tanda mata untuk perpisahan kita."


"Aku menyerah."


Masih bisa tersenyum meskipun hatinya menjerit kesakitan. Itulah Arka, menyerah karena usianya tidak akan lama lagi. Dia juga sadar, tidak akan pernah bisa membahagiakan Riana. Jika, dia memaksa dia akan melukai hati Riana dengan sebuah perpisahan yang tak dapat dielakkan, yaitu kematian.


Riana hanya terdiam ketika kembali ke kosan. Matanya masih menatap sendu ke arah flashdisk yang dia pegang.


"Apa perlu saya menemani Anda menonton video di flashdisk itu?" Riana menggeleng.


Tibanya di kosan, Riana segera masuk ke kamar dan membuka laptopnya. Memasang flashdisk di laptopnya. Dia juga melakukan sambungan video dengan Aksa. Aksa rela menunda semua meeting-nya hari ini demi Riana.


Riana memutar video pertama, Arka sedang memangku gitarnya seperti sedang manggung di sebuah tempat.


"Lagu ini untuk seorang perempuan yang saya sayang."


🎶


Telah ku coba terus bertahan


Tentang cinta yang kurasa


Ku mencinta kau tak cinta


Tak sanggup ku terus bertahan


Sadarku tak berhak untuk terus memaksamu


Memaksamu mencintaiku sepenuh hati


Aku kan berusaha untuk melupakanmu


Tapi terimalah permintaan terakhirku


Genggam tanganku sayang


Dekat denganku peluk diriku


Berdiri tegak di depan aku


Cium keningku tuk yang terakhir


Ku kan menghilang jauh darimu


Tak terlihat sehelai rambut pun


Tapi di mana kau terluka


Cari aku ...


Ku ada untukmu


Ku tak membencimu


Ku harap kau pun begitu


Tak ingin kau jauh


Tapi takdir menginginkan kita tuk berpisah


🎶


Bulir bening itu sudah membasahi wajah Riana. Sedangkan Aksa, sudah memutus sambungan videonya. Membiarkan Riana sendiri dulu untuk sekarang.


...****************...

__ADS_1


Kok ada bawang ya, mataku perih 🤧


__ADS_2