
Echa masih betah berada di bibir ranjang miliknya. Dia masih memikirkan tentang perkataan sang Papih mertua.
"Kenapa Sayang?" tanya Radit.
"Perasan aku gak enak, Ay. Aku masih teringat akan Papih."
Radit mengusap lembut punggung Echa. Dia juga mencium ujung kepala sang istri.
"Papih sudah sehat, tadi hanya drop saja."
Radit bisa santai, tetapi tidak dengan Echa. Dia merasa kasihan kepada sang ayah mertua yang sudah senja. Usainya hampir sama dengan sang kakek. Namun, di rumah hanya dirawat oleh perawat yang Radit pekerjaan.
"Sekarang, kamu ganti baju dan kita ke rumah Mamah." Echa mengangguk pelan.
"Aku tunggu di luar, ya."
Radit duduk di halaman samping rumahnya. Pandangannya lurus ke depan. Hatinya menangis mendengar permintaan sang ayah yang sangat menyayat hatinya.
"Ya Tuhan ... panjangkan lah umur papihku."
Sebuah doa yang terus Radit rapalkan. Dia belum mampu menjadi anak yang baik, dia belum mampu menjadi anak yang membanggakan.
Dia teringat akan ucapan sang Papih siang tadi. Ketika dia menjenguk Addhitma di rumahnya.
"Dit, Papih akan bahagia ketika melihat kakakmu menikah," ujar Addhitama dengan suara sangat lemah.
"Papih sudah sangat bahagia ketika melihat kamu menemukan kebahagiaan kamu yang sesungguhnya. bersanding dengan wanita yang sangat tepat. Wanita yang luar biasa hebat," tuturnya.
"Maafkan Radit, Pih. Radit belum bisa menjadi anak baik untuk Papih. Belum bisa membanggakan Papih. Temani Radit, hingga Radit bisa membanggakan Papih."
Ucapan tulus dari seorang anak yang tidak mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari kedua orang tuanya. Radit menggenggam tangan sang ayah dan meletakkannya di pipi.
"Radit sudah tidak mengenal Mamih, Radit hanya mengenal Papih. Maka dari itu, sembuhlah Pih. Bukan hanya Radit yang membutuhkan Papih. Abang juga Kakak membutuhkan Papih. Kami semua masih membutuhkan Papih," paparnya.
Senyum pun mengembang di wajah Addhitama. Anak yang sudah dia terlantarkan malah menjadi anak yang paling membanggakan. Dia benar-benar terharu akan sikap Radit yang sangat tulus.
"Maafkan Papih, Dit. Dulu Papih adalah orang tua yang sangat jahat."
Radit menggeleng. "Itu masa lalu, Pih. Kita hidup di masa sekarang dan masa depan. Radit juga sudah melupakan semuanya. Memulai hidup Radit dengan lembaran baru lagi," terangnya.
Tangan Addhitama membelai lembut rambut Raditya. Seketika Radit memejamkan matanya dan menatap nanar ke arah sang ayah. Merasakan hangatnya sentuhan sang ayah.
__ADS_1
"Temani Radit dan bimbinglah Radit. Radit masih membutuhkan Papih, membutuhkan bimbingan Papih. Tanpa Papih, Radit bagai orang yang kehilangan arah."
Tes.
Bulir bening menetes di ujung mata Addhitama. Sungguh ucapan Radit sangat menyentuh hatinya.
"Radit ingin Papih terus menegur Papih agar Radit bisa menjadikan manusia yang lebih baik lagi. Tetaplah di samping Radit, Pih. Menjadi petunjuk bagi Radit ketika Radit kehilangan arah."
Bulir bening pun menetes di pelupuk mata Radit. Perih rasanya ketika melihat ayahnya berwajah pucat dan lemah tak berdaya. Helaan napas kasar keluar dari mulut Radit. Telapak tangannya mengusap air matanya dengan cukup kasar.
Dari arah belakang, Echa menatap Radit dengan nanar. Dia tahu sang suami tengah menyembunyikan kesedihannya. Dia tahu, Radit sedang tidak baik-baik saja. Namun, dia terlalu pandai bersandiwara akan hatinya yang lara.
"Ay," panggil Echa.
Radit menoleh dengan tersenyum ke arah Echa. Senyum yang sangat dipaksakan, itu terlihat di mata Echa.
Echa menghampiri Radit dan memeluk tubuh suaminya yang terlihat lemah tak seperti biasanya. Radit cukup tersentak dengan apa yang dilakukan oleh Radit.
"Ay, kalau kamu gak tega tinggalin Papih sendiri. Aku gak masalah kalau kita tinggal di sana biar Papih gak kesepian."
Benar kata sang ayah, Echa adalah wanita yang luar biasa. Meskipun terhadap mertua, kasih sayangnya tak terkira.
Echa mengurai pelukannya. Dia melihat air mata di ujung mata Radit. Tangan halusnya mengusaolp air mata tersebut.
Radit tersenyum dan mencium kening Echa sangat dalam.
"Makasih Sayang, sudah menyayangi orang tuaku seperti kamu menyayangi orang tua kamu sendiri."
Lengkungan senyum terukir di wajah cantik Echa. Senyum itupun menular kepada Radit. Sepasang suami istri yang dipersatukan karena sama-sama pernah mendapatkan luka tak kasat mata, yaitu orang tua.
Echa mengeluarkan tisu basah untuk mengusap lembut wajah Radit.
"Sayang, nanti wajah aku jerawatan," keluh Radit.
"Ini tisu basah khusus, Ay. Kamu tahu 'kan berapa biaya perawatan wajah aku?" Kini Echa menyombongkan diri di depan suaminya. Bukannya marah, dia malah tertawa dan mencubit gemas pipi Echa.
"Istri siapa dulu dong," timpal Radit dengan gurauannya. "Istri Raditya 'kan gak boleh kucel." Echa pun terkekeh mendengar celotehan sang suami.
Arya yang tak sengaja melihat Radit dan Echa tertawa ikut melengkungkan senyum. Dia meletakkan kopi dalam kemasan kotak dingin di meja di mana di san ada Rion tengah duduk santai.
"Gua salut sama Radit dan Echa," imbuh Arya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rion yang kini sudah menatap ke arah Arya.
"Semakin hari merek semakin mesra. Padahal, Echa memiliki kekurangan sekarang," imbuhnya.
Helaan napas kasar keluar dari mulut Rion. Dia menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh kesedihan.
"Masih ada rasa takut di hati gua, Bhas."
Arya meletakkan kopi kemasan yang baru saja dia minum di atas meja, ketika mendengar ucapan Rion.
"Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Sembilan puluh persen Radit bisa berpaling dari Echa," keluhnya.
Apa yang dikatakan oleh Rion memang benar adanya. Arya juga merasakan ketakutan yang sama.
"Gua cuma takut, Radit bermuka dua. Di sini dia manis di depan Echa, tetapi di belakang Echa." Helaan napas berat keluar dari mulutnya.
"Jangan samakan Radit sama lu," sindir Arya.
Rion menoleh ke arah Arya dengan tatapan sendu. "Gua emang manusia bejat, Bhas. Akan tetapi, gua gak mau anak gua bersanding dengan pria bejat macam gua."
Arya mendengar sebuah ketulusan yang Rion katakan. Dia terdiam melihat mimik wajah Rion yang sudah berubah.
"Meskipun Echa bilang ikhlas, gua yakin di dalam hatinya dia tidak rela. Mana ada wanita yang ingin diduga. Mana ada wanita yang ingin dimadu," paparnya.
Arya sangat melihat perubahan dari diri Rion sekarang ini. Semakin hari Rion semakin dewasa dan menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya.
"Kita hanya bisa mendoakan, supaya anak bangor kesayangan kita selalu diberikan kebahagiaan," ucap Arya. Rion tersenyum mendengar ucapan Arya.
"Jika, Radit macam-macam, Echa gak akan pernah rugi. Dia juga pasti mampu membiayai ketiga anaknya dengan uang yang dia miliki. Beda halnya dengan Radit, dia yang akan menyesal karena telah membuat permata berharga seperti Echa."
Rion setuju dengan ucapan Arya. Suara langkah kaki terdengar, anak dan menantunya bergandengan tangan menuju ke arahnya.
"Yah, Echa ke rumah Mamah dulu, ya." Tak lupa, dia mencium tangan Rion dengan sopan.
"Salam buat dokter Eki," balas Rion.
"Iya, Yah."
Ketika Radit mencium tangan Arya, dia membisikkan sesuatu di telinga Radit. "Jangan pernah sakiti Echa. Setitik luka yang lu torehkan, akan banyak orang yang menaruh dendam sama lu."
__ADS_1
...****************...
Komen dong ....