Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Melebur


__ADS_3

Giondra menangis memeluk tubuh putranya. Air matanya belum bisa berhenti sampai saat ini. Remon, menepuk pundak sang bisa seraya menenangkannya.


Dia masih kepikiran tentang menantu dan cucunya yang pasti akan sangat bersedih.


.


Sekitar jam lima sore rombongan Ayanda datang dan mereka segera dibawa ke rumah sakit. Tidak ada yang berbicara satu orang pun. Mulut mereka seakan Kelu karena tujuan mereka adalah ke rumah sakit, tempat di mana jenazah Aksa diletakkan.


Riana hanya terdiam dengan menggenggam erat tangan Gavin. Dia mencoba berdamai dengan perasaannya. Dia juga mencoba berdamai dengan takdir walupun takdir sangatlah kejam.


Mata Riana sudah sangat sipit karena terus saja menangis. Rion sudah berada di samping Riana untuk menemani putrinya. Dia takut, Riana pingsan kembali. Dia pun menggenggam tangan Riana dengan sangat erat.


Rumah sakit yang dituju sudah banyak polisi yang berjaga. Jantung mereka pun semakin bertalu-talu. Riana enggan melangkah. Namun, semuanya tetap memaksa.


"Biar gua sama Kano yang ke sana. Kalian tunggu aja di sini." Baru saja Arya dan Kano hendak menuju kerumunan, dia bertemu dengan Askara.


"Gimana?" Aska hanya tersenyum dan mengetikkan sesuatu di ponselnya. Ternyata sebuah pesan yang dia kirim kepada Arya juga Kano.


Tubuh dua orang itu pun membeku. Pada akhirnya, mereka kembali kepada keluarga mereka yang tengah menunggu. Kemudian, membawa semua keluarga mereka masuk ke area rumah sakit.


"Mau ke mana kita?" tanya Ayanda.


"Ikut aja." Begitulah jawaban dari Arya.


Riana hanya mengikuti mereka saja karena dia sudah duduk di kursi roda. Iyan bertugas menggendong tubuh Gavin.


Di depan sebuah ruangan yang tidak ada namanya mereka berhenti. Tubuh Riana sudah menegang. Dia benar-benar ketakutan sekarang.


Kini, Arya yang mengambil alih kursi roda Riana dari Rion dan membawanya masuk ke dalam ruangan.


"Pah."


Riana takut, dia juga ragu. Dia tidak ingin syok seorang diri. Dia berpikir bahwa jasad suaminya ada di tempat ini. Begitu juga dengan para korban yang lain.


Arya hanya tersenyum dan berkata, "kuatkan hatimu."


Tubuh semua orang pun menegang dibuatnya. Mereka memandang perih ke arah Riana. Mata Riana pun sudah berkaca-kaca.


"Kuatkan aku, Tuhan. Aku ingin. melihatnya untuk terakhir kali. walaupun itu sangat menyakitkan."


Pintu ruangan itupun terbuka. Gelap sekali di dalam sana. Riana menatap ke arah Arya. Namun, Arya membawanya masuk lebih dalam lagi.


Orang yang berada di luar ruangan ingin segera masuk. Namun, Kano melarangnya. Riana tidak bisa melihat apa-apa, keadaan sangat gelap gulita. Seberkas sinar terlihat dari arah tengah dan semakin mendekat ke arahnya.


"Happy birthday, Istriku sayang."


Tubuh Riana menegang mendengarnya. Dia mencoba untuk tidak percaya. Air matanya sudah menganak dan seberkas cahaya itu semakin mendekat ke arahnya. Tiba-tiba semua lampu menyala dan terlihat wajah Aksara di depan mata Riana.


"Selamat ulang tahun!"


Giondra, Remon, Radit, Aska serta Fahri mengucapkan kalimat itu. Namun, Riana tidak bereaksi.


"A-apa ini hanya mimpi?" Air matanya menetes begitu saja membuat Aksa segera memeluk tubuh istrinya.


"Ini nyata, Sayang. Abang masih hidup." Aksa memeluk erat tubuh Riana yang sudah bergetar.


"Jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini. Aku ingin bersamanya untuk sejenak, Tuhan."


Hati Aksa teriris mendengar ucapan Riana. Dia melihat betapa hancurnya hati Riana. Betapa rapuhnya dirinya.


"Maafkan Abang, Sayang." Aksa mengecup ujung kepala Riana berulang.


"Jangan pergi! Ri, gak bisa hidup tanpa Abang." Tangan Riana mulai membalas pelukan Aksara.


Tidak ada seorang pun yang tidak menangis. Semua orang menitikan air mata. "Abang, apakah itu kamu?" Suara sang ibu terdengar sangat bergetar. Aksa segera mengurai pelukannya dan dia menatap penuh rindu kepada sang ibu.


"Abang masih sehat, Mom." Ayanda. menangis terharu dan segera memeluk tubuh putra tercintanya.


"Alhamdullilah ya Allah. Engkau telah mengembalikan harta yang paling berharga yang aku miliki, yaitu putraku."


Ayanda mendekap erat tubuh sang putra. Mencium setiap inchi wajah Aksa.


"Mommy sangat takut."


Aksa memeluk erat tubuh ibunya yang tengah menangis. "Abang baik-baik saja, Mom." Dia juga sangat merasa bersalah sudah membuat semuanya khawatir.


"Daddy.

__ADS_1


Suara sang putra membuat Aksa mengurai pelukannya. Gavin berlari ke arah Aksa dan memeluk tubuh ayahnya hingga Aksa mengaduh cukup keras.


Semua orang menatap tajam ke arah Aksa. Riana segera bangkit dari kursi roda dan menghampiri suaminya.


"Abang kenapa?" Raut khawatir sangat jelas terlihat.


"Ada luka tusukan di perut Aksa."


Semua orang tersentak mendengar penjelasan dari Gio. Riana segera mendekat dan menyingkap baju yang digunakan suaminya. Matanya melebar ketika melihat ada bekas jahitan yang masih diperban di perutnya.


"Abang-"


Aksa memeluk tubuh istri dan putranya dengan erat. "Abang tidak apa-apa."


#Flashback.


Di hari keempat keberadaannya di Pontianak, semua pekerjaan Aksa memang sudah selesai. Dia sudah merindukan sosok istri dan putranya juga anak di dalam kandungan Riana. Dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta ketika siang menjelang karena dia teringat bahwa keesokan harinya adalah hari ulang tahun Riana. Dia sangat yakin, Riana pasti lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri.


Mengirimkan sebuah foto tiket pulang ke Jakarta kepada sang ibunda agar sang ibunda membantunya memberikan kejutan kepada Riana. Namun, ketika menuju Bandara, mobil yang ditumpanginya dipepet oleh mobil berwarna hitam dan turun beberapa orang berbadan kekar.


Mereka menarik paksa Aksa juga Fahri. Keduanya sempat melawan, tapi lawan tidak sepadan hingga Aksa dan Fahri dibawa ke sebuah tempat sepi. Mereka dipukul terus-terusan karena Aksa tidak menjawab apa yang ditanyakan orang yang memakai topeng tersebut. Hingga dia kesal dan menusuk perut Aksa.


"Pak Aksa!"


Dalam kondisi lemah, Fahri masih sempat memanggil Aksa ketika Aksa ditusuk. Tujuan rival perusahaan Aksa adalah menyingkirkan Aksara agar dia lebih leluasa membuat perusahaan Aksa hancur. Titik lemah Aksa ketika berada di luar Kota, yaitu tanpa penjagaan.


Tempat di mana Aksa dan Fahri ditinggalkan adalah gudang tua yang berada jauh dari pusat Kota. Ponsel mereka pun sudah dibuang oleh musuh mereka. Ditinggalkan di tempat yang pengap, hanya berdua. Sedangkan Aksa sudah berlumuran darah.


"Pak Aksa!"


Dalam kondisi lemahnya, Fahri menyeret tubuhnya seperti suster ngesot. Dia tidak bisa bangun sama sekali. Setelah tiba di dekat Aksa, Aksa hanya tersenyum dan mengatakan, "saya ingin bertemu istri dan anak saya. Ingin menemani istri saya melahirkan anak kedua saya." Hati Fahri sangat sakit mendengarnya. Apalagi, dia melihat telapak tangan Aksa yang berlumuran darah karena sedari tadi menahan aliran darah yang keluar dari perutnya.


"Bertahanlah, Pak. Kita pasti selamat."


Hingga malam menjelang tidak ada orang yang mencari mereka. Kabar pesawat jatuh yang seharusnya mereka tumpangi, tidak mereka ketahui. Mereka hanya berdua di sini. Fahri terus mengajak bicara Aksa karena Aksa sudah pucat dan melemah sepertinya dia kekurangan darah.


"F-fahri."


Suara Aksa sudah sangat lemah. Fahri menoleh ke arah Aksa. "Ja-ga a-anak dan istri saya. Kali ini ... saya tidak bisa memberikan kejutan di hari ulang tahun istri saya tercinta."


"Bapak pasti bisa memberikan kejutan kepada istri Bapak." Fahri terus menyemangati Aksara. Dia tidak ingin Aksara memejamkan mata.


"Pak Aksara!"


Bertepatan dengan teriakan Aksa, pintu gedung tua itu terbuka. Terdengar langkah kaki yang berlari dan Fahri berteriak meminta tolong. "Tolong kami! Kami ada di sini."


Suara langkah kaki pun semakin mendekat. "Aksara!" Suara yang Fahri kenali dan ketika sinar lampu dihidupkan ternyata Giondra yang datang.


Tanpa banyak bicara dan bertanya Gio segera membawa tubuh putranya. Orang yang berada dengannya membantu Fahri untuk berjalan.


"Sadar, Nak."


Itulah yang dikatakan oleh Giondra. Bajunya sudah berlumuran darah dan telapak tangannya pun sudah memerah memegang darah yang ada di perut Aksa. Pisau sebagai barang bukti di samping Aksa pun sudah anak buah Giondra bawa untuk barang bukti.


"Bertahanlah, Bang. Bertahanl."


Suara Giondra sangatlah bergetar. Fahri sangat merasakan itu semua. Dia sangat tahu Gio sangat khawatir. Matanya sudah memerah menahan tangis. Wajahnya terlihat sangat pilu.


"Bangun, Nak. Anak dan istrimu menunggu kamu di rumah."


Perih sekali Fahri mendengarnya. Ketika Gio tidak meminta Fahri untuk menjabarkan kronologi, Fahri akan diam. Dia juga tahu situasi dan kondisi sekarang ini.


Tibanya di rumah sakit, Aksa segera dibawa ke IGD dan di luar IGD Gio sudah menyandarkan kepalanya di dinding.


"Bos."


Remon menyerahkan paper bag kepada Gio. Namun, Gio hanya diam saja.


"Apa yang harus aku katakan. kepada istri, menantu dan cucuku?" Suara Gio bergetar membuat Remon merasakan kesedihan yang Gio rasakan.


Gio benar-benar putus asa sekarang. Melihat wajah putranya yang sudah sangat pucat, darah yang terus mengucur membuatnya merasakan bahwa dia akan kehilangan sosok sang putra yang membanggakan.


Pintu ruangan IGD terbuka. Gio segera menghampiri dokter. "Pasien kritis karena kehilangan banyak darah. Kami harus melakukan transfusi darah."


"Lakukan yang terbaik untuk putra saya, dok. Berapapun biayanya pasti akan saya bayar."


Dokter itu tersenyum dan berkata, "Masalahnya, untuk golongan darah A Rhesus positif rumah sakit ini hanya memiliki stok tujuh kantong darah. Sedangkan pasien membutuhkan sekitar dua belas kantong darah." Dokter menjabarkan semuanya.

__ADS_1


"Golongan darah saya A rhesus positif. Silahkan ambil darah saya."


Remon menyaksikan jelas bagaimana pengorbanan seorang ayah terhadap anaknya. Gio benar-benar ingin memberikan yang tebaik untuk Aksara. Ingin menyelamatkan putranya walaupun dia harus mengorbankan nyawanya. Remon dengan setia mendampingi Giondra.


Keesokan siangnya, kondisi Aksa semakin stabil. Gio tersenyum lega. Namun, Remon mendapat kabar dari Askara yang sedang berada di posko penumpang pesawat yang jatuh. Dia menunjukkan pesan Aska kepada Gio.


"Suruh dia ke rumah sakit ini."


Remon pun mengangguk mengerti. Tak sedikitpun Gio beranjak dari ruang ICU di mana sang putera terbaring. Kondisi tubuhnya sudah mulai membaik. Hanya tinggal menunggu sadarnya saja.


"Daddy tidak akan mengabarkan mereka sebelum kamu membuka mata. Sadarlah, Bang." Gio merasakan tangan Aksa bergerak. Dia melihat ke arah wajah putranya. Matanya sedikit demi sedikit membuka.


"Bang," panggil Gio.


Senyum terukir di wajah Aksara. "To-long siapkan pesta kejutan untuk Riana."


Dalam kondisinya yang seperti ini, Aksa masih saja memikirkan perihal ulang tahun istrinya.


"Kamu belum sembuh, Nak."


"Abang baik-baik saja. Nanti Abang juga sudah bisa jalan." Optimisme yang ada pada diri Aksara membuat Gio merasa bangga. Dia tersenyum dan mengangguk patuh.


"Kita tunggu adikmu."


Satu jam berselang, Askara datang dengan langkah lebar. Dia sudah dijemput Remon di depan pintu masuk rumah sakit.


"Abang aku beneran selamat?" Remon tidak menjawab ucapan Aska. Dia membawa Aska menuju ruang ICU khusus membuat Aska tercengang.


"Abang ada di sini?"


"Silakan masuk saja." Remon sudah membukakan pintu.


Tubuh Aska menegang ketika melihat siapa yang tengah berbaring di tempat tidur. Tubuhnya lemas seketika.


"Lu jahat, Bang! Jahat!"


Aska berlari ke arah abangnya dan memeluk tubuh Aksa dengan sangat erat. "Kenapa lu buat gua takut? Semua keluarga kita nyangkanya lu mati?" Aska tak melepaskan pelukannya.


Gio meraih pundak Aska dan menjauhkan Aska dari Aksara karena sang putra pertama tengah meringis kesakitan.


"Dek, perut Abang kamu baru dapat jahitan." Aska pun tersentak dan segera menjauh. Dia menyesali perbuatannya dan Aksa hanya tersenyum.


"Gua belum siap kehilangan lu, Bang. Gua gak tega ngeliat Empin tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah."


Ketulusan dari Aska dapat dirasakan oleh Aksa juga Gio. Sang ayah mengusap lembut pundak Aska. "Abang kamu tidak ikut ke dalam penerbangan. Namun, dia mendapat musibah lain. Penganiayaan serta penusukan dari rivalnya."


"Kami semua menangisi lu, Bang. Kami menyangka lu udah koit di dasar laut. Dimakan ikan hiu."


Aksa pun tertawa mendengar candaan dari Aska. "Gua masih hidup dan gua minta bantuan sama lu boleh?"


Dahi Aska mengernyit dan ketika mendengar ucapan sang kakak, Aska bersungut ria.


"Bang sat! Ini yang ada bini sama anak lu jantungnya copot," omel Aska.


"Mereka udah menangis meraung-raung Bang Ke!" oceh Aska. "Jahat lu jahat!"


Gio hanya tertawa mendengar perdebatan antara dua putranya tersebut. Ketakutannya kini sirna. Air matanya sudah mengering lagi karena Tuhan masih baik kepadanya juga keluarganya.


#off.


"Abang jahat!"


Bukan hanya Aska yang mengatakan Aksa jahat. Riana pun mengatakan hal yang sama. Namun, tangan Riana memeluk erat tubuh Aksa dengan derai air mata. Putranya hanya mampu memeluk kaki sang ayah.


"Maafkan Abang, Sayang." Aksa tak kalah erat memeluk tubuh Riana.


"Selamat ulang tahun, Sayang." Riana mengurai pelukannya tanpa melepaskan tangannya di pinggang sang suami. Air matanya masih berjatuhan.


"Happy birthday, my lovely wife. Ibu dari anak-anakku dan penyempurnaan hidupku."


Aksa mengecup kening Riana sangat dalam. Mengecup kelopak matanya bergantian. Riana hanya bisa mengeratkan pelukannya ke pinggang sang suami dengan rasa bahagia yang tak terkira. Kesedihannya melebur seketika.


Echa menatap tajam ke arah Radit. Suaminya itu tersenyum dan mendekat ke arah Echa. "Ini semua udah disetting sama adik kembar kamu, Sayang." Radit merengkuh pinggang Echa. Kemudian, mencium kening Echa sangat dalam. "Maaf ya udah buat kamu nangis." Echa hanya memeluk tubuh Radit.


Semua orang pun tenggelam dalam rasa bahagia yang tak terkira. Kejutan yang sungguh membuat orang panik dan cemas setengah mati.


"Aw! Sa-kit!"

__ADS_1


Mata semua orang tertuju pada Riana yang meringis kesakitan.


__ADS_2