
Hari ini Aksa dan Riana serta Gavin berkunjung ke rumah Arya dan Beby karena mereka sedang mengadakan acara, yaitu acara ulang tahun pernikahan mereka. Tak lupa, Riana membawa kado untuk sahabat ayahnya itu.
Tidak ada acara mewah, hanya makan-makan biasa saja. Namun, semua keluarga juga sahabat Arya berkumpul semua. Dia pun sudah menyiapkan arena bermain untuk anak-anak kecil. Arya tahu, cucu-cucu Rion adalah anak pembuat onar. Jadi, dia tidak ingin rugi untuk kesekian kali.
Seperti saat ini, Gavin tengah asyik bermain anak ayam yang biasa ada di depan SD. Sudah dua ekor anak ayam yang dia cekik hingga sekarat. Menurutnya anak-anak ayam itu sangat lucu apalagi warnanya yang beraneka ragam. Ada merah, orange, hijau, dan kuning.
Riana sudah kesulitan untuk bergerak, dia duduk di sofa seraya mengusap lembut perutnya yang sudah besar.
"Makan dulu, ya." Aksa sudah membawakan Riana makanan.
Semua orang yang tengah berkumpul di ruang keluarga itu menggeleng tak percaya melihat kemanjaan ibu hamil di depan mereka itu. Makan pun harus disuapi..
"Beda ya sama hamil pertama," ucap Sheza.
"Hamil kedua ini lebih gak mual, tapi gak mau jauh dari Daddy-nya Mas Agha."
Sheza pun tertawa mendengar ucapan dari Riana, dan yang lainnya pun ikut tersenyum. Pasangan di depan mereka ini selalu saja romantis.
"Salutnya Aksa tak merasa terbebani," tambah Kano.
"Untuk apa terbebani, Pih. Malah abang senang bisa urus Riana sana Mas Agha. Mereka bermanja kepada Abang pun gak masalah." Seulas senyum terukir di wajah Aksa.
Sungguh luar biasa Aksara ini. Dia sama sekali tidak mengeluh ataupun membentak istri dan anaknya ketika lelah melandanya. Dia selalu menempatkan masalah pada tempat yang seharusnya.
"Setelah anak kedua lahir, mau pakai baby sitter gak?" tanya Beby yang baru saja ikut bergabung.
"Enggak mau."
Riana menolak mentah-mentah penggunaan baby sitter dalam mengurus putranya.
"Loh kenapa? Nanti kamu repot," ucap Sheza. Ya, Sheza menggunakan jasa nanny dalam mengurus Kaza karena dia tidak mampu mengurus dua orang anak sekaligus. Itu pun Kano yang meminta.
"Biarin deh repot juga. Baby sitter sekarang sadis-sadis."
Semua orang menatap bingung ke arah Riana. Sadis, apanya yang sadis?
"Sadis gimana?" tanya sang kakak.
"Ya, sadis. Masa majikannya aja diembat. Niatnya bukan kerja ngurus anak majikan, tapi ingin juga ngurus majikan lelakinya." Aksa tertawa mendengarnya. Dia meletakkan piring di atas meja. Kemudian, merengkuh pinggang sang istri tercinta.
"Abang gak mungkin begitu," ujarnya seraya menatap wajah sang istri.
"Sekarang bilang begitu, kalau nanti dapat nanny yang aduhai beda lagi ucapannya."
Semua orang pun tergelak mendengar ucapan dari Riana. Ibu hamil memang sangat sensitif. Aksa menarik Riana ke dalam pelukannya dan mengecup ujung kepala Riana dengan sangat gemas.
"Ya, masa Abang turun kasta," balas Aksa.
"Ya kali aja mau begitu. Paling juga berita heboh seantero jagat. Putra pertama Giondra Aresta Wiguna menceraikan Riana Amara Juanda demi seonggok permata imitasi." Aksa pun tertawa mendengarnya.
Namun, ada seseorang yang merasa perih hatinya ketika mendengar candaan atau gurauan seperti itu. Siapa lagi kalau bukan Echa. Dia hanya terdiam dan menunduk dalam. Sebuah tangan menggenggam erat tangannya. Echa menoleh dan ada Radit yang tersnyum ke arahnya. Menarik Echa ke dalam pelukannya.
"I'm so sorry. Cukup sekali aku bodoh." Echa mebgeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya ke dada bidang Radit. Tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua karena pada nyatanya tidak ada manusia yang sempurna.
"Buat apa Abang menyia-nyiakan kamu? Buat apa Abang bermain wanita lain lagi? Abang sudah bilang, setelah Abang menikah dengan kamu mata dan hati Abang hanya tertuju pada kamu. Tidak ada wanita lain lagi di hati Abang selain kamu," terangnya.
"Intinya gini, kalau Abang mencoba untuk menyakiti Ri, lebih baik Ri pergi. Ri menikah bukan untuk disakiti batin Ri, Ri menikah untuk bahagia bersama orang yang Ri cinta," paparnya. "Kalau berat ke anak pasti, tapi sesekali Ri juga boleh egois. Ketika sudah besar, pasti anak akan mencari ayahnya sama halnya dengan ayahnya jika sudah sadar pasti akan mencari anaknya."
Semua orang setuju mendengar ucapan Riana, Aksa hanya tersenyum. "Udah ah, gara-gara berita viral Abang yang kena omelnya," ucap Aksa. Dia tahu sedang ada viral yang berjudul 'ku kira kamu rumah, ternyata tong sampah'
Mereka pun tertawa bahagia. Berbeda dengan anak balita yang tengah asyik mencekik anak ayam yang dibeli oleh Arya. Setiap anak ayam sekarat, Gavin akan bersorak gembira.
"Hole! Mati!"
Di lain tempat ada dua insan manusia yang tengah berduaan. Siapa lagi jika bukan Iyan juga Beeya. Manusia beda usia lima tahun. Mahasiswa yang baru masuk universitas sedang bergelayut manja di lengan anak SMP.
"Yan, mau, ya."
Beeya tengah membujuk Iyan dengan rayuan mautnya. "Please!" Beeya sudah mengeluarkan puppy eyes-nya.
"Engga ah, teman kak Bee pasti ganteng-ganteng." Iyan merasa minder. Tubuh Iyan memang tinggi. Jika, sepintas orang melihatnya tidak akan menyangka bahwa Iyan masih SMP. Penampilan Beeya pun bukan seperti anak kuliahan.
"Dih, gantengan kamulah sama teman-teman aku juga." Beeya malah meletakkan kepalanya di bahu Iyan. Tangannya pun merangkul manja lengan Iyan.
__ADS_1
"Mau, ya?" bujuk Beeya.
"Gak apa-apa ke sananya bawa motor?" Beeya mengangguk.
"Asal sama kamu rela aku mah." Iyan berdecih sebal jika Beeya sudah berada di mode seperti ini.
Dua pria paruh baya tengah menyaksikan kedekatan antara Iyan dan Beeya. Helaan napas kasar keluar dari mulut Rion.
"Iyan masih sangat kecil. Sudah pasti gua gak bisa menemani dia hingga pelaminan."
Arya mengusap pundak Rion dengan lembut. "Belum tentu juga gua bisa menyaksikan anak gua nikah. Kita gak pernah tahu umur kita berakhir di angka berapa." Rion tersenyum ke arah Arya.
"Gua hanya berharap, mereka akan saling melengkapi satu sama lain." Arya pun tersenyum.
"Cuma Iyan yang mampu membuat Beeya nyaman setelah Aska pergi ke luar negeri dan menikah," balas Arya. Sebagai seorang ayah dia tidak melihat keseriusan Beeya dalam menjalin hubungan dengan para pacaran putrinya yang tak terhingga. Tidak pernah terlihat juga Beeya sedih ketika putus dengan pacarnya.
Ada keinginan dari kedua ayah ini terhadap anak-anak mereka. Namun, mereka juga tidak akan pernah memaksa karena sudah tidak zaman jodoh menjodohkan. Mereka juga ingin melihat anak-anak mereka bahagia dengan pilihan mereka sendiri.
"Bee, Yan, makan dulu gih." Beby sudah menyuruh dua anak itu makan. Namun, Beeya mencegah tangan Iyan.
"Biar aku aja yang ambilin buat kamu." Iyan pun tersenyum, dan senyum Iyan itu terlihat sangat manis di mata Beeya. Jarang sekali Iyan tersenyum, harus menunggu tujuh purnama baru senyum itu hadir di wajahnya.
"Makasih."
"Sama-sama."
Beeya pun melangkah menuju meja makan yang sudah banyak aneka pilihan lauk juga sayur.
"Iyan mana, Bee?" tanya Echa.
"Masih di ruangan depan, Kak. Ini Bee sekalian ambilin buat Iyan." Echa hanya tersenyum mendengarnya. Walaupun dua anak itu sering berdebat, tetapi mereka selalu kompak. Terutama kompak membohongi orang tua.
"Loh kok cuma satu piring?" tanya Iyan seraya mengerutkan dahi.
"Biar romantis, bestie."
Iyan pun menggeleng. "Bukan romantis, tapi kurang kenyang." Beeya menatap jengkel ke arah Iyan. Manusia di depannya ini tidak seperti le mineral. Walaupun begitu, Iyan tetap mau makan sepiring berdua bersama Beeya.
"Ih, ngambilnya jangan banyak-banyak. Akunya gak kebagian," omel Beeya seraya memukul bahu Iyan.
Lagi-lagi Beeya dibuat kesal oleh Iyan hingga dia memakan dengan cara kasar. Iyan pun tergelak.
"Gak usah marah." Iyan mengusap lembut rambut Beeya.
Mata Iyan tertuju pada bibir Beeya. Kemudian, wajah Iyan semakin mendekat ke arah wajah Beeya membuat jantung Beeya berdebar tak karuhan.
"Ya Tuhan, apakah ini-"
"Makannya belepotan, sampe ada nasi segala."
Ekspektasi mesra atau dicium oleh bocah tampan sirna sudah. Jantung yang sudah berdetak sangat cepat seakan berhenti berdetak.
"Astaga Bee, mana ada bocah SMP ngerti kissing-kissingan," omelannya dalam hati.
Bukannya memakan apa yang ada di piring, Beeya malah menatap Iyan dengan serius. Wajah anak bungsu dari sahabat papahnya ini memanglah sangat tampan sekali. Hanya saja, dia bukan seperti anak normal lainnya. Dia lebih senang menyendiri dan bermain dengan makhluk tak kasat mata.
Beeya terus menatap bibir Iyan yang tengah mengunyah. Seperti membangkitkan keingin tahuannya akan rasa kissing yang sering orang bilang memabukkan itu.
Bibir tipis dengan warna merah, membuat Beeya menelan saliva berulang. Dia benar-benar ingin mencobanya karena bibirnya sama sekali belum pernah dijamah oleh laki-laki manapun.
"Makan, jangan bengong!"
Beeya pun tersentak, dan dia pun melanjutkan makannya dengan sesekali mamandangi wajah tampan Iyan. Iyan merasa perutnya sudah kenyang, dia pun mulai beranjak.
"Mau ke mana?" Beeya seakan tidak ingin ditinggal oleh Iyan hari ini.
"Ambil minum. Kak Bee 'kan gak bawa minum." Beeya pun tertawa dan meminta dibawakan minuman juga.
"Udah makan, Yan?" tanya sang kakak kedua.
"Udah Kak Ri, " jawab Iyan menuju lemari pendingin.
"Mah, Kak Bee sukanya minuman apa?" Melihat banyak minuman dingin yang terdapat di dalam lemari pendingin membuat Iyan pusing. Dia pun tak segan bertanya kepada ibunda dari Beeya.
__ADS_1
"Yang kotak, itu kesukaannya." Iyan pun mengambilkan apa yang disebutkan oleh ibu dari Beeya. Dia membawanya ke ruang depan di mana Beeya berada. Tak lupa juga dia membawakan air putih untuk Beeya.
"Makasih," ucap Beeya dengan senyum manisnya.
"Sama-sama."
Iyan meletakkan kembali bokongnya di atas sofa. Beeya membawa piring kotor ke dapur sambil mengambil camilan. Dia ingin mengajak Iyan menonton drama China.
"Yan, aku ada film China bagus loh. Ini bercerita tentang gamers gitu," ucap Beeya.
Mendengar kata gamers membuat Iyan ingin tahu. Mereka menonton via laptop yang sudah dipangku oleh Beeya.
"Temani nonton, ya." Iyan mengangguk, dia juga penasaran film seperti apa yang Beeya rekomendasikan.
Sengaja Beeya memutar bagian yang sedikit panas. Dahi Iyan mengerut ketika melihat sang pria mengecup bibir si perempuan yang terlihat kaku.
"Dih, film mesoem ditonton."
Beeya menganga tak percaya mendengar ucapan dari Iyan ini. Padahal, di usia Iyan yang beranjak remaja rasa ingin tahunya harusnya tengah bergejolak. Kenapa responnya seperti itu?
Pokoknya temani aku nonton. Beeya pun mengambil paksa ponsel Iyan dan dia sembunyikan. Iyan hanya menghembuskan napas kasar.
Beeya meletakkan kepalanya di bahu Iyan. Memeluk lengan Iyan dengan sangat erat. Mereka berdua menonton film itu berdua sampai habis dan semua orang yang berada di rumah Beeya pun sudah tidak ada. Kedua orang tua Beeya pergi ke rumah Arina. Kini, hanya menyisakan Iyan dan Beeya di rumah.
"Romantis ya, Yan."
Beeya mendongak ke arah Iyan, begitu juga Iyan yang menatap wajah Beeya. Iyan tersenyum dan mengusap lembut wajah Beeya. Disuguhkan film seperti itu rasa ingin tahu di dada Iyan bergejolak. Dia menyentuh pipi Beeya dengan lembut dan jarinya turun ke bibir Beeya. Seakan nalurinya bisa mengarahkan apa yang harus dia lakukan.
Tangannya sudah menyentuh dagu Beeya. Beeya pun tersenyum dan sudah siap menerima kecupan manis dari Iyan. Wajah mereka sudah saling mendekat, deru napas pun sudah saling bersahutan. Ketika sudah berjarak lima senti lagi, ponsel Iyan berdering membuat Beeya mengerang kesal. Sontak Iyan pun menjauhkan wajahnya dari wajah Beeya dan segera mengambil ponselnya yang disembunyikan Beeya.
"Maafkan Iyan, ya Allah."
Iyan menjawab panggilan dari sang kakak pertama.
"Iya, Kak. Nanti Iyan naik ojek online aja."
Ternyata sang kakak menyuruh Iyan untuk naik ojek online karena orang rumah akan pergi lagi. Tidak ada yang bisa menjemputnya.
"Kenapa?" Beeya menatap Iyan dengan tajam.
"Aku disuruh naik ojek online. Gak ada yang bisa jemput." Beeya pun tersneyum.
"Nanti aku yang anterin kamu." Beeya meletakkan kembali kepalanya di bahu Iyan. Menonton drama kembali karena baru setengah mereka tonton.
Kemanjaan Beeya tidak membuat perasan Iyan aneh. Dia hanya menganggap Beeya seperti kakaknya sendiri. Bagian dari keluarganya. Di sekolah pun banyak yang suka kepada Iyan, tapi Iyan sama sekali tidak merespon mereka. Iyan memilih untuk cuek dan bergelut dengan dunianya.
Setelah drama itu selesai, Iyan memutuskan untuk pulang. Dia melihat ke arah jam dinding dan ternyata sudah malam.
"Aku pulang ya, Kak." Iyan sudah membuka aplikasi ojek online, tapi Beeya melarangnya.
"Aku antar, aku udah punya SIM kok."
Iyan mengangguk setuju. Lagi pula dia tidak memakai jaket, tubuhnya pasti akan kedinginan jika menaiki motor. Beeya membawa laptopnya ke kamar dan mengambil kunci mobil.
"Jangan lupa malam Minggu jemput aku." Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Iyan.
"Kenapa ini bocah di mata gua beda, ya?" Beeya menertawakan dirinya sendiri. Hanya karena wajah Iyan mirip dengan salah satu aktor China membuat imajinasi Beeya semakin liar.
Mobil sudah berhenti di depan rumah Iyan. Dia menoleh ke arah Beeya seraya tersenyum. "Makasih."
Senyum yang begitu manis, senyum yang membuat hati Beeya berbunga-bunga.
"Sama-sama."
Iyan sudah membuka seatbelt-nya. Tangannya pun sudah membuka pintu mobil. Namun, Beeya dengan sengaja menarik tangan Iyan hingga wajah Iyan hampir menyentuh wajah Beeya.
Cup.
Bibir Beeya menempel di atas bibir Iyan membuat Iyan melebarkan mata. Bibir Beeya ternyata sudah tidak mau diam dan membuat Iyan semakin menegang.
...****************...
Kode lagi nih ...
__ADS_1
Jangan bosan, ya.