Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Harusnya Memilih Aku


__ADS_3

Untuk kejadian malam Minggu aku mohon maaf, ya. Sebenarnya aku udah up jam 7 sesuai janjiku, tetapi Noveltoon error. Naskah yang aku setor malam minggu baru terbit mau maghrib kemarin. Sekali lagi mohon maaf, ya🙏 Bukannya aku ingkar tapi sistem yang kadang bikin geram.


...****************...


🎶


Kau ...


Harusnya memilih aku


Yang lebih mampu menyayangimu


Berada di sampingmu ....


Itulah lagu yang cocok untuk kemirisan Arka. Wanita yang sedang dia perjuangkan malah asyik bermesraan dengan pria yang kini menjadi saingannya. Mengenaskan, satu kata untuk Arka.


Setelah menyelesaikan dua buah lagu, Arka bergegas menuruni panggung dan mencari Riana. Dia ke luar dari hall dan mencoba menghubungi Riana. Namun. Tak pernah ada jawaban dari Riana. Kemudian, dia bertanya kepada salah seorang petugas yang berjaga di luar hall. Menjelaskan ciri-ciri Riana, petugas itu menunjuk ke arah lift. Arka sedikit berlari menuju sana. Dia takut, jika Riana akan pergi dari Magelang.


Bibirnya tersenyum ketika dari kejauhan Riana mulai berbalik badan untuk meninggalkan Aksa. Namun, kejadian tak terduga terjadi. Aksa menarik tangan Riana dan berakhir dengan ciuman indah. Seperti ditusuk ribuan belati panjang hati Arka. Sakit dan sedih jadi satu. Bodohnya, bukannya dia pergi malah mematung di sana. Menyaksikan adegan yang seharusnya dia yang menjadi pria itu bukan Aksa.


Di depan lift, dua insan manusia masih menyelami manisnya bibir pasangan masing-masing dengan penuh penghayatan. Tak memperdulikan keadaan sekitar dan tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang tengah menonton mereka secara live.


Pagutan bibir itu terlepas. Mata mereka masih terkunci. Tak ada yang berbicara dalam keadaan saling menatap itu. Seakan mereka sedang menikmati pemandangan indah yang ada di hadapan mereka.


"Ri, gak suka dia. Ri hanya cinta Abang." Sebuah kalimat yang diucapkan sangat pelan. Namun, mampu Aksa dengar.


Bibir Aksa kini mendarat di kening Riana. Mengecupnya sangat dalam hingga mata mereka berdua terpejam. Aksa memeluk Riana dengan sangat erat. Itu semua sengaja Aksa lakukan untuk membuat Arka tak berkutik.


Sebenarnya, Aksa masih marah terhadap Riana. Ketika Riana mengatakan hendak pergi dan kembali ke Jogja seorang diri. Aksa akan membiarkannya. Namun, mata jelinya mampu melihat bayangan yang sepertinya menuju ke arah mereka. Kemudian Aksa menarik tangan Riana. Menatapnya sebentar dan ujung matanya melihat sosok pria yang dia kenali di sana. Dengan sengaja Aksa mencium bibir mungil Riana di depan mata Arka.


"Kamu mau pulang?" Kini Aksa menatap Riana.


"Gak mau nginap aja dulu di sini?" Dengan cepat Riana menggeleng dan Aksa tersenyum melihat keluguan sang pujaan hati.


"Kamar yang Abang pesan suite room loh," ucapnya.


"Abang mau aku dibunuh Kakak dan dikubur hidup-hidup oleh Ayah?" Aksa pun tergelak degan tangan yang sudah mengusap lembut pipi Riana.


Tak tahan melihat pemandangan yang membuat hatinya perih. Apalagi Riana yang terlihat bahagia. Arka memilih kembali ke hall. Chintya dan Fikri menanyakan keberadaan Riana.


"Lagi ke toilet." Berbohong akan lebih baik.


Tepat di depan matanya Arka melihat cinta yang begitu besar yang Riana miliki untuk Aksa. Apa sekarang dia harus terus maju? Atau dia akan bermain dengan cara yang licik.


Aksa menuju tempat sepi, di sana dia menyandarkan tubuhnya dengan hati yang kesakitan.

__ADS_1


"Kenapa nasibku selalu malang?" gumamnya.


Kembali ke Aksa dan Riana. Mereka sedang berada di suite room dengan Aksa yang tengah memeluk tubuh Riana dari belakang.


"Kapan beresin barang bawaan Abang kalau Abang terus meluk Ri kaya gini?" Bukannya menjawab Aksa malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Jarang banget 'kan kita kaya gini." Riana tersenyum kecut.


Ya, memang benar apa yang dikatakan oleh Aksa. Hari-hari Riana pun seolah sepi tanpa kabar dari Aksa. Ponsel Aksa yang selalu susah untuk dihubungi terkadang membuat Riana geram sendiri. Suara dering ponsel Riana mengganggu keromantisan yang ada.


"Lepas dulu, ya. Ri angkat telepon dulu." Permintaan lembut Riana membuat Aksa mendengus kesal. Namun, rasa kesal itu hilang ketika Riana mengecup pipi kanan Aksa sekilas. Ditambah senyum manis yang terukir jelas di wajah Riana.


"Iya Tante."


....


"Iya, nanti Ri kembali ke sana."


"Dari siapa?" Tangan Aksa sudah melingkar kembali di pinggang Riana.


"Mamahnya Arka."


Tangan yang baru saja melingkar itu kemudian Aksa lepaskan. Hembusan napas kasar mampu Riana dengar. Riana membalikkan tubuhnya dan menatap manik mata Aksa. Menggenggam tangan Aksa dengan sangat lembut.


Sudut bibir Aksa sedikit terangkat. Dia semakin bangga terhadap Riana.


"Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Abang tunggu kamu di parkiran." Kecupan hangat kembali mendarat di kening Riana.


Sebelum kembali ke hall, Riana memeriksa penampilannya kembali.


"Tuh 'kan," imbuhnya.


Aksa yang sedang fokus ke ponselnya menoleh ke arah Riana yang masih mematung di depan cermin.


"Kenapa?" tanya Aksa heran.


"Liat!" Riana menunjuk ke arah bibirnya yang lipstiknya sudah sedikit menghilang.


"Mau Abang cium lagi?" Mata Riana melebar ketika mendengar ucapan Aksa.


"Dasar mesoem!" gumamnya.


"Bilang apa kamu?" Mata Aksa sudah berkilat menatap tajam ke arah Riana. Apalagi langkahnya yang sudah semakin mendekat.


"A-abang mau ngapain?"

__ADS_1


Kini tubuh Riana sudah membentur meja rias. Tubuh Aksa sudah mulai mendekat ke arahnya. Tatapan mata Aksa terarah pada bibir mungil Riana. Wajah Aksa semakin mendekat membuat Riana menutup mata. Namun, bibir Riana tak kunjung mendapat sentuhan lembut. Hingga Riana membuka matanya dan melihat Aksa sedang mengambil parfum di meja rias.


"Yang mesoem bukan Abang, tapi kamu," ucapnya sambil menarik hidung Riana. Semburat merah terlihat jelas di wajah Riana.


Kenapa mendadak jadi manusia bodoh begini?


Untuk menutupi rasa malunya, Riana segera merapihkan penampilannya kembali. Dia akan berbicara terlebih dahulu kepada kedua orang tua Arka untuk kepulangannya yang tidak bisa bersama dengan mereka.


"Ri temui orang tua Arka dulu, ya."


"Hm," jawab Aksa yang masih fokus pada layar ponselnya.


Hal yang membuat Riana kesal kepada pasangan ya seperti ini. Ponsel lebih penting dari apapun. Riana pun mendengus kesal.


"Lebih penting hp dari pada apapun," sindirnya yang berlalu meninggalkan Aksa.


Langkah lebar Aksa mampu menghadang langkah Riana. Aksa lupa jika Riana tidak suka kalau mereka sedang berdua Aksa fokus pada ponselnya.


"Maaf."


Riana bergeming, dia menghindari Aksa untuk melanjutkan langkahnya. Tangan Riana berhasil Aksa cekal dan menariknya ke dalam pelukannya.


"Jangan lama-lama. Rindu itu berat, Riana." Kata-kata yang Aksa copy dari film Dilan.


"Basi ah gombalannya," balas Riana.


Aksa pun terkekeh mendengar perkataan Riana. "Abang tunggu di parkiran, ya. Kamu jangan lama-lama. Di depan hotel akan ada petugas yang akan membawa kamu menuju mobil Abang." Riana mengangguk mengerti.


Tibanya di hall, Riana mencari keberadaan Chintya dan Fikri. Riana mengutarakan maksud dan tujuannya.


"Kenapa keluarga kamu gak diajak ke sini?" Chintya sedikit curiga.


"Dia gak akan mau, Tante. Dia pemalu," jawab Riana.


"Ya udah, kamu hati-hati, ya. Kalau sudah sampai Jogja kabarin kami," imbuh Fikri.


Riana mengangguk dan tak lupa mencium tangan kedua orang tua Arka. Namun, Riana tidak menemukan Arka di sana. Riana membiarkannya saja, apalagi ponselnya yang terus berdering. Panggilan dari sang pria bermobil hitam yang sudah tidak sabaran.


"Ri, permisi, Tante, Om."


Riana meninggalkan hall dengan hati yang sangat lega dan bahagia. Dia sudah berada di depan lift untuk turun ke lobi. Ketika pintu lift sudah terbuka, tubuhnya seperti ada yang mendorong hingga dia masuk ke dalam lift bersama orang yang ada di belakangnya. Mata Riana melebar ketika dia menoleh ke arah belakang.


...****************...


Kalau Noveltoon udah lancar lagi dan komen banyak tembus 50 deh hari ini, insha Allah aku akan up lagi.

__ADS_1


__ADS_2