Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Story Eki dan Jingga


__ADS_3

Dua puluh lima tahun yang lalu ...


Seorang pria memakai jas putih menghadap kepada ibunya yang tengah menonton televisi. Tiba-tiba dia bersimpuh di hadapan sang ibu dan membuat sang ibu terkejut.


"Kamu kenapa Eki?" tanya Bu Retno.


Eki Mandala adalah seorang dokter yang bekerja di salah satu rumah sakit ternama. Dia yang memiliki julukan bujang lapuk bersama dua sahabatnya ternyata sudah memiliki kekasih. Namun, hubungan mereka dilakukan secara backstreet. Kastalah yang membuat semua itu terjadi. Apalagi ibunya yang memang keluarga berada dan terpandang.


Jesslyn adalah perempuan yang sangat sederhana dan juga mandiri. Dialah yang mampu memikat hati Eki hingga hubungan mereka semakin dekat dan dekat. Tak sadar, mereka telah melakukan hal yang dilarang agama. Sudah tahu dilarang, tetapi tetap mereka lakukan karena itulah yang dinamakan kenikmatan dunia.


Suatu pagi, Jesslyn menghubungi Eki dan menyuruh Eki datang ke kontrakan kecilnya. Setelah Eki datang, Jesslyn memperlihatkan sebuah testpack yang memiliki garis dua. Tubuh Eki menegang, begitu juga dengan Jesslyn yang sudah menahan air matanya.


"Kita gak mungkin menikah," ujar Eki.


Hati Jesslyn bagai tertusuk belati yang sangat panjang mendengar ucapan dari Eki. Ingin rasanya dia menangis keras. Hatinya hancur seketika. Jesslyn pikir, Eki akan berjuang untuknya. Pada nyatanya dia hanya jadi pecundang.


"Lalu ... mau kamu apa?" tanya Jesslyn. "Apa boleh aku gugurkan?" lanjutnya lagi.


Pertanyaan Jesslyn mampu membuat Eki melebarkan matanya. Dia menatap nyalang ke arah Jesslyn. Dia benar-benar tidak suka mendengar ucapan Jesslyn.


"Jangan sembarangan kalau bicara!" sentak Eki.


"Kamu sendiri bilang kalau kamu tidak ingin menikahi ku. Lebih baik aku gugurkan saja," ancam Jesslyn.


Padahal pada nyatanya Jesslyn tidak akan bertindak bagai hewan seperti itu. Dia hanya menggertak Eki saja.


"Baiklah, aku akan bicara kepada ibuku." Eki pun menyerah.


Setelah pulang bekerja, Eki bersujud di hadapan ibunya dengan air mata yang menetes.


"Bu, aku telah menghamili pacarku." Tubuh Bu Retno menegang seketika. Dia menatap tajam ke arah Eki.


"Maafkan aku, Bu." Eki sudah menggenggam tangan Bu Retno dengan sangat erat.


"Ibu tidak mau memiliki menantu yang tidak tahu asal usulnya. Lebih baik kamu gugurkan anak yang ada di dalam kandungan itu!" Bu Retno sangatlah kejam. Dia segera berlalu meninggalkan Eki.


"Aku tidak akan menggugurkan buah hatiku," gumam Eki. Dia pun meninggalakan ibunya.


Keesokan paginya, Eki datang kembali ke kontrakan Jesslyn.


"Ibu tidak setuju. Ibu malah menyuruh aku untuk menggugurkan bayi tak berdosa ini," tutur Eki. Jesslyn sudah menduga itu.


"Ya sudah, gugurkan saja," ucap Jesslyn dengan nada yang datar.


"Tidak!" jawab Eki dengan sangat tegas.


"Aku akan bertanggung jawab atas anak itu. Kita nikah siri saja dulu," kata Eki.


Ucapan Eki terealisasi sempurna. Setelah menikah, Eki tidak pernah pulang ke kontrakan Jesslyn. Seminggu bisa terhitung jari dia mengunjungi istrinya. Membawa istrinya ke rumahnya pun dia tidak bisa. Ibunya itu sudah pasti akan melarang.


Sembilan bulan sudah Jesslyn mengandung. Nafkah uang selalu rutin, tetapi nafkah batin sudah tidak pernah dipenuhi selama lebih dari tujuh bulan. Jesslyn masih sabar, hingga lahirlah seorang anak perempuan yang sangat cantik jelita ketika senja hari. Melahirkan pun Jesslyn seorang diri, tidak ada yang menemani.


Bayi mungil nan cantik dengan bola mata sangat indah, bayi mungil itu sangat tidak rewel seakan mengerti ibunya. Namun, ayahnya belum melihatnya karena sedang bertugas ke luar Kota. Seminggu sudah Jesslyn melahirkan, tetapi Eki tak kunjung datang. Jesslyn sudah menyerah. Dia ingin secepatnya berpisah. Satu pesan pendek dia kirim kepada Eki.


"Mas, setelah habis masa nifasku, tolong ceraikan aku."


Tidak ada air mata yang menetes sedikit pun dari matanya. Jesslyn malah tersenyum menatap ke arah bayi mungil itu. Keputusannya sudah sangat bulat. Dia tidak ingin menyiksa batinnya sendiri.


"Kamu adalah cahaya senja yang menyejukkan untuk Bunda. Kamu kebahagiaan Bunda. Bunda dan kamu pasti akan menjadi kuat."


Dua Minggu berselang, Eki datang ke kontrakan Jesslyn. Dia menatap putri cantiknya itu. Ketika tangannya ingin menggendong bayi cantik itu. Jesslyn menjauhkan putrinya dari tangan Eki.


"Jangan pernah bawa putriku!" Sebuah peringatan dengan penuh penekanan.


Urat-urat kemarahan hadir di wajah Eki. Apalagi Jessly sudah menggendong putrinya dengan sangat erat.


"Itu anakku juga Jess!" sentak Eki.


"Iya, ini anak kamu! Anak yang hanya kamu titipkan di rahimku. Anak yang sudah kamu abaikan," tekan Jesslyn.


Eki tersentak mendengar ucapan dari Jesslyn. Tangan lentik istrinya itu memberikan dua buah foto kepada Eki. Acara pernikahan yang sangat megah dan dihadiri para tamu undangan yang banyak.


"Lebih baik ... anak ini tak mengenal ayahnya dari lahir, dari pada ketika dia besar dia harus terluka."


Eki bukannya ke luar Kota. Dia tengah merayakan pesta resepsi dengan wanita pilihan ibunya. Dia datang ke rumah Jesslyn pun setelah dia pulang berbulan madu. Ada orang yang memata-matai Eki ternyata.


"Jess .. aku dipaksa. Aku tidak ingin durhaka," terang Eki.


"Aku mengerti, sangat mengerti. Kamu adalah pria yang tidak mau berjuang. Atau memang kamu sudah berencana untuk membuangku?" Eki terhenyak mendengar ucapan Jesslyn.


"Sebelum kamu membuatku, lebih baik kamu talak aku sekarang, perceraian kita gak sulit kok. Cukup kamu bilang talak kita sudah berpisah karena kita menikah hanya di bawah tangan."


"Enggak! Aku gak akan menceraikan kamu. Aku akan membawa kamu ke rumahku dan kita hidup bersama dengan istriku," ucap Eki dengan mudah.


"Aku lebih baik hidup menderita daripada hidup bersama istri muda," terang Jesslyn.


Eki tetap keras kepala. Dia tetap memaksa Jesslyn untuk tinggal di rumahnya. Rumah megah dengan nuansa serba putih. Jesslyn sangat terpaksa mengikuti kemauan Eki karena pria itu mengatakan bahwa dia akan melenyapkan bayi mungilnya jika Jesslyn menolak.


Jesslyn bukannya mendapat tempat tinggal yang layak, dia malah disimpan di gudang oleh istri Eki, dengan dalih dia mual melihat wajah Jesslyn karena istri Eki tengah mengandung.


"Setiap kali aku melihatnya aku mual dan perutku terasa diaduk-aduk. Usir dia atau suruh dia tinggal di luar," pinta istri Eki.


Dari situlah Eki menyuruh Jesslyn untuk tinggal di gudang karena dia tidak ingin Jesslyn dan putrinya keluar dari rumah. Tempat yang pengap dan juga kotor yang harus Jesslyn juga putrinya tinggali. Eki sungguh tak memiliki hati, dia benar-benar laki-laki keja Bayi yang sedang lucu-lucunya dia letakkan di gudang tanpa lubang sedikit pun.


Jesslyn mencoba untuk terus tersenyum di depan sang buah hati. "Sabar ya, Nak. Bunda akan bawa kamu jauh dari sini. Kita akan bahagia meskipun hanya berdua."


Perih sekali hati Jesslyn pada saat itu. Namun, sekuat tenaga dia harus bisa kuat di depan putrinya. Putri yang sedang lucu-lucunya dan menggemaskan. Semenjak saat itu, sudah tidak ada cinta untuk Eki. Seluruh cinta yang Jesslyn miliki dia curahkan kepada putrinya.


Tiga bulan berada di rumah besar itu, Jesslyn benar-benar hanya berada di dalam gudang. Makannya pun dibatasi dan lauknya seadanya. Tidak mungkin Eki memberikan uang yang sedikit untuk istrinya. Namun, Jesslyn tetap bersyukur. Sembari dia momong anak dia juga menulis cerbung di platform menulis online. Sungguh tak Jesslyn duga, tulisannya disukai banyak pembaca dan ingin dikontrak oleh beberapa pihak. Sedikit demi sedikit pundi-pundi masuk ke rekeningnya.


"Kamu adalah ladang rezeki untuk Bunda," ucapnya seraya mencium bayi mungil itu.


Semakin hari Jesslyn diperlukan bagai hewan oleh istri dari Eki. Cacian dan makian sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya. Hingga suatu hari, ada hal yang membuat Jesslyn benar-benar sakit hati.

__ADS_1


"Aku tidak sudi serumah dengan perempuan itu. Aku juga tidak Sudi mengurus anak haram!"


Jesslyn tak sengaja mendengar ucapan dari istri Eki kepada Eki. Akhirnya, Jesslyn memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Dia masih sanggup mengontrak rumah kecil untuknya juga anaknya.


"Nak, tidak ada bayi yang lahir haram ke bumi ini. Semua bayi itu suci. Maafkan Bunda, Nak. Bundalah yang salah dalam masalah ini."


Sebelum pergi, Jesslyn mengambil secarik kertas dan tangannya menari-nari dengan pulpen yang dia pegang. Hanya satu tetes air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


"Sudah saatnya kita bahagia, Nak."


Malam hari, Jesslyn pergi hanya membawa putrinya. Dia hanya membawa baju yang dia pakai di badan. Begitu juga dengan putrinya. Selama berada di gudang, putrinya hanya memakai baju yang cuci kering pakai. Ketika terkena muntahan, Jesslyn hanya membungkus putrinya dengan selimut.


Langkahnya terhenti ketika dia melihat ibunda dari Eki sudah menatapnya tajam. Dia menjambak rambut Jesslyn dengan sangat kasar dan membenturkan tubuh Jesslyn ke dinding hingga dia mengaduh. Padahal dia tengah menggendong putrinya.


"Wanita murahan!" pekiknya.


Sampai kapanpun Jesslyn tidak akan pernah menimpali ucapan ibu mertuanya itu. Dia tetap terdiam meskipun hati dan fisiknya sakit.


"Sekarang kamu pergi dari sini! Kamu dan anak kamu itu hanya jadi aib buat keluarga saya!" usir Bu Retno.


Jesslyn hanya tersenyum, dia masih menahan sakitnya. "Terima kasih Bu atas pengusirannya. Tanpa Ibu usir pun saya akan pergi," tukasnya.


"Bagus!" jawab Bu Retno.


"Apa saya boleh meminta sesuatu kepada Ibu?" tanya Jesslyn. Tatapan Bu Retno sangat tajam, tetapi Jesslyn tidak takut sama sekali. "Ini permintaan terakhir saya, Bu," lanjutnya lagi.


"Apa?"


"Tolong bantu saya untuk bersembunyi. Saya janji, saya tidak akan menampakkan diri kepada putra Ibu. Anak saya pun tidak akan saya beri tahu siapa ayahnya," jawab Jesslyn.


Bu Retno pun setuju dengan apa yang dipinta oleh Jesslyn. Dia ikut andil dalam kepergian Jesslyn dan persembunyian Jesslyn. Malam itu, Jesslyn dan anaknya pergi dari rumah Eki. Suaminya sama sekali tidak tahu karena dia tengah mengunjungi pesta pernikahan sahabatnya.


Semua penghuni rumah Eki secara sengaja tidak memberitahukan perihal Jesslyn dan anaknya yang telah pergi. Mereka juga sangat merasa iba kepada Jesslyn. Kebutuhan anaknya saja tidak dipenuhi oleh Eki. Para asisten rumah tangga di rumah Eki terkadang ikut menangis jika melihat Jesslyn yang kebingungan ketika putrinya sakit. Wajah putrinya sudah membiru dan kekurangan cairan pernah dialami oleh bayi lucu itu. Akan tetapi, bayi itu sangat kuat seakan Tidak ingin berpisah dengan ibunya.


Sebulan setelah Jesslyn pergi, istri Eki mengalami keguguran. Bukan hanya istrinya, Bu Retno pun merasa terpukul atas musibah itu. Setelah musibah tersebut, setiap malam Eki seperti didatangi oleh anak kecil cantik berjenis kelamin perempuan. Wajahnya nampak sedih bercampur marah.


"Ayah, kenapa Ayah jahat kepada Kakak? Apa salah Kakak? Karena Ayah, aku yang harusnya bisa melihat dunia kini telah pergi. Semua ini gara-gara Ayah."


Mimpi di malam pertama Eki anggap sebagai bunga tidur. Setiap malam hampir seminggu dia bermimpi hal yang sama terus. Hingga dia memutuskan untuk menghampiri Jesslyn dan anaknya di gudang.


Pintu gudang dia buka, tetapi Jesslyn maupun putrinya tidak ada di sana.


Eki mencari Jesslyn di kamar mandi belakang. Tetap tidak ada. Wajah paniknya sudah muncul dan dia berpapasan dengan salah satu asisten rumah tangganya.


"Bapak mencari siapa?" tanya salah seorang asisten pembantu di sana.


"Jesslyn dan anaknya ke mana?" tanya Eki dengan wajah cemas. Asisten rumah tangga itu tak menjawabnya. Dia masih membeku.


"Di mana mereka?" tanya Eki dengan suara yang cukup meninggi.


"Bu Jesslyn sudah pergi dari sebulan yang lalu, Pak."


Deg.


Tiba-tiba matanya nanar melihat bantal kecil yang sudah lusuh yang pastinya dipakai tidur olehnya. Dia meraih bantal itu, di bawahnya ada secarik kertas yang dibiarkan terbuka.


Untukmu ayah anakku.


Terima kasih telah menanam benih di rahimku. Terima kasih telah memberikanku malaikat yang sangat cantik. Pelipur lara serta sakit hatiku atas perbuatan kamu.


Ketika surat ini kamu baca, itu berarti aku sudah tidak ada di gudang ini. Gudang yang menyimpan banyak kenangan pahit di sini. Kami kebocoran, kepanasan, susah napas dan aku harus ekstra menjaga putriku karena tikus di sini senang berlalu lalang. Percuma juga aku bercerita karena itu sudah terjadi. Waktu tidak akan pernah bisa diputar kembali dan kamu juga belum tentu menyelamatkan kami.


Jika, anakmu meninggal pun aku yakin kamu tidak akan pernah mengetahuinya. Padahal kamu seorang dokter. Kamu memahami tentang ilmu kesehatan. Akan tetapi, kamu membiarkan kami seperti gelandangan. Menyuruh aku dan putriku tinggal di sini seperti hewan peliharaan.


Aku harap, ke depannya nanti kamu tidak mencari putrimu. Dia sudah terlalu menderita diusia bayinya. Biarkan dia bersamaku, aku akan membahagiakan dia meskipun aku harus banting tulang untuk membahagiakannya. Aku tidak ingin putriku menderita hidup bersama kamu dan juga keluargamu. Cukup aku yang dihina, cukup aku yang dicaci maki jangan sampai anakku mengalami hal seperti itu. Dia hanya anak yang tidak minta dilahirkan dari orang tua brengsek seperti kita.


Aku pergi dengan membawa putrimu. Anak yang sama sekali tidak pernah kamu sentuh juga berikan nama sampai sekarang.


Jangan pernah cari anakku, biarkan dia bahagia tanpa mengetahui sosok ayahnya.


^^^Jesslyn.^^^


Air mata Eki menetes begitu saja membaca surat dari Jesslyn. Penyesalan yang kini dia rasakan, dia telah menyia-nyiakan putrinya. Nama putrinya pun dia tidak tahu. Ketika dia hendak pergi, dia melihat ada kain percak berwarna pink. Di sana ada jahitan nama J. ANDIRA


"Apa itu nama anakku?"


Eki segera keluar dari gudang dan bergegas masuk ke kamar dan meraih kunci mobil di atas nakas. Tak dia hiraukan istrinya yang tengah bersandar di kepala ranjang.


"Mau ke mana?" tanya sang istri.


"Mau cari anakku!"


Tetesan air mata jatuh sudah di wajah istri Eki. Hatinya sangat sakit mendengarnya. Dia baru saja keguguran dan sekarang suaminya seakan tidak peduli dengannya. Eki malah sibuk mencari anaknya.


Setiap hari Eki terus mencari dan mencari Jesslyn serta anaknya. Dia sudah berkeliling Jakarta, tetapi tidak menemukan mereka. Dia juga sudah ke kontrakan Jesslyn yang dulu. Hasilnya nihil, dia terus menyesali perbuatannya karena telah menterlantarkan anak kandungnya.


"Nak, kamu di mana?"


Kini, dua puluh lima tahun sudah dia tidak pernah bertemu dengan anaknya. Dia sangat merindukan putrinya itu. Apalagi, dia mendengar bahwa Jesslyn sudah meninggal enam tahun yang lalu. Rasa bersalahnya semakin menggunung.


"Ayah, rindu kamu Andira. Apa kamu baik-baik saja?" lirihnya


"Ayah adalah ayah yang jahat," lanjutnya lagi.


****


Sedari semalam Jingga tidur dengan rasa yang gelisah. Pengusiran, hinaan, sumpah serapah seakan tengah menghampirinya. Dia terbangun dan di sampingnya ada Aska yang sedang tertidur dengan tangan yang terus menggenggamnya. Ada kehangatan di hati Jingga. Namun, bayang pengusiran enam tahun lalu tengah menari-nari di kepalanya.


"Siapa kamu?" sergah wanita paruh baya yang sangat menyeramkan di mata Jingga.


"Aku ... cucu Nenek, anak dari ayah dokter dan bunda."


"Aku tidak punya cucu seperti kamu!" bentaknya. "Jangan pernah bohongiku!" omelnya lagi.

__ADS_1


"Nenek, Bunda telah meninggal seminggu yang lalu. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa," ujar Jingga dengan air mata yang sudah meluncur deras.


"Kenapa kamu tidak ikut mati saja dengan ibu kamu?" Sungguh ucapan yang membuat Jingga menangis tersedu. Hatinya bagai dihantam batuan yang besar.


"Keluargaku tidak akan pernah menerima anak haram di rumah ini!" tekannya.


Rasa sakit dan sedih masih dapat Jingga tahan. Kini, dia mencoba bersujud kepada sang nenek agar mau menerimanya. Namun, dorongan sekuat tenaga yang Jingga terima hingga dia terjatuh dan punggungnya mengenai ujung besi kandang kucing peliharaan cucunya. .


"Pergi sana! Rumah saya haram hukumnya diinjak oleh anak haram."


Mengingat semua itu membuat Jingga menitikan air mata lagi. Terlalu sakit hatinya. Kini, dia juga mengalami kekerasan tepat di punggungnya lagi. Dari situlah Jingga sudah merasa tidak memiliki ayah. Dia menganggap ayah dan ibunya telah meninggal dan dia hidup sebatang kara di sini. Jika, kembali ke masa itu air mata itu tidak akan pernah surut.


"Tuhan ... kalau boleh meminta, jangan pernah bangunkan aku dari tidurku. Biarkan aku tidur panjang dan bertemu bunda si surga."


Aska yang mendengar ada suara membuka matanya perlahan. Ternyata Jingga yang tengah mengusap air matanya dengan isakan kecil. Aska pura-pura tidur saja, dia tidak ingin mengganggu Jingga. Hatinya sangat sakit melihat Jingga, seperti banyak beban yang ditanggungnya seorang dir


Di rumah sakit itu juga, sudah dua kali Melati melihat kemesraan Aska dengan yang katanya sahabatnya itu. Kecupan di kening, perlakuan manis dan hangat Aska berikan kepada perempuan bernama Jingga. Seperti di pagi ini, Aska tengah membantu Jingga untuk duduk. Ketika dokter memeriksa tubuhnya, Jingga menjerit kesakitan dan Aska dengan sigap memeluk tubuh Jingga. Tangan Jingga pun melingkar di perut Aska.


"Bagaimana, Dok?" tanya Aska dengan ban raut yang sangat khawatir.


"Nanti kita lakukan Rontgen."


Aska mengangguk dan dia mengusap lembut bulir bening yang menetes di ujung mata Jingga.


"Lakukan yang terbaik, Dok," titah Aska. Kemudian, dia menatap Jingga dengan tatapan yang sangat berbeda. "Aku akan selalu ada di samping kamu."


Hati Melati sang sakit mendengarnya. Apakah sahabat seperti itu? Apa hubungan mereka lebih dari sahabat? Melati memilih untuk tidak banyak bicara hari ini. Hatinya masih tidak mampu menerima apa yang dilihatnya. Dia berharap, Aska akan menemuinya dan berbicara kepadanya.


Namun, apa yang Melati inginkan tidak terjadi. Semenjak bersama Jingga, Aska yang ramah dan manis kepadanya telah berubah. Aska seakan acuh padanya malah bersikap sangat manis kepada perempuan lain dan membuat hatinya teriris. Sorot mata Aska pun seperti menyiratkan cinta yang mendalam. Melati dapat melihat itu


Di dalam kamar perawatan Aska masih memandang wajah Jingga. Tangan Aska kini menyentuh sudut bibir Jingga yang sedikit memar dengan luka yang mengering.


"Masih sakit?".


"Sedikit."


Tanpa aba-aba, Aska mengecup bibir Jingga dengan lembut. Jingga cukup terkejut dengan tindakan Aska. Namun, dia pun tidak bisa menolak. Dia merindukan kecupan hangat itu. Kecupan yang mampu membuat dirinya melambung.


Tanpa Jingga sadari, tangannya sudah dia kalingkan di leher Aska. Dia oun membalas kecupan yang penuh dengan kerinduan juga kasih sayang yang belum bisa mereka ungkapkan. Silat bibir yang berjalan cukup lama seakan oase segar setelah perjalanan panjang menahan dahaga yang tak terkira serta rindu yang menggebu.


Klek!


Suara pintu terbuka, jeritan seseorang membuat Aksa dan Jingga segera melepaskan pagutan mereka. Padahal mereka tengah asyik menjelajahi mulut satu sama lain. Ketika mereka berdua menoleh sudah ada Riana yang tengah membenamkan wajahnya di dada sang suami juga Aksa yang berdiri dengan tatapan datar. Jingga sudah bergetar begitu juga dengan Aska yang sedikit ketakutan. Apalagi aura mencekam abangnya sangat terlihat jelas. Bagai harimau yang akan menelan mangsanya hidup-hidup.


"Bang, mau kiss juga." Riana sudah mendongakkan wajahnya ke arah Aksa. Disambut senyuman hangat oleh Aksa.


Permintaan Riana membuat Aska juga Jingga melebarkan mata. Mereka berdua menganggap itu hanya candaan sekaligus sindiran. Namun, pada nyatanya itu sungguhan dan Aksa benar-benar mengecup bibir istrinya di depan Aska juga Jingga. Permainan silat lidah panas mereka terlihat jelas ketika Riana sudah mengeluarkan suara yang membuat bulu kuduk mereka meremang.


"Bang Sat!" umpat Aska. Dia juga menggunakan mata Jingga dengan kedua tangannya, sedangkan Aska sendiri malah memalingkan wajahnya dengan umpatan pelan karena adegan panas di pagi hari.


Cukup lama Aksa dan Riana melakukan itu di depan Jingga dan juga Aska.


"Kalau gua dan Riana melakukan ini sah-sah aja karena gua udah sah jadi suami-istri." Suara Aksa sudah menggema. Kedua orang yang tengah berada di ranjang pesakitan pun menoleh. Aksa tengah mengusap lembut bibirnya yang masih basah karena pertukaran air liur yang memabukkan.


"Gak di depan gua juga kali!" sungut Aska.


"Lu aja gak sopan cipookan di depan gua dan Riana." Aksa pun tak mau kalah.


"Taulah!" sungut Aska.


Riana dan Jingga hanya tersenyum melihat perdebatan dua manusia kembar ini. Jingga terus menatap ke arah Riana serta Aksa. Tangan Riana yang tidak mau lepas dari Aksa serta perlakuan manis Aksa yang terus mengusap lembut perut istrinya.


Aku ingin seperti Mbak Riana, Tuhan. Tolong kirimkan aku pria yang benar-benar tulus menyayangi ku. Memperlakukanku layaknya manusia.


Sebuah ucapan dalam hati yang menjadi doa dari Jingga. Permintaan yang sangat sederhana karena dia ingin merasakan bahagia yang sesungguhnya. Aska yang melihat perubahan wajah Jingga segera mengusap lembut puncak kepala Jingga.


"Mereka pasangan halal, bebas mau ngapain aja," tutur Aska.


Jingga pun tersenyum, apalagi sekarang Aksa sudah merangkul mesra Riana. Kebahagiaan Riana bukanlah kebohongan semata. Itu kebahagiaan yang sesungguhnya yang Riana pancarkan. Riana yang dulu Jingga kenal, kini sudah berubah. Lebih berseri dan juga lebih cantik.


"Bang ... Kak ... boleh Ri bicara empat mata dengan Jingga?" Kedatangan Riana dan Aksa ke sini adalah permintaan Riana. Aksa tidak dapat menolak.


Aksa dan Aska saling tatap dan mereka pun mengangguk cepat. Pria kembar itu keluar dari ruang perawatan. Kini, hanya tinggal Jingga dan juga Riana. Riana menubruk tubuh Jingga Dena memeluknya.


"Aku ingin melihat kamu bahagia, Jingga." Bulir bening pun meluncur dari pelupuk mata Jingga mendengar ucapan Riana dengan suara beratnya.


"Aku sedih dan hati aku sakit ketika melihat luka di tubuh kamu."


Demi Tuhan, hati Jingga mencelos mendengar penuturan dari Riana. Baru kali ini ada yang berkata seperti ini kepadanya. Memeluk hangat tubuhnya seperti pelukan hangat sang bunda.


Riana mengurai pelukannya, dia menatap Jingga dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Jangan pernah sembunyikan apapun dariku. Kamu bisa cerita apapun kepadaku supaya beban berat di hati kamu menghilang," tutur Riana.


"Aku teman kamu, dan kamu teman aku. Mulai saat ini kita harus saling berbagi satu sama lain. Berbagi perihal perasaan kita masing-masing." Sudut bibir Jingga terangkat mendengar penuturan Riana yang sangat tulus itu.


Riana mengulurkan jari kelingkingnya dan disambut oleh Jingga dengan senyum yang merekah. Ada kehangatan yang Jingga rasakan. Dia merasakan memiliki teman.


"


Di luar ruangan, Aksa tengah menatap Aska dengan tatapan membunuh.


"Jangan sampai kelewat batas. Jangan sampai menghancurkan Jingga," tukas Aksa.


"Jaga dia! Jangan nodai dia! Dia butuh pelindung. Dia butuh tempat bersandar," terang Aksa.


Keseriusan mereka harus terganggu dengan langkah kaki seseorang yang mendekat. Mereka berdua menoleh dan seorang dokter cantik menatap Aska dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"Apa boleh aku berbicara sama kamu?" tanyanya kepada Aska.


Aska menatap ke arah Aksa. Tidak ada ekspresi yang Aksa perlihatkan.


"Hanya sebentar," ucapnya lagi karena tidak ada jawaban dari Aska.

__ADS_1


__ADS_2