
"Aku hamil!"
Mendengar kalimat itu seakan tubuh Bian berubah menjadi lunak. Mendapati kenyataan bahwa dia sudah tidak punya rumah, tagihan rumah sakit yang besar, kontrak kerja yang dibatalkan ditambah kabar berita yang baru saja dia dengar. Ponsel di tangannya pun hampir saja terjatuh.
"Aarrghh!!" erangnya frustasi.
"Kapan? Kapan gua melakukannya?"
Bian benar-benar tidak melakukannya atau dia hanya pura-pura lupa karena sudah menanam saham di mana-mana. Otak Bian tak mampu berpikir sekarang.
Ketika sore menjelang, Bian baru tiba di rumah sakit dengan raut wajah tak indah dipandang mata bagai pria yang tengah dilanda masalah besar. Dia mengintip dari balik kaca jendela, kamar perawatan yang Jingga tempati sudah kosong. Dahinya mengkerut, dia segera masuk ke dalam kamar perawatan tersebut. Jingga sudah tidak ada di sana. Kamar itu sudah kosong.
Bian segera menuju resepsionis untuk menanyakan perihal Jingga.
"Nyonya Jingga Andhira sudah keluar dari rumah sakit ini tiga jam yang lalu."
Duarr!
Bian merasa hari ini adalah hari yang paling sial dalam hidupnya. Cobaan di hari ini sangatlah banyak sekali.
"Seorang pria sudah melunasi biaya administrasi Nyonya Jingga Andhira," lanjut resepsionis lagi.
"Siapa pria tersebut?" Bian sudah mulai naik darah mendengarnya. Ada rasa cemburu yang menjalar di hatinya.
"Seorang pria yang mengaku sebagai kerabat dekat dari Nyonya Jingga Andhira."
Tangan Bian sudah mengepal dengan sangat keras. Urat-urat kemarahannya sudah hadir di wajahnya. Tanpa mengucapkan satu patah katapun, Bian berlalu begitu saja. Satu nama yang ada di kepalanya, Askara.
Bian terus mencari tahu perihal keberadaan Askara. Hingga ada salah seorang teman dari Bian yang mengatakan bahwa dia baru aja melihat Aska berada di sebuah restoran mewah. Tanpa berpikir panjang Bian segera menuju tempat di mana Askara berada.
"Pasti dia tengah merayakan kemenangannya," geram Bian di sepanjang perjalanan.
Motornya dia parkiran tepat di depan restoran elit yang hanya untuk orang berduit. Mobil mewah pun berjejer di depan restoran. Amarah yang menggebu membuat Bian datang bagai orang kesetanan. Berkali-kali pihak restoran mengatakan bahwa restoran sudah di-booking dan tidak boleh ada orang yang masuk. Namun, Bian terus memaksa sambil berteriak.
Di dalam restoran, ponsel Remon berdering. Dia sedikit menjauhi bos beserta keluarganya. Remon sudah menjawab panggilan tersebut. Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Remon. Dia hanya mendengarkan saja.
"Perbolehkan dia masuk."
Kalimat itulah yang menjadi jawaban atas ucapan panjang lebar dari balik sambungan telepon. Setelah selesai dia segera menghampiri Gio yang tengah bersama keluarganya. Remon mendekat dan berbisik di telinga Gio. Gio pun mengangguk pelan.
Setengah jam beradu ucapan dengan pihak restoran, akhirnya Bian diperbolehkan masuk ke dalam. Masih dengan amarahnya dia berjalan dengan langkah seribu. Ketika masuk ke dalam dia disuguhkan dengan gelak tawa semua orang. Bian sudah menyangka itu adalah pesta kebahagiaan mereka karena sudah membawa Jingga pergi darinya.
"Askara!"
Suara seseorang yang baru saja masuk ke restoran dengan wajah penuh kemarahan. Semua orang pun menoleh ke asal suara. Bian dengan langkah lebarnya menghampiri Aska, tetapi Ken dan Juno dengan sigap menghadang tubuh Bian.
"Masih berani lu nunjukin batang hidung lu di depan kita?" sergah Ken.
"Gua gak ada urusan sama lu!" bentak Bian.
Ken mendorong tubuh Bian dengan sangat kasar sehingga tubuh Bian limbung dan mundur untuk beberapa langkah.
__ADS_1
"Buka mata lu! Lu bela orang yang salah!" pekik Bian.
Bugh!
Pukulan keras mendarat di wajah Bian. Tangan Junolah yang melakukannya. Juno yang kalem akan berubah sangar jika sudah menyangkut sahabatnya.
"Lu yang salah! Kenapa masih menyalahkan orang lain?" hardik Juno.
"Definisi orang gila sesungguhnya itu seperti ini nih," cibir Ken ke arah Bian.
Para wanita di sana sudah meminta pasangannya untuk menarik mundur Bian. Namun, mereka terlihat enggan dan memilih menjadi penonton pertunjukan yang jarang terjadi.
Mendengar ucapan Ken api amarah Bian semakin memuncak. Dia sudah berancang-ancang untuk menyerang Ken.
"Ada apa lu ke sini?"
Kini, Aska membuka suara. Semua wanita panik ketika Aska mulai mendekat ke arah Bian.
"Dad, putra kita," ucap Ayanda penuh ketakutan.
"Abang," imbuh Riana kepada sang suami.
"Ay, tolongin Adek," pinta Echa kepada Radit.
Namun, ketiga pria itu dengan kompak terdiam dan mata mereka tertuju pada dua sosok pria yang tengah memperebutkan angin.
"Di mana Jingga?"
Pertanyaan yang penuh dengan kemarahan. Aska hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan tersebut.
"Enggak usah membalikkan pertanyaan. Gua tahu lu udah bawa pergi istri gua 'kan," sergah Bian. "Pria gak laku! Bisanya cuma jadi pebinor," pekik Bian.
Di atas kepala Ken dan Juno sudah ada api yang berkobar sangat kencang. Hidung mereka pun sudah mengeluarkan kepulan asap kecil seperti seekor banteng yang akan menyerang musuhnya. Baru saja mereka mengambil kuda-kuda, teriakan keras keluar dari mulut Bian.
"Sakit!"
Ketika mereka lihat, tiga keponakan Aska sudah menyerang Bian dengan gigitan maut mereka. Semua orang pun terkejut. Pasalnya mereka tidak mengetahui kapan ketiga bocah itu menggigit Bian. Semuanya terjadi begitu cepat.
"Triplets, jangan!" larang Aska. Dia segera menarik ketiga keponakannya.
"Kakak Na mau cuci mulut sambil kumur-kumur. Tangan Om jahat itu banyak virusnya. Nanti Kakak Na kena rabies," papar cucu pertama Rion Juanda tersebut.
Semua orang tercengang mendengarnya. Mereka yang menggigit tangan Bian mereka bilang yang takut terkena rabies. Apa mereka tidak salah bicara?
Kepergiaan Aleena diikuti oleh Aleesa juga Aleeya. Bian terus meringis kesakitan. Gigitan ketiga bocah itu bagai digigit ikan piranha. Berbekas dengan sangat dalam.
"Akan gua laporin tiga bocah itu," ancam Bian.
"Cih, gak salah lu lawan anak kecil?" cibir Aska.
Darah Bian kembali mendidih mendengar ucapan Aska. Tangan yang terasa masih sakit itu pun hilang seketika. Urat-urat di wajahnya sudah nampak terlihat jelas. Bian sudah semakin mendekat ke arah Aska, ada Ken dan Juno yang akan menghadang Bian. Namun, Aska mencegah kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Minggir," ucap santai Aska.
Dada Bian turun naik dengan sangat cepat. Amarahnya sudah memuncak.
"Bang Sat!"
Tangan Bian sudah mengepal dan hendak menyerang Aska. Aska masih diam seakan dia akan menerima perlakuan kasar Bian.
"Sekali saja kamu sentuh anak saya, tangan kamu akan saya patahkan detik ini juga."
Gio sudah bersuara, tetapi dia masih anteng duduk di samping istrinya. Mendengar suara Giondra, tangan Bian pun hanya menggantung di udara.
"Atau kamu ingin ibumu menderita selama-lamanya." Ancaman kedua Gio berikan kepada Bian.
Nyali Bian langsung menciut. Dia tidak akan berkutik jika sudah menyangkut ibunya.
"Kenapa sih lu selalu nyangkut pautin gua dengan istri lu? Semenjak gua keluar dari rumah sakit, di situlah gua udah berjanji kepada diri gua sendiri kalau gua udah harus mengikhlaskan dia."
Nama Jingga enggan sekali Aska sebut. Terlalu sakit jika harus menyebut nama perempuan yang dia cintai.
"Gak usah ngelak!" bantah Bian. "Pihak rumah sakit sendiri yang bilang kalau Jingga dibawa oleh seorang pria yang mengaku kerabatnya. Sudah pasti itu kelakuan lu 'kan," sergah Bian seraya menunjuk ke arah Aska.
"Jangan sekata-kata lu ngomong!" hardik Ken. "Apa ini keunggulan lu? Selalu menyalahkan orang lain padahal diri lu sendiri yang salah," ejek Ken.
"Istri lu pergi aja lu gak tahu." Juno menggelengkan kepalanya. "Guna lu jadi suami apa?" sentak Juno.
"Ada ya suami yang istrinya lagi dirawat di rumah sakit bukannya nemenin malah ninggalin. Suami lak Nat emang lu." Emosi Ken sudah ke ubun-ubun. Jika, melihat Bian hawanya itu ingin marah-marah terus.
Aska menghembuskan napas kasar. Dia melangkahkan kaki menuju Bian. Menatap Bian dengan rasa kecewa.
"Jaga wanita yang udah lu ambil paksa dari gua. Dia bukan barang, yang ketika lu rusak ... bisa lu beli terus lu buang." Aska menjeda ucapannya sejenak. Merasakan kesakitan yang entah kapan akan memudar.
"Dia seperti ranting yang kering. Ketika lu injak pasti akan patah. Kelakuan lu yang kayak binatang aja sudah merusak mental dia secara
tidak langsung. Apa masih mau lu merusak yang lain dari diri wanita yang tidak menginginkan hal ini terjadi?"
Perih, itulah yang Aska rasakan ketika mengatakan hal seperti itu.
"Jaga dia, gua gak akan pernah merebut dia dari lu. Gua anggap gua udah kalah dan gua akan melupakan semuanya. Termasuk persahabatan kita."
Deg.
Hati Bian sakit mendengar ucapan dari Askara sedangkan kedua sahabatnya sudah tersenyum penuh kemenangan.
"Anggap aja ini pertemuan kita yang terakhir," tukasnya. "Ketika suatu saat nanti kita bertemu anggap saja kita adalah orang yang tidak pernah saling mengenal. Terlalu sakit ditikam dari belakang oleh sahabat sendiri. Terlalu perih ketika mendapati wanita yang gua sayangi bilang ... kalau dia gak bahagia dengan lu."
Mulut Bian tercekat mendengar semua ucapan Aska. Dia dapat merasakan betapa kecewanya Aska terhadapnya. Tepukan di pundak Bian menandakan sebuah perpisahan yang menyakitkan.
"Makasih udah jadi sahabat sekaligus penjilat."
...****************...
__ADS_1
Khilaf di pagi hari.
Komen dong ...