Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Panti Asuhan


__ADS_3

Arya tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Gavin. Cucu Rion itu minta kuda poni bukan kuda delman.


"Asal kalian tau, ya. Itu delman di nego abis-abisan sama si Rion. Dipotongnya hampir seratus persen. Kalah ibu-ibu mah nawarnya." Echa selaku anak menggelengkan kepala karena malu. Sedangkan Radit mendengkus kesal.


"Radit kira ke si triplets aja yang pelit. Maklumin aja, anak Radit 'kan tiga," balas Radit. "Lah ini, cucu cowok satu-satunya juga masih aja dipelitin. Ampun DJ!"


Semua orang pun tertawa dan Gavin tetap tidak mau naik delman itu. "Malu, My. Nanti atu dadi tontonan taya badut."


Lagi-lagi semua orang pun tergelak. Malah ketiga anak Echa, Iyan, Beeya, Kaza serta Keysha sudah berada di atas delman.


"Cucunya gak mau, Yah. Mending biarin aja si Empin ke dokter kita keliling-keliling komplek."


"Betul betul betul."


.


Gavin menjadi anak baik, anak Soleh dan anak yang luar biasa. Setelah acara marah besar kepada sang engkong karena memaksa Gavin untuk diarak menggunakan delman sewaan, kini Gavin sudah memasuki area rumah sakit. Riana tidak sanggup untuk menemani sang putra. Dia takut Gavin menangis nantinya. Dia juga tidak tega jika Gavin menjerit kesakitan.


"Mommy tidak ikut ya, Nak."


Gavin hanya tersenyum. "Iya. Dak papa My, atu tama Daddy ada."


Gavin masih teringat akan ucapan sang ayah. Dia tidak ingin menunjukkan kesedihan ataupun kesaktiannya kepada sang ibu. Dia hanya boleh menunjukkan kebahagiaan kepada ibunya dan segala kesedihan juga kesakitannya harus dia ceritakan kepada ayahnya saja. Petuah itu yang melekat di kepala Gavin.


"Benar?" Gavin mengangguk dengan sangat tegas. Kemudian, dia mengusap lembut perut ibunya dan mencium perut yang sedikit membukit itu.


"Dek, doain Mash, ya." Ke manapun Gavin melangkah pasti dia kaan berpamitan kepada adiknya. Dia adalah cikal bakal kakak penyayang.


Ayanda juga Gio terharu dengan ucapan sang cucu. Gavin terlihat baik-baik saja dan sangat kuat. Malah dia yang menguatkan semua orang.


"Tenan, atu tuat." Senyum Gavin membuat semua orang bangga.


"Sudah siap?" Gavin mengangguk. Aksa menuntun Gavin menuju ruang tindakan. Aksa sangat salut kepada putranya ini. Tangannya sama sekali tidak.dingin dan wajahnya pun biasa saja. Padahal hal yang paling menyakitkan bagi laki-laki adalah ketika disunat.


Tubuh Gavin sudah berbaring di ranjang. Dokter Sudan mempersiapkan peralatannya. Tanpa Gavin sadari dokter Sudan memulai tindakannya. Aksa terus mengajak bicara Gavin agar mengurangi rasa sakitnya. Namun, dia melihat sangat jelas wajah Gavin sangat tenang.


"Alhamdulillah, sudah," ucap dokter. "Sangat sempurna," lanjutnya lagi.


Gavin tersentak mendengar ucapan dari dokter yang menanganinya. "Sudah?" Aksa mengangguk dan bertanya balik, "sakit?"


"Dak telasa apa-apa."


Aksa pun tersenyum dan mencium kening Gavin. "Anak hebat." Gavin hanya tersenyum. "Daddy sangat bangga sama kamu."


Dokter sudah memakaikan Gavin ****** ***** khusus agar kepaal jamur mini miliknya tidak tergesek-gesek.


"Coba jalan."


Gavin pun berjalan sesuai perintah dokter dan Aksa benar-benar kagum kepada putranya ini. Tak sia-sia merogoh kocek sangat dalam untuk sunat sang putra dengan metode ini.


Ketika pintu tindakan terbuka semua orang terkejut karena Gavin sudah bisa berjalan sendiri.


"Lah ini bocah ajaib?" tanya sang om.


"Anat tuat atu mah." Sombongnya.


Aska tersenyum dan segera mengeluarkan dompetnya. Sepuluh lembar dollar Singapura bernominal seribu dollar per lembarnya Aksa berikan kepada sang keponakan.


"Yeay! Matatih antel."


Aska tersenyum dan mencium gemas keponakannya itu.


"Pipo."


Giondra tersenyum dan mensejajarkan tubuhnya dengan sang cucu.


"Mau minta apa?"


"Bolong Toto mainan."


(Borong toko mainan)


Giondra tertawa dan mengiyakan apa yang Gavin minta. Riana menggelengkan kepala melihat sikap royal sang ayah mertua kepada putranya.


"Mau minta apa sama Mommy?" tanya Riana.


"Adek tewe ada."


Riana dan Aksa pun tergelak dan mereka memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Tibanya di rumah Gavin disambut oleh anggota keluarga yang lain dan mereka terkejut karena Gavin sudah bisa berjalan.


"Loh, kok cepat banget udah bisa gerak gitu?" tanya Sheza. Ketika Kaza disunat, tidak secepat itu masa pemulihannya.


"Pakai metode smart klamp, Mih," jawab Riana yang membantu Gavin duduk.


"Mau minum apa?"


"Susu totlat."

__ADS_1


Riana hendak mengambilkan minuman kesukaan putranya. Namun, Ayanda melarangnya. "Biar Mommy aja."


"Makasih, My."


Aska mendekat ke arah Gavin. "Boleh liat moncong tikusnya gak?" tanya Aska ketika Gavin sudah duduk di sofa khusus.


Gavin menoleh ke arah sang ayah. Aksa pun mengangguk dan memperbolehkannya. Aska menarik karet ****** ***** milik Gavin dan senyumnya mengembang.


"Eh iya, moncong tikusnya udah ilang."


Mendengar ucapan sang om, ketiga anak Echa penasaran dan ingin melihat si moncong tikus milik Gavin.


"Tewe dak boleh liat-liat," larang Gavin. Semua orang pun tertawa.


Alhasil, si triplets menjauh sambil bersungut-sungut. Untung saja sang Mimo membawakan mereka makanan. Jadi, rasa kesal mereka hilang begitu saja.


"Bang, sempurna banget, ya." Aksa mengangguk.


"Udah dadi tepala damul Tan?" Aksa dan Aska mengangguk.


"Yeay! Udah tama taya puna Daddy."


Sontak semua orang menatap nyalang ke arah Aksa. Ternyata biang dari otak kotor Gavin berasal dari ayahnya sendiri.


Sebelum pulang, Bebyberikan buket bunga berisi uang lembaran merah untuk Gavin dan membuat anak itu tersenyum bahagia. "Matatih, Mamah." Beby tersenyum dan mencium gemas putra dari Aksara itu.


"Mah, minta ganti dong kucing kita ke tuh anak Sultan," ucap Arya.


"Anak kecil itu gak salah, yang salah itu orang dewasa. Pasti si Peter Papah lepas 'kan gak dimasukin ke kandang. Makanya itu kucing bisa dikejar sama si Empin," cerocos Beby.


"Tuh denger, Bhas. Jadi, yang wajib ganti itu lu bukan cucu gua," tambah Rion.


"Kagak usah ngomong lu kakek medit!" sungut Arya. Semua orang.g akan tergelak ketika Arya dan Rion beradu mulut.


Sheza pun memberikan tar ulang tahun yang disusun dari uang lembaran biru. "Matatih, Mamih." Gavin benar-benar sangat bahagia. Banyak yang memberikannya hadiah ternyata.


"Bubu dan Baba mau tatih apa?" tanya Gavin.


Echa dan Radit tertawa mendengar palakan dari Gavin. Echa mendekat dan mencium gemas pipi tembem keponakannya itu.


"Setelah Empin sembuh. Kita jalan-jalan ke taman safari. Kita nginep di sana. Hanya Empin, Bubu, Baba, dan kakak kembar tiga. Mau?"


"Mau!" jawab Gavin dengan riang. "Tapi, mau te cimoli duda." Anak ini senang sekali menawar.


"Siap. Nanti kita jalan-jalan ke tempat yang Empin inginkan."


Inilah bukti bahwa banyak orang yang menyayangi Gavin. Cucu laki-laki pertama dari Gio maupun Rion. Dia menjadi kesayangan untuk semua orang.


.


Tak terasa waktu cepat sekali berputar. Usia Gavin sudah memasuki tiga tahun dan usia kandungan Riana sudah memasuki usia tujuh bulan. Dua bulan lagi masuk HPL.


Gavin Agha Wiguna, anak yang sama sekali tidak mau merayakan ulang tahun. Dia sangat menolak perayaan. Tahun ini, dia meminta kepada kedua orang tuanya untuk merayakan ulang tahun di sebuah panti asuhan.


Kemarin, ketika Gavin ikut dengan sang nenek ke butik milik neneknya. Gavin melihat seorang anak laki-laki tengah duduk di trotoar lampu merah. Kebetulan mobil yang dinaiki Gavin berhenti tak jauh dari anak itu. Anak itu memakai pakaian lusuh, tangannya memegang perutnya. Rasa iba muncul di hati Gavin.


"Mimo, apa kita punya loti?" Ucapan Gavin sudah mulai jelas, hanya belum bisa mengucapkan huruf r.


"Untuk apa, Mas?" tanya sang Mimo.


"Anak itu," tunjuknya. "Sepeltina dia lapal." Gavin melanjutkan ucapannya lagi.


Ayanda terharu akan sikap cucunya. Anak sekecil ini sudah memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Sama halnya dengan Aleena yang senang membantu sesama.


Ayanda menyerahkan uang lembaran berwarna merah kepada Gavin. Seketika dahi Gavin mengerut. "Berikan kepadanya buat beli makan."


Gavin tersenyum dan menurunkan kaca jendela mobil dan memanggil anak itu, "Kakak!"


Gavin tumbuh menjadi anak yang sopan. Dia memanggil anak itu dengan sebutan kakak karena usianya terlihat sama seperti si triplets.


Anak itu pun menoleh dan Gavin melambai-lambaikan tangan. "Sini!" Gavin memanggilnya lagi.


Anak malang itu pun berlari ke arah Gavin dan segera Gavin memberikan uang yang dikasih sang Mimo kepadanya. "Buat beli makan."


Anak itu tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Makasih," ucapnya dengan menunduk sopan.


"Sama-sama." Gavin sangat ramah kepada anak itu.


"Boleh tahu nama kakak?" Gavin adalah makhluk yang sulit untuk berinteraksi dengan orang di sekelilingnya. Hanya orang yang membuatnya nyaman yang akan dia sapa.


"Tapi, tangan aku kotor." Anak itu seakan tahu diri. Tubuhnya kotor tidak seperti Gavin yang sangat bersih.


"Aku bawa tisu basah kok."


Gavinlah yang mengulurkan tangan terlebih dahulu kepada anak itu dan dia sedikit tidak berani karena ada orang dewasa di samping Gavin yang memperhatikannya. Anggukan dari Ayanda membuat anak itu baru mau menjabat uluran tangan Gavin.


"Rangga."

__ADS_1


"Agha."


Ya, nama panggilan Gavin sudah dirubah menjadi Agha setelah dia disunat. Semua orang pun memanggilnya dengan sebutan Mas Agha.


Dari kejadian itulah kini Gavin merengek ingin merayakan ulang tahunnya bersama anak-anak yatim piatu. Riana dan Aksa merasa bangga pada anak pertama mereka ini. Di usianya yang masih balita, harusnya dia lebih senang dengan acara pesta. Namun, Gavin berbeda dari yang lain. Kedua orang tuanya pun setuju dengan apa yang diinginkan oleh Gavin.


Keesokan harinya mereka sudah siap untuk pergi ke sebuah panti asuhan. Pihak dari keluarga Giondra pun sudah membuat janji dengan salah satu ibu panti. Semua keluarga Gio ikut serta.


Tak Gavin sangka ternyata dia melihat orang yang dua hari lalu dia lihat di lampu merah.


"Kak Langga!"


Rangga yang tengah menyapu halaman pun menoleh dan tersenyum ke arah Gavin. Dia masih ingat pada wajah tampan Gavin. Anak kecil yang menolongnya dari rasa lapar karena sudah dua hari tidak makan.


Gavin berlari ke arah Rangga membuat Aksa dan Riana saling pandang dengan penuh tanda tanya.


"Anak itu anak yang dibantu Mas Agha di lampu merah." Ayanda berucap dengan rasa bangga. Kedua orang tua Gavin pun tak kalah bangganya.


Mereka memasuki area panti dan tugas si triplets adalah membawa bingkisan untuk anak-anak panti serta makanan cepat saji untuk mereka makan.


"Aduh! Pake acara jatuh segala lagi," ucap Aleena.


Baru saja Aleena hendak mengambil, ada tangan seseorang yang sudah mengambilnya. "Aku bantu," ucap Rangga. Aleena pun tersenyum dan mengangguk.


Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua hingga mereka memasuki tempat di mana anak-anak panti sudah berkumpul.


"Makasih."


Suara Aleena terdengar sangat lembut sekali di telinga Rangga. Membuat hati Rangga merasa nyaman. "Sama-sama."


"Rangga! Tolong ambilkan kursi satu lagi."


Si empunya nama pun mengangguk dan segera mengambil apa yang diperintahkan oleh ibu panti. Aleena memperhatikan gerak-gerik Rangga. Dia adalah anak yang sangat cekatan.


"Oh, namanya Rangga." Begitulah batin Aleena.


Acara pun dimulai. Tidak ada acara tiup lilin, hanya acara doa bersama yang dipimpin oleh ustadz. Sekaligus meminta kelancaran untuk lahirnya anak kedua dari Aksa juga Riana.


Setelah doa selesai, Gavin sendiri yang memberikan bingkisan juga makanan kepada anak-anak panti. Senyumnya terus mengembang, tidak ada keangkuhan dari wajahnya.


"Silahkan dimakan," ucap Riana.


Aksa merengkuh pinggang Riana ketika melihat Gavin bergabung bersama anak-anak panti. Makan di lantai dan berbaur dengan mereka. Apalagi mereka melihat bahwa Rangga sangat mengayomi Gavin. Gavin yang tidak suka dengan kulit ayam krispi memisahkan antara kulit dan ayamnya. Rangga membantu Gavin untuk memisahkannya. Mereka terlihat sangat akrab sekali.


Sesekali Rangga melihat ke arah Aleena yang tengah makan bersama dua saudaranya. Meskipun mereka kembar, tetapi Rangga mampu membedakan Aleena dengan dua saudaranya. Wajah Aleena yang sangat manis dengan bola mata yang indah.


"Kakak Na, anak itu terus liatin kakak," ucap Aleesa dengan suara pelan.


"Biarin aja."


"Kakak Sa gimana sih? Kan Kakak Na masih mengharapkan si kelapa."


Obrolan anak berusia hampir sepuluh tahun sudah seperti itu, tapi memang benar sedari tadi Rangga selalu memperhatikan Aleena. Namun, Aleena tidak menggubrisnya. Dia pura-pura tidak melihat.


"Kak Langga liatin sapa sih?" Rangga terciduk oleh bocah tiga tahun.


"Itu saudara kamu?" tanya Rangga kepada Gavin. Namun, Rangga tidak berani menunjuk Aleena.


"Iya, meleka kakak kembal tiga aku."


"Kalau nama kakak kembar yang lagi minum itu siapa?" Rangga menanti jawaban dari Gavin.


"Oh ... itu Kakak Na. Namanya Aleena, tapi semua Olang manggilnah Kakak Na."


Rangga pun tersenyum. Akhirnya dia bisa tahu nama dari anak yang sangat cantik itu.


"Jangan suka sama meleka. Ayah meleka galak. Kayak guguk tetangga lumah aku."


Rangga pun tertawa dan mengusap lembut rambut Gavin. Tak sengaja Aleena melihat senyum Rangga yang sangat manis itu. Dia pun ikut melengkungkan senyum, apalagi melihat Rangga yang sangat dekat denah Gavin.


Ketika acara sudah selesai, Gavin dan semua anggota keluarga pamit undur diri. Namun, sebelumnya baik Aksa, Gio, juga Radit memberikan sumbangan kepada panti asuhan tersebut.


Mereka keluar dari bangunan panti asuhan itu. Namun, Aleena harus mencuci tangan terlebih dahulu di keran yang ada di depan panti.


"Aleena."


Dia segera menoleh karena suara yang memanggilnya sangat asing. Rangga sudah tersenyum ke arahnya.


"Maaf, aku lancang manggil nama kamu," ucap Rangga dengan nada yang sangat sopan.


"Ada perlu apa? Aku harus ke mobil."


"Apa nanti kita bisa bertemu lagi?"


...****************...


Kode nih buat kisah si triplets 😀

__ADS_1


__ADS_2