Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Lebih Lama


__ADS_3

Aska masih terjaga padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Dia berjaga-jaga takut Riana menginginkan sesuatu. Akan tetapi, Riana tidak mengetuk pintu kamarnya.


Waktu terus berputar, sekarang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Ada rasa gelisah di hati Aska. Dia takut kakak iparnya kenapa-kenapa. Dia segera bangkit dari posisinya dan menuju kamar Riana. Ada sedikit keraguan di hatinya. Tangannya sudah berada di atas gagang pintu. Dia menekannya dengan sangat hati-hati.


Ada kelegaan di hati Aska ketika melihat Riana tengah terlelap dengan memeluk baju yang digunakan Aksa sebelum dia berangkat ke Melbourne. Sungguh teriris hati Aska melihatnya. Harusnya yang Riana peluk itu adalah Aksa bukan hanya bajunya.


"Sungguh malang sekali keponakan-keponakan Uncle," ucapnya pelan.


Aska menutup kembali pintu kamar Riana. Dia sudah tenang karena Riana tertidur. Jadi, dia bisa juga tidur tanpa gangguan. Bukan hanya malam ini, sudah tiga malam ini Riana tidak mengganggunya di tengah malam. Aska merasa ada yang berbeda dengan Riana.


Malam keempat ketika Riana masuk ke kamar, Aska mencoba membuka sedikitll pintu kamar Riana dengan pelan. Dia melihat Riana tengah menangis sambil memandangi foto sang kakak. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Aska.


Aska menuju lantai bawah, dia ingin berbicara dengan ibunya. Ayanda tengah membereskan ruang makan.


"Mom," panggil Aska. Ayanda menoleh dan tersenyum ke arah sang putra.


"Bagaimana dengan kandungan Riana?" tanya Aska. Tadi pagi, Riana baru mau diajak memeriksakan kandungannya. Itupun karena permintaan dari Aksa.


"Baik, sudah biasa hamil muda mengalami kram perut," jawab Ayanda.


"Mom, Adek ingin bicara." Nada suara Aska sangat serius, membuat Ayanda menukikkan kedua alisnya.


"Ada apa, Dek?" tanya Ayanda dengan wajah yang nampak cemas.


"Kita bicara di lain tempat." Aska mengajak Ayanda duduk di ruang keluarga. Tempat di mana mereka berkumpul.


Sorot mata Ayanda sudah menampakkan kekhawatiran. Apalagi, Aska sudah menggenggam tangannya.


"Riana, gak pernah gangguan Adek tengah malam. Dia juga gak pernah minta yang macam-macam kalau Adek keluar rumah," tuturnya. Wajah Aska pun nampak bingung, ada sedikit kekhawatiran yang wajahnya tunjukkan.


"Tadi, Adek intip Riana." Helaan napas keluar dari mulut Aska. "Riana lagi nangis sambil mandang foto Abang," lanjutnya.

__ADS_1


Hati Ayanda sangat sakit mendengarnya. Dia sudah tahu akan hal itu dari Echa, tetapi dia tidak mengutarakannya kepada siapapun.


"Adek kasihan, Mom. Riana lagi butuh Abang banget, tetapi Abang malah gak ada di sampingnya. Pasti sedih banget jadi Riana," tambahnya lagi.


Ayanda tahu akan hal itu. Dia pernah merasakan bagaimana jauh dari sang suami ketika tengah mengandung. Dia selalu berdoa supaya tidak ada anak dan menantunya yang bernasib sama dengannya. Echa tidak merasakannya, hanya ketika hamil dia jauh dari keluarga. Namun, malah terjadi pada pernikahan putra pertamanya, Aksa. Rianalah yang harus merasakannya.


"Apa Daddy tidak meminta bantuan Kakek?" tanya Aska. Sedari tadi ibunya hanya diam saja. Hanya memasang wajah sendu dan pilu.


"Sebelum Abang kamu menghadap Kakek, Daddy sudah terlebih dahulu menghadap Kakek. Namun, keputusan Kakek itu sudah bulat. Kamu tahu bagaimana kerasnya Kakek. Itu semua Kakek lakukan untuk masa depan Abang kamu serta keluarga kecilnya," terang Ayanda.


Terdengar helaan napas kasar dari mulut Aska. Ayanda mengusap lembut pundak sang putra bungsu. "Ketika kita patuh kepada orang tua di jalan kebaikan, niscaya kepatuhan itu akan membuahkan kebahagiaan untuk kita," tukasnya.


"Kakek lebih berpengalaman dari kita. Kakek juga lebih tahu mana yang terbaik untuk Abang dan juga Riana. Kakek tidak akan menyuruh Abang tanpa alasan. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian," papar Ayanda. Aska hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Mommy minta kepada kamu, tetap jaga Riana, ya. Bukan hanya nyawa dia yang harus kita lindungi. Ada dua nyawa yang tengah dia kandung yang akan menjadi kebahagiaan untuk kita."


Rumah tangga Aksa dan juga Riana bagai kisah cinta abdi negara yang harus bertugas ke luar negeri dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan. Tanpa bisa bertemu hanya bisa mendengar suara ataupun berbincang memalui sambungnya telepon dan telepon video.


"Ri, kangen Abang. Cepat pulang."


Aska menyandarkan tubuhnya di dinding. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan dari Riana. Bagaimana dengan abangnya? Suami mana yang akan tega melihat istrinya menangis dan memintanya pulang layaknya anak kecil. Apalagi istrinya itu tengah hamil muda.


Aska sungguh tidak kuat, dia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia kira Abangnya akan bahagia setelah menikah. Pada nyatanya tidak seperti itu. Ujian kecil malah tengah melanda keluarganya.


"Menikah memang mudah, tetapi perjalanan setelah menikah itu yang tidak mudah," gumamnya.


Ponsel Aska berdering, dahinya mengkerut melihat siapa yang menghubunginya.


"Abang," gumamnya.


"Ada apa, Bang?" tanya Aska.

__ADS_1


"Jaga Riana, ya. Abang masih harus di Melbourne dan kali ini sedikit lebih lama," ujarnya dengan nada yang sangat lemah.


Pikiran Aska kini berkelana. "Apa ini yang membuat Riana menangis?" tanyanya dalam hati.


"Apa gak bisa dipercepat, Bang? Kasihan Riana, kayaknya dia gak mau jauh dari lu."


Hembusan napas kasar terdengar dari seberang telepon. Keadaan mendadak hening.


"Gua tahu itu, malah kalau gua gak telepon perutnya pasti akan kram," balas Aksa dengan suara sangat lemah.


Aska baru tahu akan hal itu. Dia sedikit tersentak akan ucapan Aksa.


"Jaga Riana, ya. Raga gua ada di sini, tetapi hati gua ada di sana. Gua takut, Dek." Suara Aksa berubah menjadi berat. Sepertinya dia tengah menangis.


Jika, Aksa bersedih seperti ini Aska pun akan ikut merasakan kesedihan yang Aksa rasakan.


"Pasti, Bang. Gua akan jaga Riana. Lu fokus aja di sana. Jangan banyak pikiran biar lu bisa cepat balik ke sini," balas Aska.


Aksa menganggukkan kepala, walaupun Aska tidak dapat melihatnya.


"Bukan hanya Riana yang kangen sama lu, anak-anak lu juga merindukan lu, Bang."


Aksa menundukkan kepalanya sangat dalam, isakan kecil pun keluar dari mulutnya. Hatinya sedih sekaligus sakit karena tidak bisa mendampingi istrinya. Wanita yang sangat dia cintai setelah ibu dan juga kakak perempuannya.


"Abang jahat! Abang gak sayang sama Ri dan anak-anak."


Itulah kalimat yang keluar dari mulut Riana ketika Aksa menerangkan bahwa dia tidak bisa pulang cepat, malah akan sedikit lama.


"Maafkan Abang, Sayang. Abang juga tidak ingin berlama-lama meninggalakan kamu dan juga calon anak-anak kita."


...****************...

__ADS_1


Ditunggu komennya


__ADS_2