
Chintya selalu mendatangi kosan Riana. Akan tetapi, kedatangannya itu selalu dihadang oleh orang-orang yang berbeda setiap harinya. Tanpa Riana ketahui, nomor ponsel Chintya pun sudah ada yang memblokir di ponselnya. Ulah siapa? Riana pun tidak tahu dan tidak mau tahu. Sekarang dia sedang menikmati bahagia, sedih, marah, rindu, kesal yang menumpuk jadi satu karena tiga huruf yang membagongkan menurutnya. LDR (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh.
Rasa rindu yang menggebu hadir setiap hari. Jika, melihat wajah tampan sang pujaan hati, Riana akan marah dan kesal karena Aksa selalu fokus dengan pekerjaannya dan tidak berbicara apapun kepada Riana. Seperti sedang menonton siaran langsung kegiatan sang pujaan hati. Begitulah gerutuan Riana di dalam hati.
"Pentingan pekerjaan atau pacar?"
Pertanyaan yang membuat telinga Aksa berdengung. Kemudian, dia menatap ke arah Riana yang tengah menekuk wajahnya.
"Pekerjaan sangat penting karena itu modal utama menghalalkan pacar."
Awalnya memasang wajah kesal, sekarang sudut bibir Riana mulai terangkat mendengar ucapan spontan yang Aksa lontarkan.
"Kamu harus terbiasa dengan Abang yang seperti ini. Abang pekerja keras dan bukan orang yang berleha-leha untuk menggapai mimpi dan tujuan. Ketika kita tinggal dalam satu atap, kamu sudah tidak kaget lagi jika Abang cuekin," kekeh Aksa.
Mata Riana melebar dengan sempurna membuat Aksa tertawa melihatnya.
"Canda, Sayang," ucap Aksa.
"Kalau Abang begitu, pulangkan saja Ri ke rumah Ayah," ancamnya.
"Tanpa Abang pulang 'kan juga, kamu akan pulang sendiri. Rumah Daddy dan Ayah aja bersebalahan kok."
"Abang!" pekiknya.
Aksa tertawa melihat tingkah manja Riana yang hanya menunjukkan jika bersamanya. Itulah yang membuat Aksa selalu senang menggoda kekasihnya.
"Sabtu depan kamu wisuda, ya."
Wajah Aksa terlihat sendu. Riana pun menganggukkan kepalanya. Tidak ada yang berbicara di antara mereka berdua. Hening, itulah yang tercipta.
"Maaf, Abang tidak bisa pulang."
Suara yang terdengar penuh dengan penyesalan, hanya helaan napas kasar yang Riana keluarkan.
"Fokuslah dengan pekerjaan Abang. Abang bilang sendiri 'kan kalau Abang tidak ingin mempublikasikan hubungan kita terlebih dahulu sebelum status Abang berubah." Aksa mengangguk.
__ADS_1
"Setelah lulus, Ri akan langsung mencari pekerjaan di Jogja. Abang gak keberatan 'kan?"
"Kejarlah mimpimu. Abang akan selalu mendukung kamu." Riana pun tersenyum mendengar ucapan Aksa yang selalu mensupport-nya.
"Abang hanya minta, jaga hati kamu. Jangan pernah berpaling dari Abang." Senyum Riana semakin lebar mendengarnya.
Harusnya Riana lah yang khawatir akan Aksa. Pria tampan, mapan dan berkharisma tinggi. Wanita mana yang tidak akan tertarik padanya. Namun, ini malah sebaliknya. Riana lah yang Aksa takutkan. Padahal, apalah dirinya. Perempuan biasa yang hanya sedang merantau di Kota orang demi menggapai mimpinya.
Keesokan harinya, Riana datang ke kampus. Sudah tidak ada berita ini dan itu. Semuanya seakan baik-baik saja. Hanya saja, dia bingung ketika rektor kampusnya memanggilnya.
"Permisi, Pak. Ada apa, ya?"
Riana mematung sejak di ambang pintu. Ada kecemasan dalam hati Riana. Apalagi wajah rektor sudah memperlihatkan aura-aura yang tidak mengenakkan.
"Apa benar kamu adalah kekasih dari Ghassan Aksara Wiguna?"
Belum juga Riana melangkah, pertanyaan seperti itu sudah rektor itu dilayangkan. Riana cukup terperangah mendengar ucapan darinya. Mulut Riana seakan terkunci mendengarnya.
"Kenapa diam?" tanyanya lagi.
Kalimat itu yang masih melekat di kepala Riana. Mulut yang terkunci itu sudah mulai bisa terbuka.
"Hubungan saya dengan siapapun adalah masalah pribadi saya, Pak. Tidak harus semua orang tahu. Saya juga memiliki privasi. Jadi, Bapak tidak berhak menanyakan perihal itu. Jika, memang benar saya adalah calon menantu dari Tuan Giondra. Sikap baik Bapak dan semua para mahasiswa sudah tidak akan ada gunanya lagi karena saya sudah lulus dan empat hari lagi akan diwisuda."
Mati kutu. Tidak ada yang dapat rektor itu sanggah dari ucapan Riana. Semua yang dikatakan oleh Riana benar adanya.
"Perlakukan saya seperti mahasiswa yang lainnya saja, Pak. Saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanya anak dari seorang tukang roti yang sedang berjuang meraih mimpi."
Riana masih ingat betul ketika pertama kali dia masuk ke universitas ini. Penampilan Riana yang sangat sederhana membuatnya menjadi bahan ejekan semua mahasiswa. Terlebih ada senior Riana yang tak lain adalah keponakan dari rektor tempat di mana dia kuliah. Namanya Detha, dia selalu menyinyir Riana ini dan itu. Mencari tahu data-data pribadi Riana. Memang sengaja Riana menuliskan pekerjaan ayahnya sebagai pedagang roti. Riana tidak ingin semua orang tahu jati dirinya. Padahal, Detha sering sekali memesan kue atau roti yang toko ayahnya produksi untuk memamerkan kemampuannya pada teman-temannya yang lain. Bisa dikatakan, kue dan roti yang diproduksi oleh A&R bakery adalah kue mahal. Jika, Detha mengetahui bahwa Riana adalah anak dari pemilik A&R bakery, dia pasti akan malu berat. Namun, Riana bukanlah orang yang pendendam. Dia membiarkannya saja karena Riana ingin mencari teman yang memang benar-benar tulus berteman dengannya.
"Saya permisi, Pak."
Riana meninggalkan ruangan rektor dengan hati yang lega. Benar kata Aksa, sekali-kali dia harus menegakkan kepala agar semua orang tidak bersikap semena-mena.
Langkah Riana terhenti ketika melihat Risa dan Raisa sudah menunggunya di depan ruangan rektor.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Ri."
Riana hanya tersenyum hangat kepada Risa, sedangkan Raisa sudah menunduk dalam.
"Aku gak marah kok sama kalian. Aku tidak ingin menjelaskan siapa aku ke kalian. Jika, kalian memang sahabatku. Kalian tidak akan terhasut oleh berita di luaran."
Riana menganggukkan kepalanya dengan sopan dan meninggalkan Risa dan Raisa. Sahabat sejatinya hanya Keysha, yang selalu mengerti dirinya luar dan dalam. Tidak akan menghakimi jika Riana berbuat kesalahan.
Hidup di Kota orang membuat Riana menjadi perempuan yang mandiri. Tidak bergantung kepada siapapun itulah dirinya sekarang. Ketika Riana sedang sibuk membersihkan kosan, suara ketukan pintu terdengar. Riana melihat ke arah jam dinding.
"Masih jam dua," gumamnya.
Suara ketukan itu semakin keras membuat Riana mau tidak mau harus melihat siapa yang ingin bertamu. Dadanya berdegup sangat cepat, ketika dia melihat Chintya didampingi dua orang berseragam kepolisian yang sedang berdiri di depan pintu kosannya.
Rasa takut mulai menggelayuti hatinya. Riana tidak berani untuk membukakan pintu. Hingga dia mencoba menghubungi Aksa.
"Iya, Sayang."
Aksa mendengarkan semua yang dikatakan oleh Riana. Dia tahu, Riana sedang ketakutan saat ini.
"Kamu tunggu Ari dan juga Christina dulu."
"Christina?"
"Adiknya dari pengacara Christian. Dia juga pengacara hebat, kebetulan dia sedang berada di Jogja. Jangan dulu keluar sebelum mereka datang. Kunci diri kamu di kamar dan jangan pernah matikan panggilan ini hingga mereka datang."
Riana menuruti ucapan Aksa. Dia segera mengunci pintu kamarnya dan ponselnya masih terhubung dengan Aksa. Jujur, Riana sangat ketakutan. Apalagi, di kosan dia hanya seorang diri.
...****************...
Hayo ...
Ada apa gerangan ratu drama bertamu? Apalagi dengan pak polisi.
Komen ya, jangan lupa ..
__ADS_1