Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Hati dan Otak Batu


__ADS_3

"Tunggu Abang, Abang akan datang dengan sebuah kejutan."


Wajah Riana masih terlihat sendu. Janji manis Aksa tak bisa dengan mudah Riana terima. Apalagi, dia teringat ketika Aksa mengucapkan janji akan membawanya kepada orang tuanya. Malah, wanita lain yang bersanding dengannya.


"Kamu takut kalau Abang ingkar janji lagi?" Riana mendongak menatap manik mata teduh seorang Aksara.


"Abang tidak akan menjadi manusia bodoh lagi. Abang akan terus memperjuangkan kamu," terangnya.


Rion yang mendengar ucapan Aksa dari ambang pintu menghela napas berat. Betapa besarnya cinta Aksa terhadap Riana. Tidak terlihat raut kelelahan untuk menggapai Riana.


Apa harus gua restui sekarang?


Aksa tersenyum ramah kepada Rion. Kemudian, dia menangkup wajah Riana.


"Meskipun Ayah telah merestui hubungan kita. Abang tetap akan melanjutkan kepergian Abang. Abang pergi bukan untuk mengabaikan kamu, tetapi untuk memantaskan diri menjadi imam kamu dan juga kepala keluarga nanti. Abang tidak mau, ketika kita menikah kamu bergelut dengan pekerjaan. Kamu cukup di rumah, urus tubuh kamu, urus Abang serta anak-anak kita. Kamu adalah bagian dari mimpi Abang yang Abang tulis di dream book. Bersanding dengan kamu di depan penghulu dengan menjabat tangan Ayah adalah titik pencapaian tertinggi Abang. Doakan Abang, Sayang. Abang akan mulai berjuang, demi kamu dan demi hubungan kita."


SPEECHLESS, Riana tidak bisa berkata. Hanya ukiran senyum yang terlihat di bibir mungilnya.


"Gak apa-apa 'kan kita LDR-an dulu? Abang janji, kalau Abang ada waktu Abang akan menjenguk kamu di sini. Abang usahakan akan terus mengirim kabar kepada kamu."


Terlalu indah kata-kata Aksa untuk Riana. Membuatnya melingkarkan tangan di pinggang Aksa dan menelusupkan wajahnya di dada bidang sang kekasih.


"Janji, sering nengokin ke sini."


"Iya, kalau Abang gak ke sini. Kamu yang harus ke Aussie, dengan catatan ditemani oleh Aska."


Sepertinya Riana akan merindukan aroma parfum maskulin yang Aksa pakai. Aroma yang sangat menenangkan hatinya.


"Abang pergi, ya." Senyuman manis membuat Riana terpesona untuk beberapa saat. Tanpa malu dan takut, Aksa mengecup kening Riana sangat dalam.


"I love you, so much."


Melihat pemandangan manis nan haru di depannya, Rion tidak bisa berkutik. Di sangat melihat jelas bahwa Riana merasa sangat nyaman di dalam pelukan Aksa. Begitu juga Aksa yang tak pernah membual dengan segala ucapan yang pernah dia lontarkan.


Lambaian tangan Riana menjadi lambaian perpisahan menuju hubungan jarak jauh yang akan menguras rasa rindu yang semakin hari semakin bertumpuk. Setelah mobil yang membawa Aksa tak terlihat, Riana menghela napas kasar dan membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam kosan. Namun, sang ayah masih berdiri di sana. Menatapnya dengan tatapan tak bisa terbaca.


"Maafkan Ri, Ayah."


Rion segera berhambur memeluk tubuh putrinya. Dia teringat akan ucapan Echa tempo hari.

__ADS_1


Jangan terlalu mengekang Riana. Ada luka tak kasat mata yang dia derita. Jika, luka itu menganga kembali. Riana yang dulu akan kembali lagi. Biarlah dia menyusuri jalan hidupnya sendiri tanpa banyak mengatur. Cukup mengarahkan ke mana dia akan melangkah.


Sekarang Rion tahu, Riana tak jauh berbeda dengan Echa. Pura-pura terlihat baik, pada nyatanya hatinya sangat sakit.


"Ri, belum bisa seperti Kak Echa yang selalu membuat Ayah bangga."


Hati Rion sangat teriris mendengarnya. Dia adalah ayah yang jahat. Selalu menentang keinginan anak-anaknya. Terlebih Echa yang pernah merasakan panasnya tamparan tangan Rion karena sebuah rasa cinta di dalam hati Echa untuk mendiang Riza.


Sampai saat ini, dia masih mengingatnya. Dia merutuki kebodohannya hingga pada akhirnya Echa memilih untuk tinggal bersama sang mamah.


Aku telah menjadi orang tua yang gagal.


Rion membawa masuk Riana, sebelumnya Rani mengirim pesan kepada Riana bahwa dia tidak akan pulang malam ini. Pada akhirnya, Riana meminta ayahnya untuk tidur di kosan malam ini.


"Kamu istirahat, ya. Ayah mau menikmati udara segar dulu di luar." Riana mengangguk pelan.


Ketika Rion hendak mendudukkan bokongnya di kursi plastik yang ada di teras, matanya memicing ketika melihat Arya sedang menjabat tangan Ari.


"Si Bhaskara kenal orang itu?" gumamnya.


Benar apa yang dilihatnya, Arya menghampirinya dengan senyum seperti biasanya. Sedangkan kemeja yang dia gunakan sudah tak karuhan. Punggung jari-jarinya seperti ada darah yang mengering.


"Ngikutin soulmate gua," kekehnya.


"Lu gak bisa bohong sama gua, Bhas." Rion sudah meraih tangan kanan Arya. Menunjuk ke arah darah yang sudah mengering.


"Abis musnahin tikus berkepala manusia," sahutnya.


"Maksudnya?"


Arya tidak ingin menjelaskan apapun. Dia hanya memperlihatkan sebuah rekaman video. Mata Rion pun melebar.


"Lu apain si Fikri?" geramnya.


"Belum gua masukin ke liang lahat, kok." Wajah murka Rion sudah terlihat jelas. Dia sudah meraih kerah kemeja Arya.


"Lu apain teman gua?"


Arya menepis cengkeraman tangan Rion dengan mendorongnya.

__ADS_1


"Teman kata lu? Lu benar-benar bodoh Rion, BODOH!" sentaknya dengan penuh kemurkaan.


"Dia manusia licik. Lu lihat ini!"


Rekaman video yang lain Arya putar. Dia membiarkan sahabatnya yang sangat sangat bodoh ini menontonnya dengan seksama.


"Buka mata lu, Rion Juanda!" seru Arya.


"Kalau dia emang beneran sahabat lu, dia gak akan pernah membalaskan dendamnya ke gua melalui lu dan anak lu! Kalau dia gentle dia gak akan menghasut lu terus-terusan," jelasnya dengan urat-urat kemarahan.


"Lu tahu, apa yang telah mulut anaknya katakan kepada warga kampus? WANITA BOOKINGAN."


Tangan Rion mengepal dengan keras. Wajahnya merah padam.


"Lu bisa bayangkan gimana perasaan Riana sesungguhnya 'kan. Apa masih lu menjadi manusia berotak dan berhati batu?"


Rion terdiam mendengar ucapan Arya yang teramat menusuk ulu hatinya.


"Orang yang sangat baik sama Riana gak pernah lu anggap. Sedangkan orang yang lu percaya malah jadi pengkhianat. Masih merem mata lu sekarang?" hardik Arya.


Arya mengembuskan napas kasar sebelum melanjutkan ucapannya. Pandangannya lurus ke depan.


"Gua yang bukan ayah dari anak-anak lu aja sayang banget sama mereka. Ingin memberikan yang terbaik untuk mereka supaya mereka bahagia." Tamparan halus mengenai hati Rion.


"Nasib Riana lebih miris dari Echa. Ketika Echa lu kerasin, dia masih ada tempat untuk pulang, mamahnya. Sedangkan Riana?" Lagi-lagi Arya menghela napas kasar.


"Hanya lu tempat untuk dia pulang dan mengadu. Hanya lu yang dia punya. Sedekat-dekatnya Riana dengan Echa, mereka tetap tak seibu. Masih ada rasa canggung di hati Riana untuk mengungkapkan semuanya."


"Tolong buka mata dan hati lu. Gua gak disuruh siapapun untuk berbicara seperti ini. Gua hanya kasihan kepada anak lu. Anak lu udah dewasa, dia berhak menentukan pasangannya sendiri."


"Jangan melihat status Aksa, tapi lihatlah ketulusan hatinya. Seribu satu laki-laki seperti dia."


Suasana berubah menjadi hening, hati Rion tersentil mendengar ucapan dari Arya. Cahaya lampu mobil membuat mereka menatap ke arah depan. Seorang perempuan keluar dari mobil tersebut dengan keadaan sangat kacau.


...****************...


Kencengin dong komennya ...


70 komen up lagi nih.

__ADS_1


__ADS_2