
Tangan perempuan itu masih memegang kaki Askara. Dia benar-benar bingung dengan apa yang dilakukan oleh perempuan yang sama sekali tidak dia kenali.
"Maafkan Kakak saya, Pak."
Dahi Aska semakin mengkerut, dia sama sekali tak mengerti dengan ucapan perempuan itu. Dia juga tidak tahu siapa kakak dari perempuan tersebut. Aska tersadar akan perempuan lain di sana. Namun, ketika Aska melihat ke arah perempuan tadi dia sudah tidak ada. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.Baru saja disambut oleh wanita pujaannya. Kini, harus kehilangan jejaknya lagi.
Aska memandang kembali perempuan yang ada di depan kakinya. Dia benar-benar malu dengan sikap perempuan tersebut. Dia terpaksa menyentuh pundak perempuan itu agar berdiri. Dia merasa tidak enak hati apalagi dia menjadi bahan tontonan semua karyawan.
"Jangan begini, saya malu," ujarnya.
Perempuan itu sedikit tersentak mendengar pria yang dia anggap sebagai direktur utama. Kakaknya mengatakan bahwa direktur utama sangatlah kejam. Namun, dia melihat hal yang berbeda. Apalagi direktur utamanya sangatlah tampan.
Aska tersenyum dan menganggukkan kepala ke arah perempuan itu sebelum dia pergi. Dia melanjutkan langkahnya. Akan tetapi, langkah kakinya membawa Aska ke pantry bukan ke ruang direktur utama. Senyumnya terus melengkung indah, tangannya sudah memegang gagang pintu. Pintu pantry terbuka, senyumnya semakin merekah tatkala perempuan yang dia cari ada di sana. Namun, perempuan itu tidak sadar bahwa ada seorang pria yang tengah memperhatikannya. Jingga tengah mengaduk kopi seraya melamun.
"Hai." Sapaan Aska tidak diindahkan oleh Jingga. Dia masih mengaduk kopi tanpa henti. Wajahnya pun terlihat pilu.
__ADS_1
Aska menghampiri Jingga. Cukup lama dia berada di samping Jingga, tetapi Jingga benar-benar tak sadar akan kehadirannya. Tangan Aska menghentikan tangan Jingga, sontak Jingga menoleh. Pandangan mereka terkunci untuk beberapa saat. Jingga tahu itu bukan direktur utama. Sorot mata yang berbeda yang Riana lihat dan rasakan.
Ada kata yang tak bisa diucapkan. Ada rindu yang menggebu di antara dua manusia ini. Akan tetapi, terdapat benteng yang menjulang tinggi yang memisahkan mereka.
"Kenapa kamu pergi?" tanya Aska.
Jingga melihat ke arah tangan Aska yang tengah menggenggam tangannya. Aska segera melepaskannya dengan raut tak rela. Sorot mata yang teduh dan menenangkan itu pun berubah menjadi tatapan sedih.
"Maaf, aku harus kerja." Jawaban yang membuat Aska mendesah panjang.
"Kenapa kamu menghindar? Apa salah aku?" Perkataan Aska mampu membuat langkah Jingga terhenti di depan pintu.
Bibir Jingga terasa kelu. Hatinya terasa sakit mendengar ucapan seseorang yang membuatnya merasa bahagia semasa SMA.
"Jika, aku salah ... beri tahu letak salahku di mana? Jangan menghindar dan pergi tanpa kabar lagi."
__ADS_1
Jingga semakin membeku. Tubuhnya tak bisa dia balikkan dan kakinya pun susah untuk melangkah.
"Aku mencintai kamu, Jingga. Bang As sayang sama kamu, Jigong."
Bulir bening menetes begitu saja di pelupuk mata Jingga. Hatinya sangat sakit mendengar ungkapan yang sangat tulus itu.
Pernah membayangkan menjadi kekasih seorang Askara. Itu dulu, ketika masa putih abu-abu. Sekarang, sudah tidak ingin membayangkan perihal pangeran berkuda putih. Semuanya hanya ada di dalam dongeng. Lagi pula, dia juga sudah tahu siapa Askara sekarang dari Fahrani. Serta cincin imitasi sudah melingkar di jari manisnya.
"Jawab, Jigong. Bang As butuh jawaban kamu," pintanya.
"Bang As tidak salah. Perasaaan Bang As yang salah. Mencintai calon istri orang lain."
...****************...
Kok nyesek, ya. 🤧
__ADS_1