
Aska terus tersenyum bagai pria gila. Hatinya sungguh sangat berbunga. Cinta yang terbalaskan sangatlah menyenangkan. Namun, seketika dia terdiam. Dia memikirkan perihal pernikahan sialann yang akan Jingga langsungkan. Seketika senyum tipisnya mengembang.
"Cukup aku mengetahui perasaan kamu. Setelah itu tunggu kejutan-kejutan yang akan aku berikan."
Kembali ke WAG grup, perempuan yang sudah dibuat melayang oleh Aska kini termenung seorang diri di pantry.
"Kenapa aku tidak meminta nomor Bang As?" gumamnya. Raut penuh penyesalan sangat terlihat jelas di wajah Jingga.
"Heran deh, udah punya calon suami masih mau aja disentuh pria lain."
Jingga yang tengah melamun tersentak dengan kalimat tersebut, seperti kalimat sindiran untuknya. Jingga menoleh ke arah Fahrani. Ternyata Fahrani tengah berbicara di balik sambungan telepon. Jingga dapat bernapas lega. Setidaknya Fahrani tidak menyindirnya.
****
Jakarta.
Rumah Gio sudah ramai dengan kehadiran anak-anak serta ketiga cucunya. Mereka bercanda bersama apalagi Riana yang terus tertawa lepas melihat suaminya dikerjai oleh si triplets.
"Senang banget kayaknya," ucap Aksa.
"Lucu dan gemas," sahut Riana sambil mencubit gemas pipi Aksa. Suaminya tengah dikuncir oleh ketiga keponakannya.
"Coba kalian tinggal di sini. Rumah ini pasti akan selalu ramai," imbuh Ayanda dengan raut yang sudah berubah.
Echa dan Aksa menatap sendu ke arah Ayanda. Mereka segera memeluk tubuh senja sang ibu.
"Ada atau tidaknya kami di sini. Rumah ini akan menjadi tempat untuk kami pulang," balas Echa.
"Tinggallah di sini, Bang," pinta Ayanda.
Aksa menggenggam tangan ibundanya. Dia mengecup hangat punggung tangan sang mamah.
"Untuk saat ini Abang bilang iya. Untuk ke depannya, jika Abang memilih untuk hidup mandiri ... Mommy tidak masalah 'kan?" tanya Aksa.
Hanya usapan lembut di wajah Aksa yang menjadi jawaban dari Ayanda. Echa dan Aksa semakin memeluk erat tubuh ibu mereka. Aleeya sudah terisak ketika melihat adegan haru di hadapannya. Dia dengan jahilnya mengelap ingusnya di baju sang kakak, Aleena.
"Dedek!"
Pekikan suara membuat adegan haru biru itu hancur seketika. Apalagi Aleeya yang sudah meminta perlindungan kepada sang Mimo seraya tertawa.
Suasana pun kembali riuh, Aksa kembali duduk di bawah sofa sang istri. Dia memeluk perut istrinya dan berkali-kali mengecup lembut perut Riana, sedangkan Riana malah asyik membenarkan kunciran yang ada di rambut Aksa.
"Manja banget sih, Bang," ejek Echa sambil memukul pundak sang adik.
"Biarin. Manjanya juga dua Minggu sekali." Jawaban Aksa membuat semua orang tergelak.
"Gimana rasanya baru satu bulan menikah udah harus berpisah?" tanya Radit dengan nada yang mengejek.
"Berisiklah!" sahutnya.
__ADS_1
Aksa memang seperti anak kucing yang manis jika bersama Riana. Sangat jinak dan penurut.
"Aunty, kalau di perut Aunty ada dedeknya, kira-kira jumlahnya berapa?" tanya Aleeya si anak bawel.
"Lima," jawab Aksa.
Plak!
Pukulan Aleesa berikan di pundak sang paman. Dia menatap nyalang ke arah Aksa.
"Jangan banyak-banyak, nanti Aunty kesakitan pas lahirannya. Si pussy aja melahirkan anak lima sampai nangis," terang Aleesa.
Aksa menatap ke arah Riana. Istrinya pun tak mengerti dengan jawaban Aleesa.
"Pussy itu kucing punyanya Om Arya," timpal Radit.
"Kok malah disamain kayak kucing ," sergah Aksa.
"Otak anak-anak udah dicuci sama Om Arya. Katanya, kalau perempuan mengandung terus pas melahirkannya banyak itu sama seperti si pussy," ungkap Echa.
"Lah, kalian juga anak kucing dong," gurau Aksa.
Ketiga anak Echa menatap bingung ke arah sang om. "Kalian 'kan kembar tiga. Sama dong seperti anak-anak si pussy."
Riana memukul pundak sang suami. Dia melihat ketiga anak kakaknya sudah ingin menangis.
"Kasihan tuh Bubu kalian. Melahirkan kalian pasti sangat sakit."
Mereka bertiga menangis dan memeluk tubuh Echa. Ketiga anak ini sangat perasa jika menyangkut ibu mereka.
Aksa malah tergelak dan Riana mencubit perut sang suami yang ternyata sangat usil.
"Ampun, Sayang." Aksa mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri. Kepalanya dia benamkan di perut Riana.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab semuanya.
Wajah Aska sudah berbinar layaknya terkena sinar lampu. Senyumnya terus merekah bagai bunga matahari.
"Kalian kenapa kurcaci?" tanya Aska.
"Uncle jahat," adu Aleeya.
"Hajar aja," jawab Aska sambil mendudukkan dirinya di sofa kosong.
"Boleh, Om?" tanya mereka. Aska menganggukkan kepalanya dan terjadilah penyerangan si triplets terhadap Aksara.
"Ampun," ucap Aksa.
__ADS_1
Riana malah tertawa melihat Aksa dipukul oleh ketiga keponakannya. Tangan Aksa malah semakin erat memeluk pinggang sang istri.
"Kamu tuh iseng banget," omel Ayanda. Aska hanya tertawa dibuatnya.
"Anak-anak Bubu, udah ya marahnya. Kasihan uncle-nya," ujar Echa. Ketiga tuyul itu pun menuruti perintah sang ibu.
"Kamu tumben udah pulang?" tanya Gio.
"Dapat kabar membahagiakan semalam dari Mommy," sindirnya.
Ayanda menatap tajam ke arah sang putra bungsu. Aska malah terkekeh dan memeluk tubuh ibunya.
"Sabar ya, Mom. Nanti Adek akan berikan Mommy lima cucu kembar yang lucu-lucu, mengalahkan anak-anak Kak Echa," imbuhnya.
"Emang udah ada calonnya?" cibir Radit.
Aksa tertawa terbahak-bahak mendengar cibiran Radit untuk adiknya itu. Aska berdecak kesal dan menatap nyalang ke arah dua pria yang menyebalkan itu.
"Ini calonnya," jawab Aleena.
Dia menyeret boneka beruang besar dan kemudian disandingkan dengan Askara.
"Cocok 'kan?" tanya Aleena.
Lagi-lagi mereka semua dibuat tertawa oleh ketiga anak Echa yang sangat luar biasa. Riana pun sampai sakit perut.
Suasana hangat berubah mencekam ketika pengacara keluarga Mahendra datang. Aksa yang semula duduk di bawah, kini menatap nyalang ke arah pria tersebut. Dia duduk di samping Riana dengan tangan yang menggenggam erat tangan istrinya.
Ternyata bukan hanya pengacara yang datang ke kediaman Giondra. Dua orang polisi pun ikut datang ke sana. Dahi mereka semua semakin mengkerut. Berbeda dengan ketiga anak Echa yang segera berlari ke arah kedua orang tua mereka karena takut.
"Selamat siang Pak Aksara, Pak Giondra," ucap salah seorang polisi.
"Kedatangan kamu ke sini hanya ingin memberitahukan bahwa ...."
Ucapan polisi itu menggantung. Mimik wajahnya sudah berubah.
"Ada apa, Pak?" tanya balik Gio.
"Ibu Sarah telah menghembuskan napas terakhirnya tadi pagi."
Semuanya terkejut, hanya Aksa yang bersikap dingin dan datar. Racun yang Sarah minum memang benar-benar racun yang mematikan. Aksara tidak bisa membayangkan jika itu diminum oleh Riana.
"Di lapas pun, Ziva dan Mahendra menangis histeris," jelas polisi yang satunya lagi.
Semua orang kini menatap ke arah Aksa. Begitu juga dengan Riana.
"Jangan biarkan mereka terbang ke Jogja. Bawa saja jenazahnya ke Jakarta. Jika, mereka tidak mampu memakamkan, buang saja mayatnya ke hutan."
...****************...
__ADS_1
Up lagi ...
Komennya jangan lupa,