
Ken dan Juno hanya menggelengkan kepala ketika Beeya menceritakan semuanya. Tidak dipungkiri, mereka juga bangga akan sikap Beeya.
"Gua suka gaya lu," ucap Ken sambil mengulurkan kepalan tangannya. Beeya pun membalasnya dengan tawa penuh kepuasan.
"Pengennya sih Bee nyiram dia pake bensin terus Bee bakar," ocehnya.
"Gua lebih setuju dengan ide lu itu," timpal Juno.
"Sadis lu, No," sergah Ken. Juno pun berdesis kesal. "Tapi gua juga setuju sih." Juno menoyor kepala Ken hingga membuat Beeya tertawa.
Beeya teringat akan Aska. Biasanya mereka berempat yang akan melakukan kegilaan seperti ini. Kali ini, hanya mereka bertiga. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya
"Ayah, kenapa Ayah diam saja?" Pertanyaan yang keluar dari mulut wanita ketika mereka sudah berada di toilet untuk membersihkan wajah Bian karena siraman air cabe.
"Dia adalah keturunan Bhaskara. Bukan tandingan kita."
****
Waktu terus bergulir, sudah satu bulan setengah Aska berada di Melbourne. Namun, belum juga dia kembali ke Jakarta.
"Kenapa belum balik?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Aksara yang tengah melakukan video call bersama sang adik.
"Tanggung lah, entar aja pas bini lu lahiran," balas Aska masih seperti biasanya. Aksa hanya mengangguk pelan. Dia juga tidak ingin memaksa.
"Abang," panggil manja Riana. Dia baru saja naik ke atas tempat tidur dan merangkul manja lengan suaminya.
"Set dah, makin cantik aja lu," puji Aska ketika melihat wajah Riana di layar ponselnya.
"Makasih Kak," ucap Riana dengan senyum khasnya. Aksa pun mengecup puncak kepala sang istri yang semakin hari tak mau berpisah dengannya.
"Lu berangkat ke Singapura gak?" tanya Aska.
"Harusnya sih gua pergi, tapi gua kudu Konsul dulu ke dokter kandungan. Masalahnya kandungan Riana udah masuk delapan bulan pas kita ke Singapura nanti. Takut brojol di jalan," terangnya.
"Lah emang Riana mau dibawa?" tanya Aska.
"Ri harus ikutlah," sungut Riana. Aska pun tertawa.
Setiap hari Aska selalu menghubungi abangnya ataupun kakaknya. Dia ingin tetap merasa berada bersama keluarganya meskipun tengah jauh di lain benua. Setelah setengah berbincang santai dengan sang Abang, Aska pun mengakhiri sambungan videonya. Dia menghembuskan napas kasar ketika sudah meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Dia juga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan berbantal kedua lengannya.
"Kamu ada di mana? Apa kamu baik-baik saja?"
Sampai hari ini Aska belum juga dapat melupakan Jingga di dalam hatinya. Seperih apapun Jingga melukai hatinya, tetapi rasa untuk Jingga masih sama di hati Aska.
"Masih belum bisa melupakan istri orang?"
Aska terkejut dengan ucapan sang kakek yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Aska segera bangkit dari tempat tidur dan membantu kakeknya berjalan karena sang kakek sudah menggunakan tongkat.
"Ada apa, Kek?" Aska membantu Kakeknya duduk di sofa yang terdapat di kamarnya.
"Kakek hanya ingin berbincang dengan cucu Kakek." Aska hanya tersenyum.
Ditepuknya pundak Aska oleh Genta. "Kisah kamu sama seperti ayah kamu. Mencintai istri orang," kekeh Genta. Aska pun hanya tertawa.
"Adek hanya ingin fokus memperbaiki diri Adek dulu, Kek. Mungkin dari diri Adek ada yang salah. Makanya, Tuhan memberikan ujian seperti ini," terang Aska.
"Cucu Kakek sudah semakin dewasa dan jadi anak penurut sekarang," gurau Genta.
"Siapa tahu ketika Adek jadi anak penurut, jodoh Adek semakin dekat," timpal Aska seraya bercanda.
Kedua pria yang berbeda generasi itu pun tertawa bersama. Terbesit sebuah ide di dalam kepala Genta.
****
Suara ketukan pintu terdengar, Aksa beranjak dari duduknya dan membuka pintu. Matanya melebar ketika melihat tiga kurcaci sudah ada di depan matanya.
"Uncle," panggil Aleeya.
Mereka bertiga kompak tak bicara. Hanya raut wajah yang terlihat canggung.
"Kenapa?" tanya Aksa. "Ayo masuk!" ajak Aksa.
Tiga kurcaci itupun masuk ke dalam kamar Aksa. Mereka melihat sang Tante sudah menyambut mereka dengan senyuman hangat.
"Ada apa ini?" tanya Riana tersenyum.
"Aunty ... mau gak temani kita ke emol?" Aleena yang bertanya tanpa melihat ke arah Aksa. Sudah pasti sang om akan melarangnya.
"Emangnya kedua orang tua kalian ke mana? Engkong ke mana? Mimo ke mana?" pertanyaan bertubi-tubi yang Aksa lontarkan.
"Mereka semua mendadak pergi. Katanya ada masalah di bakery-nya Engkong," keluh Aleeya.
"Kakak Sa ingin ikut lomba melukis," ucap anak kedua Radit dan Echa dengan raut sedih.
Anak itu menyerahkan kertas tentang perlombaan yang akan diadakan di sebuah mall yang cukup besar. Berhubung hari ini weekend, sudah sore hari juga Riana mulai menatap ke arah sang suami. Dia tahu peraturan yang dibuat Aksa tidak akan pernah bisa dibantahkan. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba.
"Bang."
Aksa pun menoleh sang mengangguk setuju karena dia tidak tega melihat Aleesa berwajah muram. Ketiga kurcaci itu pun sangat gembira.
"Thank you Uncle," ucap mereka berbarengan.
"Kalian siap-siap, ya," titah Riana. "Kakak Sa, udah siapin alat lukisnya?" Aleesa pun mengangguk cepat.
Setelah tiga kurcaci itu keluar kamar Riana dan Aksa untuk bersiap, Riana tersenyum ke arah sang suami dan mengucapkan terima kasih.
"Itung-itung belajar jadi ayah yang baik," sahut Aksa. Riana pun tertawa.
Mereka berlima sudah bersiap, apalagi Aleesa yang sudah sangat antusias. Senyum Riana pun terus merekah.
Tibanya di sebuah mall, tangan kanan Aksa menggenggam erat tangan sang istri sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Aleena dan juga Aleeya. Tangan kanan Riana menggenggam erat tangan Aleesa.
Mereka tiba di sebuah tempat yang cukup luas. Di sana sudah ada para orang tua yang tengah menemani putra-putri mereka lomba.
"Biaya pendaftarannya lima ratus ribu," ucap panitia lomba.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang Riana mengeluarkan uang yang disebutkan tadi. Akhirnya, Aleesa bisa mengikuti lomba tersebut. Riana, Aksa dan juga dua saudaranya harus menunggu di luar area perlombaan.
"Sayang, duduk dulu." Aksa sudah memberikan kursi untuk istrinya duduk. Kini, dia beralih kepada kedua keponakannya.
"Mau cemilan?" Aleena dan Aleeya pun mengangguk. Aksa hendak membelikan mereka camilan, tetapi Aleeya menarik tangan Aksa.
"Dedek ikut."
Aksa dan Aleeya menuju ke sebuah kedai donat ternama. Aksa membiarkan Aleeya memilih apa yang dia dan juga keduanya suka.
"Satu dus emang cukup?" tanya Aksa kepada sang keponakan.
Aleeya mendongak dan menatap om-nya yang tampan. "Emang boleh lebih dari satu?" Aksa pun mengangguk seraya tersenyum. Anak itu pun antusias memilih donat lagi.
"Minumnya ya, Uncle," pinta Aleeya. Aksa pun mengangguk.
Ada kebahagiaan yang Aksa rasakan ketika melihat keponakannya bahagia. Sangat jarang dia meluangkan waktu untuk tiga keponakannya. Berbeda dengan Aska yang selalu mau jika diajak si triplets jalan.
Aksa pun menghubungi Aska. Mengambil video Aleeya yang tengah asyik memilih-milih minuman.
"Gua rindu mereka," ucap Aska dari balik sambungan telepon.
"Dek, sini!" panggil Aksa. Dia menunjukkan ponselnya ke arah l Namun, tiba-tiba Aleeya menangis. Aksa segera memeluk tubuh kecil Aleeya.
"Kenapa nangis?" tanya sang uncle.
"I miss him so much."
Aleeya berkata di dalam pelukan Aksa dan masih mampu Aska dengar dari balik sambungan telepon.
"I miss you all too."
Kelemahan Aska adalah ketiga keponakannya. Walaupun ketiga keponakannya selalu membuatnya harus mengeluarkan uang, ketika dia jauh malah hal itu yang dia rindukan.
"Ketika Om pulang, Om janji akan bawa kalian main ke mana pun kalian mau."
Aleeya hanya mengangguk tanpa mau melihat wajah Aska. Tidak dipungkiri bocah berusia tiga tahun itu merasa kehilangan sang paman yang selalu ada untuk mereka. Selalu menggoda mereka dan membawa mereka makan di pinggir jalan bersama Upin Ipin versi Indonesia.
"Dedek Ya jangan nangis, ya. Salam untuk Kakak Na juga Kakak Sa." Lagi-lagi Aleeya pun mengangguk.
****
"Apa kabar?"
Suara seorang pria membuat Riana juga Aleena yang tengah duduk manis menoleh. Senyuman hangat pria itu berikan kepada Riana. R
Istri dari Aksa pun sedikit terkejut melihat pria tersebut.
"Baik," jawab Riana dengan seulas senyum yang dipaksakan.
Pria itu melihat ke arah perut Riana yang terlihat membukit. Hatinya terasa sakit.
"Sendiri ke sini?"
"Gak lihat ada aku di sini," sahut Aleena dengan sangat ketus.
"Aku salah satu panitia di sini," ucapnya lagi, serta menunjukkan kartu panitia.
"Oh, aku juga ke sini nemenin keponakan aku lomba," balas Riana lagi.
"Yang mana keponakan kamu?"
"Jangan dikasih tau, Aunty," larang Aleena. "Dedek Sa gak ingin kemenangannya hasil KKN."
Riana hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut Aleena. Dia tahu Aleena ini tidak suka dengan kehadiran seorang pria yang tak lain adalah teman Riana semasa SMA. Aleena seperti sudah disuruh menjaganya dari godaan pria-pria yang mendekatinya.
"Iya, Aunty gak akan kasih tahu," imbuh Riana.
Pria itu malah duduk di samping Riana membuat Aleena mengerang kesal.
"Kamu masih tinggal di rumah kamu yang dulu?" tanya Kevin, pria yang pernah dekat dengan Riana semasa SMA.
"Aku tinggal di rumah mertua," jawabnya.
Riana pun serba salah, tidak sopan jika tidak menjawab pertanyaan dari Kevin. Sebenarnya dia juga ingin menyudahinya. Dia sungguh tidak nyaman.
"Sayang."
Riana dapat bernapas lega ketika mendengar suara suaminya. Riana pun menoleh dan tersenyum ke arah Aksa. Mata Aksa sudah memicing dengan sangat tajam ke arah Kevin.
"Kok lama?" tanya Riana ketika sang suami sudah membubuhkan kecupan manis di ujung kepalanya.
"Ke supermarket yang ada di lantai tiga dulu, sekalian nyari susu ibu hamil buat kamu," ujar Aksa. "Udah jadwalnya minum susu 'kan." Riana mengangguk seraya tersenyum ke arah suaminya yang luar biasa.
Ada rasa nyeri di hati Kevin ketika melihat ada seorang pria yang lebih tampan darinya bersikap manis kepada wanita yang belum pergi dari ingatannya.
"Om panitia, ngapain di sini? Mending ke sana," tunjuk Aleeya ke arah perlombaan.
"Jangan makan gaji buta, gak baik," oceh bocah perempuan itu lagi.
Kevin merasa tersentil mendengar ucapan dari Aleeya. Apa yang dikatakan Aleeya memang benar.
"Aku duluan ya," pamit Kevin kepada Riana. Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Riana.
"Kenapa ada dia?" Pertanyaan itu terlontar ketika Kevin sudah menjauhi Riana.
"Katanya dia panitia di sini.".
"Kenapa harus duduk di samping kamu?" tekan Aksa. Riana menatap bingung ke arah sang suami dengan dahi yang mengkerut.
"Uncle aja tadi duduk di samping perempuan gak masalah."
Ucapan Aleeya bagai bom waktu untuk Riana. Tatapan membunuh dia tunjukkan kepada sang suami. Aksa pun terkejut ketika Aleeya menceritakan hal yang terjadi di toko donat tadi.
"Malah perempuan itu ngasih kertas putih gitu. Kayaknya itu nomor hp deh." Aleeya masih mengoceh sambil memakan donat.
Riana tidak akan bertanya, hanya sikap dingin yang akan di berikan kepada Aksa.
__ADS_1
"Jangan marah, Sayang. Gak gitu juga ceritanya," elak Aksa.
"Emang begitu ceritanya." Aleeya bagai kompor.
Aksa duduk bersimpuh tepat di hadapan Riana yang hanya memegang susu ibu hamil kemasan tanpa meminumnya. Dia pun menatap kesal ke arah sang suami.
"Gini, Sayang ... tadi emang benar ada wanita yang duduk persis di samping Abang. Dia juga sengaja nyenggol-nyenggol tangan Abang dan emang berujung ngasih sebuah kertas ke tangan Abang. Pas Abang lihat, emang berisi nomor ponsel gitu, terus-"
"Abang simpan nomornya," potong Riana dengan nada yang sangat tidak bersahabat.
"Ya enggak dong, Sayang. Kertas itu langsung Abang buang."
"Periksa aja HP-nya Aunty. Laki-laki itu 'kan turunan buaya." Kalimat yang keluar dari mulut Aleena. Riana pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aleena.
Tangan Riana sudah menengadah menandakan dia sudah meminta ponsel sang suami. Tanpa berdebat panjang lebar pun Aksa segera memberikan ponselnya. Aksa memang tipe pria yang terbuka akan gawai yang dia miliki. Sama halnya dengan Riana, mereka berdua sama-sama ingin terbuka satu sama lain. Tidak ada yang mereka tutupi sedikitpun. Itulah salah satu kunci mereka menjalani rumah tangga adem ayem tanpa drama.
"Ada gak?" tanya Aksa. Riana tidak menjawab, dia masih fokus pada ponsel milik suaminya.
"Udah dibuang, Aunty. Dedek yang buangnya juga."
Aksa hanya menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Aleeya. Anak ini bisa jadi kompor, tapi sekarang malah jadi air.
"Serius?" Riana sudah menatap ke arah Aleeya yang sedang asyik makan donat. Anggukan mantap yang menjadi jawaban dari Aleeya.
Aksa sudah mengusap perut sang istri dan mencium perut yang membukit itu dengan sangat lembut.
"Daddy gak akan berbuat macam-macam. Daddy hanya sayang Mommy dan kamu."
Aleeya tersenyum mendengar ucapan dari pamannya tersebut. Namun, Aleena menatapnya sendu.
"Baba pernah berkata seperti itu, tetapi Baba hampir saja mengingkari ucapannya sendiri."
Mereka bertiga masih setia menemani Aleesa. Akhirnya Aleesa selesai lomba mewarnai dan terlihat wajah lelahnya.
"Minum dulu."
Riana memberikan air mineral kepada keponakannya tersebut. Air dalam botol itupun habis tak tersisa.
"Kira-kira ... Kakak Sa menang gak ya?" tanyanya pada Riana.
"Lukisan Kakak Sa 'kan bagus. Pasti menang," ucap Riana seraya mengusap keringat di dahi keponakannya tersebut.
"Kalaupun tidak menang, tetapi Kakak Sa udah berani ikut lomba seperti ini," timpal Aksa.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aleesa. Dia ikut lomba ini karena hadiah yang sangat besar. Setelah dua jam menunggu dan mereka pun sudah selesai makan malam di restoran cepat saji. Mereka kembali ke tempat acara dan akan diumumkan siapa yang menjadi pemenangnya.
Dada Aleesa sudah bergemuruh sangat kencang. Dia sangat berharap dia akan menjadi juara umum dan mendapatkan uang sebesar sepuluh juta rupiah.
Pengumuman juara sudah berlangsung. Dari juara ketiga hingga pertama tidak ada nama Aleesa sama sekali. Kecil sudah harapan Aleesa kali ini. Dia menunduk sedih dan mulai beranjak dari duduknya.
"Uncle, ayo pulang!"
Aksa terkejut dengan ajakan Aleesa. Begitu juga dengan Riana dan dua saudaranya.
"'Kan belum selesai Kakak Sa," ujar Riana.
"Kakak Sa tidak akan menang."
Suara Aleesa terdengar sangat lirih. Kedua saudaranya sudah memeluk tubuh Aleesa dengan sangat erat. Aksa dan Riana saling tatap. Mereka tahu bahwa keponakannya ini kecewa sekaligus sedih.
"Ya udah, kita pulang." Aksa pun tidak ingin membuat keponakannya semakin bersedih.
Riana sudah meraih tangan Aleesa begitu juga dengan Riana. Baru beberapa langkah mereka menjauhi arena lomba nama Aleesa dipanggil.
"Aleesa Addhitama ... sebagai juara umum."
Tubuh Aleesa pun menegang sedangkan Aksa dan Riana sudah tersenyum bahagia.
"Kakak Sa," sebut om dan tantenya.
Aleesa pun terharu dan sudah berkaca-kaca. Dia segera berlari menuju panggung juara. Aksa dan Riana sangat bangga akan prestasi yang diraih oleh keponakannya tersebut. Tak lupa Aksa mengabadikan momen mwmbanggakan Aleesa. Namun, Riana seketika memanyunkan bibirnya ketika melihat para wanita menatap Aksa dengan tatapan berbeda. Setelah puas memotret sang keponakan Aksa pun menghampiri istrinya yang sudah menekuk wajahnya.
"Senang banget romannya," cibir Riana. Dahi Aksa mengkerut tidak mengerti dengan ucapan sang istri. Bukannya wajar jika dia itu bahagia karena keponakannya sudah memenangkan juara umum lomba melukis.
"Kamu kenapa sih?" tanya Aksa. "Keponakan kita menang juara umum masa iya gak senang," lanjutnya lagi.
"Ih, Uncle mah gak peka!" seru Aleena.
Lagi-lagi dahi Aksa mengernyit. Aleeya mendekat ke arah omnya itu. Bocah itu menyuruh Aksa untuk menurunkan tubuhnya agar sejajar dengannya.
"Aunty itu gak suka Uncle dilihatin sama banyak wanita."
Aksa pun terkekeh mendengar ucapan dari Aleeya. Dia mencubit gemas pipi sang istri dengan gemas.
"Tidak ada wanita yang lebih cantik dari kamu, Sayang." Aksa menghampiri istrinya kemudian merangkul pundak Riana. Aksa mengecup pipi Riana di depan umum membuat para wanita yang melihatnya menjerit perih di dalam hati.
Aleesa turun dengan bangganya dan membawa piala serta amplop putih yang berisi uang tunai.
"Kakak Na, Dedek!" panggil Aleesa.
"Yeay! Akhirnya menang," teriak Aleeya juga Aleena.
Aleesa yang menang, mereka yang bersorak gembira.
"Keponakan Uncle hebat," puji Aksa sambil mengusap lembut rambut Aleesa.
"Makasih, Uncle. Makasih, Aunty, sudah mau menemani Kakak Sa untuk lomba."
"Sama-sama, Sayang." Riana ikut bahagia dengan pencapaian prestasi keponakannya.
Mereka berlima pun keluar dari mall tersebut. Aleesa memberanikan diri membuka suara ketika Aksa menghidupkan mesin mobil.
"Uncle, bisa antar Kakak Sa ke rumah sakit?"
"Rumah sakit?"
...****************...
__ADS_1
Komen dong ....