
Di Kota yang berbeda, sepasang suami istri belum juga menampakkan dirinya kepada orang rumah. Ayanda sedikit khawatir karena anak dan menantunya belum juga keluar kamar sedari pagi.
Ingin rasanya Ayanda mengetuk pintu kamar, tetapi dia takut mengganggu kegiaymtan lepas rindu antara anak dan menantunya. Bagaimana pun dia pernah merasakan seperti Aksa dan Riana sekarang ini. Sudah pasti Aksa tidak akan memperbolehkan Riana untuk keluar kamar.
Di dalam kamar, dua insan manusia terus menyelami kenikmatan karena kerinduan yang tiada terkira. Peluh dan letih tak mereka hiraukan, yang mereka lakukan hanya melepas rindu dengan saling menyatukan cinta mereka dalam bentuk bercocok tanam.
Berkali-kali Riana mendesahh dan Aksa semakin semangat untuk terus membuat istrinya berteriak nikmat.
"Abang!"
Ketika Riana berteriak Aksa semakin mempercepat lajunya. Hingga dia pun ikut mengerang. Napas mereka tidak teratur. Sudah tidak terhitung berapa kali mereka melakukannya. Perut yang lapar seakan tidak mereka hiraukan. Mereka terus menghilangkan dahaganya dengan terus berpacu dalam kenikmatan.
Lingerie yang Aksa berikan sudah robek bagai dicakar harimau. Sungguh garang sekali Aksara ini. Tubuh istrinya pun sudah penuh dengan mawar merah.
Senja sudah mulai menampakkan dirinya. Kedua manusia ini masih terus berpacu hingga garis Finish. Teriakan untuk kesekian kalinya terdengar. Bertanda mereka mencapai puncak secara bersamaan.
Giondra yang tidak biasanya pulang cepat, hari ini sengaja pulang lebih awal karena dia ingin menikmati makan malam bersama anak dan menantunya. Keluarga putri sulungnya pun akan datang ke rumahnya.
Dahi Gio mengkerut ketika melihat istrinya nampak gelisah. Padahal, makanan sudah tersedia di meja makan masakan dari Chef ternama.
"Mom, ada apa?" tanya Gio.
Ayanda mengajak duduk suaminya. Dia menatap cemas ke arah Giondra.
"Anak dan menantu kita belum keluar kamar sedari pagi," ujarnya.
Giondra malah tertawa dan mencubit gemas pipi istrinya. "Kenapa harus cemas? Mereka tengah berusaha memproduksi cucu untuk kita."
Ayanda menatap jengah ke arah suaminya. Suami dan putra pertamanya sama saja. Semoga saja putra keduanya tidak semaniak itu.
Keluarga kecil Echa sudah datang, suasana rumah sangat riuh karena kehadiran si triplets. Gelak tawa tercipta karena tingkah menggemaskannya.
"Uncle mana?" tanya Aleesa.
"Masih di kamar," jawab sang Mimo.
"Panggil gih," titah Gio.
Mereka bertiga akan semangat jika diperintah untuk mengganggu dua insan manusia yang tengah melepas rindu. Untung saja kamar Aksara dikunci dari dalam. Mereka hanya menggedor-gedor dari luar.
Aksa yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya segera membukakan pintu.
"Cepat turun!" titah mereka bertiga.
"Hem."
Aksa menutup pintu kamar kembali. Riana berjalan seperti pinguin karena penggarapan yang Aksa lakukan sangatlah memabukkan. Membuatnya ingin lagi dan lagi hingga berakhir seperti ini.
__ADS_1
"Makanannya Abang bawain aja, ya." Riana menggeleng.
Aksa tersenyum dan mengecup kening istrinya. Jika, sudah berdekatan dengan sang istri dia tidak akan pernah bisa membendung hasratnya. Apalagi, sudah sembilan hari dia berpuasa. Meskipun, Aksa pernah meminta Riana untuk memuaskannya melalui sambungan video, tetapi laharnya tidak dapat keluar. Berbeda jika secara langsung. Semuanya akan dimuntahkan dan membasahi ladang garapan.
Semua orang sudah menunggu pengantin baru ini. Mata mereka memicing ketika melihat Riana jalan tidak seperti biasanya. Tangannya pun merangkul manja Aksa.
Gio dan Radit hanya mengulum senyum. Ayanda dan Echa menatap tajam ke arah Aksa, sedangkan si triplets menatap bingung ke arah Riana.
"Aunty kenapa seperti pinguin jalannya?" tanya Aleeya.
Sontak semua orang tertawa, sedangkan wajah Riana sudah memerah.
"Udah yuk, makan. Aunty lagi kurang enak badan." Ayanda mulai mengalihkan perhatian si triplets.
Aksa membantu Riana untuk duduk, dia juga tidak mengijinkan Riana untuk mengambilkan makanan untuknya.
"Abang bisa ambil sendiri," ujarnya.
Ketika Aksa ingin mengembalikan makanan untuk Riana, dia menggeleng.
"Makan berdua aja, suapin."
Echa yang masih memandang adiknya hanya tersenyum lebar. Riana sama seperti dirinya. Manja hanya pada suami tercinta.
Aksa mengikuti ucapan Riana. Dia mengambil porsi lebih banyak. Menyuapi istrinya terlebih dahulu sebelum dirinya. Suapan pertama masih enak. Suapan kedua pun sama. Disuapan ketiga perutnya terasa diaduk-aduk. Dia mencoba untuk menahannya, tetapi rasa mual itu semakin menjadi. Dia segera berlari ke arah kamar mandi dapur untuk memuntahkan isi perutnya. Aksa terkejut begitu juga dengan yang lainnya. Mereka menyusul Riana dan terdengar suara Riana yang tengah mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.
Aksa memijat tengkuk Riana dengan lembut. Dia juga tidak merasa jijik melihat apa yang Riana muntahkan.
"Udah?" tanya Aksa.
Dia mengusap keringat yang membanjiri kening Riana. "Kamu kenapa, Sayang?" Riana hanya menggeleng.
Di luar kamar mandi, wajah dua orang wanita sudah berbinar. Senyum sudah melengkung di wajah mereka.
"Dad, telepon dokter kandungan." Ayanda sudah sangat antusias sekali.
Riana masih menyandarkan tubuhnya di tubuh Aksa. Tangan Aksa mengusap lembut wajah Riana yang berkeringat dingin.
"Lemas," ucap lemah Riana.
Aksa segera menggendong tubuh Riana. Ketika keluar dari kamar mandi Aksa melihat senyum anggota keluarganya merekah.
"Di perut Aunty, ada Dedek bayinya," ucap bahagia Aleeya.
Dahi Aksa mengkerut mendengarnya. Dia menatap ke arah sang istri yang tidak memberikan respon apapun.
"Apa benar?" gumam Aksa dalam hati.
__ADS_1
Aksa lebih memilih membawa istrinya ke dalam kamar. Dibaringkannya tubuh Riana yang terlihat sangat lemah tak berdaya.
"Mommy buatkan teh hangat dulu, ya." Ayanda terlihat sangat bahagia.
Echa duduk di tepian tempat tidur. Dia memijat kaki sang adik. "Hanya mual?" tanya Echa kepada Riana. Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban.
Aleesa menyentuh perut Riana, dahinya mengkerut. Aleesa hanya menggedikkan bahunya dan menjauh.
"Nih Sayang, minum dulu teh hangatnya," imbuh Ayanda.
Aksa meraih teh hangat yang Ayanda buatkan. Dia membantu istrinya untuk duduk. Menyendokkan teh hangat ke arah mulut istrinya.
Baru dua sendok, Riana sudah menggeleng. Perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi
"Sayang, kita ke dokter, ya." Aksa benar-benar mencemaskan Riana.
"Daddy sudah memanggil dokter, sebentar lagi akan sampai," imbuh Gio.
Aksa terus mengusap lembut kepala Riana. Wajah pucatnya membuat hati Aksa teriris.
"Masih mual?" tanya Aksa.
Riana menggeleng, Aleena dan Aleeya terlihat sangat antusias. Berbeda dengan Aleesa yang memilih untuk pergi dari kamar Riana.
Tak lama berselang, dokter perempuan datang. Gio membawanya ke kamar sang putra. Semua orang mundur, membiarkan dokter memeriksa Riana. Aksa terus menggenggam tangan Riana.
"Saya periksa dulu, ya."
Dokter memeriksa tubuh Riana. Ayanda dan Echa terus bergenggaman tangan dengan lengkungan senyum.
"Hanya mual?" tanya dokter.
"Perut kadang sakit," jawab Riana.
Dokter tersenyum dan menutup kembali perut Riana. Di luar kamar sang paman, Aleesa bersandar di dinding dengan tangan yang dia lipat di atas perut. Radit yang baru akan masuk ke kamar Riana mengerutkan dahinya ketika melihat Aleesa berada di luar kamar.
"Kenapa di sini?" tanya Radit.
Aleesa menatap ke arah ayahnya, tetapi dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Radit.
"Nanti Kakak Sa ketinggalan berita tentang Aunty loh," ujarnya.
"There's nothing special."
...****************...
Komen atuh lah ...
__ADS_1