
Sebenarnya, Aksa meninggalkan keluarganya di ruang konferensi pers yang diadakan Mahendra. Lebih memilih menemui Riana, pujaan hatinya.
Dia menyaksikan bagaimana Ziva menangis keras, Sarah yang memohon ampun hingga bersimpuh di hadapan Genta Wiguna dan Mahendra yang diam seribu bahasa. Juga Brandon yang hanya menunduk dalam.
Aksa mulai jengah, mereka semua bagai aktris antagonis di sinetron-sinetron. Air mata buaya serta ucapan yang tidak sesuai dengan hatinya. Sungguh memuakkan.
"Lebih baik kita tinggalkan tempat ini. Penipuan, pemalsuan dokumen, pencemaran nama baik serta percobaan pembunuhan juga tindakan kriminal akan menjerat mereka semua. Abang yakin, sepuluh pengacara pun tidak mampu membebaskan mereka," ujar Aksa.
"Aksa, aku mohon," ucap Ziva.
"Jangan pernah mendekat! Atau aku tak segan membunuhmu dan bayimu," sergah Aksa, ketika kaki Ziva mulai melangkah ke arahnya.
Sedangkan Echa masih menangis sambil memeluk tubuh Giondra. Meluapkan segala kesedihannya. Hangatnya dekapan Giondra selalu membuatnya merasa terlindungi.
"Sabar, Sayang. Papa pastikan mereka tidak akan pernah keluar dari jeruji besi," ucap Gio penuh emosi
"Gi, aku mohon. Putriku tengah hamil. Aku tidak mau dia melahirkan di dalam penjara," imbuh Sarah.
Pelukan Gio terhadap Echa diurainya. Dia menatap nyalang ke arah Sarah.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin putrimu melahirkan di dalam penjara, aku akan membuat anak di dalam rahim putrimu lenyap. Begitu juga dengan rahimnya." Mata Sarah membola mendengar ucapan Gio.
"Masih ingat 'kan kalimat yang sering aku ucapkan. Nyawa harus dibayar dengan nyawa," tegasnya.
Tubuh Ziva bergetar, kilat mata Gio terlihat penuh api membara. Refleks kedua tangannya memeluk perutnya.
"Ja-jangan Om. A-aku gak mau kehilangan anakku. A-aku gak sengaja do-dorong Kak Echa. K-kak Echanya yang duluan tampar aku," jelasnya.
"Kamu dengar sendiri 'kan Gi. Anak tirimu itu yang mulai duluan," hardik Sarah.
Plak!
Tamparan cukup keras mendarat di pipi Sarah. Semua orang terkejut, baru kali ini Gio bersikap tempramental kepada seorang wanita.
"Anakku tidak akan menyerang orang lain, jika orang itu tidak memancing emosinya! Jangan pernah menyebut Echa sebagai anak tiriku!" bentaknya.
"Dia adalah putriku. Lahir dari rahim istriku. Dia putri kesayanganku. Jika, ada yang mencoba mencelakai dia. Nyawa orang itu yang akan menjadi bayarannya." Gio selalu berada di garda terdepan untuk melindungi Echa.
Sikap Gio yang terlihat pilih kasih tidak membuat si kembar iri. Mereka malah belajar dari sikap sang Daddy, bahwa wanita itu perlu dilindungi. Sekuat-kuatnya wanita mereka tetaplah makhluk yang lemah. Bukannya membenci, mereka berdua malah sangat menyayangi sang kakak. Wanita yang berbeda dari wanita lain.
****
Setelah Aksa mengucapkan kata manis kepada Riana, dia melajukan mobil menuju rumah sakit. Bohong, jika Aksa tidak merasa takut. Namun, dia mencoba untuk percaya pada Riana. Riana mampu menjaga hatinya.
Tibanya di sana, dilihatnya sang kakak sudah terlelap. Namun, empat pria yang berada di sana masih berbicara serius.
"Berhasil?" tanya Aska.
"Lawan sudah di kandang," sahut Aksa seraya mendudukkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
"Lebih baik kita lamar sekarang. Mumpung semuanya kumpul," ujar Genta. Namun, Aksa menolak ide tersebut.
"Abang akan ikuti peraturan yang Ayah dan Kakak buat," terang Aksa.
"Peraturan?" ulang Aska.
"Jawaban kepada hati siapa Riana berlabuh akan terkuak dua sampai tiga tahun ke depan. Kakak dan Ayah meminta Riana menyelesaikan kuliahnya dulu. Kemudian, bekerja karena ada satu cita-cita yang ingin Riana raih," ungkapnya.
"Pertanyaan Daddy, apa kamu sanggup?" Mimik serius terlihat dari wajah Gio.
"Abang sanggup, hanya saja Abang tidak yakin dengan hati Riana. Terlebih, restu Ayah belum Abang dapat. Berbeda dengan saingan Abang, yang sudah lebih dulu mendapat restu dari Ayah," jawabnya.
"Kakek yakin, Riana adalah wanita setia. Bisa menjaga hatinya, di manapun dia berada." Aksa tersenyum mendengar ucapan Genta. Seakan ada asupan oksigen ke paru-parunya yang terasa sesak.
Di lain tempat, Arka dan Riana sengaja Rion tinggalkan berdua di ruang tamu. Hanya keheningan yang tercipta. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap.
"Ri, apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.
Justru kehadiran kamu membuat hatiku tidak baik-baik saja.
Ingin rasanya Riana berkata seperti itu. Namun, dia tidak bisa berkata kasar kepada siapapun.
"Kamu mau, ya. Tinggal di rumah aku untuk sementara waktu. Aku khawatir, kamu pasti akan dikejar-kejar oleh media." Arka berbicara dengan nada penuh kecemasan.
"Maaf, Arka. Aku tidak bisa. Jika, aku dikejar-kejar oleh wartawan dan dihujat oleh para mahasiswa yang lainnya, akan aku terima. Itulah dampak dari pemberitaan itu, yang jelas pemberitaan itu tidak benar. Mereka tidak percaya tidak masalah. Aku tidak butuh mereka percaya, yang mengetahui diriku, ya aku sendiri," tukasnya.
"Kak, bantu Iyan kerjain PR." Suara Iyan menghentikan ucapan Arka.
"Sebentar, ya." Iyan mengangguk.
"Iyan tunggu di sini," ucap Iyan yang masih berdiri di ruang tamu.
Arka merasa adik dan keponakan Riana tidak menyukainya. Dia menghembuskan napas kasar sebelum pamit pulang.
"Kapan kamu kembali ke Jogja?" Riana menggeleng.
"Belum tahu." Lagi-lagi jawaban yang sangat singkat.
Apa sekarang aku harus menyerah? Bersama pria tadi Riana terlihat bahagia. Sedangkan bersamaku ....
"Ya sudah, aku pulang dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam," jawab Iyan dan Riana.
Keesokan siangnya, Echa sudah diperbolehkan pulang. Kediaman Echa sangat ramai karena seluruh keluarga berkumpul di sana. Mata Riana terus mencari satu sosok yang belum hadir.
"Cari siapa, Ri?" tanya Gio.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Riana, hanya seulas senyum yang dia berikan.
"Abang sedang Kakek tugaskan untuk mengecek perusahaan yang ada di luar Kota," tukas Genta, yang seakan tahu hati Riana.
Sorot mata kecewa nampak sekali di wajah Riana. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama Aksa setengah hari ini. Sore, dia harus bertolak ke Jogja. Lusa, di harus melakukan sidang skripsi.
Ketika semua orang tertawa gembira, hanya Riana yang terdiam membisu. Matanya terus menatap ke layar ponsel. Berharap Aksa menghubungi. Namun, hingga waktunya tiba Riana bertolak ke Jogja. Aksa tidak pernah muncul.
"Kenapa selalu seperti ini? Kamu sungguh-sungguh atau tidak denganku?" gumamnya.
Riana masih betah duduk di samping tempat tidur. Mengecek pesan yang dia kirim kepada Aksa hanya ceklis satu. Hembusan napas berat pun terdengar.
"Riana."
Echa tersenyum ke arah sang adik dan duduk di sampingnya.
"Kakak sudah menyiapkan kost-an yang baru untuk kamu. Suasana baru dan lingkungan baru. Di kost-an itu ada teman Kakak, Rani. Jadi, kamu bisa tinggal bersama dengannya agar tidak kesepian," imbuhnya.
"Teman Kakak udah bekerja?" tanya Riana.
"Sudah, dia bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang lumayan besar juga. Namun, untuk masuk ke perusahaan itu tidaklah mudah. Bukan hanya keterampilan, tetapi kecerdasan pun diutamakan," terang Echa.
"Posisi yang paling banyak diincar adalah sekretaris direktur utama. Apalagi posisi itu sudah lama kosong. Direktur utamanya itu sangat selektif dalam memilih sekretaris. Mungkin setelah selesai kuliah kamu bisa melamar ke tempat Rani bekerja. Siapa tahu kamu bisa menjadi sekretaris direktur utama. Seperti impian kamu," kata Echa.
Riana tersenyum ke arah Echa dan memeluk tubuh Echa dengan sangat erat. "Makasih, Kakak selalu memberikan yang terbaik untuk Ri. Selalu mendukung Ri dalam hal apapun. Makasih selalu ada untuk Ri. Menjadi ibu untuk Ri dan Iyan," ucapnya tulus.
"Sudah kewajiban Kakak, Ri. Ingat, kamu harus fokus kepada kuliah kamu dulu. Bekerja dulu baru memikirkan tentang pria. Buktikan pada semua orang jika kamu mampu," tuturnya.
"Iya, Kak."
Riana hanya diantar oleh Rion, Iyan dan juga Radit. Riana memeluk pria kesayangannya satu per satu.
"Ri, sayang Ayah." Hanya kata itu yang Riana katakan pada Rion.
"Bang, jaga Kakak dan juga keponakan Ri, ya." Radit tersenyum dan mengangguk pelan.
"Jangan nakal, nurut sama Ayah, Abang dan Kakak." Iyan mengeratkan pelukannya kepada Riana.
"Ri, pergi dulu."
Menuju pintu keberangkatan, Riana berharap Aksa akan datang dengan napasnya terengah-engah. Seperti di film Ada Apa Dengan Cinta. Namun, itu semua hanya mimpi belaka. Berkali-kali Riana menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di sana.
Riana masuk ke dalam pesawat kelas bisnis. Echa akan memberikan yang terbaik untuk sang adik. Dia memilih untuk duduk di samping jendela. Agar bisa menikmati awan cerah dan awan gelap seperti hatinya yang sedang tak menentu.
Kecupan di ujung kepala membuat Riana yang tengah melamun sambil menatap kosong ke arah jendela pesawat tersentak. Senyum yang meneduhkan, sorot mata yang penuh cinta ditunjukkan oleh pria berpakaian santai dengan topi di kepalanya.
"Abang akan mengantarmu," ucapnya dengan senyum yang terus merekah bagai bunga di musim semi.
...****************...
__ADS_1
Senyum gak baca dialog akhirnya?