
Sudah waktunya Aska pergi meninggalkan rumah sederhana itu. Sedari tadi dia hanya menggendong tubuh kecil Gavin. Menciumi wajah keponakannya dengan penuh cinta.
"Jangan nakal ya, Empin. Jangan buat Mommy darah tinggi," kelakar Aska. Semua orang pun tersenyum mendengarnya. "Ingat ya, kalau daddy kamu ngomelin kamu, kamu datang aja ke uncle. Nanti uncle marahin balik Daddy kamu."
Lagi-lagi mereka tertawa. Inilah yang akan mereka rindukan pada sosok Ghattan Askara Wiguna. Selalu mencoba ceria di balik pilu yang tengah dia rasakan.
"Kita berangkat." Aska mengangguk pelan. Dia memberikan Gavin kepada Riana dan dia terus mencium pipi Gavin untuk ke sekian kalinya. Dia juga mengambil gambar Gavin untuk pelipur lara dan rindunya ketika berada di negeri orang.
"Jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan." Pesan dari sang ibu yang pada nyatanya tidak ingin berpisah dengan putra bungsunya. Namun, dia juga tidak bisa melarang anaknya yang ingin belajar jadi pengusaha.
"Hindari alkohol, jangan banyak ngerokok." Pesan berturut-turut yang Ayanda berikan dan hanya dijawab dengan sebuah anggukan disertai senyuman.
Aska hanya memandang wajah kembarannya tanpa mengucapkan satu kata pun. Dia menghampiri Aksa dan memeluk tubuh Aksara.
"Jaga Mommy, Kakak dan tiga keponakan kita selama gua gak ada." Pesan yang selalu mereka berdua berikan secara bergantian ketika di antara mereka ada yang akan pergi jauh.
"Tanpa lu minta gua pasti jaga mereka."
Jawaban yang membuat Aska terdiam dan hanya mengangguk pelan. Sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan keluarganya. Namun, ada dua misi yang tengah dia jalankan. Belajar jadi pengusaha juga belajar mengikhlaskan seorang wanita.
"Jagain ponakan ganteng gua. Jangan lu omel-omelin!" Peringatan keras dari Askara untuk Riana.
"Masih bayi gimana ngomelinnya, Kak," sahut Riana dengan sedikit terkekeh.
Aska berpikir sejenak, apa yang dikatakan oleh kakak iparnya memang benar. Dia saja yang terlalu hiperbola. Setelah pelukan perpisahan kepada semua anggota keluarganya juga melalui sambungan video call dengan keluarganya yang berada di Indonesia, sudah waktunya Aska berangkat diantar oleh Gio dan ditemani Remon.
"Kamu yakin gak mau pakai pesawat pribadi?" Aska menggeleng dengan cepat.
"Kalau Daddy gak mau naik pesawat komersil, Adek gak apa-apa sendirian juga."
Beginilah putra bungsu dari Giondra yang selalu ingin merakyat. Tidak ingin menunjukkan siapa keluarganya. Dia sadar diri yang kaya dan memiliki harta berlimpah itu orang tuanya, bukan dirinya.
Di Bandara, seorang wanita sudah menunggu seseorang dari jam setengah enam pagi waktu setempat. Dia terus memandangi orang-orang yang baru saja turun dari mobil.
"Jam berapa dia berangkat?"
Sekarang sudah jam tujuh pagi lewat sedikit, dia masih betah berdiri di depan pintu masuk Bandara. Matanya melebar ketika dia melihat seorang pria yang baru turun dari mobil mewah. Diikuti dua pria paruh baya yang tak kalah berkharisma.
"Apa itu ayahnya?"
Dari segi berpakaian juga sikap, pria yang tengah masuk ke dalam Bandara itu sudah berubah drastis. Hampir dua bulan tidak bertemu membuat dia seperti melihat orang asing. Dari segi bicaranya pun sangat dingin. Hanya keseriusan yang dia utarakan.
__ADS_1
"Bang, kamu mau ke mana?"
Jingga tahu, Aska akan pergi. Namun, Aska tidak menanyakan ke mana Aska akan pergi. Aska lebih dahulu meninggalakan Jingga ketika kecupan terakhir yang Aska berikan di keningnya.
"Maaf Jingga, aku harus pergi. Meninggalkan kamu untuk menyembuhkan luka yang sudah kamu torehkan."
Kejadian itu membuat Jingga tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Dia benar-benar takut.
"*Abang mau ke mana?"
Langkah Aska terhenti ketika Jingga bertanya dengan nada yang sangat berat. Dia menoleh dan berkata, "kamu tidak perlu tahu aku mau ke mana. Aku akan berangkat lusa pagi*."
Kalimat itulah yang membuat Jingga segera menuju Bandara demi melihat Aska untuk terakhir kalinya.
Jingga masih mengikuti langkah Aska juga kedua pria paruh baya itu. Hatinya sakit dan ujung matanya sudah berair.
Langkah Aska terhenti ketika dia merasa sangat dekat dengan Jingga. Tindakannya itu membuat ayah juga tangan kanan ayahnya ikut berhenti sejenak.
"Dad, Adek ke toilet dulu, ya."
Gio mengangguk dan menunjuk ke sebuah tempat di mana dia dan Remon akan menunggu Aska. Kaki Aska berbelok arah menuju toilet.
"Apa kamu ada di sini?"
"Jangan pergi!"
Tubuh wanita itu pun mendekat ke arah punggung Aska dan tangannya melingkar di pinggang Aska.
"Jangan tinggalin aku," lirihnya.
Aska masih bergeming. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan Jingga. Namun, tubuhnya seolah menolak perlakuan Jingga.
"Apa gua harus menerima bekasan dari sahabat gua? Dia yang mencicipi gua yang musti tanggung jawab?"
Kalimat itu yang ada di dalam hati Aska. Dia mulai berpikir jernih. Mengkaji ulang apa yang telah terjadi kepadanya. Apa yang salah pada dirinya? Dan ketika cinta mendominasi, apa logika harus dikesampingkan?
Tangan Aska meraih tangan Jingga yang ada di pinggangnya. Dia menurunkan kedua tangan itu dan mulai membalikkan tubuhnya.
"Permintaan kamu tidak akan membuat keputusanku untuk pergi menjadi batal. Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuaku. Menjadi orang hebat sesuai dengan keinginan ayahku."
Sejenak Jingga terdiam. Dia berpikir keras dan dia dapat menyimpulkan bahwa kedua orang tua Aska tidak menyetujuinya.
__ADS_1
"Apa Abang tidak mau meyakinkan kedua orang tua Abang?" Jingga menatap serius ke arah Aska.
"Meyakinkan apa?" sergahnya. "Bahwa aku mencintai istri orang."
Sakit sekali rasanya ketika mendengar Aska mengatakan hal tersebut. Aska yang Jingga kenal sudah sangat berubah drastis.
"Bahagialah dengan suami kamu. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan aku juga." Aska tersenyum ke arah Jingga seraya mengusap lembut pipi Jingga yang terlihat chubby.
"Aku pergi, aku sudah ditunggu Daddy."
Aska sudah membalikkan tubuhnya, tetapi Jingga malah mencekal tangan Aska. Helaan napas berat pun keluar dari mulut Aska. Dia pun menoleh dan Jingga segera menyambar bibir Aska dengan cepat membuat Aska melebarkan mata tak percaya.
Bibir itu memberikan kehangatan untuk Aska. Awalnya pasif, kini Aska mulai mengikuti apa yang dilakukan Jingga. Terlebih kedua tangan Jingga sudah merangkul leher Aska. Tangan Aska pun merengkuh pinggang agar semakin mendekat.
Permainan itu cukup lama hingga mereka berdua menjauhkan wajah mereka dengan napas yang tak teratur. Mata mereka saling bertemu dengan penuh gairah juga cinta yang tak bisa mereka bendung.
"I love you, Bang As."
Bibir itu pun kembali beradu dengan bibir Aska, tetapi Aska segera menghindar dan menggelengkan kepala. Ada rasa kecewa dari sorot mata Jingga.
"Aku tidak ingin kamu merendahkan harga diri kamu demi membuat aku kembali."
Jleb.
Kalimat Aska mampu menusuk ke hati paling dalam. Jingga hanya terdiam.
"Pada nyatanya, aku masih mencintai kamu, masih belum bisa melupakan kamu." Mata mereka berdua pun terkunci. "Namun, ada dinding besar yang memisahkan kita." Jingga kini menunduk, dia juga sadar siapa dia sekarang.
"Biarkanlah waktu yang mempertemukan kita kembali. Biarlah semesta yang menyatukan cinta kita kembali. Jika, kamu jodohku ... Tuhan pasti akan mendekatkan kita lagi dengan cara yang tidak pernah kita sangka."
Tangan Aska menangkup wajah Jingga dan menyuruh Jingga menatap wajahnya.
"Jangan pernah merendahkan diri kamu seperti ini lagi, ya. Cukup kepada aku aja." Seulas senyum Aska berikan kepada Jingga. Tanpa Jingga duga, kini Askalah uang membubuhkan kecupan hangat nan memabukkan yang tidak akan bisa Jingga lupakan.
"Kita percayakan semuanya pada Tuhan. Jika, kamu adalah jodoh aku pasti akan Tuhan dekatkan, tapi jika kita tidak berjodoh pasti Tuhan akan menjauhkan."
"Aku berharap Bang As adalah jodoh aku." Aska mengaminkan ucapan Jingga dalam hati. Dia menarik tangan Jingga dan memeluk tubuhnya.
"Aku pun berharap yang sama."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...