
Kepergian Ziva membuat keluarga Aksa dan Riana tenang. Namun, keluarga mereka kini tengah direpotkan dengan tingkah aktif Gavin Agha Wiguna yang sudah memasuki usia hampir dua tahun. Balita tampan itu menjelma menjadi anak yang sangat aktif dan pandai berbicara. Seperti pagi ini, ibunya hanya meninggalkan Gavin ke kamar mandi. Ketika Riana keluar dari kamar mandi, putranya sudah tidak ada di kamar.
"Empin!" Riana memanggil nama putranya, tetapi balita itu tak kunjung menjawab panggilan dari sang ibu.
Riana mencari ke segala ruangan dan kepalanya menggeleng ketika sang putra tengah asyik duduk depan lemari pendingin yang terbuka. Di lantai berserakan makanan kesukaannya.
"Mommy bilangin Daddy ya, makan cokelat terus." Ancaman Riana membuat Gavin melebarkan mata.
"No! No! No!"
Riana sudah mengeluarkan ponselnya dan hendak merekam kegiatan sang putra. Gavin segera meletakkan kembali cokelat juga chiki-chikian yang sudah dia keluarkan dari lemari pendingin.
"Ampun, My." Wajah Gavin sudah sangat memelas membuat Riana mengulum senyum.
"Empin ingat ucapan Mommy dan Daddy?" Gavin mengangguk. "Apa?" tanya Riana.
"Talo ... mau totlat, biyang duyu tama Mommy atau Daddy." Ada ketakutan yang Gavin rasakan. Padahal, ibunya tidak memasang wajah garang.
"Anak pintar." Riana mengusap lembut puncak kepala putranya.
Begitulah kegiatan sehari-hari Riana dalam menjaga Gavin. Ketika malam datang, Gavin akan selalu menunggu sang ayah di teras depan. Mobil berwarna hitam sudah masuk ke halaman dan Gavin berteriak kegirangan.
"Daddy!"
Aksa tersenyum ketika melihat putranya yang sudah berlari menghampirinya. Namun, tubuh kecil itu terjatuh membuat Aksa segera menghampirinya.
"Jagoan, gak boleh nangis," ucap Aksa. Padahal, Aksa tahu lutut Gavin sedikit lecet dan mengeluarkan sedikit darah.
"D-dak bo-yeh na-nis."
Aksa mengangguk dan mengusap lembut rambut sang Putra. "Anak laki-laki harus jadi pelindung untuk Mommy." Gavin mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Aksa tahu putranya ini tengah menahan perih. Namun, dia tidak akan mengajarkan kemanjaan kepada putranya ini. Gavin adalah laki-laki, dia harus menjadi anak yang kuat agar bisa melindungi ibu dan juga adik-adiknya kelak.
Aksa masuk ke dalam rumah dengan menggendong tubuh Gavin. Riana mengerutkan dahi ketika melihat raut wajah putranya berbeda. Dia menatap ke arah sang suami. Mata Aksa menunjuk ke arah lutut Gavin dan Riana hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Mommy bersihin ya lukanya," ucap Riana.
"No! Ini dak tatit," tolak Gavin dengan suara yang bergetar. Aksa hanya mengulum senyum dan mencium pelipis Gavin.
"Walaupun gak sakit harus tetap dibersihin, Nak. Biar gak infeksi," terang Riana.
Lagi-lagi Gavin menolak dan dia menatap ke arah sang ayah seperti tengah meminta bantuan.
"Biar sama Daddy aja dibersihinnya." Riana mengangguk pelan dan dia terus menatap punggung Aksa yang membawa Gavin ke kamar milik putranya tersebut.
Aksa meletakkan Gavin di atas tempat tidurnya. Kemudian, dia mengambil alat p3k yang ada di kamar sang putra. Aksa berlutut di hadapan sang putra dengan tangan yang memegang kasa.
"Aw!" ringis Gavin. Aksa menatap ke arah sang putra dan Gavin mencoba untuk menutup mulutnya agar tak mengeluarkan ringisan, sesakit apapun yang dia rasakan.
"Sudah selesai." Aksa menutup kotak p3k tersebut dan meletakkan ke tempat semula.
Dia menghampiri Gavin yang tengah memandang luka dilututnya. "Jujur sama Daddy, tadi sakit gak pas dibersihin lukanya."
Balita tampan itu menoleh ke arah sang ayah yang sudah berada di sampingnya dan juga tengah mengusap lembut kepalanya. Gavin tidak mengeluarkan suara, dia hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan Aksa pun tersenyum.
"Empin adalah anak laki-laki. Laki-laki itu gak boleh manja, gak boleh cengeng dan harus selalu terlihat kuat di depan semua orang." Aksa menjeda ucapannya, lalu menggenggam tangan kecil putranya. "Sesakit apapun Empin, jangan pernah tunjukkan rasa sakit itu kepada siapapun. Terutama, Mommy."
Dahi Gavin mengkerut ketika mendengar Mommy-nya disebut. "Kenapa? Mommy adalah wanita yang berhati lembut. Ketika mendengar Empin terluka, Mommy adalah orang pertama yang akan sedih mendengarnya. Jadi, katakan segala ketakutan dan kesedihan Empin hanya kepada Daddy dan ceritakan segala kebahagiaan Empin kepada Mommy." Aksa menatap wajah putra yang sangat mirip dengannya itu. "Empin paham?" Balita itupun mengangguk.
Gavin Agha Wiguna, dididik berbeda oleh kedua orang tuanya. Cara mendidik Gavin yang dilakukan oleh Aksa dan Riana tidak dengan keras. Namun, dengan cara seperti ini. Memberikan pengertian dan penjelasan yang mudah agar Gavin dapat mencerna dan mengingat apa yang diucapkan oleh kedua orang tuanya.
Riana yang sedari tadi mengintip dari balik pintu menitikan air mata mendengar ucapan dari mulut Aksa. Dia sangat beruntung memiliki dua malaikat pelindung.
Setelah Gavin tertidur, Aksa yang masih menggunakan pakaian kantornya menuju kamar miliknya melewati pintu penghubung. Di atas tempat tidur sudah ada Riana yang tengah menggenggam ponsel.
"Belum tidur?" Aksa berucap setelah mencium kening istrinya. Riana mendongak dan tersenyum hangat ke arah Aksa.
"Empin udah tidur?" Aksa mengangguk, sambil membuka kancing kemeja satu per satu.
__ADS_1
Riana turun dari tempat tidur dan membantu suaminya membuka kancing kemeja. Aksa merengkuh pinggang Riana dan mengecup puncak kepala istrinya berulang.
"Air hangatnya udah Ri siapkan."
"Makasih, Sayang." Aksa mengecup bibir Riana sekilas sebelum masuk ke kamar mandi.
.
"Loh, kaki cucu Pipo kenapa?" tanya Gio ke arah lutut Gavin yang diplester.
"Jatuh, tapi dak tatit."
Gio tertawa mendengarnya, padahal dia melihat sang cucu jalannya sedikit diseret. Dia sudah tahu bagaimana Aksa mendidik Gavin.
"My, tapan te emol?" Gavin yang tengah mengunyah roti bakar kesukannya membuat Riana tersenyum.
"Mau sama Mommy aja atau sama Daddy juga?" tanya Riana.
Gavin dengan takut menatap ke arah sang ayah yang tengah menatapnya juga. Dia tahu ayahnya itu sangat sibuk dan sudah sebulan ini dia tidak pernah pergi bertiga. Palingan hanya bersama ibu dan juga Bubunya.
"Empin kapan mau ke mall-nya?" Mata Gavin melebar ketika mendengar ucapan dari sang ayah. Terkejut bukan main hati anak itu.
"Daddy ... bita?" tanya Gavin tak percaya. Aksa mengangguk dengan mantap.
"Yeay!" Sorakan bahagia membuat semua orang tertawa bahagia. Gavin pun berlari menuju kursi ayahnya hingga lututnya yang luka membentur ujung kursi dan dia pun mengaduh.
"Empin!" seru semua orang. Namun, Gavin tersenyum kepada ibu dan juga neneknya.
"Dak papa."
Aksa segera meraih tubuh putranya. Apalagi ketika melihat mata Gavin sudah berkaca-kaca. Aksa memeluk tubuh putra yang amat dia sayangi.
"Ta-tit."
__ADS_1
...****************...
Mulai ke cerita si Empin ya ...