Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Dua Tahun


__ADS_3

Ketika Aksa dan Riana memeluk tubuh Rion, Echa dan ketiga anaknya serta Radit keluar dari persembunyian mereka.


"Gemas banget deh. Kalau sampai Ayah gak restuin, akan Echa suruh Aksa bawa kabur Riana," sungut Echa.


Rion tertawa mendengar ucapan Echa. Anak sulungnya bagai ibu tiri, jika sudah mengomel.


"Selamat Aunty!" seru Aleesa.


Aleeya dan Aleena memeluk tubuh Aksa dan mencium pipi pamannya.


"Jangan cium-cium, itu punya Aunty," canda Riana.


"No!" Pekikan suara terdengar sangat nyaring. Aleena dan Aleeya sudah bergelayut manja di leher Aksa membuat Aksa sulit bernapas, sedangkan semua orang malah tertawa bahagia.


"Uncle ... mau makan ini."


Aleeya menunjukkan gambar restoran Jepang cepat saji yang terkenal.


"Aleeya ... bukannya tadi ingin makan pakai telur mata sapi sama kecap," ujar Echa.


"Gak jadi. Mumpung ada Uncle, Dedek mau makan enak. Iya, 'kan Uncle," rayu Aleeya.


"Iya."


Sorak gembira terdengar dari ketiga anak Echa. Aleesa yang sedang memeluk tubuh Riana pun beralih memeluk tubuh Aksa.


"Sa-yang Uncle," ucap mereka bertiga.


Beginilah kelakuan si triplets, jika sudah bertemu dengan uncle ataupun Om-nya. Kedua pamannya ini selalu saja menuruti keinginan mereka bertiga.


"Tapi ... pesan online aja, ya. Uncle capek." Mereka pun tidak mempermasalahkan itu, yang terpenting mereka memakan makanan yang sedang mereka inginkan.


"Dedek dua ya, Uncle," kata Aleeya.


"Kakak Na juga."


"Kakak Sa juga."


"Kerjaan kalian tuh malakin Uncle terus," keluh Echa.


"Gak apa-apa Bubu. Uang uncle 'kan banyak. Gak masalah dong jajanin kita," jawab Aleeya.


"Bukan jajanin, tapi bangkrutin," balas Riana.


Si triplets menatap nyalang ke arah Riana. Mereka mendekat seperti orang yang ingin menerkam Riana hidup-hidup.


"Nyesel deh bujuk Engkong supaya bolehin Aunty pacaran sama Uncle," imbuh Aleesa.


"Tahu begitu, mending biarin aja Engkong siksa Aunty pelit ini," sambung Aleeya.


"Mending Uncle jomblo dari pada punya pacar pelit macam Aunty." Si mulut pedas ikut membuka suara membuat mereka semua tertawa. Apalagi melihat Riana yang menganga mendengar ocehan ketiga keponakannya.


Mereka semua bercanda ria sambil menunggu makanan yang Aksa pesan datang. Si triplets terus menempel pada tubuh uncle-nya. Banyak modus yang mereka lakukan agar diberi sesuatu oleh Aksa.


"Permisi!"


Mendengar suara seseorang dari luar membuat si triplets bergegas keluar. Suara bahagia mereka terdengar hingga ke dalam.

__ADS_1


"Makasih," ucap Aleena kepada si Abang ojol yang telah mengantarkan makanan.


Dia mengeluarkan satu kotak makanan dari dalam kantong plastik. Kemudian, memberikannya kepada Abang ojek online.


"Ini untuk Abang."


Abang ojek online tersentak ketika Aleena memberikan satu kotak makanan kepadanya. Lama tak mau menerima, Aleena meraih tangan Abang itu dan memaksanya untuk menggenggam kotak makanan yang Aleena berikan.


"Dimakan ya, Bang. Makasih sudah mengantarkan makanan." Senyum hangat Aleena berikan.


"Ma-makasih, Dek."


"Sama-sama, Bang. Aku masuk, ya."


Anak yang sangat sopan dan senang memberi, itulah Aleena. Dari balik pintu Radit tersenyum melihat sikap putrinya ini. Namun, Radit pura-pura tidak tahu.


"Uncle, Kakak Na 'kan tadi minya dua. Satunya Kakak Na beri ke Abang ojol, dan satunya lagi mau Kakak Na makan, ya. Makasih, Uncle." Aleena mencium pipi Aksa sebelum dia beralih ke ruang televisi.


"Ya ampun, Kakak Na. Selalu saja buat Uncle bangga," gumamnya.


Setelah selesai makan, Aksa beristirahat di kamar yang sudah disediakan. Dia mendudukkan diri di sofa kamar. Hanya hembusan napas berat yang keluar dari mulutnya.


Di Kota yang berbeda, seorang pria tengah sibuk di depan laptopnya. Dia tengah mengecek keuangan kafe yang sedang dia kelola.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia buka dan baca isi pesannya, matanya melebar ketika mendapat notifikasi terkait transferan uang seratus juta dari nomor rekening kembarannya. Dahinya mengkerut, tidak mengerti apa maksud dari abangnya ini.


Baru saja hendak mengetikkan sesuatu, sang Abang menelponnya.


"Ini apa?"


"Kenapa? Uang Adek masih ada, Bang. Adek ikhlas kok."


Tidak ada jawaban dari balik sambungan telepon, hanya hembusan napas yang terdengar sangat berat yang mampu telinga Aska tangkap.


"Abang gak apa-apa 'kan?"


Rasa khawatir kini menghantui Aska. Apalagi Aksa yang belum membuka suara.


"Bang ...."


"Tolong jaga Riana."


Deg.


Jantung Aska tiba-tiba berdegup dengan sangat cepat. Pikiran jelek kini menghantui dirinya.


Ada apa ini? Apa Abang mengalami penyakit mematikan? Atau ....


Lamunan Aska harus terhenti karena panggilan Aksa dari balik sambungan telepon.


"I-iya, Bang."


"Kamu mau 'kan bantu Abang jagain Riana."


"Jagain apa maksudnya?"

__ADS_1


"Abang harus ke Ausi malam ini juga."


"Oh ...."


Hati Aska kembali tenang, ternyata pikiran jeleknya salah.


"Abang di sana dua tahun."


"What?" Aska benar-benar terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Aksa.


"Jangan bercanda, Bang."


"Kapan Abang pernah bercanda untuk hal sepenting ini. Ini perintah Kakek. Abang harus melanjutkan S2 sambil memgembangkan perusahaan Abang di sana. Kamu tahu 'kan perintah Kakek tidak bisa Abang tolak."


"Riana sudah tahu?"


Prank!


Suara pecahan beling terdengar dari balik sambungan telepon.


"Bang," panggil Aska. Namun, Aksa tidak menjawab.


Ternyata sedari tadi Riana berada di ambang pintu kamar Aksa yang hanya tertutup setengah. Tujuannya ke sana untuk membawakan Aksa air putih agar ketika kekasihnya bangun bisa langsung meneguknya.


Langkah Riana terhenti ketika dia mendengar percakapan Aksa dengan seseorang di balik sambungan telepon. Riana masih berpikiran positif, biasanya yang Aksa bicarakan tak lain adalah pekerjaan. Akan tetapi, kali ini berbeda. Matanya nanar ketika mendengar kata dua tahun, dan tangannya tak mampu memegang gelas ketika Aksa mengatakan bahwa dia harus meneruskan pendidikannya yang memakan waktu tak sebentar. Serta perintah sang kakek tidak bisa dibantah.


"Sayang."


Aksa meletakkan ponselnya di sofa dan bergegas menghampiri Riana. Air mata Riana sudah terjatuh.


"Kenapa Abang gak bilang ini dari awal? Kenapa Abang tidak mau menceritakan semuanya kepada Ri? Kenapa?"


Aksa ingin memeluk tubuh Riana, tetapi ditolak olehnya. Riana malah memukul dada Aksa dengan cucuran air mata.


"Abang jahat! Kenapa harus pergi lagi ketika restu ayah sudah kita kantongi? Kenapa Bang?"


Bukannya Riana bersikap berlebihan, tetapi dia hanya takut kehilangan. Dia tidak ingin kehilangan Aksa untuk kedua kalinya.


"Sayang."


Aksa mulai memeluk tubuh Riana, dan sekarang tidak ada penolakan. Hanya saja Isak tangis lirih yang masih terdengar.


"Abang pergi untuk sekolah lagi, juga mengembangkan perusahaan milik kita. Kapanpun kamu mau, kamu bisa datang ke Ausi. Jika, Abang ada waktu luang pun Abang pasti akan menemui kamu di sini. Abang janji, komunikasi kita tidak akan pernah putus."


Tangan Riana mulai melingkar di pinggang Aksa. Wajahnya masih terbenam di dada bidang Aksa.


"Jangan nangis ya, Abang gak tega ninggalin kamu kalau kamu nangis terus begini," papar Aksa, seraya mengusap lembut rambut Riana.


Inilah yang mengganjal hati Aksa. Telepon dari Genta setelah Aksa selesai melakukan rapat penting mampu membuat Aksa terkejut.


"Kakek sudah daftarkan kamu kuliah di universitas terbaik di Melbourne. Semua data kamu sudah Kakek urus dan kamu tinggal kuliah saja sambil mengembangkan perusahaan kamu di sini."


Apa harus Aksa menikahi Riana terlebih dahulu sebelum berangkat ke Ausi?


...****************...


Komen atuh lah .... 🤧

__ADS_1


Jangan sembunyi terus,


__ADS_2