
"Serius?" Riana mengangguk.
"Tunggu Abang pulang kerja, Sayang."
Riana hanya tersenyum seraya mengangguk. Enggan rasanya meninggalakan istrinya.
Aksa merutuki pada hari ini. Andai pekerjaannya bisa diwakilkan dia tidak akan keluar apartment hingga petang. Ingin menghabiskan waktu berdua dengan tubuh yang polos bersama sang istri.
Setelah sarapan, Aksa pamit dan mencium hangat kening istrinya. Tangan Riana melingkar di pinggang Aksa seakan tak ingin berpisah dengan sang suami tercinta.
"Siap bikin Aksara junior?" Riana pun tertawa.
"Siap Daddy." Riana mengecup singkat bibir sang suami.
Di telinga Aksa panggilan Daddy itu sangat manis. Senyumnya melengkung dengan sempurna.
"Jangan keluar apartment, ya. Kalau ada tamu pun jangan pernah dibukakan pintu." Riana mengangguk mengerti.
Aksa sedang mengahadapi musuh yang tak terlihat. Kasus tentang kematian rekan bisnis Aksa yang mengendarai mobil milik WAG grup sedang diusut. Namun, Aksa tidak memberitahukannya kepada Riana. Meeting kemarin pun bukan dengan para karyawan, tetapi dengan orang-orang kepercayaan Aksa yang berada di belakang Aksa.
"Dendam salah sasaran." Itulah yang dikatakan oleh salah seorang pria yang memakai kacamata hitam, ketika sudah berada di dalam ruangan direktur utama.
"Target sesungguhnya adalah Anda, Pak. Mereka ingin melenyapkan Anda," tukas pria yang bermata sipit.
Helaan napas kasar terdengar, hanya api amarah yang menyelimuti hatinya sekarang. Urat-urat kemarahan pun terlihat jelas di wajah Aksa.
"Intinya, mereka tidak suka dengan Anda dan juga istri Anda," ucap orang yang berbadan kekar.
"Istri saya?"
Inilah yang pastinya akan membuat Aksa kesal dan marah besar. Istrinya sudah dibawa-bawa dalam masalahnya.
"Ya. Mereka ingin Anda dan istri Anda tidak bahagia. Ketika Anda meninggal, sudah dipastikan istri Anda akan terpuruk. Itulah niat mereka," jelasnya lagi.
"Bawa orang itu ke hadapan saya sekarang juga!"
Perintah yang dipenuhi kemarahan yang sangat luar biasa. Ketiga orang itu pun pergi dari ruangan Aksa dengan mengangguk sopan terlebih dahulu.
Mereka sengaja tidak memberitahukan inisal nama pelaku kepada Aksa. Orang yang telah melakukan kejahatan dan malah menewaskan orang yang tak berdosa dan tidak tahu apa-apa. Mereka tahu bagiamana Aksa jika sudah murka. Aksa akan menjadi iblis jahat yang bisa membunuh lawan dalam hitungan menit.
Siang hari, seorang pria mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia menerobos jalanan Jogja yang cukup padat. Mobilnya berhenti di salah satu apartment mewah.
Suara bel berbunyi, tetapi Riana tak kunjung membukakannya. Dilihatnya pun ada orang-orang yang menjaga ketat unit yang ditempati Riana. Mereka menatap tajam ke arah pria tersebut. Tangan mereka pun seakan tengah mengeluarkan sesuatu.
"Cepat! Abang lu udah kayak iblis jahat."
Pesan yang dikirimkan oleh Fahri kepada Askara. Askara memang sedang memantau proyek pembangunan kafe di Jogja. Mengetahui itu, Fahri pun melaporkan kepada Aska bawah kakaknya tengah murka karena ternyata kecelakaan yang menyebabkan rekan Aksa tewas karena unsur kejahatan yang sasarannya adalah Aksa. Namun, Tuhan menakdirkan lain. Mobil WAG Grup yang digunakan Aksa dipinjam oleh rekan Aksa, dan dialah yang menjadi korban dalam kecelakaan tunggal yang ditengarai karena rem blong. Jika, mobil itu digunakan oleh Aksa sudah dipastikan Aksa yang akan tewas dengan cara mengenaskan. Mendengar laporan itu Aska benar-benar naik pitam. Dia pun segera menghubungi Aksa, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian, dia memilih menemui Riana di apartment milik Abangnya.
Aska sangat tahu bagaimana abangnya jika sudah marah. Dia akan menjadi pembunuh sungguhan. Bagi dia nyawa yang hilang harus dibalas dengan nyawa lagi. Tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali istrinya. Begitulah pikir Aska.
Mau tidak mau, Aska menghubungi Riana dan meminta Riana untuk keluar. Namun, Riana menolak.
"Gak boleh keluar sama Abang," katanya.
Aska terus menyakinkan Riana hingga akhirnya Riana mau. Di dalam mobil, Riana terus bertanya kepada Aska. Namun, Aska hanya diam dan fokus kepada jalanan. Biarlah kakak iparnya ini melihat sendiri kelakuan suaminya. Semoga saja para pelaku belum tewas karena ulah abangnya.
Mobil itu berhenti di sebuah gudang tua. Riana menatap Aska penuh tanya.
"Turun saja dulu, nanti kamu akan tahu."
Riana mengikuti langkah Aksa dari belakang. Terdengar seperti ada orang yang tengah berkelahi di dalam gudang tersebut. Ketika pintu gudang terbuka, mata Riana seketika melebar dengan sempurna.
Seorang wanita tengah diikat di sebuah kursi dengan teriakan yang terus memekik gendang telinga. Ada jiga seorang pria tengah memukuli dua orang pria secara membabi-buta dengan kemarahan yang luar biasa. Dua pria itu sudah tersungkur dan berada di bawah kaki Aksa.
"Aku akan membunuh kalian berdua!"
"Abang!" seru Riana.
Gerakan Aksa yang hendak memukulkan balok kayu ke arah dua laki-laki itu seketika terhenti. Dia melihat seorang wanita yang dia kenali sudah menatapnya nanar.
Riana berlari ke arah Aksa dan memeluk tubuh suaminya. Tak dia hiraukan baju yang dikenakan suaminya sudah berlumuran darah.
"Jangan ... Ri, mohon."
__ADS_1
Balok kayu yang sudah melayang pun Aksa jatuhkan. Mendengar ucapan Riana membuat hatinya melemah.
"Ri, sayang Abang. Ri, gak ingin Abang masuk ke dalam penjara karena membunuh orang," lanjutnya lagi.
Fahri dan Aska bisa bernapas lega melihat Aksa yang luluh karena kedatangan istrinya.
"Riana ... tolong aku."
Merasa namanya dipanggil, Riana menoleh dan ternyata perempuan yang tengah duduk dengan tubuh terikat itu adalah Denisa. Mata Riana melebar dan dia menatap ke arah sang suami.
"Mereka dalang dalam kecelakaan mobil WAG grup tiga hari sebelum kita menikah." Riana menutup mulutnya tak percaya.
"Jika, Abang yang ada di dalam mobil tersebut sudah pasti Abang yang akan meninggal." Riana membeku mendengar penjelasan dari suaminya.
Aksa menendang tubuh dua orang di hadapannya yang sudah terkulai lemah. Ketika posisi mereka yang awalnya tengkurap, kini berubah terlentang. Riana sedikit mundur ke belakang dan memegang lengan Aksara. Dia mengenal dua wajah orang itu, meskipun sudah tak terlihat bagus karena luka lebam di hampir seluruh wajahnya.
"Fikri dan Broto, ayah dari wanita licik itu!" tekan Aksa.
Riana menggelengkan kepalanya. Dia tengah membayangkan bagaimana jika Aksa yang berada di dalam mobil tersebut. Pasti dia sudah gila sekarang.
"A-abang ...." Suara Riana benar-benar bergetar seperti orang yang tengah ketakutan.
Aksa memeluk tubuh istrinya. Dibalas oleh Riana dengan begitu erat.
"Ri .... ingin pulang."
Aksa mengangguk dan membawa Riana menjauh dari sana. Dia tidak ingin membuat Riana ketakutan.
"Riana, aku minta maaf," ujar Denisa lagi, dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Langkah Riana terhenti, dia menatap tajam ke arah Denisa. Ada rasa iba di hatinya. Pasti Denisa sangat ketakutan ketika melihat ayahnya dipukuli oleh Aksa di depan matanya.
"Aku mohon Ri. Maafkan aku," tambah Riana lagi, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku bukan manusia berhati malaikat dan maaf kamu pun sudah terlambat. Meskipun, aku memaafkan kamu, tidak dengan suamiku. Pasti dia akan terus memperkarakan semuanya. Selamat menikmati hasil dari apa yang kamu tanam," jawabnya.
Riana bukanlah kejam. Dia hanya ingin menegakkan keadilan. Jika, kesalahan terus dimaafkan pastinya tidak akan pernah ada kata jera bagi mereka yang senang melakukan kesalahan.
"Sakit?" tanya Riana ketika menyentuh luka yang cukup dalam.
"Lebih sakit lagi ketika mendengar orang-orang itu ingin membuat kamu bersedih," jawabnya.
Riana menatap ke arah Aksa. Tiba-tiba matanya berair dan bulir bening pun jatuh dari pelupuk matanya.
"Ri, tidak tahu bagiamana hidup Ri tanpa Abang."
Aksa memeluk tubuh istrinya. Dia mengecup ujung kepala Riana berulang.
"Abang tidak akan pernah meninggalkan kamu, Sayang." Isakan tangis keluar dari mulut Riana. Menumpahkan segala rasa yang ada di dalam hatinya.
Pelukan dan tangisan itu harus terhenti ketika Aska dan Fahri datang. Riana segera menyeka ujung matanya dan hendak mengambilkan minum untuk adik iparnya serta asisten pribadi suaminya. Namun, Aksa mencekal tangan Riana.
"Mereka bisa ambil sendiri." Riana duduk kembali dan kembali membersihkan luka di tangan sang suami.
"Udah diproses, pengacara Christian sedang mengurusnya," ucap Fahri.
"Daddy sedang terbang ke sini," ujar Aska.
Riana menatap ke arah Aska. Dia menatap iba kepada Riana. Bukan hanya Aksa yang mengenal Riana, Aska pun cukup mengenal Riana.
"Daddy tahu?" Aksa dan Aska mengangguk.
"Ini bukan masalah sepele. Ini sudah menyangkut nyawa. Apalagi kamu terseret dalam masalah ini. Kami tidak akan membiarkan semuanya terjadi." Riana tercengang mendengar ucapan dari suaminya.
Tak lama berselang, Christian datang bersama Christina. Merekalah yang akan mengurus kasus tersebut tentunya dibantu oleh ayah mereka Christo.
Christina sempat memandang ke arah Aska. Namun, dia segera mengalihkan pandangannya karena Aska seakan acuh kepadanya. Mereka membahas tentang proses hukum yang akan dilakukan. Riana hanya mendengarkannya dengan seksama dengan tangan Aksa yang terus Riana genggam.
"Aku ingin pengawalan ketat terhadap istriku. Kamu gak keberatan 'kan?" Riana menggeleng. Aksa tersenyum dan mengecup kening istrinya.
Apapun yang dilakukan Aksa untuk Riana pasti sudah dipikirkan secara matang dan untuk kebaikan Riana juga. Jadi, Riana tidak akan pernah menolak.
"Bang, Adek panggilin dokter ya. Luka Abang kayaknya dalam banget. Takut infeksi," ujar Aska ketika melihat punggung tangan Aksa.
__ADS_1
"Gak usah, nanti juga sembuh," tolak Aksa.
"Bang, apa yang dikatakan Kak Aska benar. Periksa ya, Ri gak mau Abang kenapa-kenapa," imbuh Riana.
Jika, Riana yang berbicara, kepala Aksa akan mengangguk. Kelakuan Aksa membuat tiga orang pria yang lain mengulum senyum. Mereka tahu kelemahan Aksa sekarang.
Aska benar-benar menghubungi dokter untuk datang ke apartment milik sang Abang. Selang setengah jam, dokter itu datang dan memeriksa punggung tangan Aksa.
"Lukanya cukup dalam. Nanti akan saya beri obat dalamnya juga."
Riana menatap sendu ke arah Aksa, Akas mengusap lembut pipi putih Riana.
"Abang gak apa-apa, Sayang," ujarnya.
"Kalau sakit bilang sakit, jangan menutupi apapun dari Ri." Suara Riana terdengar berat, Aksa tersenyum dan memeluk tubuh istrinya.
"Serius, gak sakit, Sayang. Jangan nangis ya."
Christina merasa iri dengan sikap Aksa. Andaikan Aska bersikap sama seperti Aksa mungkin hubungan mereka tidak akan berakhir. Itulah yang ada di kepala Christina. Berbeda dengan Aska, dia hanya menggelengkan kepala kenapa kakaknya itu bisa sebucin itu pada Riana.
Setelah dokter pergi, Riana memesan makanan untuk mereka semua. Apalagi suaminya yang harus makan terlebih dahulu sebelum minum obat.
Tak lama, Gio datang bersama Remon. Riana mencium tangan ayah mertuanya dengan sopan.
"Jangan takut ya, Sayang. Daddy akan menjaga kamu." Mendengar kalimat tersebut hati Riana mencelos. Dia merasa sangat dilindungi oleh keluarga suaminya.
"Iya, Dad," jawab Riana dengan seulas senyum.
Pembicaraan mereka sangatlah serius, Riana hanya mendengarkannya saja. Ada kata-kata dan kalimat yang tidak Riana mengerti. Setelah semua rencana tersusun rapi, mereka menikmati makanan yang Riana pesan.
Aksa meminta Riana untuk menyuapinya karena tangan kanannya memang diperban sedikit menyulitkan untuknya bergerak. Riana menyuapi suaminya dengan telaten, dan senyum mengembang di wajah semua orang karena melihat Riana yang benar-benar sabar menghadapi Aksa. Mereka sangat bahagia karena Aksa memilih pasangan yang sangat tepat. Tak sia-sia perjuangan mereka semuanya.
Setelah semuanya sudah tersusun rapi dan dianggap rapat dadakan selesai. Semua orang pergi termasuk Gio, kecuali Aska yang ingin menginap di apartment sang abang. Di apartment itu memang ada dua kamar. Kamar utama dan kamar tamu.
Di kamar utama, Riana tengah membantu Aksa untuk membuka baju. "Sekalian mandiin ya, Yang." Riana tersenyum, manjanya Aksa melebihi si triplets.
"Iya."
Jawaban Riana membuat Aksa bersorak gembira di dalam hati. Tangan lembut Riana mulai menyabuni tubuh Aksa yang tak tertutup sehelai benang pun. Sentuhan tangan Riana mampu membuat gairahnya naik sangat tinggi. Mata Riana melebar ketika melihat adik suaminya benar-benar mengeras.
"Abang benar-benar, ya," ucap Riana.
"Gak tahan, Yang. Udah puasa lima hari 'kan," balasnya dengan suara memelas.
"Tangan Abang 'kan gak boleh banyak bergerak," sahut Riana.
"Abang ingin kamu yang aktif bergerak, Sayang," bisik Aksa yang membuat bulu kuduk Riana meremang.
Ternyata iman Riana pun tak cukup kuat untuk menerima cumbuan hangat dari bibir suaminya. Tubuhnya tak dapat dikondisikan hingga le nguhan panjang menjadi alunan nada yang Aksa tunggu-tunggu.
Hanya dengan menggunakan handuk, mereka berjalan menuju tempat tidur. Riana maupun Aksa sudah membuang handuk itu entah ke mana. Mereka semakin aktif dan tangan mereka saling menyentuh bagian yang membuat mereka melayang.
"Kamu yang main ya, Sayang."
Riana mengangguk, dia tidak akan membuat luka di tangan suaminya semakin parah. Sekarang Rianalah yang harus memanjakan adik dari Aksa.
Manisnya adik Aksa, membuat lidahnya semakin menjadi. Aksa sudah mengerang keenakan.
"Aargh!"
"Sayang ...."
Sudah mendapat kode dari Aksa, Riana mulai memasang kuda-kuda bagai ibu-ibu yang tengah ikut lomba tujuh belasan, memasukkan paku ke dalam botol.
"Arrggh!" Mereka berseru secara bersamaan.
Baru saja hendak berpacu, ketukan pintu terdengar.
"Kurangin volume the sahannya!" pekik seseorang dari luar.
...****************...
Komen lah biar main kuda-kudaannya lanjut lagi 😁
__ADS_1