Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kabar Bahagia


__ADS_3

Keesokan paginya, sebelum Gavin dan Aksa terbangun Riana sudah masuk ke dalam kamar mandi. Dia menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum menampung air kemihnya. Masih ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Dia takut jika positif hamil, semua keluarganya akan membencinya. Apalagi melihat sang ibu mertua yang sekarang terlihat Ebih dingin tidak seperti biasanya.


"Ya Allah, aku pasrahkan semuanya kepadaMu karena Engkau maha pemilik rencana." Kalimat itu Riana ucapkan sebelum menceburkan testpack yang suaminya beli semalam.


Sepuluh merk testpack pun Riana buka dan dia celupkan satu per satu. Setelah semuanya selesai, dia meninggalakannya di wastafel sedangkan air kemihnya dia buang. Riana memilih merendam tubuhnya barang sejenak untuk merenggangkan tubuhnya yang kini mudah lelah. Apalagi tubuh Gavin setiap bulan bobotnya selalu bertambah.


Dengan berendam dia berharap bisa menghilangkan pikiran jelek yang sering menghiasi kepalanya akhir-akhir ini. Dia ingin menjadi manusia yang selalu berpikiran positif agar hidupnya diselimuti rasa bahagia tak terkira.


Suara tangisan kecil sang putra membangunkan Aksa. Dia menoleh ke arah sampingnya, dahinya mengkerut ketika tak melihat istrinya di sana. Aksa segera menghampiri boks bayi Gavin. Ternyata sang putra sudah membuka mata. Aksa pun menggendongnya. Tangis bayi tiga bulan itu pun mereda dan berganti dengan tawa membuat awal hari Aksa semakin bahagia.


"Ganteng banget sih, anak siapa ini?" Aksa mengajak bicara Gavin dan putranya malah tertawa keras. Dia sudah senang mengoceh layaknya burung beo. Apalagi jika diajak bicara, dia akan sangat senang sekali.


Aksa tidak kaku menggendong tubuh Gavin karena selama di Singapura dia terbiasa menjaga Gavin dan mengendong Gavin. Dia juga pandai menggantikan popok Gavin. Tidak merasa jijik ketika harus membersihkan kotoran Gavin. Aksa bisa diandalkan.


Melihat anaknya yang sudah mengoceh dengan keras membuat Aksa tersenyum bahagia dan bangga.


"Ya ampun, Daddy sudah banyak melewatkan perkembangan kamu ya, Nak." Ada sebuah penyesalan kecil di hati Aksa karena dia tidak bisa menyaksikan tumbuh kembang Gavin. Namun, ketika dia libur bekerja dia meluangkan waktu untuk bermain bersama sang putra.


"Mulai sekarang, setiap pagi kamu harus main sama Daddy. Mau?" Gavin tertawa keras membuat Aksa semakin gemas kepada putranya ini.


Cukup lama Aksa bermain dengan putranya. Dia sudah meletakkan Gavin di tempat tidur besar. Matanya berbinar ketika melihat putranya itu sudah bisa memiringkan tubuh. Apalagi, sekarang dia tengah mencoba mengangkat tubuhnya untuk tengkurap.


"Ayo, kamu anak hebat pasti kamu bisa." Aksa menyemangati bayi berumur tiga bulan layaknya supporter bola.


Wajah Gavin sudah merah karena terus berusaha untuk tengkurap dan Aksa pun bertepuk tangan ketika putranya bisa tengkurap.


"Jagoan Daddy." Aksa terlihat bahagia.


Dut!


Suara bom atom terdengar sangat nyaring. Spontan Aksa menutup hidungnya karena harumnya bagai bunga Raflesia Arnoldi. Bayi itu malah tersenyum ke arah sang ayah membuat Aksa tertawa juga.


"Pasti poop 'kan." Aksa menggendong tubuh Gavin dan membawanya menuju pintu kamar mandi.


"Mommy!" panggil Aksa sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Jagoan kita e'e nih." Lagi-lagi Gavin tertawa.


Riana yang mendengar suara ketukan pintu segera mengakhiri acara berendamnya. Sudah pasti putranya terbangun. Dia membilas tubuhnya dengan cepat dan segera memakai bathroob. Ketika pintu kamar mandi terbuka Riana sudah disambut oleh sang suami dengan tersenyum manis. Aksa juga tengah menggendong tubuh Gavin. Dia Mengecup kening Riana sangat dalam. Kemudian, turun ke bibir mungil milik istrinya. Namun, Gavin segera menangis ketika bibir sang ayah baru menempel di bibir ibunya. Decakan kesal keluar dari mulut Aksa. Riana hanya tertawa.


"Mommy pakai baju dulu ya, Nak." Riana mengecup pipi gembul sang putra. Namun, pria dewasa yang tengah menggendong Gavin seolah sirik dan menginginkan juga.


"Empin aja terus, sama Daddy-nya lupa." Riana pun tergelak dan segera mencium pipi Aksa.


"Huwa!"

__ADS_1


Bayi itu mulai menangis lagi dan membuat Riana melepaskan bibirnya yang baru menempel di pipi Aksa.


"Kan Empin udah. Masa Mommy gak boleh sayang Daddy." Riana berucap seraya mengusap lembut rambut Gavin.


"Saingan terberat," ucap Aksa.


Riana dan AKsa tertawa bersama. Gavin adalah mood booster mereka berdua. Kehadiran Gavin membuat hidup mereka lebih berwarna dan bahagia.


Setelah istrinya memakai baju, Aksa menyerahkan Gavin kepada Riana. Sebelumnya Aksa mengatakan kepada Riana bahwa putranya poop. Berhubung sekarang sudah cukup siang, lebih baik Gavin dibersihkan sambil dimandikan.


"Beneran poop 'kan?" Riana mengangguk dan segera membuka popok yang digunakan putranya.


"Abang mandi gih. Nanti, Ri buatkan kopi panas." Aksa tersenyum dan mengecup belakang kepala istrinya.


"Siapin bajunya, ya." Riana mengangguk.


Memandikan Gavin bukan menjadi hal yang baru untuk Riana. Ketika Gavin masih merah pun Riana memberanikan diri untuk memandikannya. Dia sadar diri dia tidak bisa bergantung kepada mamah mertua juga kakaknya. Mereka memiliki kesibukan masing-masing. Dia juga sadar sekarang ini dia sudah menjadi istri dari seorang pengusaha muda yang bukan hanya di Indonesia perusahaannya berdiri. Di negeri kanguru pun suaminya memiliki perusahaan yang tak kalah besar. Bisa kapan saja mereka pindah ke negeri orang.


Kebiasaan Rian jika tengah memandikan Gavin adalah mengajak ngobrol sang putra. Gavin akan menimpali ucapan Riana dengan ocehannya.


"Jangan jadi anak yang iri dengki dong, Nak. Empin akan selalu Mommy sayang, Mommy juga akan selalu sayang sama Daddy." Gavin pun tertawa mendengar ucapan sang ibu. Tangan mungilnya menyentuh pipi Riana membuat Riana tersenyum bahagia.


"Jadi anak yang sholeh ya, Nak. Jadi putra kebanggan Mommy dan Daddy. Jadilah anak yang sopan dan santun dan tetap rendah hati dan jangan pernah jadi anak yang sombong."


Di kamar mandi, Aksa tengah mematung ketika melihat sepuluh benda yang semalam dia beli ada di atas wastafel. Dilihatnya garis yang ada di tengah-tengah testpack tersebut. Senyum pun merekah di wajah tampannya. Bukannya mandi, dia malah keluar lagi dengan masih memakai pakaian yang dia gunakan sewaktu tidur.


Aksa memeluk tubuh istrinya yang tengah memakaikan baju Gavin dari belakang. Sungguh membuat Riana terkejut.


"Abang," tegurnya.


Riana belum membalikkan tubuhnya karena dia tenggang memakaikan baju di tubuh Gavin. Akhirnya, Aksa menyerahkan sepuluh testpack ke hadapan istrinya. Mata Riana melebar dan dia segera membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Membiarkan Gavin yang tengah mengoceh seorang diri.


"Ga-garis dua," ucap Riana tak percaya. Aksa menganggukkan kepala. Dia memeluk tubuh Riana dengan sangat erat.


"Makasih, Sayang." Riana menitikan air mata bahagia bercampur sedih. Apa dia mampu menjadi ibu yang baik untuk Gavin ketika dia mengandung adik Gavin? Apa nantinya Gavin tidak akan kekurangan kasih sayang. Itulah yang ada di dalam benak Riana.


Antara bahagia juga sedih yang Riana rasakan ketika mengetahui dirinya positif hamil. Dia merasa berat kepada Gavin.


Pagi ini wajah Aksa terlihat sangat gembira. Dia menggendong putranya dan tangan sebelahnya menggenggam erat tangan Riana yang tengah menuruni anak tangga.


"Hati-hati, Sayang."


Aksa seperti tengah membayar hutang karena kehamilan Gavin dia tidak ada di samping Riana. Kini, dia berjanji akan slalu ada di samping Riana hingga dia istrinya melahirkan anak keduanya.


"Selamat pagi cucu Mimo." Ayanda sangat bahagia ketika melihat cucu tampannya ini. Gavin pun seakan tahu kepada sang nenek dan nyaman berada di pelukannya.

__ADS_1


Aksa menarik kursi untuk Riana duduki. "Mau makan apa?" tanya Aksa ketika sudah duduk di samping istrinya.


"Roti aja." Aksa pun tersenyum dan mengambilkan apa yang istrinya mau.


Gio dan Ayanda sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini. Aksa memang suami yang sangat manis jika di rumah. Dia yang akan melayani istrinya walaupun istrinya tidak memintanya.


"Oh iya, Mom, Dad," ucap Aksa. Kedua orang tuanya segera menoleh ke arah Aksa. Dahi Merkea mengkerut karena jika sudah seperti ini ada hal penting yang ingin Aksa sampaikan.


"Ada kabar bahagia." Bibir Aksa sudah melengkung dengan sempurna. Dia pun menatap istrinya yang tengah memakan roti. Berbeda dengan kedua orang tuanya. Kedua alis mereka menukik dengan sangat tajam.


"Riana hamil lagi," lanjut Aksa.


Gio tersenyum bahagia sedangkan Ayanda sedikit terkejut. Melihat tatapan mertuanya, Riana menunduk dalam. Dia merasa sangat bersalah. Dia melihat sorot tidak suka dari mata Ayanda.


"Jaga janin itu ya, Ri." Gio segera mencairkan suasana. Dia tahu Riana tengah menyimpan rasa tak enak karena tatapan istrinya. Riana mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.


Riana dan Gavin akan selalu mengantarkan suaminya hingga teras. Aksa akan mencium dua orang yang sangat dia sayangi itu.


"Abang berangkat, ya. Jangan capek-capek." Riana mengangguk dengan senyum yang tidak tulus. Aksa mencium pipi gembul Gavin hingga membuat Gavin tertawa karena geli.


Langkah Aksa sudah mulai menjauhi Riana dan juga Gavin. Riana menatap nanar punggung suaminya itu.


"Abang!" panggil Riana. Langkah Aksa pun terhenti. Dia membalikkan badan dan melihat ke arah istrinya yang sudah menahan air mata. Aksa segera menghampiri Riana kembali dan memeluk tubuh istrinya.


"Kenapa, Sayang?"


"Ri, takut Mommy kecewa dan marah." Akhirnya, ketakutannya pun dia ungkapan. Sudah berapa Minggu ini dia menyimpannya seorang diri. Kini, dia sudah tidak kuat lagi. Berharap akan ada solusi yang suaminya berikan karena dia tahu suaminya adalah manusia bijak.


Aksa mengurai pelukannya dan menghapus air mata Riana. "Mommy bukan orang yang seperti itu, Sayang. Kamu percaya sama Abang." Aksa menenangkan istrinya. Raut ketakutannya sangat terlihat jelas.


"Tetap saja Ri ...."


Aksa menarik tangan Riana agar masuk ke dalam dekapannya. Tangan Aksa sudah mengusap lembut rambut Riana.


"Jangan banyak pikiran biar nanti Abang yang berbicara kepada Mommy."


Sedekat-dekatnya Riana dengan mertua, tetap saja ada rasa canggung dan takut di hatinya. Sama seperti menantu juga mertua yang lain. Apalagi, ibu mertuanya yang menjadi penentang pertama jika dia hamil kembali.


Riana meletakkan tubuh Gavin yang sudah terlelap di boks bayi. Dia mencium pipi sang putra sebagai ucapan selamat tidur. Riana memilih untuk merebahkan tubuhnya juga. Dia terus mencoba berpositif thinking agar tidak stres karena itu akan berpengaruh pada perkembangan janin. Baru saja dia hendak memejamkan mata, ketukan pintu membuat Riana harus terjaga kembali. Dia berjalan menuju pintu kamar dan tubuhnya menegang ketika melihat sang mamah mertua yang tengah berdiri di balik pintu kamar.


"Mo-mommy!"


...****************...


Komen atuh ....

__ADS_1


__ADS_2