
Ketika Aska sedang mencerna ucapan Aleesa, dia dikejutkan dengan suara seseorang.
"Hai, Aska!"
Aska yang disapa, ketiga keponakannya lah yang menoleh. Mereka menatap tajam dan dingin ke arah perempuan yang bisa dikatakan cantik itu.
"Tante siapa?" sergah Aleeya dengan tatapan penuh selidik.
"Kalian pasti keponakan Aksa dan Aska, ya," balas perempuan itu.
Aleena berdecih kesal ke arah perempuan yang sudah dengan tidak sopan duduk di samping Aska.
"Tante pernah sekolah gak sih? Orang nanya malah balik nanya," sungut Aleena dengan wajah juteknya.
"Dia mah gak sekolah, cuma makan bangku sekolahan doang," kelakar Aska.
"Rayap dong," sahut Aleeya. Aska pun tertawa dan mengajak Aleeya untuk tos.
Hanya Aleesa yang terus memandangi perempuan di samping sang om. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Apalagi melihat Aska yang seakan risih dengan kehadiran wanita itu.
"Aska, lu tahu 'kan perasaan gua ke lu sedari SMP. Sampai sekarang gua masih sayang sama lu, Sa," tutur Devita, mantan Aksa yang membuat Aksa depresi.
"Udah gak penting!" balas Aska dengan wajah sinis. "Ini di masa depan. Cinta lu itu di masa lalu," tukasnya.
Aska paling benci ketika dia dikejar wanita. Apalagi wanita yang menyatakan cinta kepadanya. Menurutnya, wanita seperti itu adalah wanita yang memiliki hargai diri rendah.
"Tante, kalau boleh tahu ... harga diri Tante berapa duit, ya? Kok murah banget. Sini aku bayarin," cerca Aleesa dengan senyum sinisnya.
Devita tercengang mendengar ucapan bocah kecil yang tengah bersama Aska. Dia benar-benar merasa tersinggung akan ucapan bocah ingusan itu.
"Bukan murah lagi, kalau di emol-emol harga dirinya seperti barang diskonan. Beli satu gratis lima," timpal Aleena dengan tatapan datarnya.
__ADS_1
Wajah Devita sudah terlihat geram karena ucapan dari bocah ingusan itu. Akan tetapi, Aska malah menjadi penonton yang sangat terhibur.
"Kalian itu masih kecil. Jangan sok tahu," sarkas Devita.
"Tante itu udah tua! Jangan sok cantik!" ejek Aleeya.
Aska tidak bisa menahan tawanya. Ketiga keponakannya tengah mengeroyok wanita antah berantah yang tiba-tiba duduk di sampingnya. .
Tangan Devita sudah mengepal keras. Jika, bukan anak kecil juga keponakan Aska dia sudah pasti akan memukul ketiga bocah ingusan itu.
"Aska! Ajari keponakan kamu sopan santun," sentak Devita dengan suara penuh kegeraman.
Ketiga keponakan Aska pun tertawa. Mereka menggelengkan kepalanya dengan sangat kompak.
"Tante Dora itu kalau ngomong suka aneh," ujar Aleeya seraya tertawa.
"Dora?" ulang Aska.
"Eh, ini bukan Dora. Ini potongan rambut ala Andin-nya Mas Al," terang Devita.
"Mas Al ... Mas alah kali, Tante," cibir Aleena.
Aska tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari ketiga keponakannya ini. Masih kecil sudah lancar public speaking mencerca orang.
Devita sudah benar-benar geram dengan ketiga keponakannya ini. Tangannya hendak menarik rambut ketiga keponakan Aska. Namun, dengan cepat Aska mencekal pergelangan tangan Devita.
"Lu bilang cinta sama gua, tetapi lu malah nyakitin keponakan-keponakan gua. Jangan harap lu bisa meluluh lantahkan hati gua. Apalagi ingin masuk ke dalam keluarga bokap gua. Mereka adalah tiga makhluk kesayangan keluarga gua," terang Aska.
"Tapi, Aska ...."
"Bangun dari tidur nyenyak lu! Jangan ngimpi mulu!" sentaknya.
__ADS_1
Aska meraih tangan ketiga keponakannya untuk pergi dari kedai es krim tersebut. Ada raut penyesalan di mata ketiga keponakannya. Bagaimana tidak, es krim mereka masih sangat banyak.
Aska berjalan menuju kasir untuk membayar. Baru saja Aska hendak mengeluarkan dompet, Aleeya melarangnya.
"Kakak es krim, Tante itu ya yang bayar," ucap Aleeya sambil menunjuk ke arah mejanya.
"Siap Adek," jawab si pegawai.
Mereka tertawa terbahak-bahak ketika masuk ke dalam mobil. Aska hanya menggelengkan kepala.
"Jahat ih," ujar Aska.
"Bukannya jahat, tapi cerdik," bela Aleena. Aleeya pun tertawa.
"Kakak Sa gak suka sama wanita itu," tegas Aleesa.
"Dedek juga! Dedek inginnya Om sama Kak Jing-jing." Aleeya seakan memaksa.
Si triplets adalah anak apa adanya. Jika, dia tidak suka pasti akan bilang tidak suka. Mereka diajarkan berkata jujur, walaupun terkadang kejujuran itu menyakitkan
Di kedai es krim, Devita yang baru saja hendak keluar dicegah oleh karyawan di sana. Mereka memberikan tagihan kepada Devita.
"Lima ratus dua puluh tiga ribu seratus lima putih perak," gumamnya. "Saya tidak memesan apa-apa," tolak Devita.
"Kami tahu, Kak. Akan tetapi, tiga anak tadi serta satu pria tadi belum membayarnya. Dompet laki-laki itu ketinggalan."
Tangan Devita sudah mengepal sangat keras. Urat-urat kemarahannya hadir di wajahnya.
"Aska!" erangnya dalam hati.
...****************...
__ADS_1
Niat hati mau Up tengah malam, tapi ketiduran. Komen dong ...