Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Keluarga Bahagia


__ADS_3

"Uncle!"


Pekikan suara ketiga keponakannya seperti bunga tidur. Aksa malah menarik selimut lebih tinggi lagi seakan belum mau bangun dari tidurnya.


Secara paksa ketiga tuyul menarik selimut itu. Dua yang lain sudah mengguncang-guncang tubuh Aksa dan satu lagi sudah menepuk-nepuk pipi Aksa, dengan sangat terpaksa dia membuka mata. Matanya seketika melebar ketika melihat tiga tuyul menatap nyalang ke arahnya.


"Triplets, jangan ganggu Uncle dong. Biarkan uncle istirahat." Riana sedang membujuk ketiga keponakannya itu.


"Tapi, uncle sudah gigit Aunty. Pasti itu sakit 'kan," jawab Aleena.


Aksa masih bengong karena kesadarannya belum seratus persen pulih. Dia menatap ke arah istrinya, hanya sebuah senyuman manis yang dia tunjukkan.


"Enggak kok. Yuk, kita bikin roti bakar. Kalian boleh taruh sendiri isiannya," ajak Riana.


"Serius?" tanya Aleesa.


"Iya."


Seulas senyum Riana berikan, ketiga anak itu pun sudah turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Tangan Riana Aksa cekal ketika dia hendak keluar.


"Ada apa?" Aksa nampak kebingungan.


Riana menatap Aksa dan menepuk lembut pipi sang suami. "Gak apa-apa, Abang. Lanjut lagi ya istirahatnya. Nanti kalau makan malamnya udah siap Ri bangunin."


Aksa bagai terhipnotis, dia mengangguk pelan dan merebahkan kembali tubuhnya. Sangat jarang sekali Aksa merasakan yang namanya tidur siang. Seperti barang langka untuknya. Kecupan hangat Riana berikan di kening Aksa.


"Selamat istirahat, suamiku."


Riana segera menuju dapur, ketiga keponakannya ini sungguh sangat aktif. Dia hanya menggeleng dengan rasa bahagia.


"Kalau udah selesai taruh lagi ke tempatnya, ya."


Mereka mengangguk mengerti. Semua selai sudah mereka keluarkan dari dalam lemari pendingin. Roti sudah mereka keluarkan. Belum lagi cokelat kesukaan Riana yang sudah mereka parut, keju pun sudah satu kotak. Riana membiarkannya saja asal ketiga keponakannya ini senang. Dia tidak pernah memiliki waktu untuk membahagiakan ketiga keponakan cantiknya ini.


"Aunty, sudah."


Riana terkekeh ketika tebal roti milik Aleeya lebih dari sepuluh Senti. Namun, Riana tetap akan memanggangnya. Aleesa dan Aleena pun sama, roti mereka sangat tebal. Setelah dimasukkan ke dalam panggangan, Riana menyuruh ketiga keponakannya untuk merapihkan semuanya lagi.


Namun, bukan dibereskan malah semakin membuat kekacauan. Mereka malah bermain selai dan cokelat yang dengan sengaja mereka tempelkan di pipi saudara-saudara mereka, termasuk Riana. Riana tidak marah dia malah tertawa dan membalas perbuatannya ketiga keponakannya yang sudah tertawa lepas. Kegiatan langka yang jarang terjadi.


Dari kejauhan, Aksa tersenyum bahagia. Istrinya sangat lembut kepada anak-anak. Apalagi melihat tawa istrinya yang mengembang tulus ketika bersama si triplets.


"Abang berharap, Tuhan memberikan anak-anak seperti mereka yang akan menemani kamu, supaya tidak kesepian."


Sebuah harapan yang semoga segera terkabulkan. Sederhana, tetapi memiliki makna yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Aksa masuk ke dapur dan berdehem. Keempat perempuan itu terdiam dengan wajah yang penuh dengan selai dan juga cokelat. Tatapan tajam Aksa mampu membuat si triplets saling pandang. Tiga detik kemudian, mereka melesat ke kamar mandi menghindari amukan dari omnya yang terbilang galak jika dia sudah marah. Tatapan itu tak hanya berlaku untuk si triplets, dia juga menatap tajam ke arah istrinya. Rasa takut mulai menyelimuti hati Riana. Dia sendiri tahu bagaimana jika suaminya marah.


Riana mulai mundur dan akan kabur, tetapi Aksa mengangkatnya dan mengunci tubuhnya. Aksa balikkan tubuh Riana tanpa melepaskan tangannya di pinggang Riana.


"Ma-maaf."

__ADS_1


Cup.


Bibir Aksa mulai bersilat lidah. Sontak mata Riana membola, tetapi Aksa meminta perlawanan membuat Riana pun membalas dengan penuh penghayatan. Setelah dirasa cukup, Aksa tersenyum. Kemudian, mengecup kening istrinya sangat dalam.


"Semoga rumah kita akan ramai seperti ini, ya."


Sungguh hati Riana menghangat dan lengkungan senyum pun terukir di wajahnya. Rengkuhan pinggang itu terlepas ketika si triplets keluar dari kamar mandi. Mereka mencium bau gosong dan kompak berteriak, "Aunty!"


Bibir mereka dimanyunkan tiga senti. Bagaimana tidak, roti yang sudah mereka buat malah gosong dan tidak bisa dimakan.


"Udah dong jangan marah. Kita makan di luar aja, ya. Apapun yang kalian minta Uncle turutin."


"Beneran?" Aksa mengangguk.


Teriakan gembira keluar dari mulut mereka. Namun, Aleena duduk di pangkuan Aksa. Dia menatap lekat wajah sang paman.


"Uncle gak bertaring, tetapi kenapa bisa banyak tanda merah di leher Aunty?"


Aksa terdiam, bingung untuk menjelaskan terlebih mereka masih anak kecil. Untung saja Riana sudah keluar kamar dan mengajak ketiga keponakannya untuk berganti pakaian.


"Sayang, kita makan di luar aja. Sekalian ajak main mereka." Riana mengangguk dan semakin semangat untuk mempercantik ketiga keponakannya.


Setelah keponakannya cantik, giliran Riana yang akan berganti pakaian. Dilihatnya sang suami masih duduk di atas ranjang sambil memainkan ponsel.


"Abang, kok belum siap-siap. Nanti diprotes loh," imbuh Riana.


"Siapin baju Abang, Sayang."


"Ada apa, Abang?"


"I love you," ucapnya.


"Love you too, Abang." Riana mengecup bibir suaminya singkat, agar dia mau beranjak.


Seruan suara dari luar membuat Aksa mengerang kesal dan Riana tertawa. Seakan ketiga keponakannya itu tidak memberikan ruang kepada Aksa untuk bermesraan bersama sang istri.


"Tuh, alarm udah bunyi," kata Riana tertawa.


"Hem, jangan cantik-cantik," pinta Aksa. Sebelum ganti baju dia mengecup pipi Riana sekilas.


Setelah semuanya siap, mereka bergandengan tangan keluar apartment. Mereka saling bergenggaman tangan seakan tak ingin terpisahkan.


Senyum Aksa melengkung dengan sempurna ketika melihat kursi penumpang belakang diisi ketiga anak yang cantik dan aktif. Dia membayangkan jika itu anak-anaknya. Sudah pasti akan menjadi kebahagiaan yang luar biasa.


Seperti biasa, mereka selalu mengambil apa yang mereka mau. Tak pernah memperdulikan harga. Aksa dan Riana hanya tertawa saja. Membiarkan ketiga keponakannya seperti itu.


Total belanjaan pun tak Riana dan Aksa hiraukan, yang terpenting mereka berdua bahagia.


"Udah puas?" tanya Aksa.


"Udah Uncle. Terima kasih," ucap mereka sambil memeluk tubuh Aksa dan mencium pipi paman mereka itu. Riana tertawa melihat tingkah si triplets.

__ADS_1


"Aunty gak dicium?" Mereka pun beralih kepada Riana. Mencium pipi Riana bertubi-tubi.


Bagi orang yang melihat, mungkin mereka seperti keluarga bahagia. Selalu terdengar gelak tawa di antara mereka.


Puas berjalan-jalan, mereka pulang ke apartment. Mata si triplets sudah lima Watt.


"Bang, kalau punya anak seperti ini ramai ya, rumah kita." Aksa menoleh ke arah sang istri. Senyum melengkung indah di wajahnya.


Tangan Aksa mengusap lembut perut Riana. "Abang yakin, di sini nanti akan tumbuh anak-anak kebanggaan kita."


Riana ikut menyunggingkan senyum, dia meraih tangan Aksa yang ada di perutnya.


"Semoga doa Daddy terkabul, ya."


"Amin."


Tibanya di apartment, si triplets ingin segera naik ke tempat tidur. Akan tetapi, Riana melarangnya.


"Cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, sikat gigi terus ganti baju. Baru boleh tidur."


Aksa yang mendengar ucapan Riana tertawa. Sudah cocok sekali istrinya menjadi ibu yang cerewet. Aksa memeluk tubuh Riana dari belakang. Mengecup tengkuk leher sang istri tercinta.


"Sabar ya, masih ada mereka." Aksa tidak menjawab. Dia malah meletakkan dagunya di pundak sang suami.


"Uncle, jangan peluk-peluk Aunty di depan kita orang. Mata kita ternoda," omel Aleesa yang kini sudah menutup wajahnya dengan telapak tangan. Riana dan Aksa tertawa. Padahal mereka sudah melihatnya.


Ketiga anak itu naik ke tempat tidur Aksa dan Riana karena Riana tidak ingin ketiga keponakannya tidur di kamar tamu. Riana menyelimuti tubuh ketiga keponakannya. Tak lama mereka terlelap dengan sendirinya.


Riana menghampiri sang suami yang tengah ada di ruangan depan. Aksa menatap ke arah Riana ketika pintu kamarnya terbuka.


"Udah tidur?" Riana mengangguk.


Riana duduk di samping sang suami dan meletakkan kepalanya di bahu sang suami.


"Kakak katanya gak bisa pulang malam ini. Si Bandit juga baru bisa terbang besok siang. Jadi, anak-anaknya sama kita dulu." Riana mengangguk mengerti.


"Kamu gak keberatan 'kan?" tanya Aksa. Riana menatap ke arah Aksa seraya tersenyum.


"Mereka juga anak-anak kita," sahutnya.


Dua manusia yang baru saja sah dalam ikatan suci pernikahan kini sudah saling menyapu bersih bagian yang memabukkan. Bibir mereka bersatu padu dan mulai melakukan silat lidah. Mereka seakan lupa diri, terhanyut dalam buaian kenikmatan yang tak tertandingi.


Di balik pintu luar, seseorang menunjukkan rona bahagia ketika bisa membuka pintu apartment Aksa.


"Astaghfirullah Al adzim!" pekiknya yang baru saja berada di ambang pintu.


"Mata perjaka gua ternoda."


...****************...


Kalau komen banyak UP lagi ...

__ADS_1


__ADS_2