
Aska memilih untuk tetap menemani sang Abang di rumah sakit. Biarkanlah ayah dan ibunya yang menyiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke Melbourne esok. Dia juga tidak ingin melihat ibunya bersedih karena kabar dadakan yang dia ambil.
Orang yang membuat dia nyaman adalah Aksara, kembarannya. Tanpa dia berkata Aksa seakan tahu segalanya. Maka dari itu, dia ingin menghabiskan malam ini bersama kembarannya. Banyak yang tidak bisa Aska sampaikan, tetapi dapat diketahui Aksa. Itulah yang membuat Aska merasa bahwa Aksa dapat mengerti dirinya. Sandarannya ketika dia tengah tersiksa seperti ini.
Malam ini, Aska masih betah menatap lampu-lampu gedung-gedung tinggi dari balik jendela. Tatapannya lurus ke depan. Tersirat satu nama di hati dan kepalanya, Jingga.
"Kamu pergi ke mana?" batinnya.
Kini, Aska menatap langit malam yang mendung sama seperti hatinya. Sebuah pesawat melintas. "Apa kamu ada di sana?" gumamnya.
Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Pada nyatanya melupakan itu tidak semudah yang diucapkan. Satu bulan tak bertatap muka dengan Jingga tak membuat rasa cinta dan sayang itu hilang. Malah semakin melekat di hati.
Tepukan di pundaknya membuat Aska menoleh. Sang Abang sudah menatapnya dengan serius. Aska melihat ke arah ranjang pesakitan, ternyata istri dari abangnya sudah terlelap dengan nyenyak.
"Gak ada yang tahu dia pergi ke mana." Aksa sudah membuka suara.
Aska hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia pun kembali menatap suasana Kota Jogja dari lantai atas rumah sakit.
"Kenapa harus dicari tahu?" balas Aska. "Tanpa gua tahu keberadaannya, itu akan membuat gua semakin mudah melupakannya," tambahnya lagi.
Aksa tersenyum tipis mendengar jawaban dari adiknya itu. Dia ikut menatap lampu-lampu gedung tinggi dari balik jendela bersama Aska. Tangannya sudah dia masukkan ke dalam saku celana.
"Jangan selalu membohongi hati lu," ujar Aksa. "Lu berhak kok bilang kalau lu sedang gak baik-baik aja karena ucapan lu itu gak sesuai dengan isi hati lu."
Aska menoleh ke arah Aksa, abangnya jika bicara selalu pada tepat sasaran.
"Gua pernah berada di posisi lu," terang Aksa. "Ketika ego ingin melupakannya, tapi hati masih mencintainya yang ada gua nyakitin diri gua sendiri." Kini, Aksa menoleh ke arah Aska yang juga sudah menatapnya.
"Gak ada larangan untuk lu nangis," imbuh Aksa. "Sesungguhnya tangisan itu adalah cara seseorang yang tak bisa mengungkapkan apa yang tengah dia rasakan dan air matalah yang menjadi bukti betapa sakitnya hati seseorang itu."
__ADS_1
Aska tersenyum dan menunduk dalam. Kalimat yang abangnya ucapkan sama seperti apa yang tengah dia rasakan. Sakit, perih dan kecewa jadi satu. Namun, mulutnya seakan terkatup rapat.
"Luapkan apa yang lu rasakan. Gua tahu mulut lu gak sanggup untuk bicara."
Tubuh Aska pun luruh ke lantai. Dia memeluk lututnya dengan air mata yang terus berjatuhan. Aksa hanya bisa menatap sang adik dengan tatapan pilu. Jujur, hatinya juga hancur. Selama dua puluh lima tahun bersama, dia baru melihat Aska serapuh ini.
"Sakit, Bang." Aska menekan dadanya, suaranya pun bergetar.
Aksa ikut mendudukkan dirinya di lantai. Dia mengusap lembut punggung Aska.
"Kenapa harus sahabat gua? Kenapa Bang?" Suara Aska terdengar sangat pilu.
Aksa belum bisa berbicara apapun. Dia membiarkan adiknya meluapkan apa yang dia rasakan. Terlalu banyak yang Aska pendam. Ketika tangis Aska mulai mereda, Aksa menepuk pundak adiknya. Aska sudah mengusap kasar air mata yang membasahi wajahnya.
"Di balik cobaan ini pasti akan ada kebahagiaan yang sudah menunggu lu di depan," kata Aksa seraya tersenyum. Aska membalasnya dengan senyuman juga.
"Tuhan itu memiliki rencana yang tidak bisa kita tebak. Terkadang, kita dibuat berpisah sejenak dan pada akhirnya malah dipertemukan lagi. Atau sebaliknya ... didekatkan terus menerus, tapi pada akhirnya dipisahkan."
Aksa merangkul pundak sang kembaran. Ini malam terakhir di mana mereka akan sedekat ini sebelum mereka akan dipisahkan oleh jarak.
"Gua yakin, orang yang membawa Jingga bukanlah orang sembarangan," ucap Aksa. Sang adik masih setia mendengarkan dengan serius.
"Dinding kerahasiaan mereka sangat tebal. Gua aja gak bisa nembus itu," terang Aksa.
Otak Aska mulai mencoba berpikir. Dia menoleh ke arah sang Abang. "Apa dibawa oleh orang suruhan Daddy?" tebak Aska.
Aksa menggeleng dengan cepat. "Orang-orang dalam Daddy masih bisa gua sadap. Lagi pula dinding kerahasiaannya bukan yang sering dimainkan oleh Daddy juga orang-orangnya," papar Aksa.
"Lalu, siapa?" tanya Aska.
__ADS_1
"Gua gak tahu, pihak rumah sakit pun menutup mulut mereka dengan sangat rapat," jawab Aksa. "Padahal, rumah sakit itu masih di bawah naungan WAG grup," lanjutnya lagi.
"Apa lu gak pakai nama Kakek pas nyari tahu itu?"
"Udah, tapi rapet banget. Sama sekali gak ada celah buat gua masuk," jelasnya.
"Petinggi rumah sakit pun gua kenal semua. Gak jauh beda sama rumah sakit yang lain yang di bawah naungan WAG Grup. Untuk kasus Jingga ini beda," paparnya. "Hebatnya lagi, tidak ada jejak sama sekali yang ditinggalkan. Gua sangat yakin, orang itu adalah orang yang memiliki kekuasaan di mana-mana."
Aska hanya mengangguk mengerti. Namun, dia sudah tidak ingin tahu lagi perihal siapa yang membawa Jingga dan pergi ke mana wanita yang dia sayangi. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar melepaskan juga mengikhlaskan.
"Makasih, Bang. Lu selalu ada buat gua dan bantu gua. Mulai hari ini, gua mohon ... jangan repot-repot mencari tahu perihal dia lagi. Biarkan dia bahagia karena gua yakin, kepergiaan dia pasti untuk mencari kebahagiaan yang sesungguhnya. Sama halnya dengan gua, kepergiaan gua untuk mencoba mengikhlaskan dia."
Aska masih bisa tersenyum dan Aksa hanya dapat membalas senyuman yang adiknya berikan.
"Gua cukupkan perasaan ini sampai hari ini. Walaupun gua tahu, luka dan rasa sakitnya masih akan terus bersarang di hati gua entah sampai kapan. Harapan gua cuma satu, gua ingin dia dan gua bahagia dengan kehidupan kita masing-masing."
"Ketika gua menginjak negara lain, di situlah kehidupan baru gua dimulai. Melepaskan masa lalu yang masih bergelayut manja di kepala." Kini, Aska menatap lurus ke depan.
"Kalau takdir gua dan dia berjodoh, biar waktu yang menentukan, doa yang mengeratkan dan Tuhan yang menyatukan," tukas Aska lagi.
"Gua percaya bahwa jodoh itu rahasia Tuhan. Seerat apapun gua menggenggam dia jika pada nyatanya gua gak berjodoh, kita akan tetap terpisah. Sebaliknya, sejauh apapun jarak di antara kita, beribu cara gua melupakannya begitu juga dengan dia kalau Tuhan menakdirkan kita bersama, kita gak akan pernah bisa ngelak."
Aksa tersenyum dan menepuk pundak Aska untuk ke sekian kalinya. "Gua selalu berdoa untuk kebahagiaan lu. Siapa saja wanita yang menjadi istri lu, semoga menjadi jodoh terakhir dalam hidup lu."
...****************...
Ehem! Kode bukan ya? 😁
Yang nanyain Jodoh Terakhir kapan terbit padahal udah lewat pertengah bulan, mohon maaf tidak sesuai dengan planning.🙏🏻 Doakan saja semoga awal bulan bisa launching. Jangan ditanya tanggal berapa karena aku pun belum tahu.
__ADS_1
Jangan lupa komen.