Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Yin Dan Yang


__ADS_3

Keadaan haru nampak sangat jelas. Sepasang suami-istri ini memperlihatkan kesedihan mereka yang tak bisa mereka tahan lagi. Meskipun, masih ada satu yang berkembang di rahim Riana, tetap saja mereka masih teringat akan ucapan dokter Gwen, bahwasannya Riana hamil anak kembar.


"Ketika kamu mendapatkan kebahagiaan, pasti akan ada kesedihan yang datang. Hidup ini adil, ada Yin juga Yang. Di hari ini, kamu dapat keduanya," imbuh Gio.


Aksa yang masih memeluk tubuh ibunya, kini perlahan mengurai pelukannya. Dia menatap sendu ke arah ayahnya.


"Ada satu nyawa yang membutuhkan kasih sayang kalian. Ada satu nyawa yang memerlukan perlindungan kalian. Jangan tenggelam dalam rasa sedih ini. Sesungguhnya kalian masih memiliki kebahagian yang lainnya," tutur Gio.


Riana yang tengah memeluk tubuh ayahnya pun mengurai pelukannya. Dia memandang wajah suaminya yang juga sama hancurnya seperti dirinya.


"Jangan sampai rasa sedih kalian malah menghilangkan bayi yang ingin hadir ke dunia. Boleh sedih, tapi cukup sampai hari ini," imbuh Gio lagi.


Aksa dan Riana saling tatap. Apa yang Gio katakan sangat benar. Masih ada satu nyawa yang ada di dalam perut Riana. Nyawa itu sedang bertumbuh di sana dan memerlukan kasih sayang dari mereka berdua.


Aksa menghampiri istrinya dan bersimpuh di hadapan Riana. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri.


"Cukup hari ini ya sedihnya. Masih ada baby yang lain di perut kamu." Riana yang masih berkaca-kaca mengangguk pelan dan Aksa memeluk erat tubuh Riana.


"Abang akan selalu menjaga kamu dan tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi." Air mata Riana meluncur bebas lagi dan lagi.


"Jaga cucu Ayah, ya. Jangan sampai kalian menyesal," kata Rion.


Riana sudah diperbolehkan pulang karena tidak perlu dilakukan perawatan. Pendarahan Riana pun hanya seperti haid di hari pertama. Sekarang pun sudah surut.


Aksa menggenggam tangan Riana dengan sangat erat. Mereka berdua ikut di mobil Gio. Raut sedih masih terlihat jelas di wajah keduanya. Namun, itu hal yang wajar. Ini anak pertama untuk mereka berdua. Ketika dokter memberikan kabar bahagia, tetapi kesedihan yang mereka dapat pasti mereka akan sulit menerimanya.


Tibanya di rumah, Aksa masih menuntun Riana hingga ke kamarnya yang di lantai dua.


"Abang siapin air hangat dulu, terus kamu bersihin badan, ya." Riana mengangguk pelan.


Dia melihat ke arah sprei yang tenyata sudah diganti oleh pekerja di rumah Gio. Kemudian, dia melihat ke arah bajunya yang ada bercak darah kering. Hatinya sangat sakit.


Aksa keluar dari kamar mandi. Dia menatap istrinya yang tengah menunduk dalam.


"Sayang," panggil Aksa.


Riana menoleh ke arah Aksa. Di kemeja Aksa pun ada darah kering.


"Baju Abang ...." Riana tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Biarkan saja. Tolong kamu simpan ya baju ini. Jangan dicuci, ini adalah kenangan terakhir dari anak kita."


Hati Riana sakit mendengarnya. Dia segera memeluk tubuh Aksa. "Maafkan Ri, Bang."


Aksa menggeleng dan mempererat pelukannya. "Dokter sudah bilang 'kan penyebab anak kita gugur itu apa. Tidak ada yang salah di antara kita berdua. Sudah takdir kita seperti ini," papar Aksa.


Riana membersihkan tubuhnya, sedangkan Aksa sedang membuka kemejanya. Dia menatap nanar ke arah kemeja yang terdapat bercak darah tersebut.


"Maafkan Daddy ya, Nak."


Aksa sebenarnya sangat rapuh. Hanya saja, dia tidak ingin terlihat seperti itu di hadapan istrinya. Sekuat tenaga dia bohong akan perasaannya.


Aksa sudah menyiapkan baju untuk sang istri. Riana yang baru selesai mandi, segera keluar Dnegan menggunakan bathrobe. Lengkungan senyum terukir di wajahnya ketika sudah ada bajunya di atas kasur. Namun, dia tidak melihat suaminya di dalam kamar. Ponselnya pun ada di atas nakas.


Riana segera memakai baju yang sudah Aksa siapkan dan segera keluar dari kamar.


"Abang!" panggilnya.


Wajah Riana sudah ingin menangis. Dia sama sekali tidak ingin ditinggalkan oleh suaminya lagi.


"Abang!" Kini Riana berteriak.


"Ada apa, Ri?" tanya Ayanda.


"Abang ke mana, Mom?" Raut wajah Riana sudah sendu.


"Bukannya tadi di kamar." Riana pun menggeleng.


Ayanda menyuruh menantunya ini untuk duduk di sofa yang berada di depan kamar. "Biar Mommy yang cari, ya." Riana pun mengangguk.


Ayanda mencari ke ruang kerja Aksa, tetapi tidak ada. Kemudian dia mencari ke ruang kerja suaminya. Hanya ada Gio yang tengah melanjutkan pekerjaannya di rumah. Ayanda berpikir sejenak. Dia segera turun ke lantai bawah. Dia tahu di mana Aksa berada.


Benar saja feeling Ayanda, Aksa tengah berada di lapangan basket dengan wajah yang tertunduk. Lapangan yang menjadi tempat Aksa untuk meluapkan segala keluh kesahnya.


"Abang." Suara sang ibu memanggilnya. Aksa menatap ke arah ibunya dengan tatapan pilu.


"Riana mencari kamu." Mata Aksa melebar mendengar ucapan dari ibunya. Dia segera bangun dan ingin menemui istrinya.


"Dia sedang menahan tangisnya, sepertinya dia tidak ingin jauh dari kamu." Kalimat yang diucapkan Ayanda membuat Aksa berlari menuju sang istri. Ketika dia menaiki anak tangga, terlihat Riana yang tengah menunduk dengan punggung yang bergetar.

__ADS_1


"Sayang," panggil Aksa.


Wajah Riana sudah dibanjiri air mata dan Aksa segera berhambur memeluk tubuh istrinya.


"Jangan tinggalin, Ri. Ri, takut," lirihnya.


"Iya, Sayang."


Aksa membawa tubuh istrinya ke kamar. Dia menyuruh istrinya untuk beristirahat, sedangkan dirinya masuk ke dalam kamar mandi.


Sedari tadi ponsel Aksa bergetar, tetapi didiamkan saja oleh Riana. Tak lama, suaminya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Dia memilih memakai celana pendek karena dia tidak ingin ke mana-mana. Dia hanya ingin menemani istrinya agar tak bersedih lagi.


"Bang, hapenya dari tadi getar terus," lapor Riana sambil bersandar di kepala ranjang.


"Biarin aja, Sayang," jawab Aksa sambil memakai kaos.


Setelah selesai Aksa menghampiri istrinya. Duduk di samping istrinya dan menarik tangan Riana agar masuk ke dalam pelukannya.


"Mulai sekarang, Abang akan selalu menjaga kamu dan juga anak kita. Abang akan selalu menemani kalian." Sebuah kecupan Aksa berikan di puncak kepala Riana.


"Seriusan?" tanya Riana. Aksa mengangguk. "Kerjaan Abang gimana?" Kini, Riana mendongak ke arah suaminya.


"Peter yang atur. Perusahaan Abang sudah resmi berkerja sama dengan perusahaan yang sangat besar di Melbourne, jadi Abang hanya berada di belakang layar saja."


Wajah terkejut Riana tunjukkan, sedangkan Aksa sudah tersenyum ke arah Riana. "Abang akan bantu Daddy di sini karena Daddy harus ke luar negeri untuk beberapa Minggu ini." Aksa mengecup bibir Riana karena sedari tadi istrinya ini terus berkaca-kaca.


"Abang, tidak akan meninggalkan kamu serta anak kita." Riana pun akhirnya tersenyum dan mencium lembut pipi sang suami.


Aksa mulai mencium perut Riana dan membisikkan sesuatu, "kamu boleh bermanja dengan Daddy. Daddy sudah ada di samping kamu sekarang."


Riana mengusap lembut rambut sang suami. Hatinya menghangat. Dia kehilangan salah satu anaknya, tetapi dia mendapati kenyataan bahwa suaminya telah kembali dan akan selalu ada di sisinya.


Getaran ponsel semakin mengganggu, Riana menyuruh Aksa untuk menjawabnya.


"Adik Anda babak belur. Pria gila itu datang ke Jakarta."


...*************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2