Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Berharap Peka


__ADS_3

Di hari yang sama seperti hari di mana Aksa dan Riana pergi ke pusara sang bunda, Aska masih betah berada di dalam kamarnya. Hari ini dia memutuskan untuk tidak ke kafe.


"Dek," panggil sang ibu.


Aska yang tengah berbaring pun sedikit menoleh. Senyuman hangat pun terpancar di wajah yang masih sangat cantik dan mempesona, yaitu Ayanda.


"Ada apa?" Ayanda sedikit curiga dengan apa yang sedang terjadi dengan sang putra. Tidak biasanya Aska seperti ini.


"Adek hanya lelah, Mom. Adek ingin istirahat sejenak."


Alasan itulah yang keluar dari mulut Aska. Dia memang sedang lelah, lelah menghadapi hatinya yang sedang bimbang. Mempertahankan persahabatan atau memilih melupakan perempuan yang sedari dulu dia cintai.


Ayanda tersenyum dan duduk di samping sang putra. Aska pun tak malu memeluk pinggang ibunya. Usianya sudah dewasa, tetapi manjanya masih tetap sama.


"Dek, kalau kamu mencintai seseorang katakanlah pada dia. Jangan dipendam terus, nanti kamunya akan menyesal," tutur sang ibu. Ayanda seperti mengerti isi hati Aska.


"Sudah berkali-kali Adek mengatakan cinta padanya, Mom. Namun, dia hanya menginginkan untuk bersahabat dulu. Belum mau memiliki status itu," terang Aska.


Aska bukan tipe pria pemaksa. Dia membiarkannya saja yang terpenting Jingga masih bersamanya. Namun, kali ini sedikit berbeda. Jingga seolah melupakannya. Bertanya perihal dia pun tidak. Sedikit kecewa itulah yang Aska rasakan.


"Mungkin kamunya kurang gigih. Jadinya dia sedikit ragu," balas sang ibu seraya mengusap lembut rambut putra bungsunya. "Wanita itu akan tersentuh dengan perjuangan seorang pria. Kegigihan dalam merebut hatinya," papar Ayanda lagi.


Aska hanya terdiam ketika sang ibu berkata seperti itu. Apa yang ibunya katakan benar adanya, Bukan hanya ibunya yang mengatakan hal seperti itu. Sang Abang pun berbicara hal yang sama dengan sedikit memaki.


"Lu itu cowok berhati lembek. Mana ada playboy modelan kayak lu!"


Bukan hanya kalimat itu saja yang keluar dari mulut Aksa. Dia juga memberikan kata-kata mutiara yang sangat menusuk ulu hati.


"Kalau cuma ingin jadi pecundang, buat apa lu berjuang? Mending mudur dari sekarang."


Jika, orang lain yang mengatakan itu kepada Aska, sudah pasti dia akan marah. Namun, Aksalah yang berbicara. Aska hanya diam tanpa bisa mencela.


Keesokan paginya, meja makan lengkap diisi oleh para penghuni rumah besar milik Giondra. Sama seperti hari-hari sebelumnya, Riana hanya akan menemani suaminya sarapan, sedangkan dirinya hanya meminum satu gelas susu ibu hamil rasa cokelat.


"Ri, jangan ngurangin makan, ya. Wanita hamil badan berisi itu hal yang wajar." Nasihat dari sang ayah mertua.


Semua orang mengatakan bahwa Riana semakin berisi di kehamilan pertamanya. Namun, Aksa tidak mempermasalahkan. Dia malah senang melihat Riana lebih montok.


"Iya, Daddy."


"Riana bukan ngurangin makan, Dad. Dia tidak bisa sarapan pagi. Nanti makannya jam sembilan atau jam sepuluh. Semuanya sudah Mommy atur dan siapkan. Mommy juga akan bertanya kepada Riana ingin dimasakkan apa supaya dia lahap makannya."


Riana hanya tersenyum mendengar penjelasan ibu mertuanya. Meskipun dia sudah tidak memiliki Ibu kandung, ibu mertuanya selalu memperlakukannya bak anak sendiri. Apa yang Riana inginkan pasti akan dituruti. Bukan karena Riana manja, tetapi memang Ayanda yang menawarkan.

__ADS_1


Aska hanya menjadi penonton saja. Riana sangat beruntung karena ibunya sangat menyayanginya. Terbesit tanya dalam benaknya. Apa nanti istrinya kelak diperlakukan sama seperti itu oleh sang ibu?


Aska memilih untuk pergi terlebih dahulu karena dia tahu banyak laporan yang sudah menumpuk karena absennya dia kemarin. Tibanya di kafe, senyuman JIngga menyambut paginya. Akan tetapi, Aska tidak membalas senyuman hangat itu. Dia memilih untuk segera menuju lantai atas. Jingga sedikit terkejut melihat sikap Aska seperti ini. Dia hanya terus berpikir positif dan menikuti langkah Aska dari belakang.


"Gua kira lu bunuh diri," ejek Ken, ketika Aska masuk ke dalam ruangan.


Tidak ada respon dari Aska dan membuat Ken menyikut lengan Juno.


"Wanita yang sama dicintai kedua sahabatku," ucap Juno dengan mata yang masih fokus pada layar segiempat. Hanya decakan kesal yang menjadi jawaban dari Aska.


Pjntu ruangan terbuka, ketika Jingga masuk ke dalam ruangan ,mereka bertiga tiba-tiba mendadak diam


"Ini, Pak." Jingga sudah membuatkan Aska kopi kesukaannya.


"Saya tidak menginginkannya," ketus Aska.


Bukan hanya kedekatan JIngga dengan sahabatnya yang membuat Aska kesal. Ponsel JIngga pun seolah susah untuk dihubungi.


Drrt ...


Ponsel Jingga berdering. Dia tidak berani menjawabnya karena tiba-tiba suasana mendadak mencekam.


"Kenapa gak diangkat?" Pancing Ken.


"Dari pujaan hati mah angkat aja kali. Gak usah malu-malu." Juno yang notabene pria yang tak banyak bicara malah berkata sangat pedas.


"Bu-bukan, Pak," elak Jingga.


Aska masih tak bereaksi, dia bagai patung bernapas. Dalam hatinya sudah sangat panas seperti panasnya api neraka.


"Ken, buatkan gua es cokelat," titah Aska.


JIngga terkejut dengan ucapan Aska. Dia adalah asisten Aska, tetapi kenapa malah Ken yang disuruh oleh pria yang terlihat berbeda hari ini.


"Siap laksanakan!"


Baru saja Ken bangkit dari kursinya, suara pintu terbuka membuat semua orang menatap tajam ke arah tersebut.


"Hai, kawan!"


Sapaan hangat juga senyuman manis pria itu tunjukkan pada empat orang tersebut.


"Hai, JIngga."

__ADS_1


Kalimat itu terdengar sangat manis dan lembut yang diucapkan oleh pria tersebut. Ken dan Juno saling tatap, mereka berdua kompak melihat ke arah Aska yang masih fokus pada layar laptopnya.


"Lu gak nyambut gua?" sergah Bian terhadap Aska.


"Emang lu siapa? Pengen banget disambut sama gua," jawab Aska dengan sangat ketus.


"Sensi amat sih kayak anak perawan," canda Bian.


Ken dan Juno hanya dapat menghela napas kasar. DI antara mereka bertiga Hanaya Bian yang belum mampu peka terhadap ucapan Aska. Dialah yang tidak bisa membedakan mana ucapan bercanda, mana ucapan serius.


"Lu ngapain ke sini?" tanya Juno yang sudah ingin menyudahi panasnya hati Aska.


"Lah, kenapa pada sewot begini sih? Lagi datang bulan juga lu," balas Bian.


Bi, gua mohon cepatlah jadi manusia pandai. Singa jantan sudah mulai keluar taringnya.


Itulah ucapan Juno dalam hati, DIa terus membajaknya doa supaya sahabatnya ini cepat mengerti dan peka. Namun, Bian malah mendekat ke arah JIngga yang berada di samping Aska.


Jingga yang merasa Aska sudah berubah sedikit mundur dan mundur ketika Bian mendekat hingga dia membentur tubuh samping Aska. Pria yang tengah menahan cemburu itupun menoleh dengan tatapan tajamnya.


"Ma-maaf," ucap JIngga.


Aska beranjak dari duduknya. Mendorong kursinya dengan sedikit kasar hingga membuat ketiga sahabatnya terlonjak.


"Selesaikan urusan kalian." Aska berlalu begitu saja tanpa kata,


Brak!


Bantingan pintu nyaring sekali terdengar. Jingga menatap ke arah sang atasan dengan mata yang nanar. Dia tahu, Aska sedang marah besar,


"Bang As!"


...****************...


Note.


Bagi pembaca yang bosan dengan cerita Aksa-Riana yang Aku tulis langsung skip aja, ya. Tidak usah berkomentar aneh-aneh. Jaga jarinya karena tidak semua penulis bermental baja.


Ingat, ini cerita menceritakan kisah Aksa dan Riana, Aska-Jingga hanya pemanis saja. Jadi, wajar jika ceritan didominasi kisah Riana juga Aksa.


Cerita ini aku tulis bukan semata-mata aku tulis begitu saja. Aku sudah riset terlebih dahulu sebelum menulis. Ada yang berkomentar bahwa Sikap Riana yang dikatakan lebay di part sebelumnya.


Mohon maaf. tidak ada yang salah dari sikap Riana. Kehilangan anak yang ada di dalam kandungan itu sangat amat menyakitkan, meskipun belum pernah melihatnya. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mengikhlaskan. Apalagi kehilangan ibu, wanita yang sudah melahirkan kita. Sakit dan sedihnya akan terasa sampai kita tua nanti. Semoga dapat pelajaran yang bisa dipetik dalam setiap tulisanku ini.

__ADS_1


__ADS_2