
Di sepanjang perjalanan menuju kosan, Riana masih memikirkan si pemilik kosan. Pria itu masih muda, bisa diperkirakan seumuran dengan Aksa. Wajahnya pun tampan, tetapi perkataannya amat mengerikan. Apalagi tatapannya itu, persis Rani. Tajam dan sangat membunuh.
Ketika Riana masuk ke dalam halaman kosan, Riana sedikit terkejut karena sang pemilik kosan sudah berada di depan kosan ditemani dua cangkir kopi. Riana sedikit bingung, padahal pria itu seorang diri. Kenapa minumannya ada dua?
Mungkin saja tadi ada yang bertamu.
Begitulah pikirnya, dia teringat akan pesan sang kakak yang tidak boleh menaruh curiga kepada orang lain.
"Sore, Om." Riana mencoba menyapanya.
"Sejak kapan saya menikah dengan Tante kamu?" Sasis sekali jawaban dari pria yang berada tak jauh dari hadapan Riana.
"Sore, Pak," sapanya lagi
"Saya bukan bapak kamu!" tegasnya.
Astaga!! Sabar Ri, Sabar ....
"Sore, Bang." Riana mencoba menyapanya kembali dengan sebutan yang lain.
"Emang saya tukang bakso dipanggil Abang," serunya.
Sebuah lemparan jeruk mengenai kepala belakang si pemilik kosan hingga dia pun mengaduh. Si pemilik kosan sudah berdiri di depan pintu dengan menatap Riana tajam. Riana sedikit curiga kepada pemilik kosan ini, kata Rani pemilik kosan ini hanya tinggal seorang diri. Akan tetapi, jeruk itu berasal dari dalam rumah. Berarti di dalam rumah ada penghuni lain 'kan. Selain penghuni tak kasat mata.
"Ngapain kamu lihatin saya seperti itu?" sergah pemilik kosan.
"Eh, maaf. Lalu, saya harus panggil Anda apa? Sepertinya usia Anda di atas saya. Tidak sopan jika saya memanggil Anda tanpa embel-embel," ucapnya.
"Kamu mau bilang saya tua?" hardiknya lagi.
"Bu-bukan begitu ... saya hanya tidak terbiasa memanggil orang yang lebih tua di atas saya tanpa embel-embel."
Pantas saja bikin si kunyuk tidak berkutik. Lucu dan rada polos juga.
"Panggil saja saya, Mas," ujar si pemilik kos.
"Baik, Mas. Boleh saya tau nama Mas?" tanya Riana.
Pemilik kos itu terdiam sejenak. Ujung matanya melirik ke arah dalam kosan.
"Mas," panggil Riana.
"Nama saya Ari," tukasnya.
"Saya Riana, Mas. Salam kenal." Senyum manis terukir dari bibir Riana.
"Kalau begitu, saya permisi," pamitnya.
"Riana tunggu," cegah Ari.
Langkah Riana pun terhenti, dia menoleh ke arah Ari.
"Kalau pulang kuliah langsung pulang. Jangan kelayaban dulu." Riana mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya.
Riana bingung dengan Ari si pemilik kosan. Ketika Riana ada di mall, dia ada di sana. Ketika Riana tiba di rumah, pemilik kosan itu pun sudah ada di rumah.
__ADS_1
"Harus tanya Mbak Rani, nih," gumamnya.
Malam pun tiba, Rani belum juga pulang ke kosan. Riana yang sedari tadi sudah menunggu Rani pun harus menelan pil kecewa karena Rani mengirimkan pesan bahwa dia harus ke luar Kota.
Ting!
Abang Tercinta.
Kalau sendirian di kosan, jangan berani Nerima tamu.
Dahi Riana semakin berkerut, Aksa selalu mengirimkan pesan disaat seperti ini. Seakan dia tahu semuanya tentang Riana.
Bang, di mana Abang sekarang? Kenapa hati Ri merasa dekat dengan Abang?
Kenapa Abang selalu tahu apa yang seharian ini Ri lakukan?
Sebenarnya Abang ditugaskan di Kota mana sih?
Pesan yang dikirimkan secara bertubi-tubi oleh Riana hanya ceklis satu. Kesabaran Riana pun sudah habis, dia menghubungi Aksa. Sayang, hanya memanggil tanpa berdering. Riana pun mendengus kesal.
Ting!
Abang Tercinta.
Kamu lupa, Abang selalu ada di detak jantung kamu. Cincin yang menjadi liontin di kalung kita masing-masing memiliki magnet penghubung satu sama lain. Apapun yang kamu lakukan dan rasakan pasti Abang tahu.
Riana pun tersenyum membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Aksa.
"Miss you." Riana hanya mengirim balasan seperti itu.
Dilain tempat, seorang pria tengah tersenyum bahagia. Pesan yang baru dikirim oleh Riana menjadi penyemangat untuknya.
"Enak aja lu, Dek. Gua di sini punya tugas khusus dari sang Baginda," cetus Fahri.
"Tugas gua sama lu 'kan sama Kak," sanggah Fahrani.
"Masih aja kayak bocah yang rebutan mainan," imbuh Aksa.
"Fahri tetap di sini. Laporkan semuanya sama gua. Sedangkan lu, Fahrani. Ikut gua ke Jakarta. Di sana si Aska udah nungguin lu," canda Aksa.
"Ogah gua sama manusia kayak begituan," omelnya.
Suara tertawa mereka bertiga menggema di ruangan. Bercanda dan tertawa bersama hal yang jarang mereka lakukan.
"Kok, sepertinya ada orang-orang yang tertawa di kosan Mas Ari."
Riana keluar kosan, tetapi kosan Ari nampak sepi seperti biasanya. Tidak ada aktifitas di sana.
"Apa aku salah denger ya?"
Riana kembali lagi masuk ke dalam kosan. Menguncinya karena dia mengingat akan pesan Aksa.
Keesokan paginya, Riana keluar dari kosan untuk ke kampus. Mobil Ari si pemilik kosan sudah tidak ada di halaman. Riana hanya menggedikkan bahu. Bunyi klakson membuat Riana yang sedang mengunci pintu tersentak. Senyuman khas dari seseorang yang baru saja membuka helm-nya terukir sempurna.
"Aku udah pesen ojek online," ujar Riana.
__ADS_1
"Ya udah, kita tungguin tukang ojeknya." Riana mengernyitkan dahinya.
"Mau ngapain?"
"Bayar ongkos ojeknya, tapi kamunya harus ikut dengan aku. Aku yang akan anter kamu ke kampus," terang Arka.
"Gak usah, Ka," tolak Riana.
"Pokoknya ...."
Ponsel Riana berdering, sudut bibirnya terangkat ketika melihat nama yang memanggil.
Abang Tercinta calling ...
"Pagi Sayang."
"Pagi juga, Bang." Rona merah terlihat jelas di wajah Riana.
"Udah berangkat ke kampus?"
"Ini mau berangkat," jawabnya.
"Sama siapa?"
Deg.
Riana terdiam sesaat, Aksa seakan tahu dirinya sekarang sedang bersama siapa.
"Kenapa diam? Kamu gak lagi sama pria lain 'kan."
"Ri ... lagi sama Arka," ucapnya seraya menatap ke arah Arka.
Di balik sambungan telepon itu Aksa hanya diam. Tidak menjawab ucapan dari Riana.
"Bang," panggil Riana.
"Ya udah selamat belajar."
Sambungan telepon pun diputus sepihak oleh Aksa membuat Riana kalang kabut sendiri. Riana mencoba menghubungi Aksa lagi, tetapi tidak tersambung.
"Posesif banget, sih. Belum juga ada jawaban," gerutu Arka.
Tatapan tajam Riana berikan kepada Arka, menandakan bahwa dia tidak suka dengan ucapan Arka. Ojek online pun sudah datang dan tanpa banyak bicara Riana segera naik ke motor Abang ojol meninggalkan Arka seorang diri.
Di sebuah mobil, Aksa memejamkan matanya sejenak. Bohong jika dia tidak cemburu dengan apa yang baru saja dia dengar. Aksa kemudian menghubungi seseorang.
"Cepat urus perceraian ku. Aku sungguh tidak sanggup jika berlama-lama membiarkan Riana bersama Arka."
Fahri dan Fahrani yang mendengar ucapan sang bos hanya tertawa tanpa suara.
"Ran, setelah sampai Jakarta tolong atur pertemuanku dengan Kak Echa," titahnya.
"Siap laksanakan."
"Dan kamu Fahri. Jangan sampai kecolongan lagi."
__ADS_1
...****************...
Nah ... nah ... nah ...