
"Yang harus kalian khawatirkan itu Kak Aska," lanjut Iyan lagi.
"Aska?" ulang semua orang, kecuali Aksa juga Riana yang terdiam. Riana menggeleng pelan ke arah sang adik, tetapi Iyan tidak menggubrisnya.
"Ada apa dengan Aska?" tanya Ayanda penuh kekhawatiran.
Iyan mengangkat kedua bahunya. "Telepon saja," jawabnya acuh.
Semakin hari sensitivitas Iyan semakin tajam. Padahal dia tidak mengasahnya. Namun, kemampuannya semakin tak bisa diremehkan.
"Bang."
Suara Gio seperti alarm mematikan untuk Aksa. Sebisa mungkin dia bersikap biasa. Walaupun terlihat sedikit kegugupan pada wajahnya. Aksa pun memberanikan diri untuk menatap sang ayah.
"Ada apa sebenarnya?" Aksa hanya menggeleng. Namun, Gio tidak percaya dengan begitu mudahnya kepada gelengan Aksara.
"Jelaskan atau--"
"Abang sungguh tidak tahu, Dad," jawab Aksa.
"Lalu ... apa tujuan kamu menyuruh Aska datang ke sini?"
Deg
Sungguh Aksa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aksa benar-benar kalah telak. Tidak bisa menjawab pertanyaan sang ayah.
"Hubungi Askara!" Kini, perintah itu datang dari ibunya.
Aksa menatap ke arah sang istri. Riana pun berwajah sedikit cemas. Kepalanya mengangguk pelan dan itu terlihat jelas di mata Giondra. Kedua alis Giondra menukik dengan tajam. Dia sudah bisa menebak bahwa sedang ada persekongkolan di antara anak-anak dan menantunya.
Tangan Aksa sudah mengambil ponsel di dalam sakunya. Dia mencari nomor Aska dan segera menghubungi adiknya itu. Jujur, dia juga sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi kepada Askara.
Panggilan pun sudah tersambung. "Loudspeaker!" titah sang ibu.
Aksa tidak bisa membantah. Dia mengikuti apa yang Ayanda perintahkan dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Di berharap Aska baik-baik saja.
Di apartment milik sang Abang, Aska tengah membiarkan ponselnya yang bergetar. Dia tidak ingin diganggu untuk sementara waktu. Memulihkan hatinya yang masih teramat sakit. Dadanya yang masih sangat sesak dan egonya yang tidak ingin pergi dari tempat di mana dia dilahirkan.
"Aku tidak gila!"
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepala Aska. Disaat dia hendak mengikhlaskan wanita yang dia sayangi kepada sahabatnya, tetapi perlakuan sahabatnya malah seperti itu. Menyebut istrinya sendiri gila, padahal Jingga tengah dilanda trauma juga kesedihan yang mendalam.
Dia menatap dirinya di cermin. Luka lebam di wajahnya dia anggap sebagai hadiah termanis dari sahabatnya yang sebentar lagi akan dia masukkan ke dalam list orang yang tidak ingin dia temui di dunia ini.
Satu jam membiarkan ponselnya terus bergetar, akhirnya Aska menghentikan lamunan. Dia membuka deretan pesan dari anggota keluarganya juga panggilan yang sengaja tidak dia jawab. 'Abang kembar' nama pemanggil di sana. Ketika dia membuka pesan pun dilihatnya deretan pesan dari sang Abang. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Tangannya mulai membuka pesan dari sang Abang yang berjumlah puluhan. Aska mengira bahwa Aksa mengkhawatirkan dirinya. Namun, dugaan dia salah. Matanya melebar ketika membaca pesan yang membuatnya terkejut.
"Riana pingsan dan sekarang dirawat."
Tanpa pikir panjang dia segera membersihkan tubuhnya dan mengambil pakaian sang Abang. Dia segera keluar dari apartment dan menuju rumah sakit yang Aksa maksud.
Dilain rumah sakit, Jingga sedari tadi masih terdiam membisu. Tatapannya sangat kosong, makanan yang diberikan oleh pihak ruah sakit pun tidak dia sentuh sama sekali. Rasa lapar, haus sudah tidak ada pada tubuhnya. Hanya Aska, Aska dan Aska yang dia inginkan.
__ADS_1
"Bang As," ucapnya sangat pelan.
Bian hanya bisa memandangi Jingga dari jendela luar. Dia tidak bisa masuk karena Jingga sama sekali tidak ingin menemuinya. Dia akan berteriak sangat keras jika melihat Bian. Jingga akan seperti orang gila dan merancau tak jelas. Melihat Bian seakan melihat makhluk yang paling menjijikan yang ada di muka bumi ini.
"Apa aku harus bawa Aska ke sini?"
Bian seperti manusia yang memiliki kepribadian ganda. Sebenarnya, dia itu tidak kejam dan jahat. Dia hanya melampiaskan rasa kecewa yang ada di hatinya kepada Jingga. Kecewa pada sosok wanita yang sudah menipu dirinya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Bian. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding. Merutuki kebodohan dan menyesali kesalahannya. Aska orang baik, tetapi malah dia jahati tanpa ampun.
"Pak, kenapa tidak masuk?" tanya dokter yang akan masuk ke dalam kamar perawatan Jingga.
Bian hanya tersenyum perih dan berkata, "istri saya belum mau bertemu dengan saya."
Dokter mengangguk mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Bian. Dia juga tahu betapa Jingga terlihat membenci suaminya. Dokter itu memang tidak tahu permaslahannya, tetapi dia sangat yakin ada luka yang telah Bian torehkan sehingga Jingga sangat membenci Bian.
"Kalau begitu, saya masuk dulu."
Ingin sekali Bian mendampingi Jingga di dalam. Memeluknya seraya menenangkannya. Jangankan memeluk tubuh Jingga, menampakan wajahnya di hadapan Jingga saja sudah membuat Jingga histeris tak karuhan. Bian hanya bisa memandangi Jingga dari balik jendela.
"Selamat sore, Nona," sapa sopan dokter yang menangani Jingga. Tidak ada jawaban darinya. Mulutnya terus mengatup dengan sangat rapat.
"Saya periksa dulu, ya."
Mendengar kalimat tersebut membuat Jingga menoleh pelan. Dia menatap wajah dokter yang sudah mengarahkan stetoskopnya.
"Bisakah dokter suntik mati saya saja?"
"Tidak ada gunanya saya hidup. Semuanya sudah hancur, Dok. Sekarang, biarkan saja bertemu dengan ibu saya di surga."
Bukannya memeriksa, dokter itu memeluk tubuh Jingga dengan sangat erat. Dia sangat merasakan kesakitan yang Jingga rasakan. Sorot mata Jingga seakan penuh luka yang tak bisa sembuh dalam waktu singkat.
"Kamu pasti sembuh." Jingga pun menggeleng. Kemudian menjawab, "saya tidak ingin sembuh. Saya hanya ingin mati."
Pikiran Jingga sudah sangat buntu. Di mana dia ingin Aska berjuang untuk membawanya keluar dari lautan kesedihan, dia malah meninggalakan Jingga begitu saja. Tidak ada tempat bersandar juga mengadu lagi untuk Jingga. Lalu, untuk apa sekarang dia hidup? Apalagi bersama dengan laki-laki yang sudah merusak masa depannya. Apa dia harus mengalami penyiksaan terlebih dahulu untuk menjemput kematian?
Di rumah sakit yang berbeda, keluarga besar Aska dikejutkan dengan sebuah video yang baru saja tersebar di aplikasi pesan.
"Itu gak mungkin, Aska," tolak Ayanda ketika melihat video sang pria yang disinyalir tertangkap basah tengah berselingkuh dengan istri orang di rumah sakit.
"Apa ini alasan kamu menyuruh adik kamu datang ke sini?" sergah Gio dengan raut penuh kemarahan.
Aksa masih memfokuskan pandangannya pada layar ponsel miliknya. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat di dalam video.
"Jawab Daddy, Aksara!"
Suasana ruangan pun mendadak hening. Mata Riana sudah nanar melihat suaminya yang mulai menoleh ke arah sang ayah mertuanya. Dia takut suaminya terkena kekerasan fisik dari kemurkaan ayah mertuanya.
Baru saja Aksa hendak menjawab, pintu kamar perawatan Riana pun terbuka. Mata semua orang melebar ketika melihat Askara dengan segala luka lebam di wajahnya.
"Adek!"
__ADS_1
Aska sangat terkejut karena keluarga besarnya ada di rumah sakit tempat Riana dirawat. Sang ibu menghampirinya, tangan lembutnya mengusap luka lebam yang ada disekitaran wajah Aska.
"Kamu kenapa?" Suara Ayanda sudah bergetar membuat hati Aska sakit.
"Siapa yang melakukan ini, Dek? Sedari kecil Mommy tidak pernah memukul anak Mommy, tapi kenapa orang lain dengan tega memukuli kamu?" Tangis Ayanda pun pecah. Aska segera memeluk tubuh ibundanya dengan sangat erat.
"Maafin, Adek."
"Hati Mommy sakit, Dek. Kamu yang Mommy besarkan dengan kasih sayang, tapi kamu yang disakiti oleh orang lain."
Semua orang terdiam dan hati mereka ikut sakit mendengar penuturan Ayanda. Apa yang dikatakan Ayanda memang benar adanya. Hati ibu mana yang tidak akan sakit melihat anaknya diperlakukan seperti itu. Anak yang orang tuanya jaga dengan sangat baik malah diperlakukan kejam seperti itu.
Setelah Ayanda merasa tenang, Aska membawa ibunya duduk di sofa. Dia memeluk erat tubuh ibunya dari samping.
"Apa ini?"
Sang ayah menunjukkan video yang tengah viral di aplikasi pesan hijau. Aska hanya menghembuskan napas kasar. Sang Abang ikut mendekat, menatap nyalang ke arah Askara.
"Kenapa gak lu lawan?"
Aksara sangat geram dan juga marah, sedangkan Gio malah menukikkan kedua alisnya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kedua putranya.
"Buat apa?" jawab Aska dengan suara lemah. "Mau gua lawan, atau enggak ... gua tetap jadi pecundang."
Aksa yang hendak marah lagi pun terdiam. Dia menatap lamat-lamat wajah adiknya.
"Gua gak akan rebut dia. Gua lebih baik sakit, dari pada hati kedua orang tua gua sakit karena memiliki anak yang menjadi seorang pria perusak rumah tangga orang lain. Gua gak sebodoh itu, Bang"
Semua orang memandang iba kepada Aska. Padahal mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aska juga Aksa.
"Apa video ini benar?" tanya Gio lagi.
"Iya." Aska sama sekali tidak membantah. Ini waktunya keluarga besarnya mengetahui semuanya.
"Kamu mau memalukan keluarga?" Aska menggeleng. Dia menatap ke arah sang ayah.
"Itu hanya sekadar perpisahan terakhir untuk kami, Dad. Adek akan melupakannya. Adek akan mengubur cinta Adek untuk dia. Wanita yang Adek buatkan baju seragaman ketika Riana empat bulanan." Ayanda tercengang mendengar ucapan Aska. Dia menatap wajah Askara dengan pilu.
Luka yang Aska terima sangatlah dalam. Dari segi bicaranya menunjukkan dia benar-benar terluka.
"Ini 'kan--"
Suara Radit membuat semua orang menoleh, apalagi dia menunjuk ke arah video yang sedang dia tonton. Kemudian, ketiga anak Echa menyahuti dengan sangat kompak, "Kak Jing-jing!"
Semua orang terheran-heran mendengar ucapan si triplets. Ayanda mengambil ponsel Radit dan membesarkan video yang tengah Radit putar.
"Jingga!"
...****************...
Komen dong ....
__ADS_1