
Fajar mengerang kesal ketika melihat ibu juga bu'de Jingga malah ikut masuk ke dalam kantor polisi. Fajar sudah ditahan dan menunggu bukti lainnya untuk persidangan nanti.
"Arrgh! Siapa sih pria itu? Kenapa susah sekali disingkirkan," geramnya.
"Tak akan aku biarkan kamu hidup bahagia Jingga," ancamnya.
Para pengacara Fajar pun satu per satu mundur dalam kasus yang menimpanya. Mereka tahu siapa pengacara Christian. Mereka tahu siapa orang tuanya. Pengacara senior yang sangat handal dan berpengalaman. Disentil oleh Christo saja mereka bisa kocar-kacir.
"Maaf, saya memutuskan untuk keluar dari tim pengacara Bapak," ujar salah satu pengacara yang disewa oleh Fajar.
"Kenapa?" tanya Fajar bingung.
"Mereka bukan tandingan Bapak," jawabnya.
Fajar pun mengerang kesal. Dari tiga pengacaranya tak ada satu pun yang bertahan. Mereka malah lari tunggang langgang.
"Bang sat!" geramnya.
Di lain tempat, Aska benar-benar membawa Jingga ke ruang perawatannya. Wajah Aska sudah sangat murka. Bagaimana tidak dia melihat tulang pinggang Jingga bagian tengah mengalami luka lebam yang sangat parah.
"Sakit?" tanya Aska.
"Aku masih bisa menahannya," ucap Jingga dengan napas yang turun naik karena menahan rasa sakit tak terkira.
"Jangan pura-pura baik-baik saja. Pada nyatanya kamu memang benar-benar kesakitan," tutur Aska.
Jingga memberanikan diri menatap ke arah Aska. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Ada waktunya kamu menyimpan sendirian. Ada waktunya juga kamu mengungkapkan," lanjutnya lagi.
Tes.
Air mata meluncur bebas di wajah pucat Jingga. Hati Aska sangat sakit melihatnya. Dia mengusap lembut air mata yang sudah membanjiri wajah Jingga, dengan tangan yang satunya menggenggam tangan Jingga.
Cup.
Sebuah kecupan hangat Aska berikan di bibir Jingga. Dia menatap penuh cinta. Tangannya mengusap lembut rambut Jingga.
"Jangan pernah merasa sendiri, ada Bang As di sini." Jingga pun menangis haru mendengar ucapan yang sangat tulus. Aska memeluk tubuh Jingga dengan sangat erat. Dia pun mengecup kening Jingga dengan sangat dalam.
Prank!
Suara pecahan kaca terdengar. Dokter Melati ternyata ada diambang pintu. Hatinya sakit ketika dia melihat Aska mencium kening Jingga sangat dalam.
"Maaf, saya mengganggu," ucap dokter Melati dengan suara yang bergetar. Dia pun pergi meninggalakan ruangan itu.
"Kejar dia!" seru Jingga pelan.
Dahi Aska mengkerut mendengar ucapan Jingga. Dia sama sekali tidak mengerti.
"Untuk apa?" tanyanya sambil meletakkan punggung tangan Jingga di pipinya.
"Bukannya dia ...."
"Kamu tahu aku adalah manusia yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Kriteria wanitaku pun kelas atas seperti ibu juga kakakku," terang Aska.
Jingga sudah tidak menjawab ucapan Aska karena rasa sakit yang tak tertahan lagi. Aska segera menekan tombol emergency. Tak lama dokter dan perawat pun berdatangan. Termasuk dokter Melati.
"Lakukan yang terbaik untuk sahabat saya," pinta Aska yang masih menggenggam tangan Jingga dengan sangat erat. Dokter Melati yang mendengarnya pun sedikit tersenyum bahagia.
"Sakit," ringis Jingga.
"Sabar, ya." Kecupan Aska berikan di kening Jingga. Tak peduli dengan adanya dokter juga perawat. Dokter Melati yang baru saja bahagia, kini kembali murung.
"Nanti akan saya beri obat pereda nyeri juga salep untuk membantu proses pemulihan luka lebamnya," ujar salah seorang dokter.
Jingga masih dalam posisi miring. Rasa sakitnya masih sangat terasa. Aska masih menggenggam tangannya dengan sangat erat. Ponselnya berdering, dilihatnya sang abang yang menghubunginya.
"Lu di mana?" tanya Aksa yang terdengar khawatir.
"Di rumah sakit, Bang."
"Kenapa lagi?" sergah Aksa.
"Abang ke sini aja dan bilang kepada Ken dan Juno kalau gua udah keluar dari rumah sakit dan lagi ada di apartment lu. Gua gak mau mereka tahu perihal Jingga."
Helaan napas kasar keluar dari mulut Aksa. Akhirnya dia pun menyetujui permintaan Aska.
__ADS_1
"Nanti gua mampir ke sana, sekalian jenguk Jingga."
Sambungan telepon pun Aksa putus secara sepihak. Kali ini Aksa sudah berada di supermarket karena istrinya ingin membeli susu ibu hamil yang berbagai rasa biar gak enek katanya. Dahi Aksa mengkerut ketika melihat Riana sedang bersama pria. Aksa segera menghampiri istrinya dengan wajah yang sudah merah padam karena pria itu semakin mendekat ke arah Riana.
"Sayang," panggil Aksa.
Riana pun menoleh dan langsung memeluk tubuh suaminya. Aksa sedikit terkejut dengan perlakuan Riana.
"Kenapa, Yang?"
"Ri, mual, Bang. Bawa Ri pergi, Ri enek dan pusing mencium parfumnya." Aksa mengangguk dan membawa Riana pergi. Dia tidak memperdulikan troli yang sudah berisi barang yang dipilih Riana.
Aksa membawa istrinya keluar dari supermarket tersebut. Tangan Riana tetap memeluk tubuh Aksa.
"Masih mual?" tanya Aksa.
Riana menggeleng dan masih membenamkan wajahnya di dada sang suami. Aska membiarkannya saja, dia tidak peduli dengan tatapan pengunjung mall.
"Pria itu siapa, Sayang?" tanya Aksa dengan mode curiga.
"Teman S ...." Riana malah mempererat pelukannya kepala Aksa.
"Kenapa?" tanya Aksa yang kini benar-benar khawatir. Bukan tanpa sebab, Riana memeluk pinggangnya dengan sangat kencang.
"Anak kita sepertinya sangat tidak suka dengan pria itu. Perut Ri seperti diaduk-aduk," ujar Riana.
Aksa pun tertawa mendengarnya. Dia mengusap lembut perut sang istri. "Ini baru namanya anak Daddy," pujinya. Riana merengut kesal dan menatap tajam ke arah sang suami.
Kecupan hangat Aksa bubuhkan di kening Riana. "Itu menandakan bahwa Daddy dan anak kita sehati. Dia akan menjadi pelindung Mommy," ujar Aksa. Riana pun tersenyum ke arah sang suami. Akhir-akhir ini ucapan manis Aksa seperti penawar kemarahannya.
"Mau masuk lagi atau ke supermarket yang lain?" tawar Aksa.
"Masuk lagi aja. Di sini lebih lengkap." Aksa mengangguk setuju dan menggandeng tangan Riana dengan sangat erat.
"Riana!"
Panggilan seseorang membuat Aksa mengehentikan langkahnya . Begitu juga dengan Riana. Akan tetapi, ketika Riana melihat wajah pria itu dia segera memeluk pinggang Aksa.
"Kevin ... aku mohon ... menjauhlah! Perutku mual sekali," usir Riana.
"Riana aku hanya ...."
Kevin sedikit kecewa dengan sikap Riana saat ini. Tidak seperti sikapnya yang dulu, ketika mereka masih bersama di bangku sekolah. Aksa dan Riana meninggalkan Kevin yang tengah mematung. Aksa terus mengusap perut sang istri.
"Sudah, Nak. Udahan ya mualnya. kasihan Mommy," ucap Aksa pelan.
Sentuhan lembut serta ucapan Aksa mampu menghilangkan rasa mual itu. Helaan napas kasar keluar dari mulut Riana.
"Ya ampun, Nak. Posesif banget sih sama Mommy," ucapnya sambil mengusap perutnya sendiri.
"Calon anak yang baik, Mommy." Riana merasa bahagia ketika Aksa memanggilnya dengan sebutan mommy.
Semua varian rasa untuk susu ibu hamil Riana ambil. Tak dia lihat harganya. Aksa mendorong troli dan istrinya memilih-milih makanan yang dia inginkan. Aneka cokelat pun Riana ambil. Saat ini dia tengah suka yang manis-manis. Aksa membiarkannya saja, dia ingin membuat Riana bahagia.
"Udah?" Riana pun mengangguk.
Aksa mendorong semua belanjaan ke kasir, tangan Riana pun bergelayut manja di lengan suaminya. Total belanjaan yang mendekati tiga juta rupiah tak Aksa dan Riana hiraukan.
"Ke rumah sakit dulu, ya," ucap Aksa. Riana menatap Aksa dengan penuh tanda tanya.
"Jenguk Kak Aska," balas Riana. Aksa pun menggeleng.
"Jingga."
Mata Riana melebar ketika mendengar nama sahabatnya. Riana pun langsung mengiyakan.
"Kenapa dengan Jingga?" tanya Riana ketika Aksa fokus pada jalanan.
"Tidak tahu!"
Riana menatap tajam ke arah Aksa. Setiap kali ditanya perihal orang.b lain jawaban suaminya hanya tidak tahu dan tidak tahu. Padahal, Riana sangat yakin bahwa suaminya tidak mungkin ketinggalan berita. Riana memilih untuk diam. Aksa tersenyum melihat wajah istrinya yang ditekuk.
"Jangan pernah menanyakan perihal wanita lain kepada Abang. Sesungguhnya Abang tidak tahu, yang Abang tahu hanya kamu, Nyonya Aksara."
Seketika hati Riana meleleh mendengarnya. Dia mengecup pipi putih sang suami dan meninggalakan bekas lipstik di pipi Aksa.
"Makin sayang deh," ucap Riana. Aksa tertawa dan mengusap lembut puncak kepala Riana.
__ADS_1
"Bang, putar lagu, ya." Aksa mengangguk setuju.
Tangan Riana sudah mencari lagu yang enak didengar. Bibir Riana tersenyum ketika mendengar lagu Govinda dengan judul Hal Hebat.
"Tak kan siakan dia ...." Riana menatap ke arah suaminya.
"Belum tentu ada yang sepeti dia ... Satu dunia tahu Akau bahagia, banyak pasang mata saksinya ...."
"Tak kan duakan dia ...." Kini Aksa membalas lagu itu untuk Riana.
"Belum tentu besok kan masih ada ... Kesempatan tak datang kedua kalinya. Hargai dan jaga hatinya ...."
Riana tak berhenti tersenyum jika mendebarkan lagu ini. Aksa menggenggam tangan Riana dan membawa punggung tangan itu untuk dia kecup. Lagu yang menggambarkan isi hati mereka berdua. Ini juga lagu yang menemani mereka berdua ketika terbang ke Jogja dengan kejutan yang Aksa berikan kepada Riana. Di mana kissing in the plane mereka lakukan.
"Kamu bahagia gak Sayang menikah dengan Abang?" tanya Akda. "Abang 'kan duda," kelakarnya.
"Abang pasti sudah tahu jawabannya," balas Riana. Aksa pun tersenyum.
"Mana ada duda yang mengeluarkan susu kental manis hampir seperempat gelas ketika malam pertama," cibir Riana. Aksa pun tergelak mendengarnya.
"Itu mah perjaka yang suka berfantasi tetapi ingin menikmati lahan basah sungguhan," lanjut Riana. Aksa hanya dapat tertawa mendengar ucapan istrinya.
"Kamu juga keluar terus 'kan, saking enaknya. Malah kamu yang minat terus di minggu-minggu pertama pernikahan kita," ejek balik Aksa.
"Abang!" seru Riana dengan wajah yang sudah merah.
"Punya kamu enak banget, Sayang. Sempit dan juga legit," ujar Aksa.
"Punya Abang juga enak, kekar dan besar." Mereka berdua pun tertawa. Obrolan unfaedah dari sepasang suami-istri sompral.
Tibanya di rumah sakit, Aksa memasangkan masker kepada Riana. Dia tidak ingin virus masuk ke dalam tubuh istrinya juga calon anaknya. Riana tidak tahu bahwa Aksa memiliki saham di rumah sakit ini. Tibalah mereka di lantai tiga. Kamar yang sangat sedikit dan membuat Dia a heran.
"VVIP?" tanya Riana.
"Bukan, ini khusus petinggi rumah sakit," jawab Aksa. Riana tidak menanyakan terlalu detail karena dia juga bukan orang yang ingin tahu.
Pintu kamar Aksa buka, fasilitas di dalam kamar tersebut bagai hotel mewah. Riana terkagum-kagum dibuatnya. Seketika mata Riana memicing ketika melihat seorang perempuan yang meringkuk di atas ranjang pesakitan. Di sampingnya ada Aska yang tak beranjak.
Mendengar derap langkah kaki, Asak menoleh dan dia menatap sendu ke arah Abangnya.
"Parah?" tanya Aksa.
perlahan Aska melepaskan genggaman tangannya dari tangan Jingga. Dia menyingkap atasan yang digunakan Jingga.
"Lihat!"
Aksa dan Riana berjalan ke arah punggung. Riana segera menutup mulutnya tak percaya. Dia segera memeluk tubuh suaminya seraya menangis.
Penuturan Jingga tadi siang masih terngiang-ngiang di kepalanya. Sekarang, Riana melihat bagaimana luka yang didapat oleh Jingga.
"Ri, gak kuat, Bang. Ayo kita pulang," tuturnya.
Aksa dan juga Aska saling tatap. Sepertinya ada yang Riana sembunyikan dari mereka berdua. Aksa memilih untuk membawa Riana. pergi. Anggukan kecil yang diberikan Aksa kepada Aska memiliki makna yang penting.
Di dalam mobil, Riana hanya memandang kaca jendela arah luar. Hatinya sangat sakit melihat Jingga.
Mbak ... aku ini anak yang sudah tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Ayahku ... aku tidak ingin mencarinya, sedangkan ibuku ... beiau sudah meninggal ketika aku duduk di bangku SMA kelas satu karena sebuah kecelakaan. Di mana tubuh ibuku terpental sangat jauh dan darah berceceran di mana-mana. Di tempat itu juga ... ibuku meninggal. Aku disuruh tenang, semua orang bilang ... bahwa ibuku tidak kenapa-kenapa. Akan tetapi ... orang yang keluar dari IGD malah terisak semua. Mereka berbohong kepadaku ... ternyata ibuku sudah meninggal.
Kepergian ibuku sangat membuat aku terpuruk. Aku yang belum mengerti apa-apa diharuskan berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup serta sekolahku. Aku tidak tahu caranya. Satu-satunya cara adalah mencari ayahku. Namun ... aku hanya mendapatkan cacian serta makian. Tanpa mendapatkan uang sepeserpun. Aku bagai pengemis ketika datang ke rumah ayahku. Sampai aku rela bersujud di kaki nenekku ... tapi beliau malah menyebutku anak haram. Anak yang tak pantas untuk masuk ke dalam keluarganya. Malah
... aki disumpahi biar cepat mati menyusul ibuku.
Aku bercerita seperti ini bukan ingin dikasihani. Aku hanya ingin meluapkan segala emosi yang sudah lama ada di dalam hati. Aku juga manusia lemah, aku manusia yang kesabarannya terbatas.
Ibuku selalu berkata ... jangan pernah menengadahkan tangan kepada ayahku atau keluarganya. Bukan uang yang didapat, malah kesakitan yang tidak akan pernah ada obatnya. Aku terlalu ngeyel, aku terlalu gampang putus asa makanya aku mencari jalan pintas dan berujung kesedihan.
Aku kadang bingung, Mbak. Kenapa semua orang senangnya menyakiti aku? Apa salah aku? Jika, aku boleh meminta kepada Tuhan. Aku juga tidak ingin dilahirkan. Selama hampir enam tahun ditinggal Bunda ... hidupku seperti kehilangan arah. Hidupku kosong, mungkin ... jika orang lain tidak memiliki ibu dia masih memiliki ayah. Berbeda denganku, aku hanya anak piatu, tetapi aku merasa seperti anak yatim piatu. Hidup sebatang kara yang menclok sana-sini. Ada rumah ... diambil bu'de. Ada asuransi sedikit ... diambil Tante. Aku dibuang ke sana ke mari dan berujung jadi babu. Terlalu keras hidupku, terlalu malang nasibku.
Tidak semua orang tahu seperti apa masa remajaku. Aku tersenyum hanya untuk menutupi luka yang tak pernah sembuh. Sampai aku dewasa ... hanya luka fisik dan batin yang aku terima.
Aku lelah Mbak ... aku ingin menyusul ibuku ... untuk apa aku hidup?
Cerita panjang lebar Jingga membuat air mata Riana terus menetes. Aksa segera menepikan mobilnya. Dia menarik tangan istrinya ke dalam. pelukannya.
"Sayang ...."
"Jingga ... butuh bahagia, Jingga butuh pelindung. Jangan jadikan dia samsak tinju. Dia manusia, dia wanita lemah," lirih Riana.
__ADS_1
...****************...
Butuh tisu 🤧