
Sebelum Aksa berangkat, dia berpapasan dengan keponakan dan juga kakak iparnya di halaman rumah.
"Uncle!"
Aleesa segera memeluk tubuh Aksa. Dia terus memeluk erat tubuh pamannya ini.
"Dia pengen sama lu dan Riana," ujar Radit.
Aksa menatap ke arah bocah berusia enam tahun ini. Aksa mensejajarkan tubuhnya dengan Aleesa.
"Uncle, ada perlu sebentar. Aleesa sama Mimo dulu, ya. Uncle janji pulangnya bawa makanan kesukaan Aleesa." Aksa sangat yakin bahwa keponakannya ini akan setuju. Namun, kali ini berbeda. Aleesa menolak mentah-mentah.
"Om," bisik Aleesa di telinga Aksa.
Seketika Aksa membeku, dia tahu keistimewaan Aleesa. Dia sangat yakin jika Aleesa mengetahui perihal kejadian yang menimpa Aska.
"Nanti ya, mending Aleesa temenin Aunty selama uncle pergi," tawarnya. "Kalau bisa, Aleesa tunjukkan wajah anak perempuan cantik yang dulu pernah Uncle lihat biar aunty tidak bersedih lagi." Akhirnya Aleesa pun mau. Aksa mengusap lembut rambut sang keponakan.
"Uncle pergi dulu, ya." Aksa mengecup pipi gembil sang keponakan. Tangan Aleesa pun melambai ke arah Aksa yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Mau ke mana tuh anak?" batin Radit.
Aleesa memilih masuk ke dalam rumah Ayanda dan menaiki anak tangga menuju kamar sang Tante.
"Kakak Sa, ketuk pintu dulu," imbuh Radit.
Mendengar ada suara seseorang, Ayanda keluar dari kamarnya. Lengkungan senyum terukir di wajah cantiknya itu.
"Aleesa!"
Mendengar namanya dipanggil Aleesa menoleh dan segera memeluk tubuh neneknya.
"Nginep di sini, ya. Temani Mimo," pinta Ayanda yang tengah memeluk cucu cantiknya itu.
Aleesa mengurai pelukannya dan menoleh ke arah sang ayah yang berada tak jauh dari mereka.
"Baba ...."
Radit mengangguk dan tersenyum. Aleesa melompat bahagia dan memeluk tubuh neneknya kembali.
"Jangan nakal, ya." Aleesa pun mengangguk menuruti perintah sang ayah.
__ADS_1
"Mah, Radit pulang, ya. Titip Aleesa, kalau Aleesa nangis telepon Radit atau Echa aja, ya." Ayanda tersenyum mendengar ucapan dari sang menantu.
"Iya," jawab Ayanda.
Di perjalanan, Aksa yang sedang mengemudi harus menepikan mobilnya sejenak ketika Aska menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Aksa.
"Gua ingin bicara empat mata."
"Nanti aja. Gua masih sibuk, gua lagi nyetir," tukas Aksa. Dia pun memutus sambungan telepon itu secara sepihak.
Di rumah sakit, Aska hanya dapat menghembuskan napas kasar. Ken dan Juno tengah keluar untuk mengecek kafe. Itupun atas seijin Aksa.
Aska menatap layar ponselnya. Dilihatnya wallpaper yang ada di sana. Fotonya dengan Jingga.
"Bagaiman hatimu? Apa kamu sudah menyadari akan cintaku yang tulus ini?" gumam Aska yang tengah menatap langit malam dari ketinggian.
Wajah cemas Jingga ketika di kafe masih terbayang di kepala Aska. Wajah yang sangat Aska rindukan karena dia hanya bisa memandang wajah Jingga dari ponsel miliknya lebih dari dua bulan ini.
Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Jingga. Di dalam kosan dia hanya bisa memandang langit-langit kamar dengan hati yang perih. Wajah penuh luka lebam dengan sudut bibir yang berdarah membuat hatinya sakit. Dia sudah yakin pasti Fajar akan mengetahui keberadaannya. Namun, dia tidak menyangka jika Fajar akan bertemu Aska dan malah memukuli Aska tanpa ampun.
Laki-laki yang membuat hatinya bergetar dan juga menjadi pelindungnya ketika masa putih abu-abu.
"Andaikan waktu itu aku tidak pergi begitu saja, mungkin kita akan bersama sampai sekarang," gumam Jingga dengan senyum penuh kepedihan.
Dia meraih sebuah foto yang berada di bawah bantalnya. Seorang wanita cantik dengan seroang anak perempuan yang menggunakan seragam merah putih.
"Bunda ...."
Tak terasa air matanya menetes. Baru kali ini Jingga merasa serapuh ini. Sama halnya ketika dia ditinggalkan oleh ibundanya.
"Bunda ... maaf ... anak Bunda menangis lagi," lirih Jingga sambil mantap foto ibunya. Sudah enam tahun dia sudah tidak menangis seperti ini.
"Apa yang harus aku lakukan, Bun? Aku sudah melakukan kesalahan besar," ujarnya.
"Aku sudah membuat pria yang sudah sangat baik kepadaku terluka parah," lanjutnya.
Isakan tangis pedih keluar dari mulut Jingga. Dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Nasibnya pun sudah di ujung tanduk. Dia sudah sangat yakin besok adalah hari terakhirnya bekerja.
"Bun ... kalau aku menyusul Bunda, Bunda jangan marah, ya. Aku sudah tidak yakin akan bisa bertahan hidup lebih lama lagi," ucapnya dengan senyum penuh kepedihan.
__ADS_1
Jingga meletakkan foto sang bunda di dadanya. Dia memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir deras.
"Tuhan, sebelum aku pergi ... aku ingin bertemu dengan Bang As," pintanya dalam hati.
Hidup sebatang kara sedari SMA sudah menjadi hal biasa. Namun, kali ini dia merasa lelah dan menyerah dengan hidupnya sendiri. Dia kira datang ke Jakarta akan membawa kebahagiaan, malah sebaliknya kepedihanlah yang dia terima.
Jingga merebahkan tubuhnya di kasur yang tidak terlalu tebal. Tangannya masih memeluk foto sang ibu. Perlahan, matanya mulai terpejam.
Aska yang merasa bosan mencoba keluar dari kamar private-nya itu. Namun, banyak penjaga yang berjaga di depan kamar perawatannya.
"Untuk kali ini gua mohon kerja samanya sama kalian," pinta Aska. "Bawa gua ke tempat Jingga," lanjutnya lagi.
"Tapi ...."
Aska sudah menyerahkan kedua tangannya ke arah orang-orang yang bertuhan menjaga kamar perawatan Aska. "Borgol tangan gua biar gua gak kabur," titahnya.
Penjaga itu melihat ke arah temannya yang lain. Mereka merasa iba melihat wajah Aska. Pada akhirnya, mereka pun membawa Aska tanpa memborgol tangannya. Sebelumnya, mereka menghubungi Aksa terlebih dahulu. Ketika ijin sudah didapatkan barulah mereka membawa Aska.
Di sepanjang perjalanan Aska hanya melihat ke arah jendela luar. Melihat mobil yang berlalu lalang di kegelapan malam. Dia hanya ingin melihat Jingga secara langsung, meskipun hanya dari kejauhan.
Mobil yang membawa Aska berhenti di sebuah kosan cukup nyaman. Dahi Aska mengkerut dan menatap ke arah orang berpakaian hitam yang membawanya.
"Ini tempat tinggal Jingga," ujar orang suruhan Aksa.
Hati Aska terenyuh karena sang Abang benar-benar memberikan tempat terbaik untuk wanita yang dia sayangi. Dia sudah tahu bahwa Jingga dibawa ke Jakarta karena suruhan Aksa. Awalnya Aska ingin marah, melihat seperti ini dia malah sangat berterima kasih kepada abangnya.
Aska masih betah berada di dalam mobil. Ragu untuk turun dan menghampiri Jingga.
"Sedari siang, Jingga tidak keluar kamar," kata salah seorang orang yang berbaju hitam.
Aska terkejut, dia segera turun dari mobil dan langkah kakinya tanpa ragu menuju kosan itu. Tangannya sudah memegang gagang pintu, ragu kembali menghampiri hatinya. Dia meletakkan telinga di daun pintu. Akan tetapi, tidak ada suara di sana.
Perlahan, tangan Aska menekan gagang pintu tersebut dan mengejutkan, pintu tidak terkunci. Ketika pintu itu terbuka, dia melihat seorang wanita muda tengah meringkuk dengan memeluk sesuatu. Dengkuran halus terdengar, Aska mencoba mendekat dan hatinya teriris ketika wajah wanita yang dia cari lebih dari lima tahun ini basah. Aska mencoba untuk berjongkok dan perlahan dia raih sesuatu yang tengah Jingga peluk.
"Bunda dan Jingga." Aska membaca tulisan di figura tersebut.
"Siapa kamu sebenarnya, Jingga?" Rasa penasaran kini menyeruak di hatinya.
...****************...
Sanggupkah aku menulis kisah Jingga dan Aska?
__ADS_1