
Note :
Aska-Jingga ceritanya akan tetap dipisah, tapi setelah cerita ini selesai. Kenapa? Biar aku bisa dapat uang jajan buat beli kuota, kopi juga cilok, Mak. Ngumpulin receh dari nulis sampe 1,4juta itu susah loh, Mak. Perlu waktu dan tenaga ekstra. Tangan sampe kram, otak kriting, mata udah kek Panda. Tolong dimengerti ya, Mak. Setiap penulis itu bahagia ketika karyanya ada yang baca juga mendapatkan cuan pastinya. Setidaknya karya penulis itu dihargai. Harap dimaklumi ya, Mak.
...----------------...
Suasana di dalam ruangan Aksa masih hening, ada Christina dan juga Christian. Tak lama berselang, ponsel Christina berdering. Matanya melebar ketika melihat papahnya yang menghubunginya. Tidak biasanya Christo menghubungi Christina. Dia menatap ke arah Christian. Hanya anggukan yang Christian berikan. Baru saja sambungan video itu Christina jawab, sebuah kalimat mampu mengejutkannya.
"Kamu akan Papah jodohkan. Satu Minggu lagi kamu akan menikah."
"Apa?" jawab Christina.
"Pah ...."
"Tidak ada penolakan Tina. Semuanya sudah Papah persiapkan. Setelah menikah kamu akan dibawa ke Belgia untuk melakukan pengobatan."
Ucapan tegas dari Christo mampu didengar oleh Christian juga Aksa. Sambungan video tersebut pun berakhir. Kini, Christina menatap ke arah Christian. Tidak ada jawaban apapun darinya.
"Tian!" panggilnya lirih.
"Papah dan Om Genta tidak jauh berbeda," balas Christian.
"Kamu jahat!"
Christina pun berlalu begitu saja, Christian hanya menghembuskan napas kasar.
"Psikisnya sakit tuh," ujar Aksa. Christian mengangguk.
"Dia mengalami gangguan obsesif-kompulsif," balas Christian.
"Apa itu?" tanya Aksa tidak mengerti.
"Gangguan yang ditandai dengan adanya pikiran, bayangan, dan dorongan untuk melakukan sesuatu, sehingga menimbulkan kecemasan tersendiri," jawab Christian.
"Christina mengalami gangguan dalam konteks hubungan, obsesi bisa diartikan sebagai pikiran atau bayangan tentang “objek cinta“, serta dorongan menjalin hubungan atau berdua dengan “objek cinta“. Bayangan dan dorongan ini muncul tiba-tiba dan sulit dihilangkan sehingga mengganggu dan menimbulkan kecemasan tersendiri. Seseorang yang terobsesi dengan “objek cinta“nya akan berusaha keras untuk menekan atau menghilangkan bayangan/dorongan tersebut. Salah satu cara menghilangkannya ialah dengan mengejar dan berusaha mendekati sang “objek cinta“. Dengan mengejar maka orang tersebut menjadi sedikit lega sesaat. Tapi tidak menghilangkan obsesinya. Sehingga ia akan melakukan perilaku mengejar tersebut secara berulang-ulang dan tidak bisa menerima penolakan," papar Christian.
"Dilihat Sekilas, mirip dengan pengorbanan cinta, ya?" sergah Aksa. Christian pun mengangguk.
"Dia akan dijodohkan dengan seorang psikolog. Psikolog itu juga yang akan memberikan pengobatan kepada Tina."
"Semoga adikmu cepat sembuh," ucap Aksa mendoakan.
"Amin."
__ADS_1
Ponsel Aksa berdering, dia melihat ada pesan sang kakek.
"Dua tahun."
Aksa menghembuskan napas kasar. Namun, dia harus mematuhi ucapan. dari kakeknya itu. Dia segera bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri duo F, Fahri dan Fahrani. Aksa tidak tega melihat kedua sahabatnya itu tengah berpelukan layaknya anak kecil. Namun, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Sebelum menghampiri mereka, Aksa menarik napas panjang terlebih dahulu. Langkahnya membawanya ke arah dua sahabatnya.
"Dua tahun." Suara Aksa menggema dan membuat adik kakak ini tersentak.
"P-pak ...."
"Itu bukan keputusan saya, tetapi keputusan Kakek. Sudah final dan tidak ada tawar menawar." Aksa berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Fahri dan Fahrani mengerti akan sikap Aksa yang seperti ini. Aksa bukanlah orang yang tega kepada sahabatnya. Namun, dia juga ingin sahabatnya lebih baik lagi. Aksa memilih untuk pergi.
Aksa menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Dia belum menghuisupkan mesin mobil. Mengurusi masalah adiknya membuat waktunya banyak terbuang. Padahal dia ingin terus bersama sang istri tercinta.
Aksa mengecek ponselnya, sudah banyak laporan pesan yang masuk. Sebuah foto pun Aksa lihat dengan secara seksama.
"Seharusnya kamu mengamankannya dulu. Barulah kamu mengatur strategi, jadi tidak ada yang tersakiti," gumam Aksa ketika melihat foto Aska yang tengah mencium kening Jingga.
Di kosan Jingga, sedari tadi Aska tidak beranjak sedikit pun. Dia masih betah menatap wanita yang sudah merebut hatinya ini.
"Aku hanya ingin tahu, apa kamu juga mencintaiku seperti aku mencintai kamu? Apa kamu masih akan tetap berpura-pura tidak mencintaiku?" batinnya lirih.
Aska memilih untuk pergi dari kosan Jingga. Dia mengambil kunci yang tergantung di pintu dalam. Kemudian dia kunci dari luar. Kuncinya tersebut dia masukkan ke sela-sela bawah pintu yang tidak terlalu rapat ke lantai.
Di rumah sakit, Ken dan Juno sudah kalang kabut mencari Aska. Mereka benar-benar ketakutan. Sudah pasti mereka akan dihukum oleh Abang dari sahabatnya itu.
"Lu hubungi Aska," pinta Ken.
"HP-nya ada di atas meja, Ken," sahut Juno.
"Mati kita," ucap Ken dengan nada yang frustasi.
Mereka berdua mencari Aska hingga ke lantai satu. Mereka takut jika sahabat playboy-nya itu kumat kembali. Menggoda pada perawat yang berada di rumah sakit ini.
Hampir satu jam mencari, mereka tidak menemukan Aska. Wajah frustasi terlihat jelas. Mereka sudah berpasrah saja. Ketika mereka hendak kembali ke lantai atas, mereka melihat seseorang yang mirip dengan Aska.
Mereka melangkahkan kaki mereka dengan sangat lebar dan benar saja, orang yang mereka cari baru saja masuk ke dalam lift.
"Dari mana tuh bocah?" sergah Ken.
"Mana gua tahu!" balas Juno.
__ADS_1
Mereka segera menekan tombol lift menuju lantai atas. Mereka berdua segera membuka pintu dengan kasar ketika sudah tiba di ruang perawatan private.
"Dari mana aja, lu?" tanya Ken dengan nada geram.
"Cari angin," ucap Aska santai.
Ken sudah geram dengan jawaban demi jawaban yang selalu Aska lontarkan. Ingin sekali Ken memaki Aska. Namun, Juno melarangnya.
"Ka, lu anggap gua sama Ken itu?" tanya Juno pelan.
"Kita bersahabat udah cukup lama. Kita udah tahu satu sama lain di antara kita. Kenapa sekarang gua merasa semakin gak kenal sama lu, ya." Ucapan Juno mampu membuat Aska menatap ke arah sahabatnya itu.
"Ada hal yang bisa gua ceritain ke kalian, ada hal juga yang musti gua pendam sendirian. Tidak semuanya bisa gua ungkapkan," sahut Aska.
Ken dan Juno menghela napas kasar. Apa yang dikatakan oleh Aska memang benar.
"Terserah lu ajalah," balas Ken.
Dia duduk di sofa panjang dan menyandarkan tubuhnya. Juno pun ikut duduk di samping Ken.
"Abang lu hebat, kafe kita udah kembali seperti semula," ucap Ken.
Aska hanya tersenyum dan menatap ke arah dua sahabatnya.
"Ka, gua dan Ken udah sepakat," imbuh Juno.
"Sepakat?" ulang Aska. Kedua sahabatnya pun mengangguk. "Kita akan memecat Jingga, karena pacarnya sudah menyebabkan keributan juga kerugian untuk kafe kita."
Aska menghembuskan napas kasar ketika mendengar ucapan Juno. Dia menatap ke arah Juno dan Ken.
"Jangan dulu!" balas Aska santai. "Tersangkanya 'kan pacarnya. Jadi, gak ada urusan dong sama karyawan baru itu," lanjut Aska.
Ken dan Juno saling tatap. Mereka menyimpan curiga kepada Aska. Tidak seperti biasanya dia mentolerir kesalahan orang lain.
"Jadi ...."
"Gua yang akan bicara sama karyawan baru itu."
...****************...
Crazy UP
Tunggu aja
__ADS_1