Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Cinta


__ADS_3

Radit sedikit tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aleesa. Wajah Aleesa pun datar tidak seperti kedua saudaranya.


"Mau masuk?" tanya Radit kepada putri keduanya. Aleesa menggeleng.


Ketika Radit masuk ke dalam kamar, rona bahagia di wajah mamah mertua serta istrinya nampak pudar. Aksa masih setia berada di samping Riana. Radit yang merasa bingung menatap ke arah Gio. Hanya sebuah gelengan yang Gio berikan.


"Semoga Nona Riana cepat sembuh. Saya sudah berikan obat mag paling bagus. Jangan telat makan ya, Nona," ujar sang dokter.


Di sinilah Radit mengerti akan ucapan putri keduanya yang mengatakan tidak ada yang spesial. Dia melupakan keistimewaan yang Aleesa miliki.


"Mom, biarkan Riana istirahat dulu, ya. Tolong bilang ke Mbak di bawah buatkan bubur ayam untuk istri Abang," imbuhnya.


Ayanda mengangguk, mereka yang berada di kamar Aksa keluar semua. Membiarkan Riana beristirahat.


"Bang, apa Abang berpikiran sama seperti Mommy dan yang lainnya?" Raut wajah Riana terlihat sedih.


Aksa menggenggam tangan istrinya, kemudian menggeleng.


"Abang hanya takut, takut kamu kenapa-kenapa," jawabnya.


"Jangan pernah sakit ketika Abang gak ada di sisi kamu ya, Sayang. Sudah pasti Abang gak akan pernah tenang," lanjutnya lagi.


Riana tersenyum dan mengangguk pelan. Kecupan hangat Aksa berikan di kening Riana.


Di ruang bawah wajah kecewa terlihat jelas. Begitu juga dengan Aleena dan juga Aleeya.


"Kenapa di perut Aunty tidak ada Dedek bayinya?" tanya Aleeya.


"Karena Tuhan belum ngijinin Aunty untuk hamil," jawab Aleesa.


Kini, semua orang memandang ke arah Aleesa. "Kakak Sa sudah tahu bahwa Aunty tidak hamil?" tanya Echa. Aleesa mengangguk.


"Tidak boleh mendahului Tuhan," ujarnya.


Semakin hari keistimewaan Aleesa semakin tajam. Dia juga terkadang bisa bersikap sangat dewasa ketika berbicara.


Bubur ayam pesanan Aksa sudah siap, pelayan membawanya ke kamar Aksa dan meletakkannya di atas nakas. Sedari tadi Aksa tidak beranjak dari samping Riana. Menggenggam erat tangan Riana.


"Makan ya, Sayang."

__ADS_1


Aksa dengan sabar dan telaten menyuapi Riana. Hati Aksa sangat bahagia ketika bisa mengurus istrinya yang tengah terbaring lemah ini.


"Maaf ya, Sayang. Gara-gara Abang kamu seperti ini," sesal Aksa.


Riana tersenyum dan mengusap lembut pipi sang suami. "Kita terlalu rindu sampai kita melewatkan jam makan," sahut Riana.


Aksa terkekeh mendengar jawaban dari Riana. Tak hentinya dia mengecup kening Riana dan Riana pun sudah melingkarkan tangannya di perut sang suami.


"Kapan kita bisa seperti ini terus? Rasanya gak cukup untuk melepas rindu hanya dalam waktu empat hari," lirih Riana.


Aksa membelai rambut sang istri. Mengecup ujung kepala Riana berulang.


"Nanti ada saatnya, Sayang. Sabar dulu, ya. Biar nanti akan ada pihak di mana kita dipersatukan kembali." Riana menatap manik mata Aksa. Dia tidak mengerti dengan ucapan suaminya ini. Aksa hanya tersenyum kemudian mengecup singkat bibir Riana.


"Dia." Tangan Aska sudah menyentuh perut Riana.


"Dia yang akan menyatukan jarak dan waktu di antara kita berdua," ucap Aksa dengan tersenyum bahagia.


Riana membenamkan wajahnya ke dada bidang Aksa. Bulir bening menetes begitu saja. Dia sangat terharu dan merasa sangat dicintai.


Keesokan harinya, Riana dan Aksa sudah keluar dari kamar. Namun, sang ibu mertua menyuruh Riana untuk beristirahat. Sarapannya akan dibawakan oleh pelayan.


"Tidak, Mom. Ri, sudah baikan kok," tolak Riana.


"Gak perlu repot-repot, Mom. Pagi ini Ri ingin makan sereal saja," jawabnya.


Ayanda segera bangkit dan dia menyiapkan sereal yang dicampur susu untuk menantunya. Riana yang hendak mengikuti Ayanda dilarang oleh Gio.


"Kamu duduk saja, biarkan Mommy yang menyiapkan semuanya," tukas Gio.


Aksa tersenyum ke arah Riana dan mengusap lembut rambut sang istri. Aksa menyuapi nugget ke mulut Riana. Perlakuan Aksa membuat Gio merasa lega. Apalagi senyum yang merekah di antara dua insan manusia ini.


Di lain Kota, seorang pria sudah ada di Bandara. Lengkungan senyum terus terukir di wajah tampannya. Dia teringat ketika senja kemarin di pinggir pantai.


"Sampai berjumpa di tikungan."


Bisikannya mampu membuat wanita itu tercengang. Jingga mengurai pelukannya. Dia menatap bingung ke arah Aska. Namun, tangan Askalah yang bergerak. Dia menyentuh dagu Jingga dan menariknya hingga bibirnya menyatu padu. Kelembutan yang Aska berikan membuat Jingga yang hendak memberontak malah terbawa suasana. Ini kali pertama Jingga dikecup lembut dan manja. Berbeda jika calon suaminya yang meminta, pasti bibir Jinggalah yang digigit hingga berdarah dan akan dimaki karena tidak becus melakukan kissing.


Tangan Aska mulai membawa tangan Jingga ke pundaknya. Dia mulai menyelami bibir Jingga lebih dalam lagi. Mata Jingga pun terpejam, dadanya bergemuruh kencang. Sungguh sangat memabukkan apa yang dilakukan oleh Aska terhadapnya ini.

__ADS_1


Aska melepaskan pagutannya dan tersenyum ke arah Jingga. Matanya perlahan terbuka dan Aska menyerangnya lagi. Kini, tangan Aska sudah merengkuh pinggang Jingga dan Jingga pun sudah merangkulkan lengannya di leher Aska. Seketika Aska melepaskan pagutannya. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Jingga.


"Dia tidak bisa memberikan ini 'kan," bisik Aska di daun telinga Jingga.


Bulu kuduk Jingga meremang, Aska melanjutkan kembali pagutan bibirnya. Dia masih penasaran karena sedari tadi Jingga selalu pasif. Dia terus memancing Jingga dan pada akhirnya Jingga membalas ciumannya. Sungguh hati Aska sangat lega. Dari sekian banyak perempuan yang dia pacari baru kali ini dia mencium wanita dengan rasa cinta yang menggebu. Biasanya para wanitalah yang mencuri ciumannya.


Setelah dirasa napas mereka mulai habis, Aska dan Jingga mulai menghentikan pergulatan bibir mereka. Aska mengusap lembut bibir Jingga yang basah. Dia tersenyum karena bibir Jingga nampak membengkak. Tangan Aska menyentuh dagu Jingga dan membuat Jingga menatap ke arahnya.


"Itu baru langkah awal perjalanan menuju tikungan." Aska mengecup kening Jingga sangat dalam. Tanpa Jingga sadari, tangannya melepaskan cincin imitasi yang melingkar di jari manisnya. Seakan tidak ada lagi yang melarangnya untuk melakukan hal terlarang bersama pria yang bukan siapa-siapanya, tetapi memperlakukannya sangat lembut.


"Aku mencintaimu, Jingga."


Kegiatan kemarin sore akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah Aska lupakan seumur hidupnya. Dia sangat yakin bahwa Jingga pun memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


Pesawat yang akan Aska tumpangi sudah akan terbang. Aska bangkit dari duduknya dengan senyum yang terus merekah.


"Kita lihat! Apa kamu akan mencariku?"


Aska pun meninggalkan Kota Jogja. Dia kembali ke Jakarta karena sebuah kabar yang awalnya membahagiakan, tetapi berujung mengecewakan.


Di WAG grup, Jingga sedari tadi mencari pria yang sudah membuatnya melayang kemarin sore. Namun, dia tidak melihatnya padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan.


Fahri menyuruhnya untuk membuatkan kopi. Jingga sangat antusias karena dia bisa bertemu Aska di ruangan direktur utama. Ketika tiba di ruangan tersebut, mata Jingga terus berkeliling mencari sosok yang sudah membuatnya merasa dihargai.


"Cari apa kamu?" sergah Fahri.


Jingga terkejut dengan sergahan Fahri. Dia segera meletakkan cangkir kopi pesanan Fahri di atas meja.


"Silakan diminum, Pak." Jingga memilih untuk meninggalkan ruangan direktur utama yang ternyata tidak ada Aska.


"Aska sudah kembali ke Jakarta."


Langkah Jingga terhenti ketika mendengar ucapan Fahri. Tiba-tiba dadanya terasa sesak.


"Apa ini yang namanya perpisahan termanis?" batinnya.


Di dalam pesawat Aska melengkungkan senyum ketika membaca pesan dari Fahri.


"Dia nyariin lu!"

__ADS_1


...****************...


Insha Allah crazy up. Jangan lupa komennya.


__ADS_2