Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Pertemanan


__ADS_3

Aska terlihat baik-baik saja di mata semua orang yang berada di kafe. Ken sudah mencoba menghubungi Jingga. Akan tetapi, tidak ada balasan dari perempuan itu. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang sudah terjadi antara Jingga dan Aska.


"No, Aska sama Jingga ada hubungan apa, ya?" Ken sangat ingin tahu ada hubungan apa antara sahabatnya dengan salah satu karyawan di kafe ini.


"Mana gua tahu. Gua bukan Denny Sumargo," sahut Juno yang masih fokus pada layar segiempat di depannya.


"Kok Denny Sumargo," balas Ken bingung.


"Yang kayak mamah Loreng itu loh," ucap Juno lagi. Ken menganga mendengar ucapan Juno. "Denny Drakor, Dono!" geram Ken.


"Nama gua Juno, buka Dono," jawab Juno. Dia masih fokus pada layar laptop.


Orang yang mereka berdua bicarakan sudah masuk ke dalam ruangan. Ken melempar kertas kecil ke arah Juno. Juno berdecak kesal dan dia mengerti kode dari sahabat koplaknya itu. Namun, Juno tidak ingin ikut campur dalam masalah pribadi Aska. Biarlah itu menjadi rahasia Aska juga Jingga.


Tidak ada yang mencurigakan dari Aska. Wajahnya pun nampak terlihat biasa seperti tidak menyimpan apapun.


"Sa--"


"Waktunya kerja bukan ngerumpi," potong Aska. Juno hanya mengulum senyum mendengar ucapan Aska yang mampu membuat Ken mendengkus kesal.


Di sebuah kosan, seorang perempuan sudah duduk di atas kasur dengan menelungkupkan wajahnya di atas kedua lutut. Dia menangis, dia terisak. Betapa baiknya Aska kepada dirinya, meskipun dia sudah menyakiti hati Aska secara perlahan.


Ketika di taman ...


"Jika, kamu menyayangi aku ... biarkan aku berjuang untuk membahagiakan kamu. Namun, jika memang kamu tidak mencintaiku ... biarkan aku yang pergi. Mengubur semua kenangan kita seorang diri."


Aska berucap dengan penuh kejujuran juga ketulusan. Seakan dia sanggup menerima semua keputusan yang akan Jingga tentukan. Berbeda dengan Jingga yang hanya membisu. Dia tidak bisa menjawab apa yang diutarakan oleh Aska.


Tak tahan melihat Jingga yang terus-terusan menitikan air mata, Aska memberanikan diri untuk menggenggam tangan Jingga dengan sorot mata penuh cinta. Tidak ada penolakan dari Jingga, malah sorot mata Jingga memperlihatkan kesedihan yang mendalam.


"Aku butuh jawaban kamu." Jingga menggeleng dengan air mata yang kembali menetes. Ibu jari Aska menghapus air mata yang sudah membasahi wajah perempuan di depannya. Dia masih mampu tersenyum dengan tangan yang masih berada di pipi mulus Jingga.


"Aku hanya ingin sebuah kejujuran yang memang datangnya dari hati kamu." Pria yang sangat sabar dan semakin membuat Jingga dilanda rasa bersalah. Sorot mata Aska seakan memaksa Jingga untuk berterus terang.

__ADS_1


"A-aku ...."


Aska segera memeluk tubuh Jingga karena tidak tega. Dia tahu Jingga tidak bisa menjawabnya. Aska mencoba memberikan pelukan terhangat yang dia miliki. Di situlah tangis Jingga semakin pecah.


Tidak dipungkiri dia nyaman bersama Aska dari masa putih abu-abu hingga saat ini. Namun, dia teringat akan ucapan mendiang sang bunda perihal kasta. Dia tidak ingin bernasib sama dengan sang bunda. Dia hanya ingin bahagia, sebuah keinginan yang sangat sederhana yang sampai saat ini belum terlaksana.


"Aku sayang sama Abang, tapi ... bolehkah untuk sekarang kita berteman saja dulu?" Mendengar ucapan Jingga, Aska mengurai pelukannya.


"Kamu ragu?" tanya Aska seraya menatap nektra sendu milik Jingga.


Jingga hanya terdiam membisu. Hatinya tidak ragu, tetapi dia ragu akan keluarga Aska. Apakah keluarganya akan mampu menerimanya?


"Berikan aku waktu," pinta Jingga.


Seulas senyum Aska berikan. Dia mengusap lembut rambut Jingga. Dia tidak akan pernah memaksa. Setidaknya, dia sudah tahu perasaan Jingga yang sesungguhnya seperti apa kepadanya. Aska melepaskan kalungyang dia gunakan. Dia memakaikan kalung itu ke leher Jingga.


"Semoga cincin ini bisa membuat kamu yakin akan perasaan kamu kepada aku." Tangan Aska memegang cincin yang menjadi liontin dari kalung tersebut dengan mata yang nanar. Cincin yang ditolak oleh Jingga.


"Semoga nanti aku bisa memakaikan cincin ini di jari manis kamu," ucap Aska seraya tersenyum pahit.


"Maafkan aku." Aska menggeleng, matanya kini menatap nektra indah milik Jingga. "Tidak ada yang salah dalam hal ini. Hanya waktu saja yang belum berpihak."


Tidak ada kata lagi yang terucap dari bibir Aska. Dia berdiri dan meraih pundak Jingga untuk berdiri juga. "Kamu pulang, ya. Kamu istirahat supaya tulang pinggang kamu cepat pulih." Hati Aska terbuat dari apa? Dia masih saja bersikap manis dan baik kepada Jingga. Padahal Jingga sangat yakin, suasana hati Aska sedang tidak baik-baik saja karena ucapannya.


Tanpa menunggu jawaban dari Jingga Aska membawa Jingga keluar dari taman dan memanggil ojek pengkolan yang tak jauh dari taman tersebut.


"Kamu naik ojek ini, ya. Terus istirahat." Jingga mengangguk dan Aska mengusap lembut rambut perempuan yang sangat dia sayangi itu.


"Bang, jangan macam-macam sama perempuan ini. Abang coba lihat di spion," bisik Aska kepada tukang ojek pengkolan. Mata Abang ojek itu pun melebar, dari kejauhan banyak orang berbadan kekar yang menatap ke arah motornya.


"Mereka para pengawal yang akan mengikuti motor Abang sampai tempat tujuan." Abang ojek itu pun dengan cepat mengangguk. Pria di sampingnya ini sepertinya bukan orang sembarangan. Terbukti, dia memiliki pengawal yang banyak.


Begitulah batin tukang ojek tersebut.

__ADS_1


Aska melambaikan tangan ketika motor yang dinaiki Jingga menjauh. Dia tersenyum kecut dengan apa yang harus dia terima sekarang ini.


"Apa ada pertemanan yang tulus antara laki-laki dan perempuan?"


#off.


"Bunda ...."


Ketika seperti ini dia hanya bisa memanggil sang ibu. Dia benar-benar rapuh sekarang ini. Dia juga bingung harus bagaimana. Apa dia harus membohongi hatinya? Menyakiti dirinya sendiri lagi dan lagi.


"Jika, aku terus berpura-pura ... kapan aku bahagia?" lirih Jingga.


Nasib seseorang memang sudah dituliskan oleh sang maha kuasa. Namun, manusia juga bisa mengubah takdirnya dengan usaha juga berdoa.


Ghattan Askara Wiguna, pria yang mampu memikat hati Jingga. Pria yang banyak berkorban untuknya ketika mereka masih duduk di bangku sekolah. Pria yang selalu ingin membuatnya bahagia. Mencoba menuruti apa yang dia mau, meskipun harus sembunyi-sembunyi karena Aska adalah pria yang terkenal di sekolah.


Nasib seorang playboy kini berubah menjadi sad boy, sangat mengenaskan. Namun, Aska mampu menutupinya dengan sempurna. Senyumnya terus merekah, padahal hatinya sedang patah. Aska adalah pendrama yang sangat ulung.


Dia masuk ke minimarket hanya sekedar untuk membeli rokok yang kandungan nikotinnya rendah. Aska bukanlah perokok, bukan juga peminum layaknya anak metropolitan. Dia membutuhkan rokok ketika dia merasa lelah dengan kenyataan.


Dia hisap rokok itu dalam-dalam, lalu dia buang. Dia tengah berada di sebuah bangku taman yang tadi Jingga duduki.


"Teman," gumam Aska seraya tersenyum tipis. "Pertemanan kita tidak akan pernah berjalan mulus karena aku yang gak tulus berteman dengan kamu," gumamnya.


"Aku sangat-sangat mencintai kamu, Jingga." Kalimat itu sangat pelan dan begitu menyakitkan.


Bulan dan bintang yang menjadi saksi betapa tersakitinya laki-laki ini. Aska asyik menghisap rokok karena baginya setiap asap rokok yang keluar dari mulutnya akan membawa pergi kegundahan yang ada di hatinya.


"Mau nambah lagi?" Satu bungkus rokok yang biasa Aska beli kini sudah ada di depannya. Dia pun menoleh ....


...****************...


Akhirnya ....

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2